
"Mau bicara apa? cepetan, aku gak ada waktu dengerin omong kosongmu!" Seru Mahesa menatap malas Alex yang kini juga menatapnya. Alex baru saja menutup pintu kamar itu.
Huufftt..
Alex menghela napas berat. Kemudian ia merangkul Mahesa dengan penuh kasih sayang. Menuntun pria yang emosi itu untuk duduk di sofa.
Setelah keduanya duduk bersebelahan. Alex kembali menatap lekat Mahesa.
"Adekku Mahesa, abang minta maaf dari hati abang yang paling dalam, karena telah melukai hatimu. Abang sadar, kamu seperti ini karena abang." Ujar Alex tenang, masih menatap lekat Mahesa yang mukanya ditekuk itu. "Mungkin jikalau ayah tak mengangkatku sebagai anaknya Kamu pasti jadi anak baik. Iya kan?"
Mahesa terdiam, ucapan Alex pas mengena di hatinya. Ia memang iri pada Alex. Ayahnya dulu sering banding -bandingkan ia dengan Alex. Katanya Alex rajin lah, baiklah, bisa datur.
"Tak ku salahkan kamu Dek. Mungkin pikiran dan hatimu telah diselimuti kebencian yang berkarat untuk abang, sehingga semua yan abang lakukan nampak buruk di matamu. Jujur, abang tak ada niat sedikitpun untuk menguasai kekayaan Kalian. Murni aku mau membantu Ayah."
"Tak ada kukatakan, kau mau merebut harta ayah.". Sergah Mahesa cepat. Ia buang pandangannya. Tak sanggup bersitatap dengan Alex.
"Oouuww.. Begitu, jadi, kamu kesal pada abang karena apa?" tanya Alex pelan, ia ingin mengorek uneg uneg di hatinya Mahesa. Walau sebenarnya Alex tahu, Mahesa iri padanya sejak Mahesa remaja hingga sekarang. Karena, pak Adnant selalu bersikap baik pada Alex.
" Gak ada." Jawab Mahesa cepat. Ia bangkit dari duduknya. Ia merasa buang waktu bicara dengan Alex yang sok baik Itu. Lagian, sangat susah mengutarakan uneg uneg di hatinya, yang kekesalannya ia pendam lama.
"Freya itu wanita baik. Ia tak sekotor dugaanmu."
Mahesa membalik badan. "Kenapa gak kamu saja yang nikahi pela cur itu. Kamu kan kekasihnya." Sahut Mahesa cepat. "Sekali pela cur, ya tetap pelac ur!"
"Ia mengandung anakmu!"
Hahahaha..
"Dasar bodoh kalian semua. Percaya kalian pada mulut Pelac ur!" Ketus Mahesa dan bergegas keluar dari kamar itu.
Saat ia keluar kamar itu, Mahesa dikejutkan dengan keberadaan sang ayah di depan pintu. Terlihat ayahnya ingin bicara, tapi Mahesa mengacungkan tangannya. Memberi kode penolakan, tak mau dengar ocehan sang ayah.
__ADS_1
"Aku akan pergi dari rumah Ini!"
"Mahe... Ibumu sedang sakit nak! ayah mohon, jangan ikuti emosimu. Ayah tak akan keluarkan kamu dari daftar waris ayah. Terserah kamu mau hancurkan usaha kita, silahkan nak! tapi, satu harapan ayah. Bertanggung jawablah pada keluargamu. Istrimu sedang mengandung anakmu!" ujar sang ayah sedih. Mata tua pria berkaca mata itu nampak berkabut. Ia pun melepas kaca matanya, guna menyeka air matanya
"Aku tak butuh harta ayah!" Jawab Mahesa tegas. Ia melanjutkan langkahnya ingin keluar dari rumah.
Grap..
Sang ayah menahan tangannya. "Nak, jangan pergi, temui ibumu dulu. Maaf, tadi ayah emosi."
Deg
Mahesa semakin kesal dengan tingkah ayahnya yang menurutnya tak tegas itu. Tadi ia diusir, akan dikekuarkan dari daftar keluarga dan sekarang minta maaf padanya. Seolah ia adalah anak yang paling durhaka di dunia ini.
