
Layla membuka kelambu jendela kamarnya dan duduk di depan jendela. Bibirnya seperti telah kehilangan saraf pengendali senyuman. Tak henti-henti ia mengulum senyum, mengikuti rasa bahagia dalam hatinya.
Layla mendesah panjang dan menyandarkan tubuhnya tenang di kursi. Memandang bunga pohon naga yang putih bermekaran di halaman rumah. Mekar indah, semekar hatinya malam ini. Keinginannya untuk menikah dengan Tuan Guru Izzul Islam ternyata belumlah pudar. Ketika Tuan Guru Izzul Islam menikah lagi kedua kalinya dengan Jamila, perasaan itu bahkan tidak hilang. Bahkan semakin membuatnya terpacu untuk menyelesaikan sekolahnya. Entah kenapa, kehidupan poligami yang rukun , yang sebagian besar perempuan tidak menyukainya,malah menjadi pemandangan yang indah di matanya. Kata teman-temannya, ia hanya terobsesi dengan talk show yang ia tonton di salah satu televisi swasta, tentang kehidupan salah seorang anggota DPR sekaligus seorang Kiyai dengan tiga orang istri yang rukun satu sama lainnya. Ia tak sepenuhnya menolak anggapan teman-temannya itu. Dia memang tidak menafikan, keakraban dan saling menyayangi antara mereka di televisi, membuatnya punya pandangan berbeda tentang poligami. Baginya, Jika diantara istri semua ridha, kenapa tidak. Keridhaan antara sesama istri tentu tidak akan terjadi jika tidak ada panduan agama yang kuat.
Ada lagi yang mengatakan bahwa ia belumlah dewasa dan hanya mengikuti kata hati dan pikiran yang masih labil, tapi kali ini ia membantahnya. Jika memang ia masih labil, perasaan itu tentu akan hilang seiring berjalannya waktu. Bahkan hingga ia lulus kini, ia masih berharap menjadi istri Tuan Guru Izzul Islam.
Layla mendongakkan kepalanya. Tatapannya menerawang ke langit-langit kamar. Perasaan yang seperti berputar dan mengaduk dalam hatinya, serasa tak kuasa di tahan degup jantungnya. Ia merasa tak tenang.
Layla mendesah panjang. Ia bangkit dan melangkah menuju meja rias. Amplop putih tempat surat pernyataan kelulusannya dari sekolah, ia buka. Setelah membuka lipatan kertas di dalamnya, ia kemudian membacanya. Matanya hanya fokus kepada namanya yang tertulis di dalam surat pernyataan itu. Ia berharap, 41 kali surat Fatehah yang ia baca sehabis shalat isya' tadi, dengan niat, ketika Tuan Guru Izzul Islam melihat namanya, ia akan merasakan getaran sama yang ia rasakan kini. Tak perlu waktu lama, Tuan Guru Izzul Islam akan memenuhi janjinya.
'Baiq. Layla Ulfatunnisa'.
Layla tersenyum mengeja namanya di dalam hati. Ia mendesah panjang. Bibirnya seperti tak jemu-jemu mengumbar senyum. Surat pengumuman itu dilipatnya dan dimasukkan kembali ke dalam amplop.
Dipandanginya wajahnya di depan cermin. Ia tersenyum. Wajahnya yang menurut teman-temannya keibu-ibuan, semakin membuatnya merasa yakin sudah pantas menjadi seorang istri. Pastinya istri ketiga Tuan Guru Izzul Islam.
Layla menoleh, lalu bangkit mengambil jilbab yang ia selipkan diantara pakaiannya di gantungan baju. Ia kembali duduk dan memasang jilbab warna ungu. Kembali ia tersenyum. Setelah mantap dengan jilbab di wajahnya, ia kemudian berdiri dan mulai membolak-balikkan tubuhnya di depan cermin.
Tapi? Pandangan Layla kembali tertuju ke arah amplop di atas meja. Wajahnya yang tadinya berbinar-binar ceria, tiba-tiba berubah gelisah. Ia mendesah pendek dan kembali menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Ia mulai memikirkan bagaimana caranya memberitahukan Tuan Guru Izzul Islam kalau dia sudah lulus. Kalau menunggu Tuan Guru Izzul Islam menanyakannya terlebih dahulu, ia yakin Tuan Guru Izzul Islam tidak akan terpikirkan kesana. Ia tahu. Sangat tahu, saat Tuan Guru Izzul Islam menjanjikan akan menikahinya setelah lulus, hanyalah untuk memberinya semangat agar ia tak putus sekolah. Saat itu ia sadar sesadarnya, bahwa Tuan Guru Izzul Islam hanya menganggapnya gadis kecil, yang sebentar saja akan membuang mainannya jika ia melihat mainan yang baru. Tapi orang-orang tak pernah menyadari pesona yang dimiliki Tuan Guru Izzul Islam, apalagi jika sedang berada begitu dekat dengannya. Seperti perempuan-perempuan mesir yang mengiris tangan-tangan mereka ketika melihat ketampanan Nabi Yusuf.
Baginya, Ketika Tuan Guru Izzul Islam telah berjanji, maka ia harus menepati janjinya.
__ADS_1
Layla mengurut-urut keningnya. Keringat tiba-tiba membeludak menyerang tubuhnya. Ia merasa mulai gerah karna Ia masih belum menemukan solusi, bagaimana cara memberitahukan Tuan Guru Izzul Islam tentang kelulusannya. Kalaupun ia tahu bahwa bulan ini adalah bulan kelulusan siswa-siswa yang kelas tiga, tapi ia sanksi, Tuan Guru Izzul Islam mengingat dirinya. Yang jelas, ia tak ingin melibatkan lagi kedua orang tuanya dalam hal ini. Ia harus memikirkan caranya sendiri. Ia ingin membuktikan kepada ibu dan bapaknya, bahwa ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
Yes!" Layla menepuk pahanya. Senyumnya kembali mengembang. Solusinya hanya satu. Dia harus datang sendiri ke rumah Tuan Guru Izzul Islam. Ia baru ingat, ada santri senior yang punya kamar sendiri di samping kediaman Tuan Guru Izzul Islam. Ia akan menggunakan jasanya untuk mengantarkan surat itu kepada Tuan Guru Izzul Islam.
* * * * *
Malam selepas isya'. Bintang gemintang di langit yang gelap berkelap-kelip seperti serakan mutiara di atas kaca. Kumpulan galaksi yang terlihat, seperti membawa pikiran terbang jauh menembus ke ujungnya.
Tuan Guru Izzul Islam, Jamila dan Rianti tampak duduk santai di ruang keluarga sembari memperhatikan Adzka, putra Rianti, yang sedang asik bermain sendiri di lantai. Jamila masih tinggal di rumah utama dan tetap menempati kamar almarhumah Nyai Mustiani. Rianti tak mengijinkannya pergi dan menempati rumah yang dibangunkan untuknya dekat asrama putri. Agar rumah itu tidak kosong, Tuan Guru Izzul Islam mengalih fungsikannya sementara waktu sebagai tempat pengurus santri putri.
"Kak Tuan, apa aku sudah boleh pergi ngantor minggu depan? Adzka sudah sembilan bulan. Aku ngantor paling sampai jam 10 dan itu hanya tiga kali dalam seminggu," kata Rianti memulai pembicaraan setelah beberapa saat tadi ketiganya asik memperhatikan tingkah lucu Adzka. Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Jamila.
"Loh, kenapa jadi menoleh ke aku? Yang diminta ijin kan Kak Tuan," kata Jamila sambil tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam ikut tersenyum.
"Aku sama sekali tidak melarangmu, aku hanya memikirkan apakah kondisimu sudah siap atau belum untuk mulai memikirkan urusan kantor," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti tersenyum.
"Kalau masalah itu, insya Allah aku baik-baik saja, Kak Tuan. Tadi pagi pak Sahril nelpon, katanya ada rapat direksi minggu depan. Dia mengharapkan kehadiranku hari itu," kata Rianti.
Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya. Ia kemudian merangkul Jamila dan Rianti yang duduk mengapitnya. Baik Rianti dan Jamila sama-sama menyandarkan kepalanya di pundak Tuan Guru Izzul Islam.
* * * * *
__ADS_1
Sementara itu. Pak Nurasmin dan bu Sofia yang masih duduk bersandar di atas ranjang, nampak sedang terlibat pembicaraan serius. Lulusnya Layla tahun ini memaksa mereka untuk ikut memikirkan kemana Layla akan melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah.
"Kalau ibu, dimanapun Layla akan kuliah, jangan sampai dia tidak mondok, Pak. Kalau masih tinggal kos, ibu tetap merasa khawatir. Pergaulan anak sekarang begitu mengerikan. Bukannya ibu tidak mempercayai Layla, tapi lingkungan terkadang bisa mempengaruhi prilaku seseorang kan Pak?"kata bu Sofia ketika pak Nurasmin meminta pendapatnya. Pak Nurasmin tersenyum. Ia mengangguk mengiyakan pendapat bu Sofia.
"Kalau begitu, kita kirim dia ke Jawa saja. Di pondok pesantren Dalwa, Pondok Pesantren Nurul Jadid atau di pondok pesantren Tebuireng Jombang. Layla bisa mondok sambil kuliah. Ibu tinggal pilih yang mana. Ketiga pondok adalah pondok terkenal, yang kwalitas pendidikannya tak perlu diragukan lagi," kata pak Nurasmin. Bu Sofia mendesah panjang. Ia terdiam mengerutkan dahinya.
"Terlalu jauh, Pak. Ibu gak bisa Layla pergi terlalu jauh. Dia mondok dan kuliah di sini saja," kata bu Sofia. Pak Nurasmin berpaling. Ia menarik selimut di kakinya dan meratakannya ke seluruh tubuhnya. Perlahan ia membaringkan tubuhnya.
"Kalau menuruti kata ibu, anak kita gak akan pernah sukses."
Bu Sofia menyentuh tangan Pak Nurasmin. Pak Nurasmin menoleh. Ia menatap bu Sofia yang sepertinya telah mendapatkan jawaban.
"Bagaimana kalau si Layla mondok dan kuliah di pesantrennya nak Izzul saja. Kan dekat Pak," kata bu Sofia.
"Ibu mau bikin masalah baru? tanya pak Nurasmin. Bu Sofia mengerutkan dahinya.
"Masalah baru? Maksud Bapak?"
"Bagaimana kalau nanti Layla ingat lagi perasaannya yang dulu pada nak Izzul. Saat itu kita tidak pernah menyangka, gak ada hujan, gak ada angin, tiba-tiba si Layla bersikap aneh seperti itu," kata pak Nurasmin.
"Iya, ya, Pak. Mumpung Layla nya sudah lupa, gak boleh diungkit lagi," kata bu Sofia. Ia membaringkan tubuhnya pelan. Ia mendesah pendek.
__ADS_1
"Terserah Bapak saja deh. Yang di Jawa juga gak apa-apa. Tapi cari yang paling dekat," kata bu Sofia.
"Kalau begitu Pondok Pesantren Nurul Jadid saja. Nak Izzul juga alumni sana," jawab pak Nurasmin sembari berbalik memiringkan tubuhnya membelakangi bu Sofia.