
Sementara itu. Di salah satu gazebo halaman belakang rumah makan Zamora, pak Jamal masih menunggu kedatangan pak Efendi. Tidak ada satupun pengunjung yang terlihat. Gazebo-gazebo nampak sepi. Hujan masih deras mengguyur. Hanya terdengar lantunan musik yang mendayu di antara suara hujan. Pak Jamal memakai jaketnya. Hawa malam mulai terasa dingin. Ponsel berdering. Pak Jamal segera mengeluarkannya dari saku jaketnya.
"Halo, Pak,"
"Aku tunggu kamu di rumah makan. Hujannya terlalu deras. Aku sedang makan. Lapar," kata pak Efendi dari seberang. Suaranya yang keras terdengar dari arah rumah makan. Pak jamal mendesah kasar. Dia sudah menunggu lama dan pak Efendi yang ditunggu, sedang enak-enak makan di depan.
"Baik, Pak," kata pak Jamal. Ia segera mematikan ponselnya. Pak Jamal meludah keras.
"Kurang ajar. Mentang-mentang di atas angin, aku sendiri yang harus menemuinya," gerutu pak Jamal. Ia melepaskan jaketnya dan mrletakkannya di atas kepalanya agar tidak terkena hujan. Ia pun berlari-lari kecil sembari menghindari genangan air yang mulai memenuhi sepanjang jalan.
Sesampainya di dalam rumah makan, ia menjumpai pak Efendi sedang menyantap makanannya. Pak Jamal mengibas-ngibaskan jaketnya yang terkena hujan. Setelah itu ia mendekat ke tempat duduk pak Efendi.
"Sudah makan, Pak Jamal," kata pak Efendi tanpa menoleh. Pak Jamal menelan ludahnya pelan. Jeroan goreng dan ayam panggang yang sedang disantap pak Efendi begitu menggiurkan. Pak Jamal tidak bisa menyembunyikannya lagi. Bunyi perutnya yang kelaparan, membuat pak Efendi tersenyum ketus. Ia lalu menyodorkan ayam panggang ke hadapan pak Jamal.
"Pak Jamal pesan sendiri nasinya. Kita harus irit. Banyak proyek yang belum mendatangkan hasil," kata pak Efendi menyindir. Pak Jamal tersenyum.
"Sebentar lagi, Pak Efendi." Pak Jamal melambaikan tangannya ke arah pelayan perempuan di meja kasir.
"Ya, Pak," kata pelayan ketika sudah berada di depan pak Jamal.
"Ambilkan nasi sepiring," kata pak Jamal. Pelayan itu mengangguk dan segera pergi.
"Saya sudah memberikan video itu kepada pimpinan pondok pesantren yang akan menikah dengan Rianti. Saya pastikan pernikahan itu seratus persen gagal," kata pak Jamal tersenyum bangga. Paha ayam di depannya di robeknya dan dengan lahap menyantapnya.
"Terus, keuntungan apa yang Pak Jamal dapatkan selain bisa membalas dendam," kata pak Efendi. Tisu di tangannya diusapnya ke bibirnya. Pak Jamal terdiam. Pak Efendi tersenyum.
__ADS_1
"Tadi si Sulastri itu menawarkan lima ratus miliar agar aku tidak memberikan video itu pada Tuan Guru. Tapi aku tolak."
"Kenapa ditolak, Pak Jamal. Uang lima ratus milyar itu tidak sedikit. Pak Jamal bisa melunasi hutang pak Jamal, juga bisa Pak Jamal pergunakan untuk merintis usaha." Pak Efendi menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mendesah kasar. Ia menatap pak Jamal.
"Pak Jamal. Maaf sebelumnya. Saya lihat, Pak Jamal ini kalau bertindak, tidak pernah menggunakan otak Pak Jamal," kata pak Efendi. Jari telunjuk kanannya di antuk-antukkannya di kepalanya. Pak Jamal mengernyitkan keningnya.
"Kok Pak Efendi bilang begitu?"
"Ya jelas, Pak Jamal. Uang lima ratus milyar itu sudah pasti, dan Pak Jamal menolaknya." Pak Efendi kembali tersenyum ketus.
"Coba pak Jamal pikirkan. Setelah pak Jamal berhasil menyebarkan video itu dan pak Jamal berhasil membatalkan pernikahan Rianti, keuntungan apa lagi yang Pak Jamal bisa dapatkan," kata pak Efendi sembari tak henti-henti menggelengkan kepalanya.
