KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#232


__ADS_3

"Bapak-bapak, ibu-ibu, hadirin hadirat yang dirahmati Allah. Kita patut bersyukur karna kita yang hidup beribu-ribu tahun dari masa baginda Nabi Muhammad saw. Kita memang tak pernah melihatnya. Hanya mendengarnya secara turun-temurun dari kisah-kisah yang dituturkan orangtua-orang tua kita, guru-guru kita. Namun kita tetap percaya bahwa beliau adalah benar-benar utusan Allah. Kita begitu marah ketika beliau dihina. Umat Islam di seluruh dunia serta merta akan bereaksi keras. Dan bagaimana mungkin kita bisa mencintai orang yang tidak pernah kita lihat dengan begitu besarnya, jika tidak karna dia adalah benar-benar utusan Allah, yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Dalam sebuah kitab disebutkan, bahwa beriman kepada Muhammad pada akhir zaman seperti masa kita saat ini, adalah martabat yang paling utama. Kita tetap pada keimanan kita kepada beliau, meskipun kita tak pernah melihatnya dan menyaksikan mukjizatnya. Kita tidak heran bagaimana kuatnya iman sahabat Abu Bakar, karna beliau langsung menyaksikan mukjizat dari Nabi Muhammad saw. Oleh karna itu saudara-saudara...,


Tuan Guru Izzul Islam menghentikan ceramahnya. Ponsel di sakunya bergetar. Mikropon di tangannya di letakkan di atas meja. Ia lalu meraih ponsel di sakunya. Panggilan dari Rianti. Tuan Guru Izzul Islam mendesah. Ini mungkin ada kaitannya dengan keadaan Zulhiyani. Tuan Guru Izzul Islam melemparkan pandangannya ke arah jamaah di dalam masjid. Mikropon yang diletakkannya di atas meja kecil di depannya diangkatnya kembali.


"Mohon maaf. Istri saya menelpon. Ijin menjawabnya sebentar," kata Tuan Guru Izzul Islam. Segenap jamaah mengangguk. Tuan Guru Izzul Islam meletakkan kembali mikropon. Ponsel di tangannya di dekatkan ke telinga kanannya.


"Assalamualaikum, Dik," kata Tuan Guru Izzul Islam memulai panggilannya. Sejenak ia terlihat khusyu' mendengarkan pembicaraan Rianti dari arah seberang. Keningnya yang mengerut dengan raut muka yang sedikit berubah, membuat para jamaah memperhatikannya dengan seksama.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang dan meletakkan ponselnya pelan di dekat mikropon.


"Alhamdulillah. Inna lillahi wa inna ilayhi roji'un." Segenap jamaah yang mendengar kalimat istirja' yang diucapkan Tuan Guru Izzul Islam dengan suara lirih, membuat mereka saling pandang satu sama lain. Mereka penasaran, tapi mereka masih menunggu kemungkinan Tuan Guru Izzul Islam akan menceritakan musibah apa gerangan yang sedang terjadi sehingga ia mengucapkan kalimat itu.


Tuan Guru Izzul Islam kembali mendesah. Mikropon di ambilnya kembali dan menatap ke arah jamaah.


"Inna lillahi wa inna ilayhi roji'un. Kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita akan kembali." Tuan Guru Izzul Islam memulai pembicaraan. Serempak para jamaah mengulangi mengucapkan kalimat yang sama.


"Bapak ibu yang berbahagia. Tadi pagi, sekitar jam 10, saya telah melangsung akad nikah dengan seorang perempuan shalehah, perempuan yang mulia, seorang wanita cantik penghafal Al-qur'an, yang harum mulutnya sampai ke surga tertinggi. Saya menikahinya saat ia sedang sakit parah. Tadi pagi setelah akad nikah, ia langsung masuk ruang operasi." Tuan Guru Izzul Islam menghentikan kata-katanya. Setetes air mata jatuh di pangkuannya. Tuan Guru Izzul Islam mendesah sembari memejamkan matanya sejenak. Sebagian jamaah yang melihatnya ikut menangis.


