KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#245


__ADS_3

Rianti dan Jamila ikut bersorak senang. Setelah dua minggu lamanya Layla berangkat ke Brunei Darussalam, Tuan Guru Izzul Islam memberitahukan kepada keduanya kabar bahwa Layla keluar sebagai juara umum lomba musabaqah Tilawatil Qur'an mewakili pondok pesantren Al-aziziyah tingkat internasional.


Maghrib nanti, Layla diperkirakan tiba di bandara internasional lombok. Kabarnya, Kepala Kementrian agama provinsi Nusa Tenggara Barat akan langsung menjemput sendiri Layla di bandara. Beberapa perwakilan dari pondok pesantren Al-aziziyah juga ikut menjemput kedatangan Layla. Tuan Guru Izzul Islam sendiri urung mengajak Rianti dan Jamila menjemput Layla karna maghrib nanti bertepatan dengan peringatan lima tahun meninggalnya Sulastri. Tadi pagi, Tuan Guru Izzul Islam telah melakukan kontak dengan Tuan Guru Alamsyah Hasbi. Dia telah menyatakan kesanggupannya untuk menghadiri peringatan lima tahun meninggalnya almarhumah Sulastri.


* * * * *


Mobil sedan mewah yang menjemput Layla akhirnya tiba di kediaman pak Nurasmin sekitar jam 9 malam. Sebelum pulang, Kepala Kementrian agama provinsi Nusa Tenggara Barat mengajak Layla dan rombongan untuk makan malam di sebuah restoran mewah. Layla yang tidak menyangka dengan penyambutan yang sangat luar biasa itu, tak henti-henti mengumbar senyum. Berbeda sekali dengan saat ketika ia hendak berangkat menuju Brunai Darussalam, hanya perwakilan dari pondok pesantren Al-aiziyah dan keluarganya. Di luar bandara, bahkan beberapa wartawan langsung menyerbunya. Semua mengelu-elukan namanya sebagai pengharum nama provinsi Nusa Tenggara Barat.


Tapi Kepala Kemenag tidak ikut mengantar Layla sampai ke rumahnya, dia hanya mengutus istrinya dan dua orang staf yang mendampingi. Bahkan, istri Kemenag ikut masuk ke dalam rumah dan berbincang cukup lama dengan pak Nurasmin dan bu Sofia. Saat Layla meminta ijin untuk istirahat ketika jam telah menunjukkan pukul 11 malam, istri Kemenag itu masih juga belum beranjak dari tempat duduknya. Layla menduga mungkin ada hal lain yang ingin dibicarakannya dengan pak Nurasmin dan bu Sofia.


Layla mendesah panjang sembari melepaskan jilbabnya dan meletakkannya di atas tempat tidur. Ia kemudian duduk di depan cerminnya. Layla mengarahkan pandangannya ke arah piala yang ia letakkan di depan cermin. Piala itu kemudian diambilnya. Dia tersenyum menatap tulisan berbahasa arab di badan piala. Ia mendongakkan kepalanya. Bibirnya tak henti-henti mengucap syukur atas apa yang di capai saat ini. Pencapaian yang tak pernah ia cita-citakan sebelumnya. Setelah sempat terseok-seok dan putus asa pada tahun pertama ia mulai menghafal Al-qur'an, Tuhan akhirnya memberikan kemudahan baginya untuk menyelesaikan hafalannya hingga tiga puluh juz.


Layla terlihat mulai menguap. Piala di tangannya diletakkannya kembali di atas meja. Ia kemudian menggerak-gerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Setelah beberapa jam perjalanan, ia merasakan seluruh tubuhnya terasa penat. Agak tidak enak juga meninggalkan tamunya di ruang tamu. Tapi karna terlalu ngantuk, ia akhirnya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.


