
Nurul, istri Bagas, nampak sibuk menghidangkan makanan di atas meja. Suasana di dalam rumah sudah mulai sepi. Dia baru selesai memasak untuk makan malam Bagas. Kerupuk dan cumi yang baru saja selesai ia goreng, ia letakkan di atas piring. Setelah merasa semuanya sudah di atas meja, ia bergegas menghampiri Bagas di dalam kamar.
"Ayo, Kak. Kita makan dulu," kata Nurul. Bagas yang baru saja hendak terlelap, membuka matanya. Dengan berat, ia bangun. Ia lalu keluar diikuti Nurul.
"Ibu sama ayah sudah makan?" tanya Bagas. Ia menoleh ke belakang.
"Sudah, Kak. Ayah sudah dari tadi pergi ke sawah. Tanaman ubi dan kelapa ayah banyak yang mati di rusak monyet," kata Nurul. Sepiring nasi dihidangkannya di depan Bagas. Bagas mengambil beberapa kerupuk di depannya dan memakannya.
"Kak, besok antar aku ke bidan, ya. Kayaknya sudah waktunya periksa," kata Nurul. Ia mengangkat suapan pertama ke mulutnya. Bagas mengangguk dan mulai menikmati makanan di depannya.
"Oya, dik. Mumpung lagi libur, aku ingin mengajakmu pulang ke lombok," kata Bagas sembari mencelupkan tangan kanannya ke dalam mangkuk berisi air. Nurul menghentikan suapannya. Sambil menikmati kerupuk di tangannya, Nurul memperhatikan Bagas yang lahap menyantap makanannya.
"Kenapa tiba-tiba mau pulang. Memangnya ada sesuatu?" tanya Nurul. Ia memperhatikan sisa nasi yang ada di piring Bagas. Tumben Bagas tak menghabiskan makanannya. Sisa di piring lebih banyak dari yang ia makan.
"Gak ada. Aku cuma kangen sama anak-anak." Kata Bagas. Ia membersihkan tangannya dengan lap di sampingnya.
Nurul tersenyum.
"Kangen anak-anak, atau kangen ibunya,"
Bagas berdiri. Ia mendesah pendek. Raut mukanya terlihat tidak senang dengan kata-kata Nurul, sekalipun mungkin ia cuma bercanda. Sejak mendengar pembicaraan istrinya dengan ibu mertuanya beberapa waktu lalu, perasaannya menjadi kacau. Walaupun ia dan Nurul sering bercanda melebihi itu. Bahkan Nurul sering mengatakan bahwa ia tidak masalah jika di madu dengan Sulastri. Tapi kali ini ia terlihat tidak begitu menyukai candaan Nurul. Mungkin bukan waktunya. Kata-kata mertuanya, membuatnya ingin marah. Tapi ia segera ingat masa lalunya saat bersama Sulastri. Marah telah menjadi salah satu penyebab dari beberapa penyebab perceraiannya dengan Sulastri. Saat itu, ia tidak pernah mengajak Sulastri membicarakan segala masalah yang menimpanya. Permasalahan yang terjadi di luar selalu ia lampiaskan di rumah dengan memukul dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti Sulastri. Ia tidak mau itu terjadi lagi. Ia ingin rumah tangganya awet hingga maut memisahkannya.
Melihat Bagas berdiri, Nurul ikut berdiri dan segera menghampirinya. Ia takut melihat perubahan sikap Bagas. Tak seperti biasanya.
"Maaf, Kak. Aku cuma bercanda," kata Nurul setengah berbisik sambil memegang tangan Bagas dengan tangan kirinya.
"Sudahlah. Lupakan saja. Habiskan makananmu. Aku tunggu di luar. Ada yang ingin aku bicarakan," kata Bagas. Ia lalu melangkah keluar rumah. Nurul menatapnya heran. Melihat sikap Bagas yang tiba-tiba berubah, ia jadi tak bersemangat melanjutkan makannya. Karna penasaran, Nurul segera mencuci tangannya dan menutup makanan yang ada di atas meja. Ia lalu bergegas menyusul Bagas keluar.
Hawa dingin terasa ketika Nurul sudah duduk di samping Bagas. Ia memegang tangan Bagas dan menciumnya. Ia merasa bersalah karna candaannya membuat sikap Bagas berubah. Tak bersemangat seperti ketika ia pulang kerumah sebelum-sebelumnya.
__ADS_1
"Maaf, jika kakak tidak senang dengan kata-kata adik tadi. Adik kira kakak tidak akan marah," kata Nurul. Bagas mendesah. Ia meraih tubuh Nurul dan mendekatkannya ke tubuhnya.
"Aku tidak marah. Jangan memikirkannya terlalu dalam. Nanti berpengaruh kepada janin dalam kandunganmu," kata Bagas sambil mengusap-usap lembut perut Nurul. Mendengar kata-kata Bagas, hati Nurul menjadi lega.
