KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#233


__ADS_3

Malam beranjak larut. Suara tokek di sudut rumah sesekali terdengar nyaring, mengagetkan suasana malam. Suasana di rumah Tuan Guru Izzul Islam nampak sepi. Hanya terdengar suara lirih inak Nurmah membaca Al-qur'an di kamar belakang. Suhaini dan Nur Jamila yang diperintahkan untuk menemani inak Nurmah di kamar itu sudah sedari tadi terlelap dalam tidurnya. Seperti terlena dengan suara bergetar inak Nurmah. Kantuk tidak juga menyambangi mata inak Nurmah ketika penghuni rumah yang lain sudah terbuai dalam mimpi masing-masing. Ketika ia terjaga sendiri, bayang Zulhiyani seperti berdansa dalam pikirannya. Benar kata Rhoma Irama dalam lagunya; jika sudah tiada baru terasa. Bahwa kehadirannya sungguh berharga. Seluruh masa kebersamaannya bersama Zulhiyani seperti terputar kembali. Mulai dari saat Zulhiyani masih kecil hingga ia kembali pulang dari pesantren dalam keadaan sakit. Semua begitu cepat berlalu.


Tapi ia tidak mau terus larut membuat hatinya sedih. Dia ingat betul kata Tuan Guru Izzul Islam usai menguburkan Zulhiyani. Ia memilih mengambil wudhu dan membaca Al-qur'an. Sebelum Suhaini dan Nur Jamila tertidur, keduanya sempat menyimak hafalannya. Dia bertekad menyicilnya sedikit demi sedikit sampai waktunya tiba Allah memanggilnya kehadirat-Nya. Saat ini ia sudah menjadi bagian dari keluarga besar Tuan Guru Izzul Islam. Zulhiyani tanpa sadar telah memberinya kebahagiaan besar sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Dia menganggap Zulhiyani telah tuntas membalas jasanya sebagai seorang ibu. Ia telah mendapatkan kenyamanan dan kedamaian sebagai mertua Tuan Guru Izzul Islam. Tak ada yang perlu ia khawatirkan lagi. Keadaan itu akan ia gunakan sebaik mungkin untuk beribadah kepada Allah swt.


* * * * *


Di tempat lain, Qurratul Aini tampak duduk termangu memandang bergantian ke arah kubur almarhum Tuan Guru Faeshal dan Cristian. Kedua orang yang ia cintai itu telah pergi mendahuluinya. Meninggalkan asrama-asrama kosong, yang susah payah telah dibangun. Sekitar dua ratus santri telah meninggalkan pesantren itu satu persatu, seminggu setelah kematian Tuan Guru Faeshal. Dia sudah berusaha bersama-sama Cristian untuk memikirkan cara agar pesantren itu kembali bangkit. Mereka sadar mereka tidak memiliki kapasitas untuk memberi pengajaran agama kepada santri-santri, tapi setidaknya, mereka bisa mempekerjakan guru-guru dalam bidang agama untuk meyakinkan para wali santri bahwa anak mereka tetap mendapatkan pendidikan agama yang layak. Tapi harapan itu kembali pupus. Cristian telah meninggalkannya dan meninggalkan cita-cita bersama yang tak bisa ia lanjutkan sendiri. Allah pun tak mengaruniainya seorang anak sebagai harapan terakhirnya kelak melanjutkan cita-cita almarhum kakeknya. Asrama-asrama itu akan tetap kosong, menyeramkan dan mungkin telah dihuni makhluk-makhluk astral.


Qurratul Aini menundukkan wajahnya. Ia mendesah penuh keputus asaan. Kembali ia menatap lemah ke arah kubur Tuan guru Faeshal dan Cristian. Ia melangkah pelan ke arah pohon kamboja yang tumbuh di area pemakaman keluarga. Beberapa bunga kamboja yang mekar di petiknya dan ditaburkan di atas kubur keduanya. Setelah itu ia berbalik dan melangkah lemah menyusuri teras-teras asrama yang kosong. Suara sandalnya menggema menghentak sunyi malam. Sembari terus berjalan, air matanya tumpah. Dalam isak tangisnya ia bersenandung sedih tentang hatinya yang kehilangan. Malam ini. Di saat yang lain sedang nyenyak dalam tidurnya, bayangan Cristian seperti nyata tersenyum di depan matanya.

__ADS_1


Oh, kematian memanglah pemutus segala kenikmatan. Tanpa mengerti betapa ia masih ingin menghabiskan waktu yang amat panjang dengan orang-orang tercintanya.


Kenapa ia tak mengetuk pintu terlebih dahulu mengabarkan kedatangannya?


