
Suasana di rumah kediaman Nyai Indrawati kembali sepi ketika mobil yang ditumpangi Tuan Guru Izzul Islam dan keluarganya tak terlihat lagi dalam kegelapan jalan. Nyai Indrawati mendesah panjang sambil menoleh ke arah Qurratul Aini. Dilihatnya Qurratul Aini masih terpaku bersandar di tembok gerbang rumah. Tatapannya masih tak berpaling, seakan-akan mobil itu masih terlihat. Kedua tangan yang ia sedekapkan di dada dengan cukup kuat, seperti sedang menahan sesuatu yang membuncah di dadanya. Nyai Indrawati menghampirinya dan memegang pundaknya.
"Ayo, Nak. Kita masuk. Di sini terlalu dingin," kata Nyai Indrawati mengajak Qurratul Aini masuk. Qurratul Aini tersenyum dan mengangguk pelan. Pintu gerbang perlahan ditutupnya. Nyai Indrawati menyodorkan tangannya minta dipegang Qurratul Aini. Kembali Qurratul Aini tersenyum. Keduanya lalu bergandengan tangan masuk ke dalam rumah.
"Nak, mau tidur?" kata Nyai Indrawati begitu melihat Qurratul Aini langsung menuju kamarnya setelah melepaskan rangkulan tangannya. Qurratul Aini menoleh. Ia urung membuka pintu kamarnya ketika melihat Nyai Indrawati mendekat ke arahnya.
"Ada apa, Bu,"
Nyai Indrawati tersenyum.
"Ada sesuatu yang ingin ibu omongkan sebentar. Tapi kalau kamu sudah ngantuk, gak apa-apa, kamu tidur saja," kata Nyai Indrawati dengan memegang pundak Qurratul Aini.
"Gak apa-apa, Bu. Aku belum mengantuk," kata Qurratul Aini. Nyai Indrawati tersenyum. Ia memegang tangan Qurratul Aini dan mengajaknya duduk di sofa ruang tamu.
Nyai Indrawati menatap Qurratul Aini dan merapikan beberapa helai rambut yang keluar dari balik jilbab Qurratul Aini.
"Ibu mau bicara masalah lamaran Tuan Guru, kan?" tebak Qurratul Aini mendahului Nyai Indrawati mengatakannya.
Nyai Indrawati tersenyum. Setelah beberapa saat menatap Qurratul Aini, ia mengangguk kecil. Qurratul Aini mendesah panjang. Pandangannya di arahkan ke photo Cristian dan Tuan Guru Faeshal secara bergantian. Kembali Qurratul Aini mendesah panjang. Salah satu tangannya diletakkan di pangkuan Nyai Indrawati.
"Entah, Bu. Aku belum bisa memikirkannya. Di satu sisi, aku merasa berkhianat kepada almarhum kak Cristian. Tapi di sisi lain, aku merasa harus memihak kepada almarhum bapak. Aku memang sempat memikirkan untuk mencari seseorang yang bisa menemaniku melaksanakan cita-citaku. Tapi aku tidak pernah terpikir kalau laki-laki itu adalah Tuan Guru Izzul Islam." Qurratul Aini menghentikan kata-katanya. Ia mendongakkan kepala. Seperti sedang menahan air matanya. Qurratul Aini menggelengkan kepalanya.
"Aku malu setelah apa yang dulu aku lakukan kepada Tuan Guru. Kabur dan menikah dengan Cristian. Aku juga merasa tidak pantas menjadi istri Tuan Guru. Aku merasa terlalu hina untuknya," sambung Qurratul Aini.
Nyai Indrawati mengelus kepala Qurratul AiniI sembari menatap mata Qurratul Aini lekat.
__ADS_1
"Kita akan menjadi lebih baik dengan mengambil pelajaran dari masa lalu kita. Tuan Guru Izzul Islam melamarmu, tentu karna menganggapmu istimewa. Jika Tuan Guru mencari kecantikan, tentu dia tidak akan memilihmu yang berstatus janda," kata Nyai Indrawati bijak. Qurratul Aini menundukkan kepalanya. Ia mendesah panjang.
