KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
Kardus penyelamat


__ADS_3

"Sana... Sana kamu ke kamarmu!" ujar Mahesa sok garang.


"Kamu juga ke kamarmu saja, kalau mau kek gitu. Dasar gak tahu malu, nunjukin gitu di hadapan istri sendiri.". Sahut Freya tegas.


" Heii... Aku gak akan pernah anggap kamu istri, sampai kiamat sekalipun. Aku mau nikah denganmu, hanya untuk melihat orang tua saya senang. Kamunya saja yang matre, tetap mau bertahan. Padahal kamu tahu, aku gak suka samamu!" Ketus Mahesa melotot tajam pada Freya.


"Aku gak matre!"


"Hahhaha.... Munafik! gak usah banyak bacot. Sana kamu buatkan aku kopi lagi..!" Titah Mahesa mengusir Freya daei ruangan itu.


"Aku akan buatkan kopi. Tapi, beri aku ambal itu nanti." Pinta Freya sendu.


"Untuk apamu ambal ini?" Mahesa memegang ambal yang ia duduki.


"Di kamarku gak ada ranjang. Aku gak bisa tidur tanpa alas. Aku sedang hamil. Aku harus kuat dan sehat. Karena Aku punya suami yang tak punya pikiran yang sehat."


"Heii.. Jaga mulutmu!" Hardik Mahesa, menggigit bibirnya geram. Tangannya hendak melayang ingin menampar Freya.


Deg


Freya tak sanggup lagi melihat kemarahan Mahesa. Apalagi ia hendak di pukul. Tanpa permisi air matanya langsung mengucur deras di hadapan Mahesa. Sungguh ia tak sanggup lagi di hina dan di caci. Baru dua hari menikah.

__ADS_1


Freya pun masuk bergegas ke dapur. Ia sadar, tak seharusnya menantang sang suami. Karena suaminya sangat benci dia. Jadi, apapun yang ia katakan tak akan berterima di hati suaminya. Bahkan jika ia melakukan kebaikan pun, tetap buruk di penilaian sang Suaminya.


Freya membuat kopi dengan tubuh yang bergetar karena menahan isak tangis.


Huufftt..


Ya Tuhan... Sabarkan aku, setidaknya menunggu anakku lahir Ya Tuhan. Ya Tuhan, separah inikah hukuman untukku? aku sudah taubat Tuhan, ku mohon bukakan hati suami ku, agar tak menghinaku. Gumam Freya dalam hati.


Setelah ia merasa tenang, ia lap air matanya yang membasahi pipinya dengan jemarinya. Kemudian kembali ke ruang tamu. Saat ia sampai di ruang tamu, ia melihat suaminya itu tak melakukan panggilan video lagi di laptopnya. Dengan penuh kehati hatian Freya meletakkan kopi itu di hadapan Mahesa. Dan ia bergegas masuk ke kamar.


Sesampainya di kamar, ia ambruk di pojokan kamar itu. Air mata semakin deras saja bercucuran dan tak terbendung lagi. Ia kembali menangis dengan sedih. Hidupnya semakin terasa menyiksa. Ingin rasanya ia mati saja. Lama ia meratapi nasibnya. Tapi, ia kembali semangat disaat ia sadar, bahwa ada janin di rahimnya. Dan ada adiknya Hana, yang harus ia jaga dan tanggung jawabi.


Huufft..


Freya tak tahan dengan hawa dingin dari lantai yang mengenai tubuhnya. Padahal ia sudah membuat alas tidur nya sajadah dan tumpukan dua sarung yang ia miliki. Ya, ia tak punya persiapan yang banyak. Karena kata ibu Jasmin. Keperluannya semua sudah di rumah baru, seperti rumah rumahnya mereka yang lain. Jadi, dia hanya bawa perangkat sholat dan dua sarung.


Huufftt..