"Aku sudah dengar pembicaraanmu dengan ibu. Ibu benar. Kita seharusnya sudah punya rumah," kata Bagas. Nurul menatap Bagas. Ia mengernyitkan dahinya. Rupanya Bagas sudah mendengar semuanya. Rupanya ia sudah lama berada di luar rumah sebelum ia membukakannya pintu. Ia menggenggam erat tangan Bagas. Ia terlihat merasa bersalah.
"Maafkan ibu, Kak. Kata-kata ibu jangan diambil hati," kata Nurul dengan harap cemas.
"Gak apa-apa. Tidak ada yang salah dari kata-kata ibu. Memang sudah waktunya kita punya rumah."
"Tapi ibu tidak mengatakannya karna dia membenci kakak. Dia hanya memikirkan anak yang ada dalam kandungan adik."
Bagas tersenyum dan mengusap rambut Nurul.
"Kakak memang berniat membangun sebuah rumah. Tapi kakak ingin kita buat rumah di lombok saja. Biar lebih dekat dengan anak-anak." Bagas menatap wajah Nurul. "Dekat dengan ibunya juga." Bagas tersenyum. Wajah Nurul terlihat cemberut. Nurul menatap Bagas dan mencubit perutnya. Suasana kembali mencair. Wajah Nurul yang tegang seketika berubah lunak. Nurul memperbaiki posisi duduknya.
"Ah, enggak. Mau kerja apa kakak kalau berhenti dari sana. Maksud kakak, mungkin kakak bisa mengajukan pindah kerja ke lombok. Mudah-mudahan bisa diterima. Kita harus mencobanya dulu,"
"Memangnya bisa,"
"Entahlah. Tapi....," Bagas seperti teringat sesuatu.
"Oh ya, kakak sampai lupa memberitahumu. Saat ini pimpinan perusahaan sudah berganti. Kamu tahu gak siapa bos kakak saat ini,"
Nurul menggeleng. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Bagas.
"Sulastri. Mantan istriku,"
Nurul mengangkat kepalanya. Keningnya mengerut menatap Bagas. Ia tersenyum. Ia menganggap Bagas sedang membohonginya.
__ADS_1
"Kakak bohong ya. Bilang saja kakak mau kembali sama dia. Gak usah banyak alasan pindah segala. Bilang saja terus terang. " kata Nurul.
"Sudah adik bilang. Adik ikhlas jika kakak kembali lagi sama dia. Kakak nikah tiga lagi pun adik tetap rida. Adik lebih baik dimadu daripada kakak jajan di luar seperti tetangga sebelah. Kelihatannya alim tapi ternyata hidung belang. Adik gak mau kakak pulang membawa penyakit," sambung Nurul. Bagas tersenyum dan mengecup kening Nurul.
"Kakak serius. Kakak gak sempat memberitahumu kalau setelah cerai dari kakak, Sulastri menikah dengan pak Yulian Wibowo. Pemilik perusahaan tempat kakak bekerja sekarang. Nah, begitu pak Yulian meninggal, dia yang ditunjuk menggantikannya,"
Mata Nurul terlihat berbinar-binar. Ia tampak senang mendengar berita itu.
"Ck...ck..ck..., Kalau begitu, sungguh beruntung sekali kak Lastri." Ia membayangkan Sulastri yang ia temui di sebuah rumah kontrakan ketika diajak Bagas berkunjung, kini sudah jadi orang yang kaya raya.
"Dan berita gembiranya lagi. Dia telah menaikkan tunjangan kesehatan dan pendidikan buat para karyawan dan keluarganya,"
"Benar begitu?"
Bagas tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Alhamdulillah. Kalau begini, kita bisa lebih tenang, Kak. Kita bisa menyisihkan sedikit demi sedikit uang kita untuk membangun rumah," kata Nurul penuh harap.
"Apalagi kalau kakak bisa balikan lagi sama dia. Wah, tambah tenang lagi," sambung Nurul. Ia memiringkan mulutnya sambil memalingkan wajahnya.
"Adik serius gak nih, kasih kakak menikah lagi dengan bu bos,"
"Ya, Allah. Adik serius. Daripada Kakak main perempuan di belakang adik. Adik ngerti. Laki-laki itu lebih berat menjaga nafsunya ketimbang perempuan. Apalagi kalau si perempuannya lagi datang bulan. Harus nunggu sampai lima belas hari. Lebih-lebih kakak, kalau lagi libur, adik sampai kewalahan melayani kakak,"
Bagas tersenyum dan mencubit pipi Nurul. Setelah itu ia kembali mencium kening Nurul.
"Kalau begitu, ayo kita masuk. Tadinya kakak ngantuk, tapi kata-kata adik tadi membuat kakak jadi bersemangat,"
Bagas bangkit. Nurul yang masih duduk dibopongnya dan membawanya pelan ke dalam rumah.
__ADS_1