
Sulastri dan Rianti keluar dari kamar dengan membawa tas besar, yang mereka pegang di setiap sisi ujungnya. Nyai Mustiani tersenyum ketika melihat keduanya semakin mendekat ke ruang tamu. Mata Rianti dan Sulastri terlihat sembab. Namun bibir keduanya tak henti-henti mengumbar senyum satu sama lain. Rianti tampak anggun dengan balutan gamis dan jilbab warna birunya. Wajahnya ceria. Seperti rembulan purna yang keluar dari selubungan awan. Lafadz tasbih tak henti-henti bergumam dari mulut Tuan Guru Izzul Islam.
"Riantinya sudah siap, Bu Nyai, Tuan Guru," kata Sulastri setelah sampai di hadapan keduanya. Nyai Mustiani tersenyum dan kemudian berdiri. Tuan Guru Izzul Islam yang nampak canggung, akhirnya ikut berdiri beberapa saat kemudian. Tanpa sadar, ia menghadiahkan satu senyuman manis ke arah Rianti. Rianti tersipu malu menundukkan wajahnya.
Nyai Mustiani melangkah dan memegang salah satu tali tas yang dipegang Sulastri. Sulastri segera mencegah tangan Nyai Mustiani.
"Gak usah, Bu Nyai. Nanti biar pak Bayan yang mengangkatnya keluar. Kita tunggu saja di luar. Mari," kata Sulastri seraya mempersilahkan Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam keluar. Nyai Mustiani tersenyum. Tangan Rianti di pegangnya dan menggandengnya keluar. Suasana bahagia menelingkupi hati mereka.
* * * * *
Gerimis masih turun. Cuaca masih terlihat mendung. Sebelum menaiki mobil, Sulastri mengajak Rianti untuk berteduh di samping pos jaga. Ia kini berhadap-hadapan dengan Rianti. Air matanya terlihat mengalir.
"Baik-baik di sana ya, Nak. Ibu yakin kamu lebih tahu apa yang harus kamu lakukan. Telpon ibu nanti malam jika kamu punya waktu. Yah, sekedar nina bobo ibu sebelum tidur," kata Sulastri . Rianti tersenyum. Air matanya ikut mengalir. Tapi ia terus mencium punggung telapak tangan Sulastri. Nyai Mustiani yang ada di samping mereka hanya bisa melihat dengan pandangan haru. Tuan Guru Izzul Islam sendiri nampak asik berbincang-bincang dengan pak Mustarah dan pak Bayan di dalam pos jaga. Nyai Mustiani ikut mengusap punggung Sulastri.
"Rumah kami adalah rumahmu juga, Bu Lastri. Jangan sungkan untuk datang kapanpun Bu Lastri mau. Pintu rumah kami terbuka untuk Bu Lastri," ujar Nyai Mustiani seraya tersenyum. Sulastri membalas dengan anggukan dan senyuman kecil.
"Ayo, nanti keburu hujan. Naiklah. Tuan Guru sudah terlalu lama menunggu," kata Sulastri setelah mengusap air matanya. Kembali Rianti mencium tangannya. Sulastri memeluk tubuh Rianti untuk terakhir kalinya.
"Ayo, Nak. Kita berangkat," kata Nyai Mustiani sembari menoleh ke dalam pos jaga. Tampak Tuan Guru Izzul Islam menyalami pak Bayan dan pak Mustarah. Setelah itu ia keluar.
"Kalau begitu kami pamit dulu, Bu Lastri. Insya Allah, secepatnya kami akan menghubungi ibu," kata Nyai Mustiani. Sulastri mengangguk. Ia lalu mengantar Rianti hingga ke pintu mobil.
