
Sulastri menyibakkan kerudung dan rambutnya saat pak Sahril perlahan membalikkan kepalanya ke belakang.
Pak Sahril mengusap matanya. Ia mencoba melihat dengan seksama wanita yang ada di belakangnya.
Pak Sahril memberi isyarat dengan tangan kirinya agar pak Pratama menghentikan mobilnya. Pak Pratama menghentikan mobilnya dan menepi di tepi jalan.
Pak Sahril tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Pak Pratama masih menatap heran dari kaca dalam spion mobil.
"Bu Lastri?" kata pak Sahril setengah berteriak. Sulastri tersenyum.
"Pak Sahril,"
"Benar ini bu Lastri? Apa saya tidak salah lihat?" tanya pak Sahril sambil menunjuk-nunjuk ke arah Sulastri yang terlihat mulai menangis. Sulastri mengangguk.
Pak Sahril menggelengkan kepalanya. Masih tidak percaya bahwa orang yang ia kasih tumpangan ternyata adalah Sulastri. Orang yang selama ini ia cari. Mengetahui perempuan itu adalah Sulastri, pak Pratama terlihat ikut tersenyum senang.
"Ya, Tuhan. Alhamdulillah, saya benar-benar tidak menyangka akan bertemu bu Lastri di sini. Saya dan teman-teman sudah lama mencari Ibu,"
"Terimakasih, Pak, terimakasih banyak," kata Sulastri sambil terisak. Kesusahan hidup yang ia rasakan tak akan pernah berakhir beberapa menit lalu seketika hilang ketika melihat wajah pak Sahril.
"Ayo, Pak Pratama, nyalakan mobilnya. Kita pulang," kata pak Sahril. Pak Pratama mengangguk dan segera menghidupkan mobilnya.
"Bagaimana ceritanya, Bu. Kok ibu sampai menghilang seperti ini. Saya sudah mencari ibu kemana-kemana. Saya hampir putus asa," kata pak Sahril. ia menatap wajah Sulastri dari arah kaca spion.
Sulastri tersenyum. Seperti ingin menyembunyikan kenangan masa-masa kelam yang telah berlalu yang dijalaninya.
"Maaf, Pak, saya tak ingin mengingatnya lagi. Biarlah itu jadi pelajaran hidup saya."
Pak Sahril mengangguk. Melihat Sulastri menundukkan kepalanya, ia mendesah panjang.
"Kita pulang ke rumah saya dulu ya, Bu. Ibu juga mungkin belum makan. Kita makan di rumah makan terdekat," kata pak Sahril setelah beberapa saat tak ada pembicaraan antara mereka.
"Gak, Pak. Antarkan saja saya pulang ke rumah kontrakan saya. Saya hanya ingin bertemu dengan anak-anak saya. Entah, Apa yang terjadi dengan mereka setelah saya meninggalkannya," kata Sulastri.
Pak Sahril tersenyum. Ia membalikkan badannya dan menoleh ke arah Sulastri.
"Mereka semua aman dan sehat, Bu. Saat ini mereka sedang berbelanja dengan istri saya," kata pak Sahril.
"Bapak menemukan mereka juga?" tanya Sulastri. Ia memajukan tubuhnya penasaran dan memegang tangan pak Sahril . Pak Sahril mengangguk dan tersenyum.
"Alhamdulillah," desah Sulastri lega. Tuhan telah membayar tuntas penderitaannya selama ini. Tuhan telah menjaga satu-satunya harapan yang membuatnya tetap terjaga dalam keputus asaannya.
Pak Sahril mengeluarkan ponsel dari sakunya. Ia membesarkan volume speaker ponsel setelah terdengar suara bu Trianti dari arah seberang.
"Sedang dimana ini, Ma,"
__ADS_1
"Mama lagi di rumah, Pa," jawab bu Trianti dari arah sebrang. Terdengar juga suara riuh anak-anak yang sedang bermain di dekatnya.
Sulastri tersenyum. Itu suara kedua anaknya, Fahmi dan Farida. Ia sudah tidak sabar ingin merebut ponsel dari tangan pak Sahril.
