
Sementara Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam tenggelam dalam munajat panjang mereka , Layla yang belum juga bisa memejamkan matanya, tampak tertunduk lesu di depan cerminnya. Berkali-kali ia menguap. Tapi setiap kali ia membaringkan tubuhnya dan berusaha untuk terlelap, tiba-tiba saja ia terbangun lagi dan sulit untuk tidur kembali. Kelezatan tidurnya sudah tercuri. Hanya menyisakan kantuk yang amat menyiksanya.
Layla mendesah panjang. Buku-buku pelajaran yang berserakan di atas meja rias di dorongnya hingga berserakan di atas lantai. Ia menggeleng-geleng sambil memperhatikan dirinya di depan cermin. Rambutnya yang panjang terurai direnggutnya keras.
"Aaaagh...Ya, Allah, aku kualat sama kak Tuan Guru," desah Layla kesal. Ia memejamkan matanya keras sembari terus menggelengkan kepala.
Tuan Guru Izzul Islam tidak mungkin memeletnya sehingga kini ia seperti itu. Apa yang terjadi saat ini pada dirinya, ia yakini sebagai balasan buruk atas umpatan serta gerutuan panjangnya kepada Tuan Guru Izzul Islam. Dulu, saat Nyai Mustiani hendak menjodohkannya. Bahkan berkali-kali ia meludah dan merasa jijik dijodohkan dengan orang yang jauh lebih tua darinya. Ia juga takut saat itu ia akan putus dengan pacarnya jika tahu ia akan dijodohkan dengan Tuan Guru Izzul Islam. Sekalipun, Tuan Guru Izzul Islam adalah kakak misannya, selain itu, ia juga punya wajah yang tampan, tapi sosoknya tiba-tiba saja membuatnya sangat tidak senang. Sekali lagi, karna ia gengsi, dia yang masih sangat muda dan cantik akan menikah dengan laki-laki berumur, yang hanya mengenal sarung dan jubah. Ia malu jika teman-temannya mengetahui hal itu. Padahal belum tentu juga Tuan Guru Izzul Islam menginginkan pernikahan itu. Dan kini, setelah kejadian itu berlalu beberapa bulan dan akhirnya Tuan Guru Izzul Islam menikah dengan Rianti, entah, seperti datang begitu saja. Penyesalan setelah menolak perjodohan itu sampai membuatnya merenung begitu lama. Ingin memastikan apa yang terjadi pada dirinya. Hingga ia sampai pada sebuah kesimpulan. Allah marah karna ia telah menghina orang alim seperti Tuan Guru Izzul Islam, walaupun itu hanya dalam hatinya.
Kalender keluaran terbaru pondok pesantren Qudwatusshalihin tahun ini, yang tergantung di ruang tamu sudah dipindahkannya ke dalam kamarnya. Gambar besar Tuan Guru Izzul Islam yang memenuhi bagian atas kalender, membuatnya seperti seorang fans berat yang tak mau berpaling dari memandangnya. Lama-lama ia meyakini dirinya telah jatuh cinta. Dan pada akhirnya dia merasa menyesal kenapa tidak menjadi wanita pertama dalam kehidupan Tuan Guru Izzul Islam.
Layla mendesah panjang. Ponsel yang ia sandarkan di depan cermin dinyalakannya kembali. Photo Tuan Guru Izzul Islam yang diambilnya diam-diam pada saat pemakaman Nyai Mustiani, dan kini dijadikannya wall paper di ponselnya, dipandanginya lekat. Tampan. Semakin lama memandangnya, wajah Tuan Guru Izzul Islam di layar ponselnya semakin terlihat tampan.
Kembali Layla mendesah panjang. Kali ini ia arahkan pandangannya ke arah cermin, memandang wajahnya sendiri.
Layla tiba-tiba tersenyum. Wajahnya berubah ceria. Ia menatap ponsel di depannya dan segera mengambilnya. Senyumnya semakin mengembang. Dia sepertinya telah menemukan ide cemerlang.
Yah, kesendirian Tuan Guru Izzul Islam akan jadi kesempatannya untuk lebih dekat dengannya. Ia yakin, dengan meninggalnya Nyai Mustiani dan dipenjaranya Rianti, kesempatan untuk dimiliki Tuan Guru Izzul Islam terbuka lebar.
Layla segera menyalakan ponselnya. Tangannya mulai lincah menekan hurup demi hurup dalam keyboard ponselnya. Senyum tak henti-henti mengembang dari bibir mungilnya.
* * * * *
Tuan Guru Izzul Islam menutup mulutnya dengan telapak tangannya ketika ia menguap panjang. Damai dan tenang yang ia rasakan setelah zikir panjangnya, kini mengundang kembali kantuk yang beberapa jam lalu telah tercuri oleh rasa sepi dan kesedihannya.
__ADS_1
Suara alunan ayat-ayat suci Al-qur'an menjelang tarhim subuh mulai terdengar dari speaker masjid pesantren. Tuan Guru Izzul Islam bangkit dan melangkah menuju tempat tidurnya. Perlahan ia membaringkan tubuhnya. Photo Rianti dengan bingkai warna biru di atas meja samping tempat tidur, diputarnya menghadapnya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
Setelah puas menatap photo Rianti, Tuan Guru Izzul Islam meraih hp di samping photo. Ia merasa tanggung kalau harus tidur sedangkan waktu subuh hampir tiba. Dia akan menelpon Abdul khalik untuk membuatkannya kopi agar matanya kembali terjaga.
Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya. Ada pesan singkat dengan nomor tak dikenal. Tuan Guru Izzul Islam membukanya dan mulai membacanya.
"Assalamualaikum, Kak Tuan. Saya ikut sedih dengan kehilangan bu Nyai. Tadinya mau saya omongin langsung sama kak Tuan, tapi saya malu. Yang sabar ya, kak Tuan. Ini semua adalah ujian dari Allah. Layla.
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Melihat waktu pengiriman sms, sepertinya Layla baru saja mengirimkannya.
Tuan Guru Izzul Islam mulai mengetik.
"Terimakasih, dik Layla. Insya Allah, doakan kak Tuan ya biar tetap sabar dan tenang.
"Amin, kak Tuan. Kak tuan belum tidur?
"Belum,"
Layla yang ada di seberang mengerutkan dahi. Jawaban yang ia terima dari Tuan Guru Izzul Islam terlalu singkat. Tangannya ikut kebingungan untuk mengikuti pesan yang ingin ditulis Layla. Jawaban yang terlalu singkat. Seperti sebuah sinyal agar pembicaraan berakhir. Layla menjadi ragu, apakah akan melanjutkan mengirimkannya atau menyudahinya. Tapi ia juga bingung mau menanyakan apa lagi kepada Tuan Guru Izzul Islam.
"Iiih..." Layla memijat keras dahinya. Ini kesempatannya membuka pintu agar lebih dekat dengan Tuan Guru Izzul Islam. Setidak-tidaknya, sms malam ini akan membuka pintu ke arah itu.
"Kak Tuan lagi ngapain?"
__ADS_1
Layla memejamkan matanya. Ia merasa malu dengan kata-kata yang akan ia kirim. Dia kembali menghapusnya. Tapi setelah itu, ia kembali bingung. Tak ada kata-kata lain yang cocok untuk mengganti kata-kata yang dihapusnya tadi. Ia kembali menulisnya.
"Bismillah,"
Layla menekan petunjuk kirim sambil memejamkan mata. Ia mendesah. Ia melirik ke arah pesan yang baru saja dikirimnya. Terkirim. Ia mendesah panjang. lama menunggu, jawaban dari Tuan Guru Izzul Islam tak kunjung juga datang. Layla bangkit dan mondar-mandir resah di depan cerminnya.
"Satu, dua, Tiga." hitung Layla dalam hati. Tak ada nada dering sms yang terdengar. Layla kembali duduk. Ia mengambil ponselnya dan memeriksa kembali pesan yang dikirimnya tadi. Apa jangan-jangan kak tuan malas membalas sms nya? atau mungkin kak tuan sudah tidur. Tapi subuh hampir tiba. Tuan Guru Izzul Islam tak mungkin tidur. Tuan Guru-tuan guru biasanya bangun sepertiga malam untuk shalat tahajjud hingga subuh tiba. Atau mungkin masalah sinyal? berbagai pertanyaan muncul di benak Layla. Setelah berpikir sejenak,ia kembali mengirimkan sms yang sama kedua kalinya.
Layla mendesah panjang. Satu menit lebih berlalu, sms balasan dari Tuan Guru Izzul Islam belum juga datang. Ia merasa putus asa. Tubuhnya dihempaskan di atas tempat tidur. Tuan Guru Izzul Islam tidak menginginkannya. Dia masih menganggapnya anak kecil. Batin Layla resah. Layla melonjak ketika terdengar dering ponsel. Jantung Layla berdegup kencang.
"Maaf, dik. Kak tuan baru dari kamar mandi. Mau ke masjid ngimami santri. Adik juga shalat ya?"
Senyum kembali mengembang di bibir Layla. Dia merasa sangat senang sekali. Dia kembali merasa bersemangat.
"Ya, kak Tuan. Selamat shalat subuh.
Layla kembali merebahkan tubuhnya dengan senyum yang tak henti-henti terkulum dari bibirnya. Dia tak perlu menunggu lagi apakah Tuan Guru Izzul Islam akan membalas sms atau tidak. Yang jelas, malam ini ia merasa cantik kembali. Besok malam ia akan menghubungi Tuan Guru Izzul Islam lagi. Akan ada banyak pertanyaan seputar pelajaran agama di sekolah yang akan ia tanyakan kepada Tuan Guru Izzul Islam. Dia berharap, Tuan Guru Izzul Islam akan menyuruhnya ke rumah karna tak mungkin menjawab pertanyaannya lewat sms.
"Yes!" Teriak Layla sambil mengangkat tangannya. Setelah itu ia bangkit dan melangkah keluar kamar.
Suara Adzan subuh mulai terdengar bersahut-sahutan. Mengusir hawa dingin yang menyelubungi tubuh orang-orang yang memaksakan matanya terjaga menjawab seruan.
Waktu subuh penuh tantangan sebab dingin dan nikmatnya tidur. Namun waktu subuh adalah waktu dimana orang-orang berqunut dan berdoa agar terhindar dari bala dan bencana. Ketika maksiat merajalela dan tak ada upaya dan daya untuk mencegahnya, sehingga Allah menimpakan berbagai bencana di muka bumi. Maka doa di waktu yang berat untuk terjaga, disaat sebagian besar masih enggan membuka selimut, semoga jadi pelindung dari segala mara bahaya dan bencana. Semoga yang terucap selaras dengan perbuatan.
__ADS_1