
Menjelang siang, prosesi pemakaman mami Zelayin selesai. Karna kerabat mami Zelayin tidak ada yang mengetahui keberadaan mereka, Rahima dan Sulastri sepakat untuk menguburkannya di samping rumah barunya. Pagi-pagi sekali, pak Sahril menghubungi Sulastri untuk mengajak pak Ahmad dan pak Bayan memenuhi panggilan pihak kepolisian. Setelah memberikan keterangan tentang kematian mami Zelayin, mereka diperbolehkan membawa jenazah mami Zelayin.
* * * * *
Sulastri tersenyum ke arah Rahima dan tiga perempuan yang duduk di sebuah bangku panjang depan rumah mami Zelayin. Ketiga perempuan nampak berbisik satu sama lain. Sulastri masih ingat wajah ketiga perempuan itu. Sama seperti Rahima, perempuan-perempuan itu adalah penghuni komplek yang tak bisa kemana-mana karna terlilit hutang yang banyak kepada mami Zelayin. Ia tidak tahu namanya. Dia hanya kenal Rahima, karna Rahimalah satu-satunya penghuni komplek yang peduli padanya.
Rahima terlihat bangkit. Ia seperti mengajak ketiga perempuan itu untuk ikut mendekat ke arahnya. Sulastri pura-pura tak melihat. Ketiga perempuan itu seperti malu ketika ia melihat ke arah mereka.
"Ayo, duduk sini," sapa Sulastri ramah saat mereka telah sampai di dekatnya. Rahima mengajak ketiganya duduk.
"Oh ya, Rahima. Aku belum begitu mengenal nama-nama mereka. Maklum, waktu di komplek gak terlalu lama. Gak sempat kenalan," kata Sulastri Ia memandang satu persatu wajah ketiganya .
"Ini Rahini, Wahyu dan ini Minang," kata Rahima memperkenalkan mereka satu persatu. Ketiganya menundukkan kepala.
Sulastri mendesah.
"Sekarang mami Zelayin telah meninggal. Otomatis kalian sudah bebas dari tempat ini. Kalau boleh tahu, kalian mau kemana setelah ini,"
Ketiganya terdiam dan saling memandang satu sama lain. Mereka terlihat bingung.
"Kalau kalian mau, kalian boleh ikut saya. Saya membutuhkan tenaga kalian untuk mengurus panti asuhan yang akan saya bangun,"
Mereka kembali saling pandang. Dari tatapan mata masing-masing, mereka seperti saling mengiyakan satu sama lain.
__ADS_1
"Memangnya kalian mau kemana. Sudahlah, kita sudah bersama sekian tahun. Aku tahu di antara kalian memang ada yang masih memiliki keluarga, tapi aku yakin kalian malu jika harus pulang menemui mereka," kata Rahima mencoba memberikan saran setelah ketiganya tak juga memberikan jawaban.
"Ikutlah bersama Sulastri. Kita akan berubah bersama-sama. Kita akan membantu Sulastri memajukan usahanya," sambung Rahima. Mereka bertiga mengangguk.
Sulastri tersenyum dan bangkit.
"Baiklah, kalau memang kalian setuju ikut. Berkemaslah, kita akan segera pulang," kata Sulastri. Ketiganya nampak gembira. Mereka segera bergegas menuju kamar masing-masing.
"Mari, Pak. Kita berangkat," kata Sulastri setelah Rahima, Rahini, Wahyu, Minang sudah berada di dalam mobil. Sulastri memanggil tiga orang laki-laki yang ia bayar untuk menggali kubur mami Zelayin. Setelah memberikannya beberapa lembar uang kertas kepada salah satu dari mereka, Sulastri masuk ke dalam mobil. Tak beberapa lama kemudian, mobil Lycan hyersport itu mulai melaju pelan di jalanan berkerikil.
* * * *
"Kenapa kamu datang kesini, Sahril." Rianti tersenyum sinis ketika melihat pak Sahril dari balik jeruji ruang pertemuan lapas.
""Tentu saat ini kamu sangat berbahagia karna berhasil menguasai perusahaanku dengan wanita jahanam itu. Ingat, Pak Sahril, sekeluarnya aku dari penjara ini, aku akan menuntut balas. Kalian berdua akan menggantikanku di tempat ini," sambung Rianti sengit.
