KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#186


__ADS_3

Suasana ramai terlihat di lokasi pembangunan pondok pesantren Tahta Liwa'il Kahfi milik Fahmi. Baik laki-laki maupun perempuan bergotong royong memasukkan tanah uruk ke dalam pondasi sepuluh lokal asrama yang sudah berdiri. Suara kasidah mengalun merdu mengiringi antusias orang-orang yang sedang bergotong royong.


Sulastri yang sesekali ikut berbaur dengan jamaah perempuan mengangkut tanah dengan ember terlihat menengok ke dalam pos jaga. Tatapan matanya mengarah ke jam dinding yang tergantung di dalam pos jaga. Sudah jam 11 lebih. Ia kemudian memanggil Munawarah yang telah selesai menghidangkan makanan ala kadarnya sebagai penutup gotong royong pada malam hari ini. Ia kemudian mengajak Munawarah pergi ke teras rumah.


Sulastri mengusap keringat di wajahnya dengan ujung kerudungnya sesaat setelah duduk di kursi teras rumah.


"Saya pijit ya Bu," kata Munawarah menawarkan jasanya. Sulastri tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Gak usah Munawarah, ada alat terapi pijit di dalam kamar," kata Sulastri. Munawarah menuangkan segelas air putih dan meletakkannya di meja yang memisahkan tempat duduknya dengan Sulastri.


"Besok saya mau jemput temannya non Rianti. Dia akan tinggal bersama kita di sini. Kamar yang kosong di sebelah tolong dibersihkan ya," kata Sulastri.


"Kok ibu yang jemput? Memangnya dia tidak punya keluarga?" tanya Munawarah. Sulastri tersenyum.


"Dia gak punya siapa-siapa, makanya Non Rianti menyuruhnya tinggal di sini. Dia juga nanti bisa membantu nak Fahmi mengajar di pesantren," kata Sulastri.


Muawarah mengerutkan keningnya. Ia terlihat heran.


"Memangnya dia bisa, Bu," kata Munawarah penasaran. Kembali Sulastri tersenyum.


"Tidak semua yang masuk penjara itu penjahat, Munawarah. Kalaupun dulu ia adalah orang yang tidak baik, bukan berarti seterusnya ia akan jadi orang yang tidak baik. Banyak kita baca dari sejarah, orang-orang hebat dalam dunia sufi bermula dari kehidupannya yang gelap. Terang tidak akan ada jika tidak ada gelap. Begitupun juga tobat tidak akan ada jika tak ada kesalahan yang diperbuat," Sulastri meraih segelas minuman di sampingnya dan meminumnya. Munawarah nampak menganggukkan kepalanya.


"Dia itu sudah hafal Al-quran 30 juz loh," sambung Sulastri setelah jeda diam beberapa saat. Kembali Munawarah mengernyitkan dahinya.


"Wah, kalau begitu dia hebat sekali, Bu," kata Munawarah kagum. Sulastri tersenyum. Dia menatap ke arah Fahmi yang mendekat ke arahnya.


"Bu, teman-teman yang gotong royong sudah mau pulang. Ibu-ibu mencari ibu. Mereka mau pamitan," kata Fahmi. Sulastri segera bangkit dari tempat duduknya dan melangkah diikuti Fahmi dan Munawarah.


* * * * *


Jam telah menunjukkan pukul 11 malam. Suara gerbang yang yang dibuka, membuat Layla bangkit dari berbaringnya. Ia melangkah pelan menuju jendela kamarnya. Perlahan ia menyibak kelambu jendelanya. Ia tersenyum saat melihat pak Nurasmin sedang mendorong pintu gerbang. Ia penasaran apa hasil pembicaraan bapaknya dengan Tuan Guru Izzul Islam.


Terdengar suara langkah kaki dari arah luar kamarnya. Dan tak berapa lama kemudian, terdengar pembicaraan antara bu Sofia dan pak Nurasmin di ruang keluarga. Layla segera berpindah. Kali ini ia membuka sedikit pintu kamarnya agar bisa mencuri dengar pembicaraan keduanya. Tapi itu terlalu jauh. Tak ada satupun pembicaraan yang bisa ditangkap telinganya.


