
Mobil sedan yang ditumpangi pak Efendi dan pak Jamal terlihat berhenti di sebuah persimpangan jalan. Mobil itu kembali terlihat bergerak menuju jalan kecil yang di sisi kiri dan kanannya dipenuhi rerimbunan pohon waru. Tempat itu mirip perkebunan jika dilihat dari jalan raya. Hanya ada plank kecil dengan tulisan warna putih yang mulai kabur dan mengelupas.
"Rumah Makan Zamora"
Sekitar 300 meter dari jalan raya, pak Efendi menghentikan mobilnya. Tepat di depan sebuah bangunan besar dengan model atap lumbung. Dari kaca bening besar dan tembus pandang, beberapa orang terlihat sedang menikmati makanannya. Beberapa mobil mewah berbagai warna berjejer rapi di area parkir. Suasana di tempat itu nampak asri. Berbagai tanaman hias tertata rapi di halaman rumah makan. Di belakang bangunan, berjejer gazebo-gazebo bercat coklat. Pohon palm mendominasi tumbuh rapi di belakang masing-masing gazebo. Hanya ada tiga gazebo yang terlihat ditempati. Selebihnya masih kosong. Pak Efendi mengajak pak Jamal menuju ke gazebo paling ujung.
"Kita santai-santai dulu di sini, Pak Jamal. Lupakan dulu kemarahan dan kekesalan pak Jamal," kata pak Efendi begitu sampai dan duduk di gazebo. Pak Jamal mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia masih berdiri berkacak pinggang melihat suasana sekitarnya.
Seorang pelayan perempuan datang menghampiri mereka. Ia menyodorkan menu makanan ke depan pak Efendi.
"Ayo, Pak Jamal. Mau pesan apa," kata pak Efendi. Pak Jamal mendekat. Ia melihat pelayan itu. Pak Jamal tersenyum genit.
"Bagaimana kalau saya pesan Mbaknya saja," kata pak Jamal. Tatapannya lekat ke arah pelayan. Pelayan itu hanya tersenyum.
"Gampang itu ,Pak Jamal. Duduk dulu dan pesan makanannya. Pemesanan yang lain, nanti di atas jam 10 malam. Semua ada di sini," kata pak Efendi. Setelah memesan makanan, pak Jamal menyempatkan diri mencolek pantat pelayan itu sebelum duduk. Pelayan itu hanya tersenyum dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
"Ini rumah makan atau apa," kata pak Jamal terlihat penasaran. Pak Efendi tersenyum.
"Ini rumah makan plus, Pak Jamal. Ini miliknya pak Graham. Dia itu mantan pegawai di Black Casino milik pak Yulian Wibowo. Tapi setelah perempuan itu mengambil alih, Black Casino di jual. Banyak karyawan dan pegawai yang kehilangan pekerjaan, termasuk pak Graham," jelas pak Efendi. Gigi pak Jamal terdengar menggemeretak. Wajahnya kembali memerah. Pikirannya kembali teringat pada kejadian yang terjadi di lapas pagi tadi.
"Kurang ajar. Rianti benar-benar tak menganggapku ada. Bukannya membela pamannya, dia malah membela perempuan gak jelas itu. Agh! Aku harus membalasnya," kata pak Jamal geram. Pak Efendi hanya tersenyum.
"Sabar, Pak Jamal. Kita hadapi dengan kepala dingin. Kita happy-happy dulu di sini. Jika sudah happy, ide cemerlang biasanya muncul," kata pak Efendi.
Tak berapa lama kemudian, Dua pelayan perempuan terlihat datang membawa makanan. Pak Efendi langsung menyambar botol minuman anggur di atas wadah yang di bawa salah satu pelayan. Ia kemudian menuangkannya ke dalam dua gelas yang ada di depannya.
Pak Jamal kembali bergantian menatap kedua pelayan cantik yang mengantar makanan. Pak Efendi hanya tersenyum-senyum melihat tingkah pak Jamal sembari merobek daging ayam bakar di atas piring.
"Memangnya masih kuat, Pak Jamal," seloroh pak Efendi. Pak Jamal membusungkan dadanya. Ia mengangkat tangannya dan mengepalkannya. Kedua pelayan itu tersenyum.
"Maaf, Pak. Kalau boleh tahu, sampai jam berapa di sini," kata salah satu pelayan. Pak Efendi melirik ke arah jam tangannya.
"Mungkin sampai malam. Memangnya ada apa," kata pak Efendi. Ia kembali melahap daging ayam di tangannya.
"Kami akan parkir mobil Bapak ke tempat khusus,"
Pak Efendi mengangguk. Ia mengeluarkan kunci mobil dari dalam kantong jasnya. Ia lalu melemparkannya ke arah pelayan. Pelayan itu dengan sigap menangkapnya. Pak Jamal mulai menyantap makanan di depannya setelah menenggak habis minuman di depannya. Sendawa besar pak Efendi terdengar beberapa kali.
