
"Kita memang berjodoh, Pak Suma. Kami senang mendengar pemilik lahan sebelah mau menjual tanahnya. Sekarang, Bapak tinggal melengkapi surat-suratnya. Jika semua sudah beres, kami akan memanggil Bapak ke kantor," kata pak Sahril. Ia menoleh ke arah pak Pratama yang terihat berteduh di bawah pohon bidara tak jauh dari pondok. Pak Sahril melambaikan tangannya menyuruh pak Pratama mendekat.
"Sudah siang, Pak, sudah waktunya kita pulang," ajak pak Sahril ketika pak Pratama sudah duduk di dekatnya. Pak Pratama melirik ke arah jam tangannya.
"Insya Allah, saya akan segera menghubungi Bapak jika surat-suratnya sudah saya lengkapi. Tinggal berkoordinasi dengan pemilik lahan sebelah," kata pak Suma. Ia ikut berdiri ketika pak Sahril bangun dari duduknya.
"Baik, Pak. Dan terimakasih atas waktu Bapak." Pak Sahril dan pak Pratama menyalami pak Suma. Keduanya kemudian berpamitan dan segera melangkah menuju mobil. Pak Pratama membunyikan klakson mobilnya saat mobilnya sudah berbalik menuju jalan utama.
* * *
Sulastri mendesah. Tatapan memelasnya ketika melambaikan tangannya ke arah kendaraan yang lewat tak satupun membuahkan hasil. Mobil-mobil yang melintas seperti tak punya waktu untuk sekedar berhenti menanyainya. Mobil-mobil itu benar-benar terlihat sibuk berpacu dengan waktu. Sesibuk warga kota yang apatis terhadap sesama.
Sulastri menarik ujung kerudungnya dan mengusap peluh di lehernya. Sebuah mobil truck terlihat melaju dari kejauhan. Ia kembali melambaikan tangannya walaupun tanpa menolehkan wajahnya. Ia tak peduli lagi sosok sopir yang berada di dalam truck. Ia pasrah jika memang harus membayar dengan apapun yang ada pada tubuhnya. Dia hanya ingin segera sampai di rumahnya dan bertemu dengan anak-anaknya. Sudah terlalu lama ia tak bertemu mereka.
Lagi-lagi mobil truck itu berlalu kencang di hadapannya. Bahkan, lajunya yang sangat kencang menciptakan hempasan angin yang kuat, sehingga hampir menerbangkan kerudung yang dipakai Sulastri.
Sulastri menurunkan tangannya lemah. Ia kembali menyandarkan tubuhnya lemah. Ia memandang pakaian yang dikenakannya. Mungkin saja ia terlihat seperti gembel, membuat sopir-sopir enggan menghentikan mobil mereka. Ditambah lagi dengan posisinya yang saat ini duduk sendiri di tepi jalan. Orang-orang mungkin juga menganggapnya orang gila.
"Ya, Tuhan," desah Sulastri. Hidup ternyata tak semudah yang diomongkan penceramah di televisi. Betapa mudahnya mereka berbicara seolah-olah dunia dalam genggaman mereka. Mereka belum merasakan apa yang ia rasakan dan orang-orang yang tak beruntung rasakan. Tak akan ada orang yang akan saling menghina dan menyalahkan, jika masing-masing mereka pernah mengalami pahitnya kehidupan. Masing-masing memang punya pilihan, namun terkadang ada saat kita tidak bisa memilih dan mau tidak mau harus menerima pilihan dari takdir hidup.
Sulastri kembali menoleh. Dilihatnya sebuah mobil warna silver melaju pelan ke arahnya. Ia mencoba mengangkat tangannya dan melambai sekali. Setelah itu ia kembali menyandarkan tubuhnya. Mobil itu miliknya orang kaya. Mobil truk saja tak mau berhenti, apalagi mobil mewah itu. Batin Sulastri putus asa.
__ADS_1
Dan anggapannya memang benar. Mobil itu melaju begitu saja di hadapannya. Sulastri memejamkan matanya sembari melambaikan tangannya. Seperti hendak memanggil pemilik mobil yang telah berlalu beberapa meter di depannya. Rambutnya menjuntai menutupi wajahnya.
* * *
"Mundur, Pak," kata pak Sahril ketika pandangannya tertuju kepada seorang perempuan yang bersandar melalui kaca spion mobil. Pak Pratama memundurkan mobilnya perlahan dan berhenti di depan perempuan itu. Ia membunyikan klakson mobilnya satu kali.
Sulastri terbangun dari tidurnya ketika suara klakson mobil mengagetkannya. Ia terdiam menatap mobil yang berhenti di depannya.
Pak Sahril menurunkan lebih bawah kaca jendela mobil.
"Ayo naik, Bu," tegur pak Sahril dari dalam mobil. Dia memperhatikan perempuan itu dari kaca spion mobil.
"Ayo, Bu, naik. Kalau gak, saya tinggal," tegur pak Sahril lagi.
Sulastri terkejut. Orang yang ada di dalam mobil memang sedang memanggilnya. Sulastri segera bangun dan melangkah menuju mobil. Pak pratama membalikkan tubuhnya dan membukakannya pintu.
"Alhamdulillah," batin Sulastri penuh syukur.
"Mau kemana, Bu," kata pak Sahril. Ia terlihat sedang mencari wajah Sulastri dari kaca spion, namun wajah Sulastri terhalang kursi tempatnya bersandar.
"Jerowaru, Pak," jawab Sulastri dengan suara serak. Suaranya hampir tenggelam oleh suara mobil. Pak Sahril mendekatkan telinganya.
__ADS_1
"Kayaknya Jerowaru, Pak," sela pak Pratama.
"Ow, berarti kita searah," kata pak Sahril.
Sulastri menyandarkan tubuhnya. Ia melirik ke arah botol minuman kemasan di dekat pak Pratama. Pak Pratama melihatnya dari kaca spion.
"Ambil minumannya, Bu," kata pak Pratama. Sulastri tersenyum malu dan menundukkan kepalanya.
"Ambil, Bu, ambil," tambah pak Sahril mempertegas. Dengan pelan, Sulastri mengambilnya dan langsung meneguknya beberapa kali.
Suasana di dalam mulai hening. Pak Sahril yang sedari tadi terlihat menguap, akhirnya lemas juga tertidur di kursinya.
Sulastri menggeser tubuhnya ke arah luar kaca mobil. Ia mulai mengawasi sekitarnya dan berusaha mengenali beberapa toko dan kios di pinggir jalan. Tak ada yang ia kenal. Ia masih asing dengan tempat-tempat yang ia lalui. Belum ada tanda-tanda yang mengarah menuju tempat kontrakannya.
Sulastri mengernyitkan keningnya saat tatapan matanya tertumbuk pada wajah laki-laki yang sedang tertidur, dari balik kaca spion. Jantungnya berdegup kencang dan nafasnya tertahan. Ia lebih mendekatkan wajahnya di sela-sela ruang kosong yang menembus ke arah spion. Sepertinya ia mengenal wajah orang di balik kaca spion mobil.
"Pak Sahril?" panggil Sulastri ragu. Pak Pratama mengernyitkan dahinya. Ia nampak heran saat Sulastri seperti memanggil nama pak Sahril.
"Pak Sahril? Sulastri mencoba memanggil untuk kedua kalinya. Kali ini suaranya lebih keras. Pak Sahril yang nampak pulas dalam tidurnya melonjak terbangun. Ia menoleh ke arah pak Pratama.
"Ada apa, Pak," katanya spontan. Pak Pratama tersenyum. Ia menoleh ke arah Sulastri.
__ADS_1