"Kalau anakmu belum tidur, coba ibu suruh dia kemari," kata pak Nurasmin. Bu Sofia tersenyum.


"Bagaimana anakmu bisa tidur, Pak. Ibu yakin ia sedang menunggu untuk dipanggil," kata bu Sofia. Ia lalu bangkit dan melangkah menuju kamar Layla. Mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah kamarnya, Layla segera berlari menuju tempat tidurnya dan dengan pelan membaringkan tubuhnya dalam posisi miring membelakangi pintu. Dia memejamkan matanya. Dadanya berdebar.

__ADS_1


"Nak, kamu sudah tidur?" kata Bu Sofia. Pundak Layla dipegangnya. Layla membuka matanya. Ia pura-pura mengusap kedua matanya. Bu Sofia tersenyum.


"Ada apa, Bu," tanya Layla.


"Ditunggu sama bapakmu di luar," kata bu Sofia.


"Ibu keluar saja duluan, nanti Layla menyusul," kata Layla. Bu Sofia tersenyum menganggukkan kepalanya. Dia lalu bangkit dan melangkah meninggalkan Layla. Setelah bu Sofia sudah keluar dari kamarnya, Layla mengangkat tubuhnya pelan. Degup jantungnya menghentak keras. Entah berita apa yang dibawa pak Nurasmin dari rumah Tuan Guru Izzul Islam. Yang jelas, rasa penasarannya kini membuatnya deg-degan.


Pak Nurasmin dan bu Sofia menoleh ketika melihat Layla berjalan ke arah mereka. Bu Sofia yang duduk di sofa panjang bersama pak Nurasmin segera menggeser tubuhnya dan memberi ruang kosong di tengah-tengah untuk tempat duduk Layla. Bu Sofia tersenyum dan memberi isyarat kepada Layla agar duduk di tengah-tengah mereka. Diam-diam Layla memperhatikan wajah keduanya. Tak ada raut kegelisahan di wajah keduanya. Dia yakin apa yang akan disampaikan pak Nurasmin mungkin berita baik.


Bu Sofia merapikan rambut Layla sesaat setelah Layla duduk. Pak Nurasmin memiringkan badannya dan menghadap Layla. Dia menatap Layla agak lama. Itu membuat Layla menundukkan wajahnya.


Pak Nurasmin memulai pembicaraannya dengan ******* panjang.


"Nak, Bapak sudah menceritakan semuanya kepada kak Tuanmu. Pembicaraan kami tak panjang. Kak Tuanmu hanya bilang akan datang besok malam menemuimu." Jantung Layla berdebar semakin kencang. Dia kesulitan mengatur nafasnya sebab berbagai rasa yang kini berkecamuk dalam hatinya. Berita akan datangnya Tuan Guru Izzul Islam menemuinya membuat tubuhnya bergetar. Ada rasa bahagia yang ia tahan dalam dadanya dan malu untuk ia munculkan dalam sunggingan senyumnya. Tapi raut mukanya saat ini membuatnya tak bisa menyembunyikannya dari bu Sofia dan pak Nurasmin.


"Ya, Allah, malam ini aku menemukan kembali keceriaan anakku. Bantulah ia mewujudkan keinginannya, Ya, Allah," batin bu Sofia ketika melihat perubahan seketika di wajah Layla. Ia tersenyum dan mengusap rambut Layla.


"Karna kak Tuanmu akan datang sendiri menemuimu, maka katakan apa yang kini kamu rasakan sebagaimana kamu tidak malu mengatakannya kepada bapak dan ibu. Itu artinya kamu sudah benar-benar dewasa dengan segala keputusanmu," kata pak Nurasmin setelah beberapa saat menatap Layla yang menundukkan kepalanya.


Pak Nurasmin memegang pundak Layla dan menyandarkannya di pundaknya.


Pak Nurasmin memperbaiki posisi duduknya. Dua buah kancing baju bagian atas yang tadi dilepasnya dimasukkannya kembali.


