KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#196


__ADS_3

Adzan Ashar terdengar di antara suara bising kendaraan yang lalu lalang di jalan. Keasikan memikirkan kemana ia harus pergi jika pilihan pertama yang ditawarkan perempuan itu ia tolak, membuatnya lupa dia belum melaksanakan shalat dhuhur. mengingat kembali bagaimana tatapan dan gelagat aneh dari Jini, hatinya lebih condong meragukan bantuan yang ditawarkan Jini. Tapi di lain sisi, ia tak mau mengesampingkan prasangka baik kepada siapapun. Tapi terlalu banyak berpikirnya itu membuatnya lalai pada kewajibannya.


Jamila memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis. Ia merasa berdosa karna untuk pertama kalinya ia benar-benar telah melalaikan kewajibannya. Waktu terus berlalu dan hatinya mulai diselimuti kegelisahan.


"Astaghfirullah...," desah Jamila sesal. Ia mendongak dengan tatapan penuh penyesalan. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak percaya dia melakukannya.


Jamila menatap ke sekitarnya. Sepanjang mata memandang, ia sama sekali tidak menemukan rumah ataupun warung. Hanya hamparan sawah dan kebun. Rupanya ia sudah jauh keluar dari kota. Jika ia harus menunggu Jini selesai memetik tembakau, itu juga belum pasti. Mungkin saja pulangnya terlalu sore dan ia akan ketinggalan lagi waktu shalatnya. Tapi jika memutuskan untuk pergi dari tempat itu, Jini tidak akan menemukannya. Dia akan kehilangan pekerjaan yang dijanjikan oleh Jini. Begitu juga tempat menginapnya malam ini.


Setelah berpikir beberapa saat, ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan sekitar sejam lamanya, akhirnya Jamila menemukan sebuah rumah kecil. Pemilik rumah langsung mempersilahkan Jamila masuk ketika Jamila mengutarakan maksudnya untuk numpang shalat.


Hari sudah hampir gelap. Sinar matahari hanya terlihat sedikit menyembul di balik awan hitam di ufuk maghrib. Walaupun ia masih tak tahu harus kemana, ia berpamitan saja kepada pemilik rumah. Kalaupun pemilik rumah mengijinkannya menumpang menginap di rumah itu, tapi ia melihat rumah itu terlalu kecil dengan lima orang penghuni di dalamnya. Ia harus segera pergi sebelum gelap benar-benar menghalangi perjalanannya.


* * * * *


Sementara itu, pak Mustarah yang ditugaskan Sulastri mencari Jamila terlihat memasukkan kembali mobilnya di garasi mobil. Mendengar suara mobil, Sulastri segera keluar. Wajahnya tampak kecewa ketika melihat Pak Mustarah keluar sendiri dari dalam mobil. Tanpa bertanya pun, dia sudah tahu bahwa pak Mustarah tidak berhasil menemukan Jamila.


"Maaf, Bu. Saya sudah mencari Jamila kemana-mana, tapi tidak menemukannya. Insya Allah, besok saya akan cari lagi,"


"Gak apa-apa, Pak Mustarah. Gak usah dicari lagi. Jamila sudah dewasa. Dia bisa menentukan jalan hidupnya sendiri. Sekarang, Pak Mustarah ke dapur sana. Munawarah sudah menyiapkan makan,"


"Baik, Bu," kata pak Mustarah .


Sulastri menghempaskan tubuhnya di atas kursi. Entah apa yang akan dikatakannya pada Rianti jika Jamila benar-benar tidak bisa ditemukannya. Rianti tentu sedih. Dia tak mau Rianti bersedih di saat sedang berjibaku menahan beban kehamilannya.


Sulastri meraih ponsel di atas meja. Tangannya terlihat lincah mengetik hurup di keyboard ponselnya.


"Nak Tuan, Jamila belum ditemukan.


Setelah mengirim pesan itu ke nomor Tuan Guru Izzul Islam, Sulastri bangkit dan melangkah lemah menuju kamarnya.


* * * *

__ADS_1


Adzan maghrib terdengar berkumandang. Gelap mulai terhampar. Udara dingin musim kemarau berhembus dingin menusuk sum-sum.