"Semua keputusan ada di tanganmu, Nak. Pertimbangkan baik buruknya. Pikirkan sebab kenapa akhir-akhir ini kamu sering menyendiri di dalam asrama. Apa kamu akan terus seperti itu?" kata Nyai Indrawati.
Qurratul Aini mengangkat wajahnya dan menatap Nyai Indrawati.
"Ibu setuju aku menikah dengan Tuan Guru Izzul Islam?"
Nyai Indrawati tersenyum.
"Pikirkanlah, Nak. Semua keputusan ada di tanganmu. Pikirkan matang-matang dan mintalah petunjuk pada Allah. Aku tidak sedang menyuruhmu. Tapi mengingatkanmu untuk merenungi apa yang membebani hatimu saat ini," kata Nyai Indrawati. Qurratul Aini terdiam dan kembali menundukkan wajahnya.
Nyai Indrawati mendesah panjang. Ia mengusap punggung Qurratul Aini.
"Ibu masih ingat saat suamimu bercerita betapa menyesalnya ia karna terlambat mengenal Islam. Tapi semangatnya untuk memperdalam ilmu agama begitu besar. Sampai-sampai ia menyewa guru khusus untuk mengajarinya ilmu nahwu. Tak perlu kamu menanyakan maksudnya. Ia ingin menghidupkan kembali pondok pesantren ini. Seperti keinginanmu saat ini, juga keinginan ibu," Nyai Indrawati menghentikan kata-katanya. Ia kembali menoleh ke arah Qurratul Aini.
"Dengarkan fatwa hatimu, Nak. Mana yang lebih dominan. Shalat dan mintalah petunjuk," lanjut Nyai Indrawati sambil mengetuk dada Qurratul Aini dengan jari telunjuknya. Qurratul Aini menganggukkan kepalanya. Nyai Indrawati menguap panjang.
"Ibu mau ke kamar dulu, Nak. Ibu ngantuk," kata Nyai Indrawati sambil melepaskan pegangan tangannya. Ia kemudian bangkit. Qurratul Aini mengikutinya. Ia kemudian mengantar Nyai Indrawati hingga ke kamarnya. Sebelum masuk ke kamarnya, Nyai Indrawati mengecup kening Qurratul Aini. Qurratul Aini membalasnya dengan mencium tangan Nyai Indrawati.
* * * * *
Sementara itu, suasana di dalam mobil nampak ramai dengan canda tawa dari Rianti, Jamila dan Tuan Guru Izzul Islam. Sesekali, Fahmi yang menyopiri mobil tersenyum. Dia jadi tak fokus mengemudikan mobil. Penolakan Qurratul Aini atas lamaran Tuan Guru Izzul Islam memberinya peluang untuk memiliki wanita itu. Tapi ia merasa tak enak jika ia harus merebut wanita yang diinginkannya sekalipun lamarannya ditolak. Ia tak bisa membayangkan jika suatu hari ia datang berkunjung ke tempat Tuan Guru Izzul Islam bersama Qurratul Aini. Agh, rasanya tak mungkin. Sungguh ia merasa tak enak walaupun hanya membayangkannya saja. Lagi pula, belum tentu juga Qurratul Aini menyukainya. Ia yakin ada pertimbangan lain dari Qurratul Aini sehingga ia menolak lamaran Tuan Guru Izzul Islam. Ia juga belum tentu bisa mendapatkan hatinya.
Fahmi menghela nafas pelan. Dia melirik ke arah spion di atas kepala. Ingin memastikan Rianti dan Jamila yang ada di belakangnya tak memperhatikannya.
__ADS_1
"Tenang, Kak Tuan. Nanti kami carikan wanita terbaik untuk Kak Tuan," kata Rianti dari belakang sambil tersenyum. Tangannya sibuk memasukkan ponselnya ke dalam tas di pangkuannya.
"Sudah, gak usah dibahas lagi. Sudah aku bilang gak usah diteruskan, tapi kalian ngotot juga," sahut Tuan Guru Izzul Islam tanpa menoleh ke arah belakang. Ia tampak santai menyandarkan kepalanya di kursi mobil dengan tatapan fokus ke depan.