Tiba-tiba saja ia datang dan mendobrak pintu. Menarik tangan suaminya dari pegangan kuatnya. Ia sama sekali tak menoleh. Ia sama sekali tak mempedulikan teriakannya, memohon agar suaminya dikembalikan lagi ke pangkuannya. Ia sama sekali tak peduli air matanya habis karna bercucuran deras menimpa tanah kering.


Qurratul Aini menghentikan langkahnya. Didongakkannya kepalanya dan menatap jauh ke bintang-bintang yang berkelip dalam gelap langit. Ia mendesah panjang. Mengusap air matanya dan melangkah lemas keluar asrama.


* * * * *

__ADS_1


Malam ini ia mau berpikir sejenak di tempat di mana Almarhumah Sulastri sering menghabiskan setengah malamnya di teras rumah. Tadi pagi, saat Bagas mengunjunginya. Bagas sempat menanyakan kapan ia akan menikah. Usianya kini sudah kepala tiga. Usia yang memang sepantasnya untuk berumah tangga. Kesibukannya mengurus pesantren, membuatnya lupa urusan yang satu itu. Pertanyaan yang memang sempat ia pikirkan minggu-minggu ini. Tapi masalahnya, sampai saat ini ia belum punya seseorang yang cocok di hatinya. Dia sendiri tak pernah pacaran. Sulastri tidak pernah menanyakan masalah itu kepadanya. Kalaupun ia akan menanyakannya, dia akan menyerahkan masalah pernikahannya sepenuhnya kepada Sulastri. Termasuk urusan calon istrinya. Tapi ketika Sulastri telah meninggal, sosok yang cocok untuk diserahinya urusan itu adalah Rianti. Ia ingin rumah tangganya seperti rumah tangga Tuan Guru Izzul Islam. Rumah tangga yang menakjubkan. Cermin rumah tangga terpuji yang keberadaannya amatlah langka. Penuh dengan kedamaian dengan istri-istri yang shalehah. Mendapatkan sosok perempuan hebat seperti Rianti dan Jamila memang sangatlah sulit, tapi setidaknya suatu hari nanti ia mendapatkan seorang istri yang satu tujuan dengannya. Mengelola pesantren dan mengabdikan diri pada pesantren untuk mencetak generasi-generasi yang mencintai agamanya. Tak perlu cantik. Keshalehan hati seorang perempuan, akan membuat suaminya tak akan jemu memandangnya, sekalipun wajahnya biasa-biasa saja. Dan ia berharap niat tulusnya dikabulkan oleh Allah swt.


Fahmi mendesah panjang. Ia mengarahkan pandangannya ke arah langit. Ada satu wajah perempuan yang kini muncul dalam pikirannya. Ia hanya pernah melihatnya sekali saat ikut Tuan Guru Izzul Islam melayat ke rumahnya. Mungkin dari segi usia, ia jauh lebih tua. Lebih-lebih ia adalah seorang janda yang ditinggal mati suaminya. Tapi hatinya seperti tertarik kepadanya. Ada pesona zahir dari perempuan itu yang sepertinya membuatnya terus menyimpan bayang wajahnya dalam pikirannya. Dan ia yakin, pesona zahir yang terlihat adalah perwujudan dari pesona batinnya. Sayangnya ia sama sekali tidak punya akses untuk menghubunginya. Kalaupun ada, ia harus menunggu dulu sampai massa iddahnya habis. Dan itu sekitar empat bulan sepuluh hari sejak kematian suaminya.


Ada baiknya ia shalat istikharah dulu meminta petunjuk dari Allah swt. Jika petunjuk Allah mengarahkannya kesana, ia akan menemui Tuan Guru Izzul Islam untuk meminta pendapat.


Fahmi kembali mendesah panjang. Setelah memperbaiki peci dan sorbannya, ia melangkah pelan menuruni teras rumah menuju ke pos jaga.


Suasana di halaman rumah nampak sepi. Pak Bayan terlihat sudah lelap dalam tidurnya ketika ia menengoknya dari arah luar. Sudah jam 3 malam. Sudah saatnya ia membangunkan para santri untuk shalat tahajjud. Ia pun segera melangkah menuju pondok pesantren.

__ADS_1


Suara lantunan merdu ayat-ayat suci Al-qur'an terdengar dari Aula pesantren. Para santri yang terlebih dahulu dibangunkan oleh Fahmi, sudah duduk rapi menunggu waktu subuh tiba dengan menyibukkan diri dengan membaca Al-qur'an.


Angin bertiup semilir. Suara kokok ayam mulai terdengar bersahut-sahutan mengiringi suara adzan yang mulai dikumandangkan.


__ADS_2