"Kalimat istirja' yang ku ucapkan tadi adalah berita untukku karna kehilangannya hari ini. Aku memintakan hadiah Fatehah dari kalian untuk istriku. Semoga Allah menerima segala amal baiknya dan menempatkannya pada sebaik-baik tempat di sisi-Nya. Alfatehah," lanjut Tuan Guru Izzul Islam. Segenap jamaah menundukkan kepala dan mulai terlihat khusyu' membaca surat Al-fatehah. Suasana di dalam masjid sejenak menjadi hening.


Tuan Guru Izzul Islam mengusap kedua matanya dengan ujung sorbannya. Ia kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Allah akan bertanya kepada malaikat pencabut nyawa setelah mencabut nyawa seseorang tentang apa yang diucapkan keluarganya setelah ditinggal mati. Malaikat menjawab: Ia membaca Hamdalah dan mengucap kalimat istirja'." Tuan Guru Izzul Islam kembali tersenyum. Raut mukanya merona ceria.


"Ketahuilah, Allah memerintahkan para malaikat untuk membangun sebuah rumah di surga. Rumah yang diperuntukkan untuk orang yang ketika ia tertimpa musibah, ia mengucapkan Alhamdulillah dan kalimat istirja'. Rumah di surga itu bernama Baitul Hamdi, rumah pujian." Tuan Guru Izzul Islam menghela nafas panjang dan tersenyum. "Mungkin sampai di sini pengajian kita pada hari ini. Kurang lebihnya mohon maaf. Semoga ada manfaatnya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,"


"Wa alaikum salam,"


Ucap para jamaah serempak. Tuan Guru Izzul Islam meletakkan mikropon di atas meja. Ia lalu bangkit. Setelah memberi hormat kepada jamaah di dalam masjid, ia lalu melangkah keluar dan langsung menuju ke mobilnya.


* * * * *


Angin kering musim kemarau bertiup menerpa pepohonan yang berselimut debu. Terik matahari yang menyengat siang tadi masih terasa di atas paving blok area parkir klinik. Bunyi sirine mobil ambulan mulai terdengar ketika jenazah Zulhiyani sudah dimasukkan kedalam. Di samping kepalanya yang tertutup selimut putih, inak Nurmah nampak terlihat tegar, walaupun sesekali tangan tuanya mengusap sisa air matanya. Bukan karna sedih. Tapi karna gembira hatinya menyaksikan wajah Zulhiyani yang terlihat bercahaya dengan sedikit gurat-gurat senyum di bibirnya. Itu yang membuat tangan tuanya tak henti-henti menyibak kain yang menutupi wajah Zulhiyani.


* * * * *


Tuan Guru Izzul Islam tiba lebih dulu di pondok pesantren sebelum beberapa menit kemudian mobil yang membawa jenazah Zulhiyani tiba. Para santri dan pengurus pesantren belum ada yang tahu apa yang sedang terjadi. Mereka berkumpul di depan kediaman Tuan Guru Izzul Islam karna khawatir telah terjadi sesuatu pada Tuan Guru Izzul Islam dan istri-istrinya ketika mobil ambulan terlihat berhenti di halaman rumah. Tapi ketika Tuan Guru Izzul Islam, Jamila dan Rianti terlihat baik-baik saja, mereka bertambah penasaran. Hanya tubuh kaku berselimut kain putih yang terlihat dibopong keluar dari mobil ambulan.


"Lik, sini," panggil Tuan Guru Izzul Islam yang ikut mengangkat tubuh Zulhiyani ke dalam rumah. Abdul khalik segera bergegas menemui Tuan Guru Izzul Islam yang berdiri di depan teras rumah.


"Kamu ajak para santri yang besar-besar untuk menggali kuburan. Cepatlah, setelah shalat isya kita akan segera menguburkan almarhumah Nyai Zulhiyani," kata Tuan Guru Izzul Islam. Abdul Khalik mengangguk dan segera bergegas pergi. Beberapa pengurus pesantren dan asrama yang dipanggil untuk diberikan penjelasan oleh Tuan Guru Izzul Islam terlihat juga keluar. Mereka terlihat mengarahkan para santri yang sedang berkerumun untuk segera masuk ke dalam pesantren.