"Tunggu, Non." Pak Bayan dan pak Mustarah keluar. Ia mendekat ke arah Rianti yang sudah berada di dalam mobil. Keduanya lalu menyalami Rianti. Rianti menoleh ke belakang. Ia melihat Bi Aisyah dan Munawarah berdiri di teras rumah. Nampak mereka seperti kebingungan dengan apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Pak Bayan, tolong panggilkan bi Aisyah dan Munawarah. Mereka pasti kaget ketika mengetahui aku sudah tidakada di sini." Rianti menoleh ke arah Nyai Mustiani.
"Minta waktunya sebentar, Bu Nyai. Aku lupa berpamitan dengan mereka," kata Rianti. Nyai Mustiani tersenyum. Pak Bayan yang ditugaskan memanggil bi Aisyah dan Munawarah terlihat kembali bersama keduanya. Rianti segera keluar. Satu persatu dari keduanya di peluknya bergantian. Bi Aisyah dan Munawarah nampak kebingungan. Ia menoleh ke arah Sulastri.
"Non Rianti mau kemana, Bu," tanya bi Aisyah kebingungan. Sulastri tersenyum. Ia memegang pundak bi Aisyah.
"Saya mohon Maaf, Bi Aisyah. Kedatangan Bu Nyai dan Tuan Guru terlalu mendadak. Saya gak sempat memberitahu bi Asiyah dan Munawarah." Sulastri mendesah. Ia menatap ke arah Rianti.
"Non Rianti mau menikah, Bi. Doakan dia agar jadi istri yang shalehah," sambung Sulastri. Mendengar itu, Bi Aisyah memeluk Rianti.
"Ya, Allah, Non. Kenapa mendadak seperti ini. Andaikan bibi tahu hari ini Non Rianti akan pergi, tadi malam pasti bibi paksa tidur di kamar Bibi," kata bi Aisyah. Rianti mengusap punggung Bi Aisyah sembari tersenyum.
"Maafkan Rianti, Bi. Seperti kata ibu, ini memang mendadak dan tak pernah direncanakan sebelumnya. Ini adalah kehendak Allah. Rianti minta doanya ya, Bi, Munawarah," kata Rianti. Tatapannya mengarah kepada Munawarah yang ada di belakang bi Aisyah yang sedang memeluknya. Munawarah tersenyum dan mengangguk kecil.
Sulastri mendekat memegang punggung Rianti.
"Kalau begitu kami pergi dulu, Bu Lastri. Assalamualaikum," kata Nyai Mustiani.
"Waalaikum salam," jawab mereka serempak. Mobil perlahan bergerak keluar gerbang. Rianti tak berpaling dari menatap ke arah belakang sembari melambaikan tangannya. Hingga mobil itu mulai menjauh dan melaju di jalan utama.
Sulastri tertegun di tempatnya berdiri. Matanya kembali terlihat berkaca-kaca. Tatapannya hampa tak berkedip ke arah gerbang rumah. Dia merasa seperti baru saja kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Semuanya terjadi begitu saja dengan cepatnya.
Sulastri terbuyar dari ketertegunannya saat Bi Aisyah menyentuh pundaknya. Ia mendesah panjang dan membalikkan badannya. Air mata yang mengalir di pipinya diusapnya. Tangan bi Aisyah dan Munawarah di gandengnya dan mengajaknya menuju rumah.
__ADS_1
"Bi Aisyah, Munawarah, nanti malam temani aku tidur di kamar. Aku tidak tahu apakah aku bisa tidur nyenyak nanti malam atau tidak," kata Sulastri. Keduanya tersenyum.
"Bagaimana kalau hari ini kita pergi jalan-jalan," kata Sulastri setelah sampai di teras rumah.
"Jalan-jalan kemana, Bu. Ini kan masih hujan," kata Munawarah.
"Kemana saja. Ntar kita makan di rumah makan doyan medaran. Setelah itu, kita akan pergi ke kawasan Segui. Gak apa-apa kita pulangnya nanti malam. Pak Bayan juga ikut," kata Sulastri. Munawarah menoleh ke arah bi Aisyah.