"Baiklah, aku tak akan pergi. Tapi, ku mohon jangan ikut campur dalam urusan keluargaku dan pekerjaanku. Ayah telah beri kekuasaan padaku untuk mengurus perusahaan kontruksi di kota Medan. Jadi, untuk kedepannya. Gak usah suruh suruh si Alex memata mataiku. Suruh saja dia fokus urus perusahaan yang di Kalimantan." Tegas Mahesa.
"Iya nak!" Sahut sang ayah lemah.
"Iya nak!" Sang ayah merangkul Mahesa dengan tubuh yang bergetar. Pria tua itu menangis dalam dekapan anaknya.
Mahesa merasakan hatinya seperti dicabik cabik saat ini. Membuat orang tua kita menangis adalah dosa besar.
***
Keesokan harinya.
Karena ibunya Mahesa sudah baikan. Jadi, siang ini. Mahesa dan istrinya bertolak ke kota Medan. Keluarga besar tentu mengantar mereka. Rumah yang akan di tempati Mahesa dan Freya bukanlah rumah orang tuanya yang ada di kota itu. Tapi, rumah sederhana. Rumah KPR dari proyek yang sedang dikerjakan perusahaannya Mahesa.
Ia sengaja mengajak Freya tinggal di perumahan bersubsidi tipe 36 itu, ia ingin memberi pelajaran pada Freya, agar wanita itu mundur dari pernikahan ini. Sebab, jika Freya yang minta pisah. Maka, itu semua bukanlah salahnya Mahesa.
Sesampainya di perumahan. Pak Adnan, dan Bu Jasmin nampak heran. Mereka pikir Mahesa dan Freya akan tinggal di perumahan yang cukup besar. Setidaknya perumahan tipe 70.
__ADS_1
"Yakin kamu nak akan tinggal di sini?" tanya Bu Jasmin dengan tidak percayanya memperhatikan ruang tamu ukuran 3x3M yang masih kosong itu.
Huufftt..
"Bu, beri aku kepercayaan. Jangan ikut campur urusan rumah tangga kami. Ini proyek pertamaku. Bisa dibilang, ini jerih payahku yang sesungguh nya. Aku tak mau tinggal di rumah gedong ayah dan ibu. Nanti ayah dan ibu sibuk urusi rumah tanggaku." Sahut Mahesa datar.
Freya tersenyum tipis mendengar ucapan sang suami. Bisa Freya tebak suaminya itu sedang mengujinya. Apakah ia ikhlas dan Ridho menerima pemberian suaminya atau tidak.
"Kalau kamu gak mau hidup susah denganku. Silahkan kamu ikut dengan ayah dan ibu. Pintu terbuka lebar." Ujar Mahesa tegas pada Freya.
"Apa..?" jelas Freya terkejut dengan ucapan Mahesa. Dia kan tidak memberi komentar. Kenapa pula suaminya itu jadi sensitif? "Bagiku ini sudah lebih dari cukup. Ini rumah sangat mewah dan bagus." ujar Freya tersenyum bahagia.
Dasar... Ulat bulu. Umpat mahesa, menatap malas Freya.
Tin
Tin
Tin
Suara klakson truk barang mengejutkan semua orang di rumah itu. Gimana nggak terkejut dari awal mereka memang terkejut mengetahui fakta kalau Mahesa mau tinggal di rumah tipe 36. kamarnya saja di setiap rumah mereka, luasnya paling kecil 10 x 10 m. Ini ia memilih tinggal di rumah yang luasnya 6 x 6 meter, kan gak masuk akal.
"Barang barang sudah datang." Ujar Mahesa, keluar dari rumah, menyambut si abang supir yang membawa perlengkapan rumah. "Angkat ke dalam bang!" ujar Mahesa ramah pada orang yang membawa barang barang isi rumah Itu.
Ada sprigbed ukuran 5 kaki, dua lemari pakaian, kulkas, mesin cuci, kompor gas, rak piring serta isi. Intinya semua perlengkapan rumah tangga. Dan yang Membuat Bu Jasmin heran. Barang barang yang masuk ke rumah anak nya itu, kwalitas nya biasa saja.
"Perumahan ini, isinya sama semua. Ya seperti ini. Ini bawaan paket di perumahan ini." Jelas Mahesa, tanpa dimintai untuk menjelaskan.
***
Bersambung
__ADS_1