Di kegelapan malam, Jamila berjalan menyusuri trotoar jalan yang tak terawat. Sesekali ia mengaduh kesakitan saat kakinya terantuk balok paving blok yang terlepas dari susunannya. Ia menggigil kedinginan menyedekapkan kedua tangannya sambil terus berjalan. Jalanan begitu sepi. Hanya satu dua kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi. Semua seperti sedang menghindar dari gelap dan sunyi yang menakutkan.


Jamila benar-benar meragukan keputusannya meninggalkan rumah Sulastri. Jika memang keputusan yang diambilnya benar, maka Tuhan tidak akan mempersulitnya untuk melaksanakan shalat. Rasa tidak tega di hatinya sebab perjodohannya dengan Tuan Guru Izzul Islam, telah mengesampingkan bisikan hatinya untuk menerimanya. Tapi kini semua sudah terlanjur diputuskannya. Tanpa disadarinya, ia telah kembali ke jalanan.


"Ya, Allah. Bantu hamba keluar dari masalah ini," Doa Jamila dalam hati. Ia berhenti sejenak. Setelah memejamkan matanya beberapa saat, dia kembali melangkahkan kakinya. Ayat-ayat suci Al-qur'an mulai terdengar dari mulutnya.


Tit, Tit..."


Terdengar bel mengentrit dari arah belakang. Jamila kaget. Dia menoleh. Dadanya berdebar. Ia berusaha bersembunyi di balik batang pohon, tapi sorot lampu sepeda motor terlanjur menyorot tubuhnya. Karna silau dengan cahaya lampu sepeda motor, ia menghalangi matanya dengan salah satu tangannya. Kaki Jamila bergetar ketika sepeda motor itu perlahan mendekat kepadanya.


"Jamila?"


Jamila mengerutkan keningnya ketika suara perempuan memanggil namanya. Ia sepertinya mengenal suara itu.


Perempuan di atas motor itu turun dan mendekat. Jamila mencoba mengenali wajahnya dalam kegelapan malam. Tapi sayang, terlalu gelap.


"Jini?" kata Jamila. Perempuan yang ternyata adalah Jini itu tersenyum menganggukkan kepalanya. Entah, Jamila sendiri tidak tahu perasaannya saat bertemu dengan Jini. Ada rasa bahagia karna akhirnya malam ini ia tidak menghabiskannya di jalanan. Tapi ada pertanyaan besar yang membuatnya was-was. Kenapa Jini sampai mencarinya hingga malam begini?


"Naiklah, tidak baik perempuan sendirian di tempat seperti ini. Orang-orang hanya berani lewat saat maghrib saja. Begitu waktu isya tiba, jalan ini akan lengang. Banyak kejahatan terjadi di sini. Naiklah," kata Jini. Ia melangkah dan menaiki sepeda motornya.Jamila masih berdiri ragu. Jini menghidupkan sepeda motornya. Tangan Jamila disambarnya.


"Ayo, apa kamu mau menginap di sini? Naiklah, aku sudah menyiapkan makan malam untukmu. Hitung-hitung, aku ingin bersedekah malam ini untuk perantau sepertimu," kata Jeni. Jamila mendesah pelan. Ia melangkah pelan mengikuti tarikan tangan Jini.


Sepeda motor yang dikendarai Jeni melacu kencang menembus malam. Suaranya nyaring membelah gelap yang sunyi. Hingga setelah beberapa menit melewati gelap jalanan, lalu menyusuri jalan kecil melewati beberapa persawahan, motor itu berhenti di sebuah rumah kecil beratap ilalang.


Jamila mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya setelah turun dari sepeda motor. Rumah kecil di depannya berdiri sendiri di tengah persawahan. Jauh dari beberapa rumah yang ia lewati tadi. Perasaan takut mengerubungi hatinya. Detak jantungnya berdenyut kencang seperti hendak mengatakan bahwa Jini bukanlah orang baik-baik.


"Ayo masuk, Jamila," kata Jini setelah membuka pintu rumah. Jamila hanya terdiam. Jini tersenyum. Melihat Jamila hanya berdiri mematung menatapnya, ia menarik tangan Jamila masuk.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan saat ini. Kamu pasti mengira aku ini orang jahat," kata Jini. Tangannya terus memegang tangan Jamila dan membawanya masuk lebih jauh ke dalam rumah. Suasana di dalam rumah nampak gelap. Jini melepaskan pegangan tangannya. Langkah kakinya terdengar menjauh. Suara korek api mengagetkan Jamila. Tak beberapa lama kemudian, Suasana di dalam rumah perlahan terang saat cahaya lampu teplok yang dinyalakan Jini menyebar di dalam ruangan.

