KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#126


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Sulastri sudah duduk membaca majalah di sofa ruang tamu. Ada yang sedikit berbeda di ruang tamu hari ini ketika Rianti keluar dari kamarnya. Taplak meja yang menutupi meja ruang tamu telah diganti dengan kain berwarna biru motif batik. Munawarah juga terihat masuk dengan membawa beberapa toples berisi kue beraneka macam. Anehnya lagi, penutup toples semuanya memakai kain dengan warna dan corak yang sama dengan taplak meja.


Sulastri menurunkan sedikit majalah yang sedang dibacanya sehingga hanya memperlihatkan bagian atas kepala dan kedua matanya. Ia tersenyum melihat Rianti yang nampak keheranan mengerutkan keningnya.


Rianti mendekat. Sulastri pura-pura tak melihat. Ia terlihat khusyu' membaca majalah.


"Baru bangun?" tanya Sulastri ketika terdengar deheman kecil Rianti. Rianti mengangguk. Ia masih memperhatikan sekelilingnya. Munawarah kembali datang membawa dua cangkir teh hangat dan meletakkannya di atas meja.


Rianti menguap.


"Ibu kok gak bangunkan Rianti. Rianti gak sadar kalau tertidur lagi habis shalat subuh tadi," kata Rianti.


"Ibu gak enak kalau membangunkan kamu. Kayaknya kamu lelah sekali," kata Sulastri. Ia melepas majalah di tangannya dan meletakkannya di sampingnya.


"Bu, ada apa ini. Kok gak seperti biasanya," kata Rianti. Sulastri tersenyum.


"Tak seperti biasanya bagaimana," tanya Sulastri sembari terus tersenyum.


Rianti mengarahkan pandangannya ke arah meja dan toples-toples didepannya.


"Kok serba biru? Apa akan ada tamu spesial hari ini,?"


Sulastri tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Siapa, Bu," tanya Rianti penasaran.


Sulastri menaikkan kedua alisnya. Ia masih tersenyum.


"Tuan Guru Izzul Islam," kata Sulastri singkat. Rianti mengerutkan kembali keningnya.


"Tuan Guru Izzul Islam? Dalam rangka apa, Bu,"


Sulastri menyodorkan teh di atas meja ke depan Rianti. Ia lalu meminum teh miliknya.


"Mau bersih-bersih rumah. Kita juga akan minta doa, semoga kita semua terhindar dari bencana dan marabahaya." Sulastri meletakkan cangkir tehnya di atas meja.

__ADS_1


"Dik Fahmi ikut pulang?"


"Mungkin, tapi kalau adikmu sedang sibuk, gak apa-apa juga kalau dia gak ikut," kata Sulastri. Ia menengok ke arah belakangnya dan memperhatikan ke arah jam dinding.


"Sudah mau jam sembilan, ayo, kamu mandi dulu sana, nanti Tuan Gurunya keburu datang," kata Sulastri. Rianti mengusap kedua matanya. Ia terlihat malas. Bukannya pergi, ia malah bersandar memejamkan mata di sofa. Melihat itu, Sulastri bangkit dan memegang tubuh Rianti.


"Ayo jangan tidur lagi. Tiga hari lagi kamu sudah mulai kerja. Nanti kebiasaan tidur jam segini," kata Sulastri sambil menarik tangan Rianti agar bangun. Rianti hanya tersenyum. Ia pura-pura melemaskan tubuhnya, membuat Sulastri memaksanya masuk ke dalam kamarnya.


* * * * *


Qurratul Aini masih berdiam diri di depan cerminnya. Rambutnya yang masih basah dibiarkannya tergerai. Matanya masih terlihat sembab sebab tangisnya tadi malam.


Belum ada jawaban dari Cristian setelah pagi-pagi sekali ia menghubunginya untuk bertemu lagi di tempat yang sama. Di rumah makan Zamora. Mungkin dia sudah tak mau lagi bertemu dengannya. Mengingat kemarin ia begitu kecewa dengan pertemuan mereka.