"Kamu sudah shalat?" tanya pak Nurasmin. Layla mengangguk.


"Sudah, Pak. Layla shalat berjamaah dengan ibu." Kata Layla. Ia menoleh ke arah bu Sofia. Bu Sofia tersenyum.


"Layla minta maaf, Pak, Bu. Layla minta maaf karna telah merepotkan ibu dan Bapak. Layla takut gila jika tidak berterus terang pada ibu dan bapak. Sekali lagi maafkan Layla, Bu, Pak," kata Layla dengan suara serak beriringan dengan air matanya yang keluar diringi isak tangisnya. Bu Sofia lebih mendekat dan segera memeluknya.


"Ini semua sudah terjadi, Nak. Awalnya bapak dan ibu juga tak pernah membayangkan ini akan menimpamu, tapi kami berdua sadar, masa depan adalah perjalanan yang masih menyimpan misteri. Kita berencana, Tuhanlah yang menentukannya," kata bu Sofia. Salah satu tangannya mengambil tisu di atas meja dan mengusap air mata Layla.


"Sekarang tidurlah. Sudah jam 11. Buang pikiran yang terlalu membebani. Jika kamu menginginkan kak Tuanmu kelak jadi pendamping hidupmu, maka mohonlah pada Allah. Hanya Dia yang bisa mengabulkan keinginanmu," kata pak Nursmin.


"Ayo, Bu. Ajak anakmu ke kamarnya," kata pak Nurasmin kepada bu Sofia. Bu Sofia mengangguk dan mengajak Layla bangun.


"Bapak tunggu ibu sebentar, ibu akan menyiapkan makanan buat bapak," kata bu Sofia.

__ADS_1


"Sudah, Bu. Bapak sudah makan di rumahnya Nak Izzul. Bapak capek, mau langsung istirahat," kata pak Nurasmin. Ia lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa. Bu Sofia mengantarkan Layla sampai depan pintu kamarnya.


* * * * *


Malam semakin beranjak larut. Suasana hening dan sunyi terasa sekali di dalam bangunan panjang Lapas. Hanya suara tokek yang sesekali terdengar mengagetkan malam.


Di dalam ruangan sempit yang terletak paling ujung, Rianti terbaring dengan lelapnya di atas tempat tidurnya. Wajahnya yang teduh membuat Jamila yang belum bisa memejamkan matanya tak berpaling memandangnya. Sesekali diperbaikinya selimut yang menutupi tubuh Rianti. Dia juga masih setia menghalangi nyamuk yang hendak menggigit dan menempel di tubuh Rianti sejak dua jam lalu Rianti mulai tertidur.


Malam ini adalah malam terakhirnya dia akan bersama dengan Rianti. Sangat berat sekali meninggalkan Rianti sendirian di dalam ruangan itu di saat kondisinya sedang hamil tua. Aktifitas Rianti yang selama ini ia batasi karna kondisinya yang sedang hamil tentu mulai malam nanti dan hari-hari selanjutnya akan ia kerjakan sendiri. Dia merasa, semewah apapun tempat yang akan ia tinggali nantinya selepas bebas, tak akan berarti jika kenyataannya Rianti masih tidur di tempat sempit dan dingin itu. Sendirian. Seperti yang ia lihat saat ini. Dan itu membuatnya semakin sedih.


Ikatan antara dirinya dan Rianti sudah terlalu dalam. Lebih dari sekedar sahabat. Bahkan melebihi rasa memiliki antara dua orang bersaudara. Dia yang sejak masuk penjara tak pernah memikirkan untuk keluar dari penjara itu karna tak ada siapapun kerabat di luar sana yang menunggunya, telah menemukan saudara senasib. Setiap malam ia melingkari angka-demi angka di dalam kalender untuk kebebasannya. Saat itu ia ingin secepatnya bebas karna Rianti sudah bebas. Namun ketika takdir mengembalikan Rianti ke penjara untuk kedua kalinya, kebebasannya berubah suram. Ia tak mau pergi tapi sayang, mau tidak mau dia harus pergi.