"Ma, sekarang ajak mereka pulang ke kontrakan,"
"Loh, anak-anak lagi renang di kolam nih, Pak. Mereka kayaknya gak mau pulang. Biarkan saja dulu mereka bermain sepuas mereka." jawab bu Trianti memotong pembicaraan pak Sahril.
"Ma, Papa punya kabar gembira buat mereka. Kalau Mama kasih tahu mereka kalau ibu mereka sudah Papa temukan, mereka pasti mau pulang," kata pak Sahril. Ia menoleh ke arah Sulastri. Sulastri tersenyum.
"Bu Lastri sudah ketemu Pa?"
"Alhamdulillah, Ma. Sekarang beliau ada bersama Papa,"
"Alhamdulillah, Ya, Allah. Baik, Pa. Mama akan kasih tahu mereka."
Pak Sahril mematikan ponselnya.
"Pak Pratama, kita belok ke jalan Ki Hamdi. Kita akan ke rumah kontrakannya bu Lastri," kata pak Sahril kemudian sambil menunjuk ke arah jalur penyeberangan sebelum perempatan di depannya. Pak Pratama mengangguk.
Jantung Sulastri berdegup. Ia sudah mulai mengenali jalan dan pertokoan di depannya. Ada rumah makan tempat ia bekerja sebagai pencuci piring sebelum di usir, ada toko emas dan lokasi lesehan bebek goreng milik Haji Muniri. Sulastri tersenyum. Mobil yang ditumpanginya kini berhenti di depan gang menuju rumah kontrakannya. Dari balik kaca mobil, ia memandang lekat ke arah pintu rumah kontrakannya. Sulastri kembali meneteskan air mata. Sejauh-jauh ia pergi, rumah itulah persinggahan terakhirnya.
Pak Sahril keluar perlahan dari dalam mobil dan membukakan Sulastri pintu mobil. Ia menatap Sulastri yang masih berkaca-kaca melihat ke ujung gang.
Sulastri bangkit dan keluar dari mobil. Ia merasakan hawa ketakutan yang selama ini menyelubungi perasaannya seketika hilang ketika merasakan angin yang berhembus membelai wajah kusamnya.
* * *
Castella masih memperhatikan Rianti dan Jeri yang sedang sibuk membolak-balikkan buku besar di tangan mereka. Sesekali tangannya sibuk memencet tombol kalkulator di depannya. Ada yang berbeda dengan keduanya. Tubuh Castella dan Rianti terlihat lebih kurus.
Rianti mengangkat wajahnya dan menyandarkan punggungnya di kursi tempatnya duduk. Buku yang ada di tangannya di lepas keras, membuat ekspresi wajah Castella berubah.
"Apa-apaan kamu , Ranti," kata Castella sambil memukul meja. Jeri menoleh ke arah Rianti yang terlihat tak kaget sama sekali. Rianti memandang Castella dengan wajah kesal.
"Mah, Rianti gak cocok kalau disuruh menghitung angka seperti ini. Kita kembalikan saja jabatannya pak Munawar. Kalau begini terus, aku bisa stres," kata Rianti. Bolpoin yang masih terjepit di jari tangannya di lemparkannya ke arah buku di depannya.
"Kamu bagaimana sih, dipercaya memegang perusahaan sudah loyo seperti ini. Baru pekerjaan seperti ini saja, kamu sudah mengeluh," kata Castella tak senang. Ia menatap tajam ke arah Rianti yang kembali menyandarkan tubuhnya malas.
Iya, Ma, Tapi ini bukan tugas Rianti." Rianti bangkit dan melangkah menuju meja kecil di pojok ruangan. Ia menuangkan sebotol anggur ke dalam gelas dan meneguknya.
"Sudahlah, Ma. Kalau memang apa yang dikatakan pak Pratama itu benar, maka mau tidak mau kita harus menjual salah satu perusahaan milik kita," lanjut Rianti.
Castella memajukan kursi putarnya dan mengambil buku yang dilempar Rianti.
"Tidak, Mama tidak akan menjualnya," kata Castella menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Rianti menjatuhkan dengan keras gelas di tangannya di atas meja. Bunyinya yang keras membuat Castella dan Jeri terkejut. Karna kesal, Castella melempar buku yang dipegangnya ke arah Rianti.