* * * * *


Sementara itu, di ruang tamu, nampak pak Nurasmin dan bu Sofia masih berbincang-bincang dengan bu Salima, istri Kepala Kemenag, yang belum juga beranjak pamit. Dia masih mencari waktu yang tepat untuk mengatakan maksud kenapa ia sampai larut malam belum juga berpamitan pulang.


"Pak, Bu. Saya mewakili suami sebelumnya minta maaf." Bu Salima, terdiam sejenak menatap pak Nurasmin dan bu Sofia. Ia agak ragu mengatakan maksudnya. Tapi melihat jam yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam, juga pak Nurasmin dan bu Sofia yang terlihat sudah mengantuk, dia merasa perlu untuk mengatakannya segera. Dia menoleh ke arah kedua laki-laki di sampingnya.


"Kalian berdua tunggu ibu di mobil. Sebentar lagi ibu menyusul," kata bu Salima menyuruh keduanya keluar. Keduanya menanggukkan kepala dan bangkit. Keduanya kemudian keluar.


Bu Salima kembali tersenyum ke arah pak Nurasmin dan bu Sofia.


"Begini, Pak, Bu. Sebenarnya ini terlalu cepat, tapi Bapak tadi menyuruh saya menyampaikannya malam ini juga. Beliau takut gak punya waktu lagi untuk menyampaikannya," kata bu Salima setelah kedua stafnya keluar.


Pak Nurasmin dan bu Sofia tersenyum.


"Kalau memang penting, silahkan, Bu," kata pak Nurasmin.


"Sejak mulai lomba, kami sekeluarga tak pernah absen mengikuti kegiatan Layla selama mengikuti musabaqah di brunei. Kebetulan, di sana kami punya kerabat yang diberi akses masuk ke tempat acara. Jadi, dia selalu mengirimkan videonya kepada kami." Bu Salima menghentikan pembicaraannya. Ia mengambil tisu di dalam tasnya dan mengusap keringat di wajahnya. Setelah itu, ia kembali memeriksa sesuatu di dalam tasnya. Ia tersenyum ketika menemukan sebuah ukuran photo 4x3 dari dalam tasnya. Photo itu kemudian di sodorkannya ke arah pak Nurasmin. Pak Nurasmin dan bu Sofia saling pandang ketika melihat photo di depannya. Keduanya tampak bingung.

__ADS_1


Bu Salima mendesah panjang.


"Jujur saja, Bu. Kami sangat menyukai anak ibu. Setiap orang tua tentunya menginginkan anak-anaknya menikah dengan laki-laki atau wanita yang shaleh shalehah. Begitupun juga dengan kami." bu Salima menghentikan kata-katanya. Ia mengambil kembali photo di depan pak Nurasmin. Setelah melihatnya sejenak, ia kembali menatap ke arah pak Nurasmin dan bu Sofia.


"Ini adalah putra kami, Pak, Bu. Namanya Fadil Muhammad. Dia sekarang lagi menyelesaikan studinya di universitas Al-azhar Mesir. Insya Allah, satu tahun lagi, dia sudah wisuda," kata bu Salima melanjutkan pembicaraannya. Bu Sofia tersenyum dan melirik ke arah pak Nurasmin. Keduanya mulai mengerti apa maksud pembicaraan bu Salima.


"Bapak dan ibu tentu sudah mengerti maksud saya. Terus terang, kami ingin sekali menjodohkan nak Layla dengan anak kami," kata bu Salima. Pak Nurasmin mendehem. Ia tersenyum ke arah bu Salima.


"Terus terang, kami benar-benar tidak menyangka ibu akan membicarakan masalah itu. Kami sekali tidak menyangka orang besar seperti ibu dan bapak tertarik menikahkan anaknya dengan anak kami," kata pak Nurasmin. Ia menoleh ke arah bu Sofia. Bu Sofia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Biasa saja, Pak. Kita hanya dibedakan oleh jabatan saja. Selebihnya, kita semua sama," kata bu Salima.


