KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#75/ Senyum Rahima


__ADS_3

Jam telah menunjukkan pukul 4 sore ketika mami Zelayin memutuskan pulang dari kantor polres. Hari itu, Ia memutuskan memasukkan aduan pengancaman Jamblang kepada pihak kepolisian karna takut ke depannya Jamblang semakin tak terkontrol dan benar-benar melaksanakan ancamannya. Karna ancaman Jamblang juga, ia sekarang merasa tak bebas pergi kemana-mana. Takut Jamblang membuntuti dan mengawasinya.


Mobil pick up yang di kendarainya melaju kencang menembus keramaian jalan. Beberapa jalur sepi menuju rumah barunya akan ditempuh. Dia tidak mau terlalu gelap saat melewati jalan itu.


Mami Zelayin mendesah kasar saat mengingat sejumlah uang yang ia keluarkan untuk beberapa oknum kepolisian. Tidak diminta, cuma inisiatifnya sendiri. Dengan harapan berkas pengaduannya tetap di posisi paling atas dan segera ditindak lanjuti. Selain itu, ia harus pintar-pintar cari muka agar bisnis yang selama ini di tekuninya tetap terlindungi, sekalipun beberapa oknum kepolisian mengetahuinya. Dengan itu, ia bisa melaporkan Jamblang atas tuduhan pencurian tanpa harus takut Jamblang membuka rahasia pekerjaannya.


Dia sudah tidak punya banyak uang lagi sebagai simpanannya ke depannya. Bahkan, keinginannya untuk menyewa jasa penjaga rumah, dipastikan tidak akan terlaksana dalam waktu dekat.


Mami Zelayin menghentikan mobilnya dan berhenti di depan sebuah jembatan tepi jalan. Untuk beberapa saat, Ia terdiam melihat beberapa eksapator dan alat berat lainnya berjejer di tepi sungai. Tepat di atas lahan yang dulu menjadi miliknya. Lahan di samping jalan itu terlihat lapang. Tak ada lagi rerimbunan pohon pisang dan beberapa petak lahan persawahan seperti saat ia masih memiliki lahan itu. Semua sudah rata. Entah apa yang akan dibangun pemilik baru tempat itu.


Mami Zelayin menggelengkan kepalanya. Mendesah beberapa kali hendak menampakkan penyesalannya telah menjual tempat itu. Jika tidak karna hutang besar yang melilitnya, Ia tidak akan menjual tempat itu. Ia memang berniat akan menjual tanah itu, tapi tidak dengan harga yang ditawarkan pak Ahyar. Tiga puluh juta per are. Menurutnya itu terlalu murah mengingat letaknya yang strategis. Tanah itu adalah investasi masa depannya. Dia tidak lagi berpikir harus menjualnya per are, tapi permeter. Dia memprediksi, dua tahun ke depan tanah itu akan berharga tiga puluh juta per meternya. Ia akan jadi perempuan kaya raya sekalipun ia harus membayar hutangnya. Tapi Pak Ahyar datang membuyarkan harapannya. Ia yakin, hal paling menyakitkan dalam hidupnya kini adalah saat melewati jalan itu dan melihat perubahan besar pada tempat itu.


***


Matahari terlihat semakin menurun di ufuk barat. Mami Zelayin menghidupkan mobilnya dan perlahan, mobil pick up itu melaju meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Mami Zelayin mendesah. Jalanan terlihat semakin sepi. Mobil yang dikendarainya sudah memasuki kawasan sepi. Hanya ada beberapa mobil dan sepeda motor yang melintas dalam jarak waktu yang lama. Selebihnya ia seperti sedang masuk ke dalam lorong menuju hutan belantara. Rasa takut dan cemas menghinggapi perasaan mami Zelayin.


Mami Zelayin mengerutkan dahinya. Ia menundukkan kepalanya dan melihat beberapa kertas putih tertempel di batang pohon peneduh di pinggir jalan. Awalnya itu tidak mengundang perhatiannya, tapi sepanjang perjalanan, selebaran itu seperti memenuhi pepohonan sepanjang jalan. Ia merasa tak pernah melihat selebaran itu saat ia berangkat menuju polres menjelang siang tadi. Ia kesal. Saat ia merasa harus buru-buru sampai ke rumahnya, selebaran-selebaran itu membuatnya penasaran. Ia menepikan mobilnya dan berhenti dekat sebuah pohon mahoni besar di tepi jalan.