"Lima ratus milyar itu adalah keuntungan satu minggu dari perusahaan pak Yulian. Gengsi dong kalau aku hanya mendapatkan hanya lima ratus milyar, sedangkan mereka akan terus meraup keuntungan lima ratus milyar setiap minggunya. Aku hanya menginginkan perusahaan itu, Pak Efendi,"kata pak Jamal.
"Loh, kamu mau kemana, Pak,"kata pak Jamal ketika melihat pak Efendi bangkit dari duduknya.
"Pulang, Pak Jamal. Besok saya harus kerja. Kerja itu harus terukur. Harus pakai otak. Kebaikan itu, walaupun jumlahnya besar, akan kalah dengan kejahatan yang dipikirkan matang-matang," kata pak Efendi. Ia melangkah meninggalkan pak Jamal.
Melihat itu, pak Jamal segera mengejar pak Efendi.
"Tenang dulu, Pak. Kita masih bisa menyebar luaskan video itu ke khalayak ramai. Ok, mungkin saya salah karna telah menolak penawaran Sulastri, tapi aku janji akan membuatnya menambah jumlah penawarannya," kata pak Jamal. Pak Efendi tersenyum. Tangan pak Jamal yang memegang salah satu lengannya dilepaskannya kasar.
"Agh! Pak Jamal ini seperti tong kosong yang bunyinya nyaring. Saya sudah bosan mendengar omong kosong Pak Jamal," kata pak Efendi. Ia segera bergegas menuju mobilnya. Pak Jamal mengepalkan kedua tangannya dan menghantamkannya satu sama lain.
* * * * *
__ADS_1
Terdengar langkah kaki dari arah luar. Nyai Mustiani segera bangkit. Ia membuka perlahan pintu kamarnya dan mengintip keluar. Tuan Guru Izzul Islam terlihat memasuki kamarnya.
Nyai Mustiani mendesah dan menutup kembali pintu kamarnya. Dia masih ragu untuk membicarakan video yang dikirimkan pak Jamal kepada Tuan Guru Izzul Islam, juga pesan pembatalan sepihak pernikahannya dengan Rianti. Entah kenapa saat ini ia merasa takut dan segan kepada anaknya. Mungkin karna Tuan Guru Izzul Islam terlalu lama menunggu untuk pernikahannya, juga karna perjodohannya dengan Qurratul Aini yang juga batal beberapa hari yang lalu. Dia juga merasa kasihan dengan keadaan yang dialami Tuan Guru Izzul Islam. Tapi dia tak harus menikah dengan Rianti. Perempuan itu terlalu kotor untuk Tuan Guru Izzul Islam.
"Tok, tok, tok!
Nyai Mustiani kaget dan terbuyar dari lamunannya ketika terdengar ketukan tiga kali dari arah luar. Dia yang masih bersandar di pintu segera melangkah pelan menuju tempat tidurnya.
"Bu, apa ibu masih bangun?" Suara Tuan Guru Izzul Islam terdengar lembut dari luar kamar.
"Ada apa, Nak," jawab Nyai Mustiani.
"Apa ibu sudah makan malam. Kalau belum, kita makan sama-sama, Bu."
Nyai Mustiani mendesah.
"Kamu panggil Abdul Khalik saja, Nak. Kayaknya dia juga belum makan. Maaf,ibu tadi tidak menunggumu," kata Nyai Mustiani.
"Baik, Bu. Kalau begitu, saya mau panggil Abdul Khalik dulu."
Nyai Mustiani kembali mendesah. Dia harus membiacarakan masalah itu sesegera mungkin dengan Tuan Guru Izzul Islam. Dia tak mau Tuan Guru Izzul Islam mengetahuinya terlebih dahulu dari Sulastri. Dia harus menunggunya selesai makan untuk membicarakannya. Malam ini, semuanya harus tuntas agar ia bisa secepatnya mencarikan perempuan pengganti Rianti.
Nyai Mustiani menyandarkan tubuhnya. Dia tersenyum. Beberapa santriwati yang rutin menemaninya menjelang tidurnya, tiba-tiba hadir dalam pikirannya. Sebelumnya ia tak pernah terpikir. Santriwati-santriwati itu, selain cantik, juga punya adab yang bagus. Sejak kecil mereka telah menghabiskan waktu mereka di Pesantren menimba ilmu agama. Mereka lebih pantas menjadi pendamping Tuan Guru Izzul Islam ketimbang Rianti.
Nyai Mustiani tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
__ADS_1