"Kami sebelumnya minta maaf karna belum bisa menjawab apa yang disampaikan ibu . Kami harus terlebih dahulu menyampaikannya kepada Layla," kata pak Nurasmin. Bu Salima kembali membuka tasnya. Photo di dalam tasnya dikeluarkannya kembali dan diletakkannya lagi di depan pak Nurasmin.


"Saya minta tolong, Pak. Sebagai perkenalan, mungkin photo anak saya itu bisa diberikan kepada Nak Layla. Sekalian nomor handphone saya. Apapun jawaban nak Layla, mohon hubungi saya. Sekali lagi saya minta maaf, Pak, Bu," kata bu Salima. Keduanya tersenyum. Pak Nurasmin kemudian mengambil photo dan kartu berisi nomor handphone milik bu Salima. Bu Salima memperhatikan jam tangannya. Ia mendesah.


"Gak terasa, ternyata sudah jam satu, Pak, Bu. Saya pamit mau pulang dulu. Sekali lagi, saya minta maaf jika mengganggu waktu istirahat bapak dan Ibu,"


"Tidak apa-apa, Bu. Kami juga beterimakasih karna telah ikut menjemput anak kami. Titip salam buat Bapak juga, Bu," kata pak Nurasmin. Keduanya ikut bangkit ketika bu Salima bangkit dari duduknya.


"Bagaimana, Bu," kata pak Nurasmin setelah mengajak kembali bu Sofia duduk di ruang tamu. Bu Sofia mendesah.


"Seperti kata Bapak. Kita serahkan semuanya kepada Layla. Tapi kalau Bapak mau besanan sama pejabat, kita bisa memaksa Layla. Kan enak, Pak," goda bu Sofia.


"Ibu bisa saja," kata pak Nurasmin. Ia kemudian mengeluarkan photo yang diberikan bu Salima kepadanya dari dalam saku bajunya. Ia memperhatikannya sejenak. Kemudian memberikannya kepada bu Sofia.


Bu Sofia mengangkat kedua alisnya.


"Ganteng, pendidikan Al-azhar lagi. Terus terang ibu menyukainya. Kayaknya cocok sama Layla," kata bu Sofia sambil tersenyum. Pak Nurasmin mendesah dan menyandarkan kepalanyadi kursi. Tatapannya lurus ke arah lampu ruang tamu. Binar-binar matanya menyiratkan kebahagiaan. Sejenak ia melupakan pembicaraan terkait keinginan bu Salima untuk menjodohkan Layla dengan anaknya. Apa yang dicapai Layla membuatnya merasa menjadi orang tua paling bahagia di dunia. Anak satu-satunya telah menuntaskan keinginannya. Anak yang kelak tetap mengalirkan pahala jariyah ke kuburnya.


Terdengar suara pintu berdret dari arah belakang. Keduanya menoleh. Dilihatnya Layla keluar dari kamarnya. Kedua nya tersenyum ketika Layla mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Bapak dan ibu kok belum tidur?" tanya Layla setelah mencium tangan keduanya dan duduk di samping bu Sofia. Tatapannya langsung tertuju ke arah photo di atas meja.


"Bapakmu belum ngajak ibu tidur. Bapakmu masih terbawa bahagianya," kata bu Sofia sambil merangkul tubuh Layla. Kening Layla dikecupnya lembut. Layla tersenyum. Tatapan matanya kembali tertumbuk ke arah photo di atas meja.


"Itu photo siapa, Bu," tanya Layla. Tangannya meraih photo di atas meja. Bu Sofia baru sadar pak Nurasmin belum memasukkan photo itu ke dalam sakunya. Bu Sofia menoleh ke arah pak Nurasmin. Pak Nurasmin menganggukkan kepalanya. Layla sudah terlanjur melihatnya. Ada baiknya ia mengatakannya saja langsung malam ini kepada Layla prihal photo itu.