Mami Zelayin menoleh kesana kemari melihat ke sekelilingnya yang sepi. Mami Zelayin mendesah. Ia memberanikan diri membuka pintu mobil. Ia lalu segera bergegas ke arah pohon dan mencopot selebaran itu. Setelah itu, ia segera masuk kembali ke dalam mobilnya kemudian mengendarainya kencang.


Mami Zelayin membalik selebaran yang ia letakkan di jok mobil di sampingnya. Sesekali ia melirik. Sebuah lukisan sketsa wajah seorang perempuan dengan beberapa paraghraf tulisan besar di bawahnya. Ia belum bisa membacanya. Ia masih fokus ke depan mengemudikan mobilnya.


Mami Zelayin tersenyum. Sebuah warung di tepi jalan terlihat beberapa meter di depannya. Ia memperlambat laju mobilnya dan berhenti tepat di depan warung itu. Dia menoleh ke arah warung. Tampak sepi. Tapi setidak-tidaknya ia merasa aman memarkir mobilnya.


DICARI. SEORANG PEREMPUAN


NAMA: RAHIMA


UMUR : _+ 45 TAHUN

__ADS_1


Barang siapa yang menemukan perempuan dengan ciri-ciri wajah di atas, silahkan langsung menghubungi no. HP di bawah.


Baginya akan di berikan imbalan Rp. 50 Juta Rupiah kontan.


...Hub. 0872341273....


Mami Zelayin menahan nafasnya. Di periksanya kembali lukisan wajah di depannya. Ia mengernyitkan dahinya. Diperhatikannya lagi lebih dekat. kernyitan dahinya semakin keras.


"Rahima," gumamnya.


Lukisan wajah yang ada dalam selebaran itu mirip sekali dengan wajah Rahima. Satu-satunya yang meragukannya bahwa selebaran itu di tujukan untuk Rahima adalah alasan kenapa pelacur seperti Rahima dihargakan semahal itu. Dan siapa di balik penyebar selebaran itu. Setahunya, Rahima tidak punya siapa-siapa. Diapun tidak punya latar belakang keluarga kaya. Dia hanya yatim piatu yang ia pungut di salah satu tempat lokalisasi karna terlilit hutang yang sangat besar. Jadi ia berpikir, mustahil sekali jika ada orang yang membuat sayembara dengan imbalan sejumlah uang yang menggiurkan hanya untuk mendapatkan Rahima. Kalaupun itu di lakukan sebagian orang hanya untuk iseng, sopir-sopir truk langganan Rahima, barangkali. Tapi ia yakin, senakal-nakalnya sopir truk itu, mereka tidak akan menghamburkan uangnya dengan menyebar selebaran yang begitu banyak sepanjang jalan. Perbuatan sia-sia semacam itu, tidak akan di lakukan oleh sopir-sopir truk langganannya.


Dan andaikan ia harus mengatakan bahwa yang dimaksud dalam selebaran itu bukan Rahima yang bekerja untuknya, tapi lukisan itu mirip sekali dengan wajah Rahima. Mata, alis, hidung, wajah, dagu, bahkan bibirnya nyaris sempurna. Bahkan saat ini ia merasa sedang berhadapan dengan Rahima yang asli setiap kali ia menatap lukisan itu.


Mami Zelayin mendesah panjang. Ia meletakkan selebaran itu di atas jok di sampingnya. Sebatang rokok yang sedari tadi menggelinding di atas dashboard saat ia mengemudikan kencang mobilnya, diambilnya dan menyulutnya. Mami Zelayin mendesah sembari menghempaskan asap rokok di mulutnya. Setelah untuk beberapa saat ia terdiam menatap kembali ke arah lukisan itu, Ia kemudian menyalakan mesin mobilnya dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan rasa penasaran yang memenuhi pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2