__ADS_1


"Silahkan duduk,Jamila," kata Jini. Tangannya mengarahkan mata Jamila ke arah sofa panjang dengan satu meja kecil di sampingnya. Rumah kecil yang ia bayangkan kumuh ternyata tak sesuai dengan yang dibayangkannya. Rumah itu terlihat bersih.


"Maaf, kami di sini memakai genset. Itupun sampai jam delapan malam. Sudah dua hari ini gensetnya rusak. Jadi, dua hari ini kampung ini gelap gulita," kata Jini. Hati Jamila mulai agak tenang. Ia duduk di atas sofa ketika Jini mempersilahkannya duduk. Jamila mendesah panjang. Seperti ingin menyingkirkan sisa rasa cemas dan takut dalam hatinya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Jini bukan orang jahat seperti yang ia pikirkan.


"Kamu tinggal sendiri?" kata Jamila. Ini kata-kata pertamanya setelah tadi hanya terdiam penuh telisik. Jini tersenyum. Ia bangkit dan melangkah ke dapur. Suara denting sendok yang beradu dengan gelas terdengar menghentak keheningan. Setelah untuk beberapa saat menunggu, Jini kembali dengan membawa dua gelas teh panas.


"Ayo, minum dulu untuk menghangatkan tubuhmu," kata Jini sambil meletakkan salah satu gelas di depan Jamila. Jamila tersenyum. Tapi ia masih penasaran karna Jini belum menjawab pertanyaannya. Dengan rumah yang menyendiri ditengah-tengah sawah, ia masih curiga, Jini yang masih muda berani tinggal sendirian di tempat itu.


"Kamu kok berani tinggal sendirian di rumah ini?" tanya Jamila lagi setelah mencoba menyeruput teh panasnya. Jini tersenyum.


"Maaf, jadi lupa menjawab pertanyaanmu," kata Jini. Ia mendesah panjang.


"Ayah dan ibu minggu-minggu ini lebih banyak tinggal di kebun. Jaraknya sekitar satu kilo dari sini. Kami punya kebun buah srikaya yang sudah siap panen. Jadi selama itu, aku terpaksa tinggal sendiri di rumah," sambung Jini. Jamila mengangguk-angguk kecil.


"Mari aku antar kamu ke kamar. Mungkin kamu capek karna seharian tidak istirahat. Besok pagi-pagi aku akan mengantarmu ke tempat kerja,"


"Tapi maaf, Jini. Aku akan kamu ajak kerja dimana? Aku tidak punya keahlian apa-apa. Aku cocoknya jadi pembantu saja,"


Jini tersenyum. Ia meletakkan lampu teplok di atas meja. Dia lalu merapikan tempat tidur kecil di depannya. Jamila memperhatikan setiap sudut dalam ruangan kecil itu sambil menunggu jawaban dari Jini.


"Sudah, kamu tenang saja. Yang penting kamu dapat pekerjaan dan tempat tinggal dulu. Ayo," kata Jini setelah selesai merapikan tempat tidur. Ia melangkah mendekati Jamila yang masih berdiri. Pundak Jamila dipegangnya.


"Kamu juga kerja di sana?" tanya Jamila. Jini tersenyum.


"Tidak. Aku cuma pernah ditawari. Tapi ayah melarang karna pekerjaan di kebun banyak. Ayah takut aku tidak bisa membantunya kalau sudah kerja di luar. Makanya, ketika aku mendengar kamu mencari pekerjaan, aku langsung ingat tempat itu dan menawarkannya kepadamu," kata Jini. Ia memegang tangan Jamila dan mengajaknya duduk di atas tempat tidur.


"Kamar mandinya di mana. Aku mau shalat isya dulu," kata Jamila.


Jini bangkit kembali dan mengambil lampu teplok di atas meja. Ia lalu memberikannya kepada Jamila.


"Kamu keluar saja lewat pintu belakang. Kamar mandinya ada di sebelah pintu. Tapi maaf, kamar mandinya hanya di tutupi karung goni," kata Jini sambil menunjuk ke arah samping kamar.

__ADS_1


Jamila tersenyum dan melangkah pelan ke arah yang ditunjukkan Jini.


__ADS_2