"Ayo ngomong, kenapa kamu diam saja. Tertawalah. Aku ingin sekali melihatmu tertawa melihatku berada di sini." Rianti menatap tajam. Ia terlihat kesal karna pak Sahril tidak juga menanggapi kata-katanya. Rianti terlihat mengumpulkan ludahnya dan menyemburkannya ke arah wajah pak Sahril. Pak Sahril yang masih menundukkan kepalanya dan tak menyangka akan diludahi Rianti, kaget. Ia mendesah pendek dan berusaha tetap terlihat tenang. Ia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya lalu perlahan mengusap percikan ludah di wajahnya.
Ia kembali menundukkan wajahnya. Wajah Rianti semakin memerah. Ia berteriak mengumpat.
"Bangsat kamu, Sahril. Penghianat!" Rianti bangkit dan menendang-nendang kursi tempatnya duduk. Petugas yang berjaga di belakang segera mendekat dan mendekap tubuh Rianti. Rianti meronta melepaskan diri.
"Lepaskan aku, keparat! Kamu tidak tahu siapa aku. Aku putri tunggal Yulian Wibowo. Orang paling kaya di kota ini," teriak Rianti.
__ADS_1
"Tenang, Non. Bapak ini akan melepas non Rianti jika Non tidak ngamuk seperti ini. Tenanglah. Ada yang harus Non Rianti dengar terkait ibu Castella," kata pak Sahril berusaha menenangkan Rianti. Mendengar nama Castella disebut, Rianti melemah. Petugas itupun melepas pelan dekapannya.
Rianti kembali duduk. Ia menatap wajah pak Sahril.
"Kenapa dengan dia. Kenapa sampai saat ini dia tidak juga datang menjengukku. Seharusnya dia juga sudah ada di sini. Dia yang menyuruhku mencari racun untuk membunuh papa. Aku tidak mau sendiri di sini, sedangkan dia bersenang-senang di rumah," kata Rianti. Pak Sahril menggeleng-geleng. Ia mendesah. Masih tak percaya Rianti dan Castella tega melakukan pembunuhan terhadap pak Yulian. Dia yakin, melihat sikap Rianti yang seperti bernafsu ingin Castella juga dipenjara, ia tak akan menangis jika ia segera memberitahukan bahwa Castella telah meninggal dunia.
"Non, ibu Castella sudah meninggal," kata pak Sahril.
"Apa?" Rianti lebih memajukan wajahnya hingga menempel di besi pembatas.
"Bu Castella telah meninggal," kata pak Sahril mempertegas. Rianti kembali memundurkan wajahnya. Ia terlihat tersenyum, tapi air matanya meleleh di pipinya. Tak berapa lama kemudian, isak tangisnya mengiringi suara ratapannya.
"Tidak, tidak. Mama tidak boleh mati. Aku hanya ingin dia ikut menemaniku di sini. Jangan coba-coba membohongiku, Pak Sahril," kata Rianti sesenggukan setelah beberapa lama ia meraung-raung memanggil nama Castella.
Pak Sahril mendesah. Persangkaannya salah. Terlihat, Rianti benar-benar kehilangan Castella.
"Benar, Non. Ibu meninggal karna bunuh diri setelah polisi mendatangi rumah," kata pak Sahril lirih. Rianti menggeleng-geleng. Air matanya masih deras mengalir.
"Ini gara-gara aku yang telah mengikutkan namanya dalam kasus ini. Aku melakukannya bukan karna benci mama. Aku hanya ingin kita bersama dalam keadaan apapun, Ma. Aku takut sendiri di sini tanpa mama," Ratap Rianti. Ia menarik-narik rambutnya. Teriakannya kembali terdengar.
Tiba-tiba Rianti bangkit. Nafasnya terdengar menderu. Tatapannya tajam menatap ke arah pak Sahril. Pak Sahril berdiri.
"Ini semua akibat ulah perempuan jahanam itu. Ini semua akibat persekongkolanmu, Sahril. Kalian akan menerima akibatnya." Rianti lebih mendekat. Ia memasukkan kedua tangannya lewat lubang-lubang jeruji, seperti hendak mencakar wajah pak Sahril. Pak Sahril mundur beberapa langkah.
__ADS_1
"Kemari kamu. Biar kucekik lehermu. Kesini! Aku mau tarik urat di lehermu biar putus," teriak Rianti. Melihat itu, pak Sahril memberi isyarat pada petugas untuk membawa Rianti kembali ke selnya.
"Lepaskan aku. Lepaskan. Biarkan aku membunuh keparat itu. Lepaskan!" Teriakan Rianti terdengar menggema di dalam ruangan. Pak Sahril mendongakkan kepalanya. Setelah berpamitan dengan petugas jaga, ia memasuki mobilnya dan segera meninggalkan tempat itu.