
Jamblang mengangkat ketapel di tangannya. Kaca mobil yang terbuka, membuatnya leluasa membidik kepala mami Zelayin yang masih berusaha menyeimbangkan laju mobilnya. Dengan menahan nafas, Jamblang mulai mengarahkan ketapelnya. Suara nafasnya menderu penuh kebencian menatap mami Zelayin. Tangannya bergetar menahan tarikan karet ketapel yang ia tarik kuat ke belakang. Dan...
Tarikan keras ketapel dan batu yang melesat keras dan tepat mengenai kepala mami Zelayin, membuat tubuh mami Zelayin terpelanting ke samping. Mami Zelayin memegang kepalanya kuat. Rasa sakit yang luar biasa di bagian kepalanya, membuatnya meringis kesakitan. Tubuhnya terhuyung kesana kemari. Mulai tak seimbang dan kepalanya membentur dengan keras pintu mobil.
Mami Zelayin berusaha bangkit. Tetap dengan suara mengaduh kesakitan memegang kuat kepalanya. Suasana tampak sunyi. Seperti tak menghiraukan keadaan mami Zelayin yang mengaduh menahan sakit.
Tubuh mami Zelayin oleng dan berputar ke sana kemari. Darah segar terlihat mengucur dari sela-sela rambutnya. Melihat mami Zelayin menggeliat kesakitan, Jamblang tersenyum puas. Ia meraih satu batu lagi dan memasukkannya ke dalam ketapelnya. Kali ini ia lebih mendekat. Sembari meringis dengan tatapan kejam, Jamblang menarik karet ketapelnya hingga mentok di bahu sebelah kirinya. Di lepasnya cepat karet ketapel, dan...,
Ctak!
Suara keras batu yang dihentak dengan keras melesat cepat dan membentur tempurung kepala mami Zelayin. Suara benturannya seperti memecah tempurung kepala. Tubuh mami Zelayin terhempas kedua kalinya. Kali ini tak ada gerakan sama sekali. Tubuhnya terbaring bersimbah darah.
Jamblang menoleh kesana kemari. Setelah memastikan suasana sekitar aman, ia segera beranjak menuju mobil. Mesin mobil yang masih menyala segera dimatikannya. Ia kemudian naik. Ia menarik kasar tubuh mami Zelayin dan menjatuhkannya di tanah.
Jamblang tersenyum ketika melihat bungkusan berwarna hitam di bawah kakinya. Ia segera mematikan lampu mobil ketika telah memastikan bahwa yang ada di dalam tas kresek adalah uang. Jamblang tersenyum puas. Ia menoleh ke arah belakang. Ke ujung depan tembok rumah. Suasana masih aman. Ia yakin tak ada seorangpun yang melihatnya malam ini. Dan ia harus menggunakan suasana yang sepi untuk segera meninggalkan tempat itu.
Jamblang segera menuruni mobil. Tubuh mami Zelayin yang masih tergeletak di tanah, diangkatnya kembali dan dengan keras menghempaskannya di atas jok mobil. Setelah meludah wajah mami Zelayin yang bersimbah darah, Jamblang menutup pintu mobil dan segera bergegas menuju sepeda motornya. Tak berapa lama kemudian, suara bising motornya membelah hening malam.
* * * * *
"Ayo, Rahima. Aku akan mengajakmu jalan-jalan di halaman. Malam ini kita akan begadang. Gak boleh tidur," kata Sulastri menggoda Rahima. Rahima tersenyum saat Sulastri meraih tangannya dan mengajaknya keluar rumah.
Suasana di halaman rumah terlihat sunyi. Pak Bayan juga sepertinya sudah terlelap. Hanya ada suara musik melayu yang terdengar mendayu di pos jaga.
"Di sini, kamu akan bersama bi Aisyah dan bi Munawarah. Jika saja teman-teman yang masih ikut mami Zelayin diijinkan pergi oleh mami Zelayin, tentu aku akan mengajaknya tinggal di sini. Aku masih butuh banyak tenaga perempuan untuk bekerja di usaha baru milik perusahaan." Sulastri seperti tiba-tiba mengingat sesuatu. Ia terlihat melonjak dan mencolek bahu Rahima. "Eh, kamu tahu gak, komplek milik mami Zelayin yang dulu itu ternyata dibeli oleh perusahaan milik almarhum suaminya." Mami Zelayin tersenyum.
"Ternyata, apa yang selama ini aku angan-angankan, akhirnya kesampaian juga," sambung Sulastri terlihat senang.
"Aku juga gak menyangka pada akhirnya aku bisa bebas dari mami Zelayin. Walaupun memang, mungkin karna terlalu lama berasama dia, aku berat meninggalkannya. Dia sudah tidak lagi menakutkan walaupun ia seringkali membentak dan terkadang memukulku. Dia sekarang sedang susah. Alhamdulillah, dia pasti sangat senang karna kamu telah membantunya," kata Rahima. Ia menghentikan langkahnya dan menatap Sulastri.
__ADS_1
"Terimakasih juga. Aku bukan siapa-siapa bagimu sebelumnya. Tapi kamu mau menebusku dengan uang yang begitu besar," kata Rahima. Ia kembali menangis. Sulastri merangkulnya.
"Sudah. Jangan menangis lagi. Sekarang, kamu adalah bagian dari keluarga besarku. Anggap aku saudaramu dan jangan pernah berpikir untuk jadi orang lain," kata Sulastri. Ia memegang kedua pundak Rahima dan kembali mengajak Rahima berjalan. Di depan kubur Yulian Wibowo, mereka berhenti. Sulastri mengajak Rahima duduk. Rahima tampak mengernyitkan dahinya melihat kuburan di depannya.