Qurratul Aini meraih kembali ponselnya. Ia mencoba menghubungi Cristian, tapi tak ada jawaban. Sepertinya Cristian tetap tak mau mengangkat panggilannya.


Qurratul Aini memejamkan matanya. Ia menghela napas panjang dan mengeluarkannya perlahan sembari membuka matanya. Ia mengangguk-angguk seperti sedang menyemangati dirinya sendiri. Ia lalu bangkit dan melangkah menuju lemari. Beberapa pakaian ia masukkan kedalam tas. Surat yang ia tulis tadi malam di letakkannya di atas meja rias.


Qurratul Aini menyibak pelan tirai jendela kamarnya yang langsung menghadap halaman rumah. Mobil masih terlihat parkir di halaman. Dia berharap, kunci mobil juga masih tergantung di tempatnya. Ia yakin ayahnya memastikan ia tak akan berani kabur dari rumah.


Dia sudah mendapatkan lampu hijau dari ibunya untuk melakukan apa yang menurutnya benar. Tapi tidak untuk kabur dari rumah. Itu pasti. Ibunya yang hanya menghabiskan seluruh waktunya di rumah, tentu akan merasa kesepian jika ia memutuskan meninggalkan rumah itu.


Qurratul Aini mendesah. Ia membalikkan badannya dan bersandar di pintu. Ia memejamkan matanya. Keputusan yang sulit. Terlebih ia adalah anak satu-satunya di rumah itu. Qurratul Aini menggeleng-gelengkan kepalanya. Yang ia rencanakan selalu tak berjalan mulus. Ada saja kendala yang ia hadapi. Ia sudah membayangkan ibunya akan duduk seperti itu melewati hari-harinya memikirkan dirinya yang akan pergi entah kemana. Ia merasa tak tega. Ia kembali ke tempat tidurnya dan menghempaskan keras tubuhnya.


Suara pintu terdengar dibuka. Qurratul Aini bangun. Ia melihat Nyai Indrawati sudah berdiri di depan pintu dengan senyum lembutnya. Perlahan Nyai Indrawati mendekatinya. Qurratul Aini berpikir, rencananya hari ini gagal sudah.


"Kamu mau kemana, Nak." kata Nyai Indrawati sambil berjalan ke arah meja rias. Qurratul Aini melirik. Perhatian ibunya sepertinya tertuju ke arah surat ia letakkan mencolok di atas meja.Sudah tidak ada waktu untuk menyembunyikannya. Nyai Indrawati benar-benar tertarik melihat surat itu.


Nyai Indrawati mengambil surat itu. Qurratul Aini menundukkan wajahnya.


"Kamu mau pergi kemana Nak," tanya Nyai Indrawati sesaat setelah duduk di samping Qurratul Aini. Ia mengusap kepala Qurratul Aini. Qurratul Aini menoleh. Dilihatnya Nyai Indrawati telah berlinang air mata. Melihat ibunya menangis, Qurratul Aini segera memeluknya.


"Entahlah, Bu. Aku hanya ingin pergi meninggalkan perintah ayah. Berat sekali, Bu. Aku tak sanggup mentaati perintahnya. Itu sangat menyiksaku,"


Nyai Indrawati mencium kening Qurratul Aini. Ia mencoba memperlihatkan senyumnya. Berusaha memberi semangat bahwa apa yang dilakukan Qurratul Aini tidak akan dihalanginya.

__ADS_1


"Pergilah, tapi berjanjilah untuk kembali lagi. Mungkin dengan itu, sikap ayahmu bisa berubah," kata Nyai Indrawati. Kembali Qurratul Aini memeluknya erat.


"Tapi ibu akan sendiri di rumah. Aku tidak sanggup membayangkan jika ibu bersedih karna kehilanganku,"


"Tidak, ibu tidak akan bersedih selama kamu berjanji akan kembali lagi untuk ibu. Berjanjilah, dan ibu akan mengijinkanmu pergi," jawab Nyai Indrawati sembari tersenyum. Qurratul Aini melepaskan pelan pelukannya. Ia memegang kedua tangan Nyai Indrawati dan menciumnya. Ia mengangguk.


