
Hari berganti hari. Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa empat tahun telah berlalu. Beberapa pohon tabebuya yang tumbuh di tepi rumah besar Sulastri terlihat mati dan menyisakan batang keringnya. Generasi demi generasi datang mengganti generasi-generasi sebelumnya. Tak ada yang abadi. Masing-masing manusia telah ditentukan rizki, ajal, baik dan buruknya sejak Allah memerintahkan malaikat meniupkan ruh kehidupan kepada manusia ketika masih berada di dalam perut ibunya. Ketika telah tiba waktunya, ajal manusia tak bisa diminta untuk diawalkan ataupun diakhirkan. Ajal tak mengenal usia. Karna titah Sang Pencipta sudah mutlak. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.
Setelah dua tahun menjalani biduk rumah tangga dengan Layla, Fahmi akhirnya dipanggil kehadirat Sang Pencipta semesta alam pada usianya yang ke 38 tahun. Dia meninggalkan seorang putra berumur satu tahun.
Satu tahun setelah kematian Fahmi, Tuan Guru Izzul Islam menikahi Layla dan tinggal serumah dengan Rianti dan Jamila. Untuk sementara kepemimpinan pondok pesantren Tahta Liwa'il Hamdi dipegang oleh Farida dibantu oleh suaminya, Tuan Guru Bustanul Arifin, putra bungsu Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Setelah melalui musyawarah keluarga, Tuan Guru Bustanul Arifin bersedia tinggal di pondok pesantren Tahta Liwa'il Hamdi hingga putra Fahmi dewasa dan dianggap mampu mengemban amanah memimpin pesantren.
__ADS_1
Tuan Guru Izzul Islam terlihat bersimpuh di depan makam Nyai Mustiani. Air matanya mengalir disertai sesekali isak yang menghentak hening suasana di dalam makam.
Harapan demi harapan almarhum Nyai Mustiani semasa hidupnya dengan menjodohkannya dengan beberapa perempuan yang kini menjadi istri-istrinya tuntas sudah. Keinginan yang secara zahir terlihat lebih kepada pemaksaan kehendak. Keinginan yang mendapatkan penentangan dan menyematkannya sebagai seorang istri Tuan Guru yang arogan, ternyata adalah doa dari sang ibu untuk kebahagiaan putranya. Ia Bersyukur karna tetap menghormati keputusan Nyai Mustiani. Ia bersyukur penentangannya kepada keinginan Nyai Mustiani tak mengurangi adabnya sebagai seorang anak. Dan kini, ia baru sadar hikmah di balik keinginan almarhum ibunya. Perempuan-perempuan yang ditunjuk Nyai Mustiani adalah perempuan-perempuan shalehah yang menenangkan hatinya. Bidadari-bidadarinya di di dunia, pun juga harapan dan doanya di akhirat kelak.
Di tempat lain, Rianti yang malam ini mengunjungi makam Sulastri, tampak juga duduk bersimpuh di depan makam Sulastri. Nisan Sulastri diusapnya. Terlalu banyak jasa yang ditinggalkan Sulastri untuknya dan untuk keluarga besarnya kini. Sebuah keluarga besar yang taat agama. Jika tidak karna perantaranya, dia kini mungkin masih berada di jalanan tanpa pegangan hidup. Mungkin saja ia tidak akan menikah dengan Tuan Guru Izzul Islam. Dia tidak akan pernah merasakan kebahagian hidup di tengah-tengah wanita hebat yang kini menjadi madunya. Dengan petunjuk Allah lewat Sulastri, kekayaan dan kemewahan yang berlimpah tak pernah melalaikannya dari mengingat Allah.
__ADS_1
Nama Sulastri tetap hidup di dalam hatinya dan hati orang-orang yang mencintainya. Makamnya tak pernah sepi dari orang-orang yang menziarahinya. Keberkahan hidupnya dirasakan para pedagang yang berjejer di sepanjang jalan. Tempat yang dulunya sepi kini menjadi ramai. Sulastri telah memberikan manfaatnya semasa hidupnya, bahkan setelah matinya. Sulastri telah menyimpan abadi kebahagian dan kesenangan di hati orang-orang.
Apa yang kita tanam, itu yang kita petik.
T A M A T
__ADS_1