Seorang laki-laki berbadan tinggi berambut cepak datang menghampiri. Dia meletakkan kunci mobil di dekat pak Efendi. Pak Efendi menoleh. Ia melihat dengan seksama laki-laki di depannya. Ia mengernyitkan dahinya. Sepertinya ia pernah melihat laki-laki itu. Laki-laki di depannya juga terlihat termangu menatap pak Efendi. Keduanya terlihat seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Pak Efendi membilas kedua tangannya dengan minuman anggur yang dipegangnya dan mengeringkannya dengan tisu. Ia menunjuk ke arah laki-laki itu.
"Sekarang aku ingat kamu. Bukankah kamu mantan anak buahnya Rianti?" kata pak Efendi. Laki-laki itu tersenyum. Pak Jamal menoleh dan memperhatikan sejenak wajah laki-laki itu.
"Bapak...," Laki-laki itu menggaruk-garukkan kepalanya. Dia mulai ingat wajah pak Efendi namun ia seperti masih kesulitan mengingat namanya.
"Saya pak Efendi. Dulu kita pernah bertemu saat rapat rencana kerjasama dengan bu Castella. Ayo, kamu duduk di sini," kata pak Efendi. Ia menggeser duduknya dan memberikan tempat untuk laki-laki itu.
"Nama kamu siapa," kata pak Efendi. Laki-laki itu tersenyum. Ia menyilangkan kedua kakinya dan duduk dengan posisi bersila.
__ADS_1
"Saya Jeri, Pak," kata-kata laki-laki yang ternyata adalah Jeri itu.
"Oh ya,ya. Jeri. Bagaimana kabarnya, Jeri. Kamu kerja di sini?" kata pak Efendi.
Jeri menganggukkan kepalanya.
"Saya kerja sebagai tukang parkir, Pak. Yah, timbang nganggur," kata Jeri tersenyum cengengesan. Pak Jamal terlihat masih asik menikmati makanan di depannya.
"Kemana saja kamu selama ini saat bosmu dipenjara," kata pak Efendi. Jeri mendesah pendek.
"Saya juga ikut dipenjara, Pak," kata Jeri sembari tersenyum.
"Loh, Kok bisa,"
"Saya dituntut karna telah memperkosa bu Sulastri," jawab Jeri.
Pak Jamal kembali menoleh. Pak Efendi mengacungkan jempolnya.
"Hebat, ini sejarah besar. Kamu ini orang biasa yang berhasil menyetubuhi orang terkaya top ten di indonesia. Hebat kamu, Jeri," kata pak Efendi.
"Hebat, hebat," kata pak Jamal ikut mengacungkan jempolnya. Jeri tersipu malu dan menundukkan kepalanya.
"Itu dulu, Pak. Waktu masih jadi anak buahnya non Rianti," kata Jeri.
"Kamu tahu gak, Bosmu sekarang sudah bebas. Apa kamu tidak mengunjunginya," kata pak Efendi.
"Oh ya? Kapan dia bebas?" tanya Jeri.
"Perkenalkan, ini pamannya Rianti. Kami baru saja menjemput Rianti, tapi sayang, Rianti gak mau ikut pamannya," sambung pak Efendi. Pak Jamal mendengus. Mengingat kejadian itu, amarahnya selalu melonjak. Jeri menganggukkan kepalanya ke arah pak Jamal.
"Saya juga pernah mengunjungi Non Rianti sehari setelah saya bebas dari penjara. Sepertinya dia sudah berubah. Ia menyuruh saya bertobat," kata Jeri.
"Itulah kenapa pak Jamal ini begitu marah. Dia sama sekali tak ingin merebut kembali perusahaan papanya yang sudah direbut oleh perempuan yang pernah kamu tindih tubuhnya itu,"kata pak Efendi. Emosi pak Jamal semakin terpancing. Ia menggebrakkan kedua tangannya. Beberapa piring di depannya terbalik.
"Pokoknya, aku tidak akan puas jika belum membalaskan sakit hatiku ini," kata pak Jamal beringas. Matanya tajam dan memerah. Ia benar-benar terlihat sangat marah.
Jeri mendesah. Ia pandang wajah pak Jamal. Ia mengernyitkan keningnya. Ia tersenyum. Sesuatu yang menyenangkan hatinya terlintas dalam pikirannya.
"Pak, Aku punya sesuatu yang mungkin bermanfaat. Ini terkait non Rianti dan bu Castella," kata Jeri.
Pak Jamal dan pak Efendi serempak menoleh ke arah Jeri.
"Katakan apa itu, Jeri," kata pak Efendi penasaran.