"Apa kita tidak akan mengumumkannya di masjid-masjid, Kak Tuan," tanya Jamila ketika menemani duduk Tuan Guru Izzul Islam di ruang tamu.

__ADS_1


"Tidak usah, Dik. Kalau kita umumkan, aku takut penguburannya bisa molor hingga tengah malam. Jamaah tentu tak akan berhenti berdatangan," jawab Tuan Guru Izzul Islam. Jamila mengangguk. Tuan Guru Izzul Islam memegang tangan Jamila. Wajahnya terlihat lelah.


"Panggil Rianti, kita belum shalat ashar. Kita shalat berjamaah," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil bangkit dari tempat duduknya. Jamila tersenyum dan ikut bangkit. Ia lalu melangkah menuju kamar Rianti.


* * * * *


Senja telah berlabuh. Matahari telah tenggelam dan bersembunyi di peraduannya. Kesiar angin maghrib menerpa potongan-potongan kertas di depan gerbang pondok pesantren Qudwatusshalihin. Suasana terasa hening. Larut dalam setiap lafal Fatehah yang dilantunkan merdu Tuan Guru Izzul Islam saat mengimami shalat maghrib. Pelataran masjid Al-barokah yang berada di dalam pondok pesantren maghrib ini penuh sesak. Malam ini, baik santri putra maupun putri sengaja dikumpulkan dalam satu tempat. Bakda shalat maghrib, mereka akan membaca yasin dan tahlil sambil menunggu waktu pemakaman Zulhiyani selepas shalat isya' nanti.


Bunga pohon kamboja di pemakaman keluarga berguguran, menghampar di atas rerumputan. Suara beradu dedaunan pohon kurma yang mengelilingi area pemakaman, seperti petikan kecapi di malam yang hening. Terdengar lembut tertiup semilir angin. Mengiringi suara takbir pertama shalat jenazah Zulhiyani.


Begitu shalat jenazah yang pertama selesai dilaksanakan, Tuan Guru Izzul Islam langsung memerintahkan para santri yang ada di belakangnya untuk membawa jenazah Zulhiyani menuju pemakaman keluarga. Di dekat kubur almarhumah Nyai Mustiani, jenazah Zulhiyani dikuburkan.


Suasana pemakaman perlahan sepi. Para santri sudah kembali ke asrama masing-masing. Hanya tersisa Tuan Guru Izzul Islam, Rianti, Jamila dan inak Nurmah di depan gundukan tanah kubur Zulhiyani. Mereka nampak khusyu' mengangkat kedua tangan masing-masing, mengaminkan doa Tuan Guru Izzul Islam.


"Bu, dulu, almarhumah ibuku selalu menangisiku saat pertama kalinya aku mondok di pesantren Tebuireng Jombang." Tuan Guru Izzul Islam tersenyum mengingat kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu itu. Ia mendesah panjang dan mengusap punggung inak Nurmah. Inak Nurmah tersenyum.


"Setiap malam aku menangis karna merindukan rumah, tentu saja merindukan almarhumah ibu juga. Hingga suatu hari aku menelpon ibu dan memintanya untuk tidak terlalu memikirkanku. Bayangkan saja, almarhumah ibu sampai tidak mau makan karna memikirkanku. Aku bilang sama ibu, jika ibu tak berhenti menangisiku, aku lebih baik pulang saja. Waktu itu aku tidak konsentrasi mengaji karna seperti ada kontak batin kesedihan ibu denganku." Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan kembali mengusap punggung inak Nurmah.


"Kita bersaksi bahwa almarhumah adalah orang baik dan shalehah. Salah satu golongan yang jasadnya tidak akan busuk dan tetap utuh di dalam kuburnya adalah para penghafal Al-qur'an. Almarhumah tidak mau kita menangisinya." Tuan Guru Izzul Islam mengakhiri kata-katanya. Ia lalu berdiri.


"Dik, ajak ibu masuk. Kita akan segera melaksanakan shalat hadiah untuk almarhumah," kata Tuan Guru Izzul Islam kepada Rianti dan Jamila. Keduanya tersenyum dan segera mengajak inak Nurmah kembali ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2