Air mata Jamila keluar pelan membasahi kedua pipinya. Air mata yang berusaha ditahannya mengalir begitu deras ketika melihat wajah Rianti. Isak dan sesenggukannya membangunkan Rianti dari tidurnya.


Rianti mengusap kedua matanya. Perlahan ia melihat Jamila duduk di sampingnya. Menangis sembari tersenyum.


Rianti mengangkat tubuhnya pelan sambil memegang perutnya. Ia lalu menyandarkan tubuhnya. Belum terlalu tepat ia menyandarkan punggungnya, Jamila sudah memeluknya. Isak tangis dan sesenggukan Jamila semakin keras. Rianti mengusap-usap punggungnya.


"Kenapa kamu belum tidur Jamila? Dan kenapa pula kamu menangis seperti ini," kata Rianti dengan suara datar. Jamila terus menangis.


"Jika kamu menangisi perpisahan kita besok, kamu akan membuatku tersiksa menjalani hari-hariku di tempat ini sampai hari kebebasanku. Aku sangat bahagia pada akhirnya kamu bisa bebas. Karna kebebasanmu akan sangat bermanfaat di luar sana, terutama untuk pondok pesantren dik Fahmi, maka itu lebih aku inginkan daripada menungguku di sini. Ilmumu sangat di butuhkan. Waktu tiga bulan adalah waktu yang tidak lama. Kita akan bertemu di bulan April nanti, insya Allah. Aku janji, kita akan bersama lagi seperti ini. Bahkan kita bisa tidur satu kamar lagi seperti saat kita di sini," kata Rianti. Senyumnya mengembang.


"Jangan bercanda, Rianti. Terus, Tuan Guru mau tidur dimana?" kata Jamila dengan suara terbata-bata. Dia sempat tersenyum karna merasa lucu dengan kata-kata terakhir Rianti.


"Ya di kamar lain. Rumah kami besar sekali. Ada enam kamar besar dan yang dipakai hanya dua saja. Itupun saat Ibu Nyai masih ada." Rianti mendesah panjang dan melepaskan pelukan Jamila. Wajah Jamila dipegangnya dan dipandangnya lama.


"Hentikan tangis itu. Aku gak suka. Jika kamu bahagia di sini karna aku baik, maka di rumah nanti kamu akan bertemu orang yang lebih baik dariku, yaitu Bu Lastri. Dia akan menyayangimu seperti dia menyayangiku," kata Rianti. Jamila menganggukkan kepalanya. Rianti mengusap air mata Jamila.


"Sekarang, tidurlah. Besok ibu akan menjemputmu sekitar jam 10. Kamu harus janji tak boleh menoleh ke belakang lagi. Jika kamu masih terus menangis, aku tidak akan menemuimu saat aku bebas nanti," kata Rianti. Wajahnya terlihat serius. Jamila gelisah menatap Rianti. Kedua tangan Rianti di pegangnya erat.


"Rianti, jangan berkata seperti itu," kata Jamila setengah memelas. Jamila tersenyum.


"Asalkan kamu janji tidak akan bersedih lagi. Ingat, aku pasti akan keluar dari tempat ini. Tunggu aku dan kita akan bersama lagi," kata Rianti. Jamila tersenyum menganggukkan kepalanya. Rianti menggeser tubuhnya dan menyuruh Jamila berbaring di sampingnya.


"Di bawah saja, Rianti. Kamu nanti gak leluasa menggerakkan badanmu," kata Jamila.


"Muat kok, nanti kalau aku sudah tidur, kamu boleh pindah tidur ke bawah. Temani aku dulu sebelum aku terlelap," kata Rianti. Jamila pun membaringkan tubuhnya pelan di samping Rianti. Rianti langsung membagi selimut yang dipakainya di tubuh Jamila.

__ADS_1


Malam semakin larut. Hening dan sepi semakin menyelimuti.


Setelah untuk beberapa lama mereka bercerita satu sama lainnya, keduanya pun terlelap.


__ADS_2