
"Dik, temani dulu pak Sahril dan pak Pratama. Biar anak-anak santri yang mengurus ibu. Sebentar lagi saya menyusul. Saya harus menemani pak Dokter dulu," bisik Tuan Guru Izzul Islam kepada Rianti setelah Jamila dan Suhani datang. Rianti menatap lemah ke arah Nyai Mustiani yang belum sadarkan diri. Dia masih terlihat berat meninggalkan Nyai Mustiani yang masih tak sadarkan diri. Tuan Guru Izzul Islam memegang tangan Rianti.
"Saya harus tahu dulu keadaan ibu, Kak,"kata Rianti. Tatapannya di alihkan ke arah dokter Kandar yang sedang memasang infus di tangan Nyai Mustiani.
"Bagaimana, Dok, kondisi ibu saya," kata Rianti. Dokter Kandar tersenyum.
"Jika dalam satu jam ke depan ibu Nyai belum juga sadar, langsung saja dibawa ke klinik. Saya akan menginap di klinik malam ini sambil menunggu perkembangan dari Bu Nyai. Kita bersabar dulu menunggu reaksi obat yang telah saya masukkan ke dalam infus," kata Dokter Kandar. Tuan Guru Izzul Islam mendekati Rianti. Kedua tangan Rianti dipegangnya dan membantunya turun dari atas tempat tidur. Dia lalu memberi isyarat kepada Jamila dan Suhaini agar menggantikan posisi Rianti di dekat Nyai Mustiani terbaring.
"Kalau begitu, saya pamit dulu, Tuan Guru. Nanti kalau ada apa-apa langsung hubungi saya," kata Dokter Kandar. Peralatan kesehatan yang sudah dikeluarkannya dimasukkan kembali ke dalam tasnya.
"Terimakasih banyak, Pak Dokter," kata Tuan Guru Izzul Islam. Dokter Kandar tersenyum. Setelah bersalaman dengan Tuan Guru Izzul Islam, ia Ialu melangkah keluar diikuti Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti.
Pak Sahril dan Pak Pratama yang masih duduk di ruang tamu langsung berdiri ketika melihat Dokter Kandar, Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam muncul di hadapan mereka. Keduanya langsung mendekat.
"Bagaimana keadaan bu Nyai, Dok," tanya pak Sahril.
"Untuk saat ini cukup rawat di rumah saja. Tapi jika nanti terjadi sesuatu, saya sarankan di bawa ke klinik," kata Dokter Kandar. Pak Sahril tersenyum. Dokter Kandar menyodorkan tangannya hendak bersalaman dengan pak Sahril dan pak Pratama.
"Semoga saja bu Nyai baik-baik saja. Sekali lagi terimakasih atas waktunya, Dok," kata pak Sahril. Dokter Kandar mengangguk tersenyum.
* * * * *
"Emh, oh ya, Pak. Kira-kira jam berapa besok saya harus memenuhi panggilan penyidik. Saya belum sempat membaca suratnya," kata Rianti memulai pembicaraan setelah mereka duduk kembali di sofa ruang tamu.
"Sekitar jam 9, Non. Insya Allah, saya dan pak Pratama akan menemani Non Rianti. Tapi jika memang kondisi bu Nyai belum juga baikan, kita boleh meminta penundaan pemeriksaan," kata pak sahril.
"Lebih cepat lebih baik, Pak. Kita juga perlu segera tahu kelanjutan kasus ini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Salah satu tangan erat memegang tangan Rianti.
"Maaf, Tuan Guru. Semuanya ada di tangan Non Rianti. Selain itu, kita juga belum tahu siapa-siapa yang akan dihadirkan dalam kasus ini selain pak Jamal," jawab pak Sahril.
"Kemungkinan Jeri, Pak," sela Rianti. Pak Sahril mendesah. Kedua telapak tangannya saling remas satu sama lainnya. Tatapannya mengarah kepada Rianti.
"Maaf, Non Rianti. Mungkin saya dan pak Pratama perlu tahu terkait penyebaran video itu." Pak Sahril kembali mendesah. Ia terlihat ragu untuk melanjutkan kata-katanya. Dia berat jika membahas kembali masa lalu Rianti. Rianti tersenyum. Dia sepertinya sudah tahu apa maksud pak Sahril.
"Silahkan dilanjutkan, Pak. Saya percayakan pak Sahril menangani kasus ini. Oleh karnanya, Pak Sahril perlu tahu informasi terkait kasus ini," kata Rianti. Pak Sahril tersenyum. Ia memperbaiki posisi duduknya. Ia mendehem.
"Dalam kasus ini, Non Rianti bisa terbebas dari pelanggaran, jika memang Non Rianti tidak pernah mengijinkan penyebaran video ini oleh pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan video. Itu inti dari pasal 4 ayat 1."
__ADS_1
Rianti mendesah panjang. Tatapannya menerawang ke arah langit-langit ruangan. Kedua matanya terlihat sedang menahan air mata. Tuan Guru Izzul Islam menepuk-nepuk pelan punggung telapak tangannya. Rianti mengalihkan pandangannya kembali ke arah pak Sahril.
"Pak Sahril, Pak Pratama, dan orang-orang yang mengenal saya, pasti tahu betul bagaimana saya dulu. Tak ada orang yang paling jahat di kota ini selain saya." Air mata Rianti yang sebisa mungkin ditahannya akhirnya jatuh. Ia mulai terisak-isak dalam tangisnya ketika mengenang masa lalunya dulu. Tuan Guru Izzul Islam mengambilkannya tisu dan memberikannya kepada Rianti. Punggung Rianti di usapnya lembut. Sejenak suasana hening. Hanya terdengar suara isak tangis Rianti.
"Orang-orang tidak akan percaya jika saya tidak mengijinkan penyebaran video itu, Pak. Saat itu, saya memang yang menyuruh Jeri untuk merekamnya untuk disebarkan suatu hari nanti." Rianti kembali menghentikan kata-katanya. Ia mendesah pendek sembari memejamkan matanya. Ia menggelengkan kepalanya. Mengenang masa lalunya adalah sesuatu yang paling menyakitkan ketika mengingatnya.
"Tapi maaf, Non. Non Rianti bisa bersikeras tidak pernah mengijinkan penyebaran video itu nanti di depan penyidik. Kami akan membantu," kata pak Pratama ikut memberi saran.
Rianti membuka matanya. Kedua matanya diusapnya. Ia menatap pak Pratama. Ia tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Sekalipun keinginan menyebarkan video itu hanya di dalam hati saya dan tak ada seorangpun yang mengetahuinya, saya akan sangat berdosa jika menyembunyikannya, Pak. Saya tak ingin secuil kotoran kuku dari kesalahan saya yang akan terbebas dari hukuman di dunia. Saya tak ingin hidup sengsara di akhirat kelak." jawab Rianti panjang lebar. Pak Pratama menundukkan kepalanya.
Untuk sejenak, suasana kembali hening.
"Nanya sedikit, Pak Sahril. Apakah hukuman penjara juga bisa diganti dengan denda sejumlah uang?" kata Tuan Guru Izzul Islam membuyarkan suasana yang hening. Rianti menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tangan Tuan Guru Izzul Islam semakin dipegangnya erat.
"Tidak, Kak Tuan. Sekalipun hukuman itu bisa diganti, Rianti tidak mau. Apa yang menjadi hukuman utamanya, itu yang akan saya jalani." Rianti mendesah panjang.
"Kalaupun bisa diganti, saya tidak mau menggunakan uang perusahaan yang merupakan jerih payah almarhum papa," kata Rianti. Mendengar jawaban Rianti, pak Sahril dan pak Pratama terlihat pasrah. Tuan Guru Izzul Islam sendiri hanya tersenyum. Dia mengerti betul sifat Rianti. Rianti pasti akan lebih memilih hukuman penjara.
"Saya serahkan semua keputusan kepada istri saya, Pak. Jikapun dia harus dipenjara berpuluh-puluh tahun karna pelanggaran yang ia yakini sebagai kesalahannya, saya tetap akan menunggunya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Merasa dikuatkan, Rianti tersenyum. Perasaannya kembali tenang.
"Tapi mungkin, saya belum bisa memenuhi panggilan penyidik jika kondisi ibu masih seperti ini. Saya minta bantuan pak Sahril dan pak Pratama," kata Rianti. Pak Sahril dan pak Pratama menganggukkan kepala.
Pak Sahril melirik ke arah pak Pratama setelah ia melihat ke arah jam dinding. Sudah jam 11 malam.
"Kalau begitu, kami pamit dulu Tuan Guru, Non. Mohon hubungi kami terkait kondisi kesehatan bu Nyai," kata pak Sahril. Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti tersenyum.
"Terimakasih, Pak," kata Tuan Guru Izzul Islam. Setelah bersalaman. Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti mengantar pak Sahril dan pak Pratama hingga ke teras rumah.
* * * * *
Tuan Guru Izzul Islam merangkul tubuh Rianti dan mengajaknya kembali duduk di sofa ruang tamu. Tuan Guru Izzul Islam tak henti-henti memandang wajah Rianti. Tatapannya terlihat penuh dengan kekaguman.
Tuan Guru Izzul Islam memegang kepala Rianti dan mencium keningnya lembut. Rianti tersenyum. Setelah sejenak memandang wajah Tuan Guru Izzul Islam yang teduh, Rianti kemudian memeluknya.
"Kak Tuan akan menungguku lagi seperti dulu Kak tuan menunggu lama gadis berkerudung motif batik. Terlalu singkat dan kini kita harus berpisah lagi," kata Rianti dengan isak tangisnya yang kembali pecah di pelukan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam mendongakkan wajahnya. Ada air mata yang menggumpal di kedua matanya. Ketika air mata itu hendak mengalir, ia segera menyekanya. Kesedihan yang ia rasakan saat ini begitu dalam. Setelah beberapa minggu menjalani kebersamaan dengan istri yang begitu sempurna seperti Rianti, ia kini harus menjalani masa-masa sepinya kembali. Tapi ia harus tetap memperlihatkan ketegarannya. Rianti sudah memilih jalan yang tepat untuk mengakui kesalahan yang ia perbuat, sekalipun banyak celah yang akan membuatnya terbebas jika saja dia mau. Tidak ada dari rencana Allah yang tak mengandung kebaikan. Kesabarannya kembali diuji untuk meningkatkan drajatnya di sisi Allah swt.
__ADS_1
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mengecup kepala Rianti.
"Semoga kelak, kita akan tetap bersama di surga Allah yang paling utama wahai istriku." Tuan Guru Izzul Islam mempererat dekapannya. Rianti merasakan kedamaian. Wajahnya terlihat tenang. Kali ini senyum tak henti-henti mengembang dari bibirnya.
"Assalamualaikum," terdengar ucapan salam dengan nada pelan dari arah samping. Tuan Guru Izzul Islam melepaskan pelukannya. Suhaini terlihat berdiri menundukkan kepalanya. Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti segera bangkit dan melangkah mendekati Suhaini.
"Ada apa, Suhaini," tanya Rianti.
"Dipanggil bu Nyai, Nyai," jawab Suhaini. Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti saling pandang. Pandangan mata keduanya berbinar bahagia. Keduanya langsung melangkah menuju kamar Nyai Mustiani.
* * * * *
Nyai Mustiani tersenyum ke arah pintu ketika Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti muncul. Seperti orang yang telah lama tidak bertemu, Rianti berjalan cepat dan naik ke atas tempat tidur mendahului Tuan Guru Izzul Islam. Dia langsung mencium kening Nyai Mustiani.
"Alhamdulillah, akhirnya ibu sadar juga. Maafkan Rianti, Bu. Gara-gara Rianti jadi seperti ini," kata Rianti. Salah satu tangan Nyai Mustiani dipegangnya dan diletakkannya di wajahnya. Nyai Mustiani tersenyum. Ia masih menunggu Rianti selesai dari tangisnya. Tuan Guru Izzul Islam yang duduk di sebelah yang lain memperhatikan keduanya bergantian dengan tatapan penuh haru.
Nyai Mustiani mengangkat salah satu tangannya dan meletakkannya di atas kepala Rianti. Rianti perlahan mengangkat wajahnya. Tapi satu tangan Nyai Mustiani tetap dipegangnya. Ia membalas senyum Nyai Mustiani.
"Bukan salah kamu. Jantung ibu yang terlalu lemah. Jantung yang tidak istiqomah mengingat Allah." kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Jam berapa panggilannya, Nak," sambung Nyai Mustiani.
"Sekitar jam 9, Bu," jawab Tuan Guru Izzul Islam mendahului Rianti.
"Sini kepalamu, Nak," kata Nyai Mustiani menyuruh Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam mendekatkan kepala keduanya lebih dekat ke wajahnya. Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan segera mendekatkan wajah mereka. Nyai Mustiani kemudian mencium kening keduanya bergantian. Kemudian ia mengarahkan kepala keduanya bersandar di atas dadanya.
"Dengarkan detak jantung ibu. Sudah normal bukan?" Nyai Mustiani tersenyum. Kepala keduanya dielusnya lembut. Keduanya seperti bayi di ***** ibunya.
"Detak jantung ibu akan jadi pemersatu detak jantung kalian. Dua detak jantung yang selalu setia menemani hingga di surga nanti," kata Nyai Mustiani. Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepala.
"Sekarang, ajak istrimu istirahat, Nak. Ibu tahu, istrimu tak akan terbebani dengan masalah yang kini sedang dihadapinya. Dia hanya terbebani dengan kondisi ibu." kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk tersenyum.
Ayo, Nak. Ikut suamimu sana. Ibu sudah baikan. Jangan lagi kamu merasa terbebani dan merasa bersalah. Semuanya akan baik-baik saja."
"Tapi, Bu. Rianti tetap mau tidur di sini menemani ibu," kata Rianti. Nyai Mustiani menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Nak. Jangan membantah ibu. Biar nanti Suhaini dan Jamila yang menemani ibu. Suamimu juga tetap akan mengontrol ibu," kata Nyai Mustiani. Rianti mendesah. Rianti mendesah. Dengan berat hati, ia mencium punggung telapak tangan Nyai Mustiani. Setelah menatap Nyai Mustiani beberapa saat dengan tatapan berat, ia lalu menggandeng tangan Tuan Guru Izzul Islam dan melangkah meninggalkan kamar Nyai Mustiani. Nyai Mustiani menatap mereka dengan tatapan yang bercampur aduk. Antara bahagia melihat keduanya nampak mesra, dan kesedihan sebab musibah yang sedang menimpa Rianti. Nyai Mustiani mengalihkan pandangannya ke arah langit-langit kamar ketika Tuan Guru Izzul Islam dan Rianti sudah keluar dari kamarnya. Harapan besar kini terangkum dari doa yang ia panjatkan. Semoga Rianti terbebas dari masalahnya.
__ADS_1