"Ayo sana, Munawarah. Kasih tahu pak Mustarah dan pak Bayan. Kita akan berangkat setelah sarapan," kata Sulastri. Ia lalu masuk ke dalam rumah.
* * * * *
Gerimis masih turun. Tunas-tunas daun muda pepohonan di sepanjang tepi jalan terlihat menghijau menyejukkan mata. Angin yang berhembus dingin membuat suasana sekitar seperti sedang berada di daerah pegunungan. Beberapa pertokoan di pinggir jalan terlihat sepi tanpa pengunjung. Masing-masing orang seperti masih enggan meninggalkan selimut mereka sebab cuaca mendung yang menguasai langit.
Di dalam mobil, baik Rianti maupun Tuan Guru Izzul Islam sama-sama terdiam merasakan rasa yang bergejolak di hati masing-masing. Nyai Mustiani sendiri sudah terlelap dalam tidurnya di samping Rianti. Semalaman tak tidur membuatnya tampak pucat dan tak sadarkan diri tertidur.
Tuan Guru Izzul Islam melirik ke arah kaca spion di depannya. Merasa Tuan Guru Izzul Islam memperhatikannya, Rianti menundukkan wajahnya dan tersipu malu. Tuan Guru Izzul Islam menelan ludahnya dalam-dalam. Dadanya yang bergemuruh oleh rasa berbeda dalam hatinya membuatnya seperti anak remaja yang untuk pertama kalinya berduaan dengan orang yang dicintainya. Sejak kecil hingga gelar Tuan Guru disandangnya, ia sama sekali tak pernah duduk atau seruang dengan seorang wanita. Hawa dingin yang berhembus lewat jendela mobil tak mampu menghalangi keringat dingin yang menumpuk di keningnya. Suasana di dalam mobil benar-benar kaku. Hanya suara mobil dan gemeretak gerimis di atas atap mobil yang melaju dengan kecepatan sedang.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah pelan. Ia kembali menelan ludahnya dan mendehem satu kali. Ingin sekali ia menoleh ke arah Rianti, namun lehernya terasa kaku untuk digerakkan. Padahal saat ini, ia ingin sekali sekedar berbasa-basi untuk menyingkirkan suasana yang kaku di antara mereka.
Begitupun dengan Rianti. Ia jadi serba salah ketika ia hanya bisa diam memandang Tuan Guru Izzul Islam dari belakang. Ingin sekali ia dalam waktu yang cukup lama memandang wajah yang teduh dan sejuk itu. Bukan hanya karna terkesima, namun ia ingin mengambil pahala yang berlimpah dari memandang wajah orang alim yang insya Allah akan jadi imam hidupnya itu.
Rianti menggeleng-gelengkan kepalanya kecil. Mengenang perjalanan hidupnya dulu, ia benar-benar tidak pernah menyangka, Kuasa Allah akan membawanya ke tempat semulia ini. Ia yang dulu sama sekali acuh bahkan tak percaya apapun tentang agama. Ia yang dulu menganggap cerita-cerita akhirat hanyalah dongeng untuk anak-anak sebelum tidurnya, kini diberi kesempatan untuk hidup bersama seorang tokoh agama. Penjara telah memberikannya gambaran yang nyata tentang hukuman dari sebuah kesalahan. Apa yang berlaku didunia merupakan gambaran yang akan berlaku di akhirat kelak. Setiap dosa dan kesalahan akan diminta pertanggung jawaban dan akan mendapatkan hukumannya.
__ADS_1
Rianti terbuyar dari ketermenungannya ketika Tuan Guru Izzul Islam memencet klakson mobil. Jantung Rianti berdebar ketika mobil yang ditumpanginya berhenti didepan sebuah pintu gerbang. Ia kini sudah tiba di kediaman Tuan Guru Izzul Islam.
Abdul khalik terlihat berlari membuka pintu gerbang. Tuan Guru Izzul Islam mengarahkan mobilnya menuju tempat parkir samping rumah.