"Tapi saya minta imbalan untuk ini, juga perlindungan," kata Jeri. Pak Efendi tersenyum. Pak Jamal terlihat penasaran. Apa yang hendak dikatakan Jeri mungkin sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang mungkin bisa memuluskan niatnya membuat Rianti menderita.
"Ayo, Apa itu. Mintalah apa saja yang kamu mau jika itu setimpal dengan apa yang aku inginkan," kata pak Jamal.
__ADS_1
"Saya punya hutang sama seseorang selama masih ikut non Rianti. Non Rianti sudah bersedia membayarkannya sebelum akhirnya ia masuk penjara." Jeri mendesah dan menatap satu persatu wajah pak Jamal dan pak Efendi.
"Saya minta enam puluh juta," sambung Jeri.
"Itu angka yang kecil, Jeri. Katakan, apa yang akan kamu berikan kepada kami," kata pak Efendi.
Jeri mengeluarkan ponselnya. Untuk beberapa saat, ia nampak sibuk menggeser layar ponselnya.
Jeri memperlihatkan sebuah video di ponselnya kepada pak Jamal dan pak Efendi.
Senyum tersungging di bibir pak Jamal dan pak Efendi ketika melihat Video di layar ponsel. Pak Jamal nampak kegirangan. Ia segera merebut ponsel itu dari tangan Jeri.
"Mampus kamu, Rianti. Kamu akan aku buat malu dengan video ini," kata pak Jamal kegirangan penuh kepuasan. Bergantian pak Efendi mengambil ponsel dari tangan pak Jamal.
Pak Efendi nampak tersenyum memperhatikan adegan dalam Video. Setelah puas melihat video itu, pak Efendi memberikan ponsel itu kepada Jeri. Ia lalu meraih ponselnya.
"Kamu catat nomorku dan kirimkan video itu," kata pak Efendi. Ia memberikan ponselnya kepada Jeri. Jeri segera mencatat nomor hp milik pak Efendi.
"Jeri, aku akan memberikanmu uang delapan puluh juta, dengan syarat kamu mau bekerja denganku," kata pak Jamal. Jeri tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia terlihat begitu ceria.
"Apa yang bisa saya lakukan, Pak," kata Jeri bersemangat. Pak Jamal menyulut rokok di tangannya.
"Kamu mata-matai Rianti. Laporkan setiap kejadian penting yang kamu temukan terkait anak itu," kata pak Jamal. Asap rokoknya dihempaskannya searah wajah Jeri.
"Tapi, dimana saya bisa menemukan non Rianti," kata Jeri.
"Berhenti menyebut non Rianti. Dia sudah bukan bosmu lagi," kata pak Jamal.
"Kamu pasti lebih tahu dimana dia. Dan itu tugasmu untuk mencari tahu," sambung pak Jamal. Dia menyandarkan tubuhnya di tiang gazebo.
"Ayo, kamu panggil pelayan sana. Suruh dia bawa piring-piring ini," kata pak Efendi. Jeri mengangguk dan segera bangkit dari duduknya.
"Nanti aku hubungi kamu untuk mengambil uangmu. Tapi ingat, kamu sudah harus mulai kerja malam ini," kata pak Jamal ketika Jeri beranjak hendak pergi. Jeri mengangguk dan segera bergegas mencari pelayan.
Pak Jamal terlihat begitu puas. Ia meminta kembali ponsel pak Efendi dan memindahkan video yang telah ditransfer Jeri. Setelah itu ia kembali menyandarkan tubuhnya sembari menyaksikan adegan dalam video.
"Sial, body anak ini bagus sekali," desah pak Jamal.
"Ingat, dia itu keponakanmu, Pak Jamal," tegur pak Efendi.
"Sekarang sudah gak lagi. Malah sekarang, aku ingin memperkosanya," kata pak Jamal. Pak Efendi tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Melihat itu, pak Jamal ikut-ikutan tertawa.
"Terus, mau kamu apakan video itu," kata pak Efendi setelah tawa mereka reda. Pak Jamal mendongak.
"Kita akan menekan Rianti untuk mengambil bagiannya. Setelah itu, Aku akan tekan dia untuk menyerahkannya kepadaku," kata pak Jamal.
"Terus, Bagianku?" tanya pak Efendi. Pak Jamal menatap pak Efendi.
__ADS_1
"Kita bagi dua aset itu. Kamu teman terbaikku. Jadi, kamu juga harus menikmati hasilnya," kata pak Jamal tersenyum. Ia menjabat tangan pak Efendi dan menggenggamnya erat.
Lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an terdengar lamat-lamat mengalun merdu terbawa angin menjelang ashar tiba. Angin musim kemarau berhembus dingin. Beberapa pohon di jalanan terlihat meranggas. Daun keringnya yang berguguran terhempas kemana-mana oleh hempasan angin. Tak beberapa lama kemudian, azan ashar terdengar berkumandang.