"Ini kubur almarhum suamiku," kata Sulastri sambil menoleh ke arah Rahima. "Dia orang mulia, yang telah mengeluarkanku dari segala masalah yang menimpaku sebelumnya. Karnanya juga, aku bisa membawamu ke sini," kata Sulastri. Rahima menganggukkan kepalanya.
"Alfatehah," desahnya pelan. Untuk sesaat keduanya terdiam khusyu' berdoa di depan kubur Yulian Wibowo.
"Ayo, kita masuk," kata Sulastri setelah selesai berdoa. Angin yang sesekali menghempas, membuatnya kedinginan. Ia berdiri, diikuti Rahima.
"Anak-anakmu mana. Aku kok tidak melihat mereka?" tanya Rahima.
"Mereka tidur di kamar bi Asiyah. Mereka lebih senang tidur kumpul di sana daripada bersamaku," kata Sulastri sambil tersenyum. Ia menunjuk ke arah salah satu kamar di sampingnya. Sesampainya di dalam rumah, Sulastri mengajak Rahima ke kamarnya. Rahima yang awalnya sempat ragu karna melihat bagian dalam ruangan yang wah, hanya bisa berdiri menatap kagum. Ia merasa tak pantas bila harus bermalam di ruangan itu. Ia sempat meminta kepada Sulastri untuk tidur di ruang tamu, namun Sulastri melarangnya. Beberapa pakaian kemudian dikeluarkan Sulastri dari dalam lemari besar di dalam kamar, dan meminta Rahima mengganti pakaiannya setelah mandi.
* * * *
Di depan gerbang rumah, pak Ahmad menghentikan langkahnya. Niatnya untuk mengetuk pintu gerbang urung dilaksanakan. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya di ujung depan sana. Kira-kira tiga ratus meter dari tempatnya berdiri. Tepatnya di ujung jalan menuju jalan utama. Sesuatu yang hitam. Ia masih bisa melihatnya walaupun cahaya lampu di atas tembok pembatas rumah tertutup oleh ranting-ranting pohon.
Pak Ahmad mengangkat senternya. Setelah menyalakannya, ia mengarahkan sinar senternya ke depan. Pak Ahmad mengernyitkan dahinya.Sesuatu yang terlihat dari kejauhan itu seperti sebuah mobil pick up. Aneh. Siapa yang memarkir mobilnya malam-malam begini menutupi jalan rumah pak Yulian. Batin pak Ahmad heran.
Pak Ahmad mengetuk pintu gerbang.
"Bayan, Bayan. Buka pintunya," panggil pak Ahmad dari luar. Belum ada jawaban. Ia kembali mengetuk pintu. Kali ini lebih keras.
"Ya, siapa!," terdengar suara pak Bayan dari arah dalam. Seperti kaget.
"Saya, pak Ahmad," jawab pak Ahmad dengan suara bergetar. Ia bersedekap ketika angin sesekali menghempas. Pak Bayan segera bergegas membukakan pintu.
"Bagaimana ini, berjaga kok tidur," ledek pak Ahmad ketika melihat pak Bayan menguap sambil mengusap-usap matanya.
__ADS_1
"Iya nih, Pak. Saya ketiduran. Saya ngantuk karna seharian ngajak ibu jalan-jalan,"kata pak Bayan. Ia kemudian mengajak pak Ahmad masuk.
"Kalau saya, gak bisa tidur, Pak Bayan. Mau ngopi, kopinya sudah habis. Yah, mending kesini saja," kata pak Ahmad. Ia lalu duduk di bangku panjang samping pos jaga. Pak Bayan sendiri masuk ke dalam posnya dan tak beberapa lama kemudian, ia keluar lagi membawa termos dan dua buah gelas.
"Silahkan, Pak Ahmad, kalau mau ngopi. Tinggal dituangkan. Munawarah kayaknya lelah bolak-balik ngantar kopi. Jadi sekarang ia ganti dengan dua termos," kata pak Bayan. Ia menyandarkan tubuhnya dengan menyelonjorkan kakinya. Ia terlihat beberapa kali menguap.
Pak Ahmad tersenyum.
"Kamu sih, ngopi terus," kata pak Ahmad. Ia lalu menuangkan kopi ke dalam gelas di sampingnya. Sebatang rokok dan korek api di dalam saku bajunya dikeluarkannya dan langsung menyulutnya.
Pak Ahmad terdiam sejenak. Ia seperti mengingat sesuatu.
"Pak Bayan, Pak Bayan tahu gak, siapa yang parkir mobil di ujung jalan sana?" tanya pak Ahmad setelah ingat beberapa menit lalu telah melihat sebuah mobil di ujung jalan.
"Mobil apa, Pak Ahmad," tanya pak Bayan heran. Ia mengangkat tubuhnya dari sandarannya.
"Kayaknya mobil pick up. Kalau gak salah lihat, warnanya hitam," jawab pak Ahmad.
Pak Bayan mengernyitkan keningnya. Ia menatap wajah pak Ahmad.
"Tadi memang ibu kedatangan tamu, dua orang perempuan yang mengendarai mobil pick up. Tapi sudah beberapa jam yang lalu," kata pak Bayan. Ia terlihat bingung. Ia menundukkan kepalanya. Seperti kembali mengingat-ingat.
"Atau? Apa aku yang tidurnya sebentar ya, Pak?" Tanya pak Bayan. Pak Ahmad menaikkan kedua bahunya. Di hisapnya rokoknya yang tinggal setengah dalam-dalam.
Pak Bayan mendesah dan memegang tangan pak Ahmad. Karna penasaran, Ia mengajak pak Ahmad keluar menuju jalan. Pak Ahmad mengarahkan sinar senternya ke arah mobil di ujung jalan. Pak Bayan mendesah.
"Benar, Pak Ahmad. Itu kