KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#237


__ADS_3

Telpon terdengar berdering di teras rumah. Fahmi yang sedang memeriksa beberapa kitab yang akan digunakan para santri mengaji segera bangkit. Ia menyerahkan nota pembelian kepada Farida yang membantunya, sebelum melangkah menuju teras rumah.


"Assalamualaikum, Kak," jawab Fahmi ketika mengangkat panggilan dari Rianti. Karna suara santri yang sedang membaca wirid dari masjid mengganggu pendengarannya, ia membesarkan volume panggilannya.


"Maaf, Kak. Gak dengar," ulang Fahmi ketika suara Rianti dari seberang masih samar didengarnya.


"Kamu nanti malam ke rumah ya. Ada yang perlu kita bicarakan sedikit," kata Rianti dari seberang.


"Sendiri, Kak?"


"Ya, Kamu sendiri saja dulu. Biar Faridanya di rumah saja jaga pesantren. Bakda maghrib ya?"


"Insya Allah, Kak,"


"Ya sudah kalau begitu. Titip salam buat Farida. Assalamualaikum,"


"Wa alaikum salam."


Fahmi menutup telponnya dan kembali ke dalam rumah.


"Dari siapa, Kak,"tanya Farida setelah menyadari Fahmi sudah berdiri di dekatnya memperhatikannya mencatat.


"Kak Rianti, katanya disuruh kesana. Ada yang harus dibicarakan sedikit," jawab Fahmi. Farida mengangkat wajahnya.


"Sendiri?" tanya Farida. Fahmi mengangguk dan duduk di samping Farida.


"Kok Farida gak diajak?"


Fahmi mengangkat kedua bahunya dan mulai sibuk memeriksa kitab-kitab yang telah disusun Farida.


"Kata Kak Rianti, kamu di sini saja dulu jaga pesantren. Gitu aja,"


Farida memasang muka cemberut. Ia memukul-mukulkan ujung bolpoin di atas meja.


"Awas nanti kak Rianti. Buat acara kok gak ngundang-ngundang," kata Farida. Fahmi menggelengkan kepalanya setengah tersenyum.


"Kok acara sih, ini nanti yang membuat fitnah. Perasaan aku gak pernah bilang ada acara. Ada yang ingin dibicarakan,"kata Fahmi mempertegas.


"Sama saja. Seharusnya aku juga ikut," kata Farida membela diri.


"Siapa tahu, kak Tuan dan Kak Rianti sedang mencarikanmu jodoh," bisik Fahmi di telinga Farida. Farida memincingkan kedua matanya.


"Gak Mungkin. Seharusnya Kakak yang lebih dahulu dicarikan jodoh. Sudah berumur gitu," kata Farida. Fahmi menjewer kuping Farida.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikum salam," kata keduanya serempak.


Fahmi dan Farida menoleh. Dilihatnya pak Bayan mendekat ke arah mereka.


"Ada apa, Pak," Tanya Fahmi.


"Di luar ada tamu, Nak Fahmi," kata pak Bayan.


"Siapa, Pak,"


"Bapak gak tahu juga. Tapi kalau dilihat dari pakaiannya, kayaknya seperti Tuan Guru, Nak Fahmi," kata pak Bayan.


Fahmi mengerutkan keningnya. Ia menatap ke arah Farida. Farida mengangkat kedua bahunya.


"Dik, pindah dulu ke kamar ibu," kata Fahmi sambil merapikan kitab-kitab yang berserakan di atas meja.


" Pak, tolong bantu Farida bawa kitab-kitab ini ke kamar ya? Saya mau menemui tamunya dulu," kata Fahmi kepada pak Bayan. Pak Bayan mengangguk dan segera membantu Farida membawa kitab-kitab itu ke kamar.


Fahmi merapikan pakaian dan peci hitamnya. Ia lalu bergegas menuju ke teras rumah.


"Assalamualaikum, Ustadz," kata seorang laki-laki tua berjubah putih dengan surban hijau yang melilit di kepalanya. Janggut putih yang memenuhi dagunya semakin menambah sinar di wajahnya. Di belakangnya dua orang laki-laki paruh baya dan berkoko putih nampak tersenyum ketika Fahmi menatap mereka bergantian. Fahmi tak sempat menjawab salam laki-laki itu karna pikirannya masih mencoba mengingat-ingat dimana pernah melihat laki-laki tua itu. Laki-laki tua itu tersenyum.


"Assalamualaikum," ucapnya lagi setelah melihat Fahmi hanya terdiam menatapnya. Fahmi tergagap.


"Waalaikum salam, silahkan masuk,Tuan," kata Fahmi mempersilahkan laki-laki tua dan dua pengiringnya masuk. Laki-laki tua itu tersenyum.


"Tidak usah, Ustadz. Minta tolong, tunjukkan saya dimana kuburnya Nyai Sulastri,"


Fahmi mengerutkan keningnya. Nama yang disebut laki-laki tua itu memang nama ibunya. Tapi karna ada gelar Nyai di depannya, ia menjadi ragu.


"Sulastri, Tuan. Kalau yang Tuan maksudkan adalah ibu saya, namanya Sulastri, tanpa ada Nyai nya," kata Fahmi sambil tersenyum.


Laki-laki tua itu ikut tersenyum.


"Saya cari makamnya Nyai Sulastri, istrinya almarhum...," laki-laki tua itu menoleh ke arah dua laki-laki di belakangnya.


"Yulian Wibowo, Tuan Guru," jawab salah satu dari mereka. Tetap dengan menundukkan kepala.


"Yah, Itu. Nyai sulastri, istrinya pak Yulian Wibowo, pengusaha terkenal itu," kata laki-laki tua itu mempertegas.


Fahmi terdiam sejenak memperhatikan laki-laki tua di depannya. Orang yang di belakangnya memanggilnya Tuan Guru. Dia merasa pernah melihat Laki-laki itu, tapi ia masih ragu dimana pernah melihatnya.


"Silahkan, Tuan Guru," kata Fahmi mempersilahkan. Laki-laki itu kembali tersenyum menganggukkan kepalanya. Ia kemudian melangkah dengan dua pengiringnya mengikuti Fahmi dari belakang.


Tuan Guru itu terdiam sesampainya di depan kubur Sulastri dan Yulian Wibowo. Ia mendesah dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Fahmi yang kini posisinya di belakangnya di suruhnya mendekat.


"Kenapa gak di bangunkan pembatas biar orang yang berziarah lebih nyaman berzikir dan membaca yasin, Ustadz," kata laki-laki tua itu.


Fahmi tersenyum.


"Yang berziarah hanya satu dua orang saja, Tuan Guru. Malu kalau di buatkan bangunan,"


Laki-laki tua itu mengernyitkan dahinya seraya tersenyum. pundak Fahmi dipegangnya.


"Kenapa mesti malu? Setelah ini, akan banyak orang yang datang menziarahi kuburan beliau," kata laki-laki itu sambil melangkah mendekat ke kuburan Sulastri. Fahmi kembali mengerutkan keningnya. Belum begitu mengerti maksud Tuan Guru itu.


"Sebentar, Tuan Guru. Saya ambil tikar dulu," kata Fahmi ketika laki-laki itu hendak duduk. Ia segera bergegas menuju kamar bi Aisyah. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa tikar. Ia langsung menggelarnya di depan Tuan Guru itu. Tuan Guru itu kemudian duduk bersila, diikuti kedua pengiringnya. Begitupun dengan Fahmi.


Setelah selesai berzikir beberapa lamanya, laki-laki itu meminta ketiganya untuk pergi.


"Kalian tinggalkan aku sebentar," kata laki-laki itu. Fahmi dan kedua orang pengiringaya kemudian bangkit dan mundur perlahan.


"Bi," panggil Fahmi ketika melewati kamar bi Aisyah saat mengajak dua pengiring Tuan Guru itu menuju teras rumah.


"Ada apa, Nak," kata bi Aisyah.

__ADS_1


"Buatkan minuman ya, Bi. Minta tolong bi Munawarah untuk mengantarnya ke teras. Empat ya Bi," kata Fahmi.


"Baik, Nak."


Fahmi menoleh ke arah dua laki-laki yang berjalan beriringan dengannya.


"Maaf, Pak. Kalau boleh tahu, nama bapak-bapak siapa?Biar saya gak terlalu kikuk" kata Fahmi sambil terus mengajak keduanya berjalan menuju teras rumah. Keduanya tersenyum.


"Saya Pak Makripudin, dan ini teman saya pak Mas'ud. Kami ini sudah lama ikut beliau," kata orang yang memperkenalkan dirinya pak Makripudin itu. Fahmi tersenyum.


"Saya Fahmi, Pak," kata Fahmi ikut memperkenalkan namanya. Tak terasa, mereka sudah sampai di teras rumah. Fahmi segera mempersilahkan mereka duduk.


"Eee...," Fahmi menggaruk-garuk kepalanya.Ia menoleh ke arah samping.


"Saya kok merasa pernah lihat beliau, tapi saya bingung dimana. Kayaknya sudah Familiar sekali," kata Fahmi. Pak Makripudin tersenyum.


"Beliau adalah Tuan Guru Alamsyah Hasbi, pemimpin tarekat...,"


"Astaghfirullah." Fahmi memukul kepalanya dengan bagian dalam telapak tangannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan tak henti-henti mengucap istighfar.


"Pantesan saya gak merasa asing. Ya, Allah, mimpi apa saya semalam kedatangan ulama besar. Astaghfirullah, semoga sikap saya tadi tidak menyinggung hati Al-mukarrom," kata Fahmi terlihat penuh sesal.


"Saya pernah melihat beliau sekali, kalau gak salah pada acara tabligh akbar di alun-alun. Waktu itu saya masih kelas satu Tsanawiyah, Pak. Ya Allah, mimpi apa aku semalam," sambung Fahmi sambil mengusap-usap wajahnya.


"Gak apa-apa, Nak Fahmi. Namanya juga gak tahu," kata pak Makripudin. Fahmi mendesah panjang. Ia lebih mendekatkan kursinya ke arah pak Makripudin.


"Tapi ngomong-ngomong, apa Tuan Guru memang sengaja kesini?" tanya Fahmi dengan suara datar.


Pak Makripudin memperbaiki sandaran punggungnya. Ia menatap ke arah Fahmi. Ia mendesah sebelum memulai ceritanya.


"Beliau pernah bermimpi kedatangan almarhum ayah beliau, Tuan Guru Qinan. Di dalam mimpi itu, Tuan Guru Qinan menyuruh beliau untuk sering-sering berkunjung ke makamya Nyai Sulastri. Kebetulan di dalam mimpi itu Nyai Sulastri berada di samping Tuan Guru Qinan. Itu sebabnya, ketika pekerjaan di ladang sudah selesai, beliau langsung mengajak kami kesini."


Fahmi terdiam sejenak. Ia seperti sedang memikirkan cerita yang baru saja didengarnya dari laki-laki di depannya. Tuan Guru besar seperti Tuan Guru Alamsyah Hasbi memimpikan ibunya bersama ayah beliau? Setinggi itukah maqom ibunya sehingga bisa masuk kedalam mimpi orang alim dan Shaleh seperti beliau? Mursyid Tarekat lagi. Pertanyaan demi pertanyaan mulai mengerubungi pikiran Fahmi.


Kedua laki-laki itu tiba-tiba berdiri dan berbalik menghadap ke arah samping. Tuan Guru Alamsyah Hasbi terlihat berjalan ke arah mereka. Begitu melihatnya, Fahmi segera turun dari teras dan mencium bolak balik tangan Tuan Guru Alamsyah Hasbi.


"Mohon maaf, Tuan Guru, kita di dalam saja," kata Fahmi mempersilahkan Tuan Guru Alamsyah Hasbi masuk ke dalam.


"Gak usah, Ustadz. Kita di luar saja.Lagi pula saya tidak bisa lama di sini. Saya ada acara dua jam lagi. Yang penting saya sudah menemukan kubur almarhum Bu Nyai," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Fahmi kemudian memegang tubuh Tuan Guru Alamsyah Hasbi dan mempersilahkannya duduk di salah satu kursi. Tak beberapa lama kemudian, Munawarah datang membawa minuman.


