KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#115


__ADS_3

Setengah jam setelah kedatangan Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam di rumah Tuan Guru Faeshal. Qurratul Aini yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Jam di dinding telah menunjukkan pukul 9 malam. Suasana terasa agak kaku, terutama dirinya dan Tuan Guru Fashal. Tapi Tuan Guru Izzul Islam berusaha bersikap tenang.


Tuan Guru Faeshal menatap ke arah Tuan Guru Izzul Islam yang duduk tenang di depannya. Janggutnya yang hampir seluruhnya memutih dan menggelayut hingga dadanya di usap-usapnya tak henti. Ada bulatan menghitam tak beraturan yang tampak jelas di keningnya tepat di bawah lingkaran kopiah putihnya. Ciri khas aliran itu. Ini pertama kalinya bagi Tuan Guru Izzul Islam berhadapan langsung dengan Tuan Guru Faeshal, dedengkot salah satu aliran keras, yang selama ini selalu jadi pengkritik setiap kegiatan keagamaan di pesantrennya. Bahkan jauh semasa ayahnya masih hidup. Sebelumnya, ia hanya melihat Tuan Guru Faeshal lewat youtube. Laki-laki yang perkiraan umurnya sekitar 70 tahun itu tampak berwibawa dengan pakaian serba putih yang dikenakannya. Kepalanya nyaris tak pernah bergerak. Hanya bola matanya yang bergerak kesana kemari, menatap dengan tatapan penuh selidik.


"Saya mohon maaf, Bu Nyai, Tuan Guru. Anak saya sedang ada tugas di kampusnya. Tapi sebentar lagi dia akan pulang. Dia sedang dalam perjalanan," kata Tuan Guru Faeshal sembari bergantian menatap Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam. Senyumnya hampir tak kelihatan sebab tebalnya jenggotnya.


Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Gak apa-apa, Tuan Guru. Biar kami tunggu dia," jawab Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam meminum kopi di depannya.


"Bu, kalau makanannya sudah selesai, bawa keluar untuk tamu kita," panggil Tuan Guru Faeshal sembari menoleh ke belakang.


"Gak usah repot-repot, Tuan Guru," kata Nyai Mustiani menyela. Nyai Indrawati, istri Tuan Guru Faeshal tersenyum. Di tangannya dua buah piring berisi makanan yang baru selesai dibuatnya di dapur. Dia meletakkannya di atas meja lalu duduk di samping Nyai Mustiani.


"Ayo, Bu Nyai, Tuan Guru, dicicipi dulu makanannya," kata Nyai Indrawati mempersilahkan kedua tamunya. Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam tersenyum menganggukkan kepala. Nyai Mustiani mencomot salah satu kue dan mencoba mencicipinya.


"Emh, Ini terbuat dari ubi ya, Bu?" kata Nyai Mustiani. Dia terlihat menikmatinya. Nyai Indrawati tersenyum.


"Iya, Bu Nyai. Itu ubi biru. Dibawakan salah satu wali santri kemarin,"


"Enak. Kue buatan bu Nyai enak," kata Nyai Mustiani. Ia menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam.

__ADS_1


"Ayo di coba, Nak," sambung Nyai Mustiani sambil menepuk pelan paha Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan mencoba makanan di depannya.


Suara mobil terdengar dari arah luar. Mereka serempak menoleh ke arah pintu. Nyai Indrawati segera bangkit dan bergegas melangkah keluar rumah. Dilihatnya Qurratul Aini keluar dari dalam mobil dan tersenyum ke arahnya. Qurratul Aini membuka pintu mobil bagian belakang dan mengambil beberapa buku besar dan laptop. Karna melihat Qurratul Aini seperti kewalahan membawa bawaannya, Nyai Indrawati segera melangkah turun menghampirinya.


"Ayo, ibu bantu kamu membawanya. Tamunya sudah menunggumu cukup lama. Kamu langsung mandi dan berhias secukupnya. Kamu lewat pintu belakang saja, biar ibu yang bawakan bukumu ke dalam," kata Nyai Indrawati. Qurratul Aini tersenyum. Tawaran ibunya sesuai dengan harapannya. Ayah dan tamunya tentu akan berpikir ia begitu sibuk begitu melihat banyaknya buku yang dibawa ibunya.


"Loh, anakmu mana, Bu," tanya Tuan Guru Faeshal ketika melihat Nyai Indrawati terlihat sendirian dari arah pintu. Nyai indrawati meletakkan buku yang dibawanya di rak buku di belakang Tuan Guru Faeshal. Ia lalu kembali duduk dekat Nyai Mustiani.


"Dia saya suruh mandi dulu, biar seger," jawab Nyai Indrawati.


"Bukunya banyak sekali, Bu. Pasti nak Qurratul Aininya capek sekali," kata Nyai Mustiani.


"Capek-capek sedikit, Bu Nyai. Sebentar lagi dia akan di wisuda," sahut Tuan Guru Faeshal.