Freya bangkit dari pembaringannya, sepertinya, bukan ide yang bagus tidur di atas keramik hanya beralaskan sajadah dan sarung. Mana nggak ada bantal nya juga. Dia bisa masuk angin. Kalau dia drop, sakit. Tentu itu akan mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungannya.


Dengan perasaan yang sedih. Freya keluar dari kamar sambil mengelap air matanya yang terus bercucuran membasahi pipinya. Selalu menguatkan hati agar tegar. Tapi, nyatanya malam ini, ia sangat sensitif sekali. Gimana tak sedih. Dia menikah dengan pria yang sangat kaya raya. Rumahnya ada di setiap kota. Tetapi dia diperlakukan seperti pengemis tidur tanpa alas.

__ADS_1


Freya mengambil karton bungkus Kulkas, mesin cuci, AC, TV, dari belakang rumah. Sebenarnya karton karton tebal itu mau di buang. Tapi, tad gak sempat. Bersyukur juga gak dibuang. Jadi karton karton itu, akan ia buat sebagai alas tidurnya malam ini. Menunggu besok ia akan ke toko perabot untuk beli kasur atau alas tidur dan bantal. Ya, dia masih ada uang. Uang dari saweran pernikahan mereka. Kalau uang haram, hasil dia sebagai pela cur sudah habis buat modal usaha jual pulsa dan makanan ringan. Dan usahanya itu tutup hingga hari ini. Ada sih, niat mau ke kontrakannya. Karena masih ada barang barangnya di situ. Tapi, ia belum kenal dan hapal tempat ia tinggal sekarang. Jadi, ia gak tahu naik angkot apa ke kontrakannya dari perumahan ini.


Saat Freya heboh memasukkan kardus-kardus itu ke dalam kamarnya, Mahesa yang ingin masuk ke kamar melihat nya. Tapi, suaminya itu tak menegurnya. Suaminya itu cepat cepat masuk kamar dengan lirikan najisnya.


Hufftt..


"Lumayan... Empuk juga!" Ujarnya sendiri, berusaha ceriah menyemangati diri sendiri. "Bersyukur... Bersyukur kamu Freya, masih diberikan Allah tumpangan untuk tidur di dalam kamar. Gak disuruh tidur di luar." Ujarnya tersenyum tipis, tapi air mata tak bisa diajak kompromi, air matanya terus saja mengalir deras.


"Nak,... Maafkan ibu ya? semoga kelak jika kamu besar. Kamu gak dengar dari ayahmu, kalau ibu ini pelacur...!" Freya bicara sendiri, dengan air mata yang semakin deras membanjiri pipinya. "Tak apa, di mata ayahmu, mama ini seorang pelacur. Tapi nak, kamu jangan ikut ikutan benci ibu, atau hina ibu nantinya ya sayang?"


Freya merasa pandangannya sudah mulai kabur, karena tergenang air mata. Tangannya terus membelai perutnya yang masih datar. Mengajak sang anak bicara. Meluapkan kesedihan di hatinya.


Huufftt..


"Gak... Aku gak boleh cengeng.. Aku gak boleh nangis, gak boleh sedih. Nanti anakku cengeng lagi." Freya tak henti hentinya bicara sendiri. Seandainya sang adik bersamanya, ia tak akan sesedih ini. Tapi, mana mungkin ia ajak adiknya tinggal di sini. Yang ada nanti, si Fir aun alias Mahesa marah marah.


"Ya Tuhan, koq dingin siih?" keluhnya, bangkit dari tidurnya. Membenarkan lagi posisi kardus yang ia tumpuk, agar lebih memanjang dan lebar. Karena karton yang susun itu kurang panjang yang mengakibatkan ujung kakinya terkena ke lantai.


"Bagus... Ini bagus, gak harus tebal, asalkan tubuhku gak menyentuh lantai." Freya sudah seperti orang gila, tak henti hentinya bicara sendiri. Ia seperti itu karena, jika dia diam. Pikirannya kembali menerawang, memikirkan nasibnya yang malang.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2