"Aku akan kembali untuk ibu. Aini janji," kata Qurratul Aini. Air matanya menetes di telapak tangan Nyai Indrawati. Nyai Indrawati tersenyum. Ia mengangkat wajah Qurratul Aini dan mengusap air matanya.


"Pergilah, mumpung ayahmu belum pulang. Hati-hati dan jaga dirimu baik-baik." Nyai Indrawati mengangkat tubuh Qurratul Aini lalu mengajaknya keluar kamar.


"Jika kamu sudah berjanji akan kembali lagi, ibu tidak akan bersedih. Itu juga harapan ibu kepadamu. Anggap saja saat ini kamu akan pergi merantau mencari ilmu ke negeri seberang." Nyai Indrawati memeluk tubuh Qurratul Aini. Sejenak keduanya berpelukan erat.


"Sekarang lekas masuk sebelum ayahmu pulang. Jangan menangis lagi," kata Nyai Indrawati. Ia membuka pintu mobil dan menyuruh Qurratul Aini segera masuk. Qurratul Aini tersenyum dan mulai menyalakan mesin mobilnya.


Nyai Indrawati melambaikan tangannya begitu mobil yang dikendarai Qurratul Aini telah keluar dari gerbang rumah. Ia berusaha tetap mempertahankan senyumnya, hingga ketika mobil itu telah hilang dari pandangannya, Air matanya kembali mengalir deras. Anak satu-satunya telah pergi meninggalkannya. Tapi ia harus belajar mengikhlaskannya. Qurratul Aini telah menjadi anak yang baik sejak kecilnya dengan mengikuti seluruh peraturan dari Tuan Guru Faeshal. Peraturan yang terkadang melebihi apa yang mampu dilakukan Qurratul Aini. Dia sangat mengerti bahwa selama ini Qurratul Aini begitu tertekan dengan sikap suaminya yang radikal dalam segala hal, namun lemah dalam hal lain. Termasuk membiarkan Qurratul Aini membawa mobil sendiri.


* ** * *


Pak Jamal begitu geram saat mengetahui, video yang ia kirim tadi malam ternyata tidak terkirim. Setelah terbangun dari tidurnya, hal pertama yang ia cari adalah balasan serta respon dari Rianti terkait pengiriman video itu. Ia begitu marah dan melampiaskannya dengan menendang apa saja yang ia jumpai di depannya.


"Setan kamu, Jeri. Kamu telah membohongiku. Kamu menipuku dengan memberiku nomor palsu. Awas kamu," kata pak Jamal marah sembari mulai mencari nomor Jeri di ponselnya.


"Halo, bangsat kamu. Berani-beraninya kamu menipuku,"


"Maaf, Pak. Saya tidak mengerti maksud bapak," jawab Jeri terdengar dari seberang. Tatapan mata pak Jamal melotot tajam.


"Jangan pura-pura tidak mengerti. Jika tidak karna nomor yang kamu berikan itu salah, video itu sudah terkirim hari ini," kata pak Jamal. Nafasnya terdengar bergemuruh.


"Saya akan kirim kembali nomornya, Pak. Tolong diperiksa lagi," kata Jeri setelah beberapa saat terdiam. Pak Jamal mendesah kesal. Ia lalu duduk di tempat tidurnya. Setelah beberapa saat menunggu, Sebuah pesan singkat muncul di layar ponselnya.


082333456011


Pak Jamal memeriksa nomor atas nama Rianti di ruang contact. Ia mulai mencocokkannya dengan nomor yang dikirim Jeri. Ia mendesah kesal dan menggaruk keras kepalanya. Ada satu nomor yang berbeda di nomor yang ia catat tadi malam. Dia salah ketik.


"Bagaimana, Pak." Bunyi sms susulan dari Jeri. Pak Jamal tak membalasnya. Ia sibuk mencatat kembali nomor yang dikirimkan Jeri. Setelah itu, ia kembali menghempaskan tubuhnya di atas ranjangnya.

__ADS_1


__ADS_2