"Itu photonya putra pak Kemenag, Nak," jawab pak Nurasmin. Layla mengernyitkan dahinya. Ia heran, tapi ia segera ingat bahwa bu Salima untuk beberapa lama pernah duduk setelah mengantarnya dari bandara. Mungkinkah bu Salima yang memberikannya? Tapi untuk apa? Batin Layla.


"Tapi kenapa photo ini bisa ada di sini, Pak?" tanya Layla mencoba mencari jawaban. Pak Nurasmin mendesah panjang.


"Bu Salima, istri pak Kemenag baru saja pulang. Beliau ternyata punya maksud khusus sehingga ikut mengantar kamu pulang ke rumah," kata pak Nurasmin. Ia menyuruh bu Sofia menggeser duduknya dan memberikan ruang untuk Layla agar duduk di tengah-tengah mereka. Layla masih diam menunggu kata-kata selanjutnya yang akan disampaikan pak Nurasmin.


"Nak, mereka ingin menjodohkanmu dengan putra mereka. Namanya Fadil Muhammad. Sekarang ia sedang menyelesaikan pendidikannya di universitas Al-azhar Mesir." Pak Nurasmin kembali mendesah panjang. Kepala Layla diusapnya lembut. Layla tersenyum menatap pak Nurasmin. Layla mendesah panjang. Ia meletakkan kembali photo itu di atas meja.


"Apapun kata Bapak dan Ibu, Layla akan mentaatinya." Layla terdiam sejenak. Ia menundukkan kepalanya. Melihat Layla terdiam dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba berubah, bu Sofia mengusap kepala Layla sambil memperhatikan wajah Layla.


"Ada apa, Nak? Bapak dan ibu tidak akan pernah memaksamu. Kamu sudah dewasa. Kamu sudah bisa menentukan sendiri apa yang menurutmu baik. Jika kamu bahagia, kami pun ikut bahagia," kata bu Sofia. Layla tersenyum dan memandang wajah bu Sofia. Setelah itu, ia bergantian menatap ke arah pak Nurasmin.


"Sebenarnya Layla jauh-jauh hari telah memikirkan masalah ini. Aku ingin Bapak dan Ibu bahagia. Terkait siapa jodohku, aku ingin menyerahkannya kepada Bapak dan Ibu," kata Layla. Ia kembali terdiam. Ia mendesah panjang.


"Tapi masalahnya, Bu Nyai juga pernah memanggilku dan membicarakan hal yang sama seperti yang dibicarakan bu Salima," lanjut Layla. Bu Sofia menoleh ke arah pak Nurasmin.


"Bu Nyai siapa maksud kamu, Nak?" tanya bu Sofia.


"Bu Nyai tempat Layla mondok, Bu," jawab Layla. Bu Sofia mendesah panjang. Ia kembali menoleh ke arah pak Nurasmin. Pak Nurasmin memegang tangan Layla.


"Terus, apa jawaban kamu, Nak?" tanya pak Nurasmin. Layla menggelengkan kepalanya.


"Saya belum memberikannya kepastian, Bu. Layla bilang akan membicarakannya terlebih dahulu dengan ibu." Layla mendesah panjang. Ia menatap pak Nurasmin.


"Awalnya, Layla sudah menentukan pilihan Layla kepada putra bu Nyai, tapi dengan datangnya bu Salima dengan maksud yang sama, Layla jadi bingung," lanjut Layla. Pak Nurasmin mendesah. Ia meletakkan tangannya di pundak Layla. Ia kemudian mengelusnya lembut.

__ADS_1


"Jalan terakhir adalah dengan meminta petunjuk kepada Allah. Shalat istiharahlah. Allah akan memberikanmu petunjuk," kata pak Nurasmin. Layla menganggukkan kepalanya.


"Ayo, istirahatlah dulu. Sudah larut malam. Ibu dan Bapak juga sudah mengantuk," lanjut pak Nurasmin. Keduanya kemudian bangkit dan mengapit tubuh Layla menuju kamarnya. Setelah mencium tangan keduanya, Layla masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2