"Kurang ajar kamu, Rianti. Dari tadi kamu tak serius kalau di ajak mama bicara," tatap Castella tajam. Jeri hanya terdiam.
"Sudahlah, Ma. Kita memang tidak mampu menjalankan perusahaan ini kalau bawahan kita seperti Jeri, Mohan, Ferdi, siapa lagi itu, itu, kepercayaan Mama itu."Rianti tersenyum seperti mengejek.
"Mereka bukan ahlinya, Ma. Pemilik saham sudah menarik saha mereka dan salah satu cara untuk menyelamatkannya adalah menjual salah satu aset kita. Balck casino ataupun perusahaan mutiara. Orang-orang akan menertawakan kita. Baru lima hari jadi manager, sudah bangkrut" lanjut Rianti kesal.
Castella terdiam menatap Rianti.
"Sudah, duduk sini. Mama tidak mau kamu berdiri sementara Mama duduk memandangmu dari sini," kata Castella. Dengan langkah malas, Rianti mendekat dan kembali duduk di kursinya.
"Ok, anggaplah Mama menyerah. Kalau memang kita harus menjual salah satu perusahaan kita, perusahaan yang mana," kata Castella. Ia menghentak-hentakkan ujung bolpoin di atas meja.
"Balck Casino aja, Ma," kata Rianti singkat. Castella menggeleng.
"Gak, sampai mama mati, black casino tidak akan mama jual."
Rianti mendesah. Merasa usulnya tidak diterima Castella, ia kembali menyandarkan tubuhnya. Ia seperti malas menatap Castella.
"Jeri, aku tidak menggajimu untuk diam. Ayo, Ngomong!" teriak Castella. Ia menggebrak meja keras sehingga Jeri terkejut.
Hahaha...
Tawa Rianti pecah. Ia menoleh ke arah Jeri dan menjitak kepalanya.
"Ma, yang ada dalam otak manusia ini hanya uang dan sesuatu yang ada di antara dua paha Mama." Rianti membalikkan badannya ke arah Jeri. Masih dalam keadaan tertawa. Ia membuka kancing baju yang dikenakannya dan mengeluarkan salah satu payu daranya. Ia lalu menyodorkannya ke mulut Jeri. Jeri hanya terdiam menunduk.
"Ayo, Nak, minum ASI nya, Nak. Cup,cup,cup, anak manis,"
"Rianti!" teriak Castella kesal. Tawa Rianti semakin pecah. Ia kembali menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.
"Orang seperti ini Mama jadikan direksi. Pekerjaannya cuma bergaya memamerkan plank nama di bajunya." Rianti menatap ke atas. Setelah tawanya reda. Ia menoleh kembali ke arah Jeri.
"Ayo, Mama pingin tahu apa usulmu," kata Rianti. Ia seperti menahan tawa saat melihat Jeri.
"Usul saya, karna perusahaan porang ini yang bangkrut, lebih baik kita bekukan saja. Kita bisa fokus ke perusahaan mutiara dan black kasino," kata Jeri.
Rianti memajukan kepalanya ke arah Jeri. Ia memasang ekspresi terpana ke arah Jeri. Tak berapa lama kemudian, tawa Rianti kembali pecah. Ia bangkit dari duduknya dan bertepuk tangan.
"Luar biasa anak buahmu, Ma. Luar biasa. Selamat, Ma. Mama sudah menemukan solusinya. Sekarang Aku mau tidur dulu. Aku pusing," kata Rianti. Ia segera berjalan meninggalkan ruangan. Teriakan Castella yang berulang-ulang tak digubrisnya sama sekali.
Castella mendesah. Ia menaikan kedua kakinya di atas meja. Buku yang ada di bawah kakinya di hempaskannya kuat sehingga melayang ke lantai.
"Ayo, kamu keluar sana. Lama-lama aku muak melihat wajah kalian," kata Castella ketika melihat Jeri masih terdiam mematung di tempat duduknya. Jeri bangkit dan segera meninggalkan ruangan.
__ADS_1