"Tapi terus terang, aku sendiri cocok sama Qurratul Aini. Dia itu orangnya lembut. Dan satu lagi, dia benar-benar memperhatikan pesantren peninggalan almarhum ayahnya. Itu menandakan ia seorang yang mencintai agamanya. Kamu sendiri bagaimana, Rianti," kata Jamila sambil menoleh ke arah Rianti. Rianti tersenyum.
"Kalau gak setuju, mana mungkin aku tadi gak sabaran nembak dia. Aku sih setuju banget," sahut Rianti.
Mobil yang ia tumpangi akhirnya sampai di jalan masuk menuju pondok pesantren. Fahmi membunyikan klakson mobil begitu sampai di depan gerbang rumah Tuan Guru Izzul Islam. Abdul khalik segera keluar dan segera membuka gerbang.
"Kak Tuan, saya langsung pulang saja. Sudah larut," kata Fahmi ketika keluar dari dalam mobil.
"Loh, gak nginep saja di sini. Besok pulangnya habis shalat subuh," kata Rianti.
"Gak usah, Kak. Ada pekerjaan yang belum saya selesaikan juga di rumah," kata Fahmi. Ia kemudian menyalami ketiganya satu persatu.
"Ya sudah, hati-hati di jalan," kata Tuan Guru Izzul Islam. Fahmi mengangguk. Ia kemudian masuk ke dalam mobilnya.
"Mari, Kak Tuan, Kak Rianti, Kak Jamila. Assalamulaikum," ucap Fahmi sambil mengangkat tangannya ke arah ketiganya yang masih berdiri mengantar kepergiannya. Mobil yang dikendarai Fahmi kemudian melaju pelan meninggalkan kediaman Tuan Guru Izzul Islam.
Suasana sepi terlihat sepanjang perjalanan. Ditemani lantunan shalawat yang diputarnya, Fahmi mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama shalawat. Semakin kesana, pikiran Fahmi kembali tertuju pada sosok Qurratul Aini. Sebagai manusia biasa, ia mengagumi kecantikan Qurratul Aini. Ia tak memiliki waktu banyak untuk melihatnya wajah Qurratul Aini secara langsung. Hanya saat ia muncul bersama Rianti dan Jamila dan saat berpamitan pulang. Selebihnya ia hanya menundukkan kepala. Tapi ketika Rianti menceritakan jawaban Qurratul Aini kepada Tuan Guru Izzul Islam dalam perjalanan pulang tadi, ia sama sekali tak merasa senang. Sebelumnya, ia memang merasa ada yang tak beres saat ke rumah Nyai Indrawati tadi. Sekembalinya Rianti dan Jamila dari menemui Qurratul Aini di asrama, setelah menunggu mereka dalam waktu yang cukup lama, dia belum tahu apa hasil pembicaraan mereka. Tiba-tiba saja Rianti mengajak Tuan Guru Izzul Islam berpamitan dan pulang begitu saja, tanpa tahu apa hasil pembicaraan mereka. Ternyata lamaran Tuan Guru Izzul Islam ditolak oleh Qurratul Aini. Dan ia sama sekali tak merasa tak senang. Itu karna rasa sungkannya pada Tuan Guru Izzul Islam. Ia merasa tak mungkin menikahi wanita yang menolak Tuan Guru Izzul Islam. Banyak sekali yang ia pertimbangkan sehingga ia harus memaksa hatinya mengalah untuk tak mengingat-ingat lagi sosok Qurratul Aini dalam hatinya. Ini mungkin jawaban dari istikharah beberapa bulan yang lalu. Ketidaknyamanannya kepada Tuan Guru Izzul Islam membuat hatinya sepertinya punya jawaban sendiri. Melupakan Qurratul Aini dan mencari wanita yang lain.
Fahmi mendesah panjang. Ia mempercepat laju mobilnya. Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya ia sampai di depan gerbang rumahnya. Pak Bayan yang sedang mengobrol dengan beberapa santri segera membuka gerbang.
* * * * *
__ADS_1