"Silahkan, Tuan Guru,"kata Fahmi mempersilahkan Tuan Guru Alamsyah, pak Makripudin dan pak Mas'ud mencicipi minuman yang ada di depan masing-masing.


Tuan Guru Alamsyah tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Dengan Ustads...,"


"Saya Fahmi, Tuan Guru. Anaknya ibu Sulastri,"


"Begini Ustadz. Sebelumnya saya minta maaf kalau saya terkesan, mungkin meremehkan Ustadz Fahmi sekeluarga . Ini adalah tafsir dari mimpi saya untuk membangunkan bangunan di makam Nyai Sulastri. Yah, sekedar penutup saja, Biar orang yang datang berziarah bisa berteduh," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi sambil memegang lengan tangan Fahmi.


"Tapi Ustadz musyawarahkan dulu sama keluarga. Dan sampaikan salam takzim saya sama semua keluarga," sambung Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Fahmi menganggukkan kepalanya penuh hormat.


"Baik, Tuan Guru,"


Tuan Guru Alamsyah Hasbi mendesah panjang setelah menyeruput minumannya. Ia memberi isyarat kepada pak Makripudin dan pak Mas'ud untuk pergi.


"Kalau begitu, saya pamit dulu, Ustadz. Saya mau langsung ke desa pemongkong. Ada undangan sebentar. Kapan-kapan, kalau Ustadz dan keluarga setuju, saya akan datang lagi berkunjung," kata Tuan Guru Alamsyah Hasbi sambil bangkit. Fahmi segera menyerbu tangan Tuan Guru Alamsyah Hasbi dan menciumnya.


"Terimakasih banyak atas kunjungan Tuan Guru. Saya tidak menyangka akan kedatangan Tuan Guru. Ya, Allah, terimakasih, Tuan Guru," kata Fahmi dengan mata berlinang bahagia.Tuan Guru Alamsyah Hasbi tersenyum sambil memegang kedua pundak Fahmi.


"Pak Makripudin, tolong berikan nomor saya pada Ustadz."


Fahmi segera mengeluarkan ponselnya dan mencatat nomor yang diberikan pak Makripudin.


Setelah mengajak Tuan Guru Alamsyah Hasbi melihat sejenak pondok pesantren, Fahmi mengantarnya menuju mobilnya. Dia tetap berdiri hingga mobil Tuan Guru Alamsyah Hasbi hilang di ujung jalan.


* * * * *


Suasana di kediaman Tuan Guru Izzul Islam terlihat ramai. Fahmi yang sudah tiba sebelum maghrib tadi, dan ikut berjamaah shalat maghrib, terlihat asik mengajak Azka bermain-main di lantai ruang tamu.


"Suhaini," panggil Jamila sambil menengok ke arah dapur. Suhaini terlihat bergegas mendekat.


"Saya, Bu Nyai," kata Suhaini setibanya di ruang tamu.


"Ajak Azka sama Ibu ya. Kami mungkin akan keluar lama malam ini. Buat dia cepat tidur ya?" kata Jamila. Suhaini menganggukkan kepalanya.Dia kemudian mengangkat tubuh Azka yang merangkak di lantai dan segera membawanya ke dapur.


"Sebelumnya, mumpung masih ingat, Kak Tuan. Ada titipan salam dari Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Tadi dia datang ke rumah," kata Fahmi setelah duduk di dekat Rianti. Ia tahu, berita yang dibawanya akan mengagetkan ketiganya, terutama Tuan Guru Izzul Islam. Benar saja. Begitu mendengarnya, Tuan Guru Izzul Islam langsung memajukan kepalanya ke arah Fahmi. Fahmi tersenyum.


"Sebentar, kamu tadi bilang siapa?" tanya Tuan Guru Izzul Islam.


Tuan Guru Alamsyah Hasbi, Kak Tuan," jawab Fahmi.


"Tuan Guru Alamsyah Hasbi?" tanya Tuan Guru Izzul Islam mempertegas. Fahmi mengangguk sambil terus tersenyum.


"Subhanallah, ada urusan apa sehingga ulama besar seperti beliau datang mengunjungimu, Dik Fahmi," kata Tuan Guru Izzul Islam terheran-heran. Tapi Fahmi tidak mungkin membohonginya. Apalagi membuatnya sebagai bahan candaan.


Fahmi tersenyum sembari menggaruk-garuk kepala bagian belakangnya.


"Bukan mencari saya, Kak Tuan. Dia mau berziarah ke makam ibu," kata Fahmi. Lagi-lagi Tuan Guru Izzul Islam mengerutkan dahinya.


" Berziarah ke makam ibu? Tapi dari mana beliau tahu tentang ibu? Kalau gak salah, beliau berada di tempat yang sangat jauh sekali. Kalau gak salah di lereng bukit bako tinggi. Itu ujung selatan pulau lombok," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia menoleh ke arah Rianti. Fahmi memperbaiki posisi duduknya.


"Kata pengiring beliau, beliau bermimpi bertemu Almarhum ayah beliau, Tuan Guru Qinan. Beliau diperintahkan untuk berziarah ke makam ibu. Beliau juga meminta ijin kepada kita untuk membangunkan makam ibu bangunan kecil untuk tempat penziarah. Biaya pembangunan akan langsung ditanggung beliau," kata Fahmi.


"Tapi benar yang beliau cari adalah almarhumah ibu?"


"Benar, Kak Tuan. Awalnya saya juga sempat gak percaya karna beliau menyematkan kata Nyai di depan nama ibu. Tapi karna beliau juga menyebut nama almarhum bapak Yulian Wibowo, saya baru percaya jika yang beliau cari adalah ibu," jawab Fahmi. Cerita Fahmi membuat Tuan Guru Izzul Islam berdecak kagum. Begitu juga dengan Rianti dan Jamila. Lagi-lagi almarhum Sulastri memberi mereka kejutan tak terduga dan menakjubkan.


"Subhanallah, jika ulama besar dan merupakan mursyid tarekat Naqsabandiyah saja datang jauh-jauh untuk menziarahi makam ibu, maka kita patut berbaik sangka bahwa almarhumah ibu adalah seorang wali Allah," kata Tuan Guru Izzul Islam seraya tak henti-henti menggelengkan kepalanya.


"Apa beliau pernah mengatakan akan berkunjung lagi kerumah?" tanya Rianti.


"Saya kurang pasti, Kak. Tapi saya sudah menyimpan nomor beliau. Saya yakin, beliau ingin dihubungi jika kita sudah sepakat tentang pembangunan di sekitar makam ibu," kata Fahmi.


"Tolong kirimkan nomornya, Dik," kata Tuan Guru Izzul Islam sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam saku bajunya.


"Ya, Allah, mendengar nama beliau saja membuat suasana hati kita semakin bahagia. Apalagi bisa bertemu beliau. Mudah-mudahan beliau diberi umur panjang oleh Allah swt," desah Tuan Guru Izzul Islam.


"Amin," kata Fahmi, Rianti dan Jamila serempak.


"Ok, karna nanti kita takut terlalu malam, mungkin dik Fahminya langsung kita kasih tahu, bagaimana, Kak Tuan," kata Rianti setelah untuk beberapa lama mereka terdiam. Tuan Guru Izzul Islam mempersilahkan Rianti.

__ADS_1


"Begini, Dik Fahmi. Maksud kami menyuruh Dik Fahmi malam ini kesini untuk membicarakan mengenai pernikahan Kak Tuan,"


"Kak Tuan menikah lagi?"


"Belum, Dik. Tapi akan. Sehabis isya' nanti kita akan bersama-sama melamar calon istri Kak Tuan,"


Fahmi tersenyum cengengesan.


"Loh, kok senyum begitu. Ada apa, Dik Fahmi?" tanya Jamila.


"Gak ada, Kak. Cuma malu saja didahului terus sama Kak Tuan,"


"Sebenarnya aku sudah berusaha melupakannya, Dik Fahmi. Tapi Kakak-kakakmu ini ngotot ingin melanjutkannya," kata Tuan Guru Izzul Islam berusaha membela diri.


"Kalau boleh tahu, calon Kak Tuan siapa, Kak?"


"Qurratul Aini. Janda mati almarhum Cristian. Masih ingat kan?"


Fahmi terdiam. Mendengar nama Qurratul Aini disebut sebagai calon istri Tuan Guru Izzul Islam, ia sempat terkejut. Tapi ia tidak mau raut mukanya terlihat berubah. Ia berusaha bersikap seperti sedang tidak terjadi apa-apa. Ia berpura-pura mengambil air botol kemasan di depannya. Ia menganggukkan kepalanya.


"Habis ini, kamu juga harus cari calon istri, jangan sampai didahului lagi sama Kak Tuan. Kalau gak dapat-dapat juga, biar aku yang carikan,"sahut Jamila. Kembali Fahmi menggaruk-garuk kepalanya. Ia berusaha tersenyum sekalipun ia masih memikirkan perempuan yang akan dilamar Tuan Guru Izzul Islam. Padahal, dia juga berniat meminta pendapat mereka terkait Qurratul Aini. Mumpung ia dipanggil datang kesana.


"Kayaknya, saya serahkan saja sama Kak Rianti,"kata Fahmi sambil menatap ke arah Rianti.


""Beres, serahkan semuanya kepada Kakak," kata Rianti.


Adzan isya' terdengar berkumandang. Pembicaraan mereka terhenti dan khusyu' mendengarkan suara Adzan.


* * * * *


Qurratul Aini masih duduk di sebuah bangku kecil yang dulunya sering digunakan oleh Tuan Guru Faeshal untuk mengawasi para santri yang sedang muthala'ah pelajaran mereka. Tempat yang dulu asri dengan rumput hias yang menghijau dan tanaman-tanaman hias itu, kini sudah penuh dengan tanaman-tanaman liar yang merambat memenuhi halaman asrama. Hanya diterangi lampu lima whatt yang cahayanya mulai redup. Begitu juga dengan Mushalla tempat para santri berjamaah. Atap-atapnya sudah banyak yang berlubang dan jatuh berserakan di tanah. Bahkan di lantai teras dan ruang dalam mushalla. Apa yang telah diperjuangkan Tuan Guru Faeshal menjadi sia-sia. Dia sebagai anak satu-satunya merasa punya tanggung jawab besar untuk melanjutkannya. Tapi ia tidak punya daya dan upaya untuk itu. Itu yang membuatnya selalu sedih. Setiap kali melihat bangunan-bangunan bekas asrama santri itu, hatinya terasa sakit. Ia benar-benar merasa tak berguna saat Allah masih memberinya kesehatan dan nikmat hidup.


Qurratul Aini menoleh. Seekor kupu-kupu warna kuning yang seperti sedang mencari tempatnya hinggap menarik perhatiannya. Qurratul Aini menyodorkan jari telunjuknya ke arah kupu-kupu itu. Qurratul Aini begitu kegirangan saat kupu-kupu itu hinggap di jari tangannya.


* * * * *


Setelah melalui perjalanan selama sekitar satu jam lamanya, Akhirnya, mobil kijang kapsul yang ditumpangi Tuan Guru Izzul Islam beserta rombongannya tiba di depan rumah Qurratul Aini. Melihat suasana rumah yang begitu sepi, mereka mengurungkan niat untuk turun dari mobil.


Tuan Guru Izzul Islam melirik ke arah jam tangannya. Baru jam 9 malam. Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Fahmi.


"Dik, coba kamu turun dan ucapkan salam. Jika sampai tiga kali salam tak ada juga jawaban, kita datang lain kali saja,"


Fahmi mengangguk dan bergegas turun dari mobil. Ia mulai mengucap salam dari luar pintu gerbang. Tiga kali mengucap salam, tak ada juga jawaban dari penghuni rumah. Fahmi mendesah dan membalikkan badannya, kembali ke mobil. Tapi baru saja ia hendak menaiki mobil, tiba-tiba terdengar pintu di buka disertai jawaban salam.


Seorang perempuan paruh baya dengan memakai mukena berwarna putih keluar. Ia nampak berdiri sambil memperhatikan ke arah mobil. Tuan Guru Izzul Islam segera mengajak Rianti dan Jamila turun dari mobil.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Ibu, saya ini Izzul Islam," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Waalaikum salam," jawab Nyai Indrawati sembari bergegas turun dari teras rumah menuju pintu gerbang. Setelah sejenak memperhatikan orang-orang yang berdiri di depan gerbang. Spontan ia terkejut ketika mulai mengenal orang-orang di depannya.


"Astaghfirullah, Ya, Allah, Tuan Guru, saya sama sekali tak menyangka kalau Tuan Guru dan ibu-ibu Nyai yang ada di depan. Mari silahkan masuk," kata nyai Indrwati sambil membuka lebar-lebar pintu gerbangnya.


"Qurratul Aini,aduh, kok belum pulang juga anak itu," panggil Nyai Indrawati Nyai Mustiani sambil mulai membersihkan alas sofa dengan serbet di atas meja.


"Silahkan duduk, Tuan Guru, Nyai," kata Nyai Indrawati.


"Memangnya dik Qurratul Aini kemana, Bu Nyai," tanya Rianti.


Nyai Indrawati mendesah panjang. Raut mukanya tiba-tiba berubah.


"Sejak suaminya meninggal dunia, dia jadi sering menyendiri, Bu Nyai. Tapi bukan kehilangan itu yang ia sedihkan. Sejak ayahnya meninggal dunia, satu persatu para wali santri mengambil anaknya pulang. Pondok pesantren yang tadinya ramai dengan suara santri yang sedang belajar, tiba-tiba menjadi sepi. Bangunan jadi terbengkalai. Itulah yang sebenarnya disesalkan Qurratul Aini. Ia menyesal karna tak ada yang bisa ia lakukan untuk menyelamatkan pesantren yang bertahun-tahun diperjuangkan almarhum ayahnya," cerita Nyai Indrawati. Matanya terlihat berlinang. Rianti bangkit dan duduk di samping Nyai Indrawati. Punggung Nyai Indrawati diusapnya lembut. Nyai Indrawati tersenyum. Ia segera mengusap air matanya.


"Saya jadi lupa membuatkan minuman. Saya pamit ke dapur dulu, Tuan Guru," kata Nyai Indrawati.


"Gak usah,Bu Nyai. Sudah malam. Sebelum kesini, kami sudah ngopi dulu di rumah," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Tapi bagaimana ini,masa saya gak nyuguhin tamu sekedar minuman," kata Nyai Indrawati sembari mengusap mukenanya.


"Gak usah repot-repot, Bu Nyai.Insya Allah,lain kali kami berkunjung lebih lama ke sini," kata Rianti. Ia melirik ke arah Tuan Guru Izzul Islam dan Jamila, seperti meminta ijin untuk memulai pembicaraan. Keduanya menganggukkan kepala.


Rianti menoleh ke arah Nyai Indrawati. Punggung Nyai Indrawati di usapnya kembali.


"Bu Nyai, sebenarnya, selain untuk bersilaurrahim, ada hal lain yang ingin kami bicarakan dengan Bu Nyai dan Dik Qurratul Aini," kata Rianti. Nyai Indrawati menatap Rianti.


"Aduh, saya kok jadi takut, Bu Nyai. Apa ada yang salah dengan anak saya?" tanya Nyai Indrawati. Rianti tersenyum.


"Bu Nyai ada saja. Gak ada masalah apa-apa kok, Bu Nyai. Justru kami ini yang deg-degan," kata Rianti. Nyai Indrawati mengerutkan keningnya. Ia menatap bergantian ke arah tamu-tamunya.


"Ayo, cepetan kasih tahu saya, Bu Nyai. Saya kok semakin penasaran," kata Nyai Indrawati. Semua yang ada di ruang tamu tersenyum.


Rianti mendesah panjang. Ia memejamkan matanya sejenak menghimpun keberaniannya.


"Bu Nyai." Rianti memegang tangan Nyai Indrawati.


"Mohon maaf sebelumnya karna kami tidak memberitahukan terlebih dahulu kedatangan kami malam ini. Tapi karna kami angap ini malam yang baik, dan apa yang akan kami bicarakan ini adalah perkara yang baik, maka kami memutuskan mengunjungi Bu Nyai malam-malam begini." Rianti berhenti sejenak. Tuan Guru Izzul Islam, Jamila dan Fahmi terdiam menundukkan kepalanya.Nyai Indrawati mendengarkan dengan seksama dengan tatapan penasaran.


"Kami ingin tetap menjaga tali silaturrahim dengan keluarga almarhum Tuan Guru Faeshal. Terutama bagaimana caranya agar pesantren yang susah payah didirikan oleh almarhum bisa kembali ramai dengan santri-santri yang menuntut ilmu agama. Kami sudah bermusyawarah dan mengambil keputusan bersama dengan hati yang insya Allah jernih, bahwa kami berniat melamar di Qurratul Aini untuk Kak Tuan."


Nyai Indrawati terdiam. Ia menatap bergantian ke arah Tuan Guru Izzul Islam, Jamila dan Rianti dengan tatapan penuh tanda tanya dan tak percaya. Rianti dan Jamila tersenyum.


"Kami ingin meminta ijin Bu Nyai dulu sekalipun keputusannya ada pada dik Qurratul Aini," kata Rianti. Nyai Indrawati tersenyum tapi dengan ekspresi kebingungan. Ia juga jadi serba salah. Belum ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya. Untuk sesaat suasana menjadi hening. Sepi. Menunggu jawaban dari Nyai Indrawati.


"Bu Nyai, kami menunggu jawaban Bu Nyai," sahut Jamila membuyarkan keheningan. Nyai Indrawati menundukkan kepalanya. Air matanya kembali menetes.


"Saya tidak tahu harus berkata apa, Bu Nyai. Anak saya mau dilamar oleh kedua istri Tuan Guru. Saya sungguh tidak pernah menyangkanya. Saya memang selalu berdoa,jika anak saya masih diberikan jodoh oleh Allah, semoga Allah memberikannya suami yang bisa membangkitkan kembali pondok pesantren. Saya tidak menyangka saja kalau itu adalah Tuan Guru. Terus terang saya malu atas apa yang dulu pernah dilakukan anak saya pada Tuan Guru," kata Nyai Indrawati sesenggukan. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Bu Nyai, yang dulu sudah berlalu. Saat itu memang mengharuskan Qurratul Aini melakukannya. Sama sekali aku tidak menyalahkannya," kata Tuan Guru Izzul Islam.


Rianti mengeluarkan tisu dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Nyai Indrawati. Nyai Indrawati menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat keempatnya gelisah.


"Saya tidak tahu bagaimana mengungkapkan kebahagiaan saya. Sungguh, saya membayangkan bagaimana bahagianya Qurratul Aini jika bisa menghidupkan kembali pesantren ayahnya. Ayahnya tentu akan tersenyum di alam sana karna jerih jariyahnya kembali mengalir ke kuburnya." Nyai Indrawati mengusap kembali air matanya. Ia terdiam sejenak. Berusaha menenangkan dirinya.


"Semua saya serahkan kepada Qurratul Aini, Bu Nyai. Apapun keputusannya, saya akan menerimanya," lanjut Nyai Indrawati mengakhiri kata-katanya. Rianti tersenyum.


Nyai Indrawati mendesah panjang dan bangkit.


Mau kemana, Bu Nyai," tanya Rianti sambil memegang tangannya.


"Saya mau panggil Qurratul Aini dulu. Dia biasanya duduk di tempat biasanya almarhum ayahnya dulu duduk," kata Nyai Indrawati.


"Saya ikut, Bu Nyai. Nanti biar saya yang bicara dengan dik Qurratul Aini," kata Rianti sambil bangkit. Setelah meminta ijin kepada Tuan Guru Izzul Islam, ia mengajak Jamila ikut serta.

__ADS_1


Sesampainya di depan pintu gerbang yang menghubungkan pesantren dengan rumahnya, Nyai Indrawati menunjuk ke arah Qurratul Aini yang duduk membelakangi pintu gerbang.


"Bu Nyai, biar kami yang bicara sama dik Qurratul Aini. Bu Nyai temani dulu Kak Tuan dan dik Fahmi," pinta Rianti lembut kepada Nyai Indrawati. Nyai Indrawati tersenyum dan melangkah kembali menuju rumah.


__ADS_2