"Di Fakultas kedokteran Universitas Mataram,"


Nyai Mustiani melirik ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Ia terlihat tampak senang. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan menanggukkan kepalanya, sekedar menghormati ibu dan tuan rumah.


Qurratul Aini menghentikan langkahnya di balik pintu menuju ruang tamu. Dia memeriksa pakaian yang dikenakannya. Sesekali mengarahkan wajahnya ke depan ponselnya. Ujung jilbab putihnya di rapikannya. Ia mendesah berusaha menstabilkan detak jantungnya. Dari celah pintu, ia berusaha mencari sosok Tuan Guru Izzul Islam di ruang tamu. Tak ada yang terlihat selain punggung ayahnya.


Qurratul Aini kembali mendesah dan memejamkan matanya sejenak. Setelah itu ia perlahan membuka pintu.

__ADS_1


Semua pandangan tertuju ke arahnya ketika ia muncul dari balik pintu. Nyai Indrawati segera melangkah menghampiri anaknya dan mengajaknya mendekat.


"Ayo, beri salam untuk ibu Nyai," kata Nyai Indrawati. Qurratul Aini tersenyum. Tangan Nyai Mustiani diraihnya dan menciumnya. Dia membungkukkan wajahnya memberi hormat kepada Tuan Guru Izzul Islam. Sejenak kedua mata saling berpandangan. Cantik. Cantik sekali. Tuan Guru Izzul Islam tidak bisa memungkiri itu. Dia mengagumi dalam hatinya.


"Maha Indah Allah yang telah memperlihatkan indahnya ciptaan-Nya lewat gadis itu," batin Tuan Guru Izzul Islam.


Sama halnya dengan Tuan Guru Izzul Islam, Qurratul Aini juga merasakan hal yang sama. Ia merasa Tuan Guru Izzul Islam punya daya tarik sendiri yang tak pernah ia jumpai pada laki-laki lain. Dia yang sebelumnya mengira Tuan Guru Izzul Islam adalah laki-laki tua, yang jauh dari kesan pantas bersanding dengannya yang masih berumur 26 tahun.


"Ayo duduk dekat ibu," kata Nyai Mustiani sambil memegang tangan Qurratul Aini. Qurratul Aini tersenyum dan duduk di samping Nyai Mustiani.


"Nah, mumpung Nak Qurratul Aininya sudah datang, mungkin kita bisa menanyakan kepadanya untuk memperjelas maksud kedatangan kami pada malam ini, juga kesediaannya," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Faeshal mendesah.


"Tak perlu ditanyakan, Bu Nyai. Anak gadis berada dalam tanggung jawab orang tuanya. Dia harus mau menerima keputusan yang menurut orang tuanya baik," jawab Tuan Guru Faeshal. Tuan Guru Izzul Islam mendesah pelan. Ia melirik ke arah Qurratul Aini. Di saat bersamaan, Qurratul Aini juga melakukan hal yang sama sehingga tatapan mata keduanya tertumbuk satu sama lainnya. Qurratul Aini menundukkan wajahnya. Pandangannya kini terarah ke jari-jari kakinya.


"Tapi, kita tunggu anaknya wisuda dulu, Bu Nyai." Tuan Guru Faeshal menoleh ke arah Qurratul Aini yang masih menundukkan wajahnya.


"Tinggal berapa bulan, Qurro?" Tanya Tuan Guru Faeshal.


"Satu bulan lagi, Yah. Insya Allah," jawab Qurratul Aini tetap menundukkan wajahnya.


Nyai Mustiani terlihat lega. Ia mengusap punggung Qurratul Aini.

__ADS_1


"Ibu juga dulu menikahnya karna dijodohkan. Malah, ibu tidak pernah melihat calon suami ibu, almarhum ayahnya Izzul. Tapi pilihan orang tua tak pernah meleset. Intinya menerima dengan ihlas dan bersabar. Cinta dengan sendirinya akan hadir seiring berlalunya waktu," kata Nyai Mustiani. Qurratul Aini tersenyum menganggukkan kepalanya.


"Banyak anak muda sekarang yang menolak dijodohkan orang tua dengan dalih Cinta. Cinta yang ujung-ujungnya menjerumuskan mereka pada maksiat," sahut Tuan Guru Faeshal. Qurratul Aini semakin menundukkan kepalanya. Kata-kata ayahnya langsung menembus ke dalam dadanya. Kata-kata ayahnya memang tepat disematkan untuknya. Keringat dingin tiba-tiba mengalir di tubuhnya. Ia tiba-tiba merasa tak pantas disandingkan dengan Tuan Guru Izzul Islam. Pancaran wajah Tuan Guru Izzul Islam yang bening tanpa dosa terlalu mahal untuknya. Tapi posisinya saat ini yang tak bisa menolak, membuatnya mau tidak mau harus menerima apapun keputusan ayahnya. Berterus terang tentang hubungan tanpa batasnya dengan Cristian tentu akan mengundang amarah besar ayahnya. Mungkin saja malam ini ayahnya akan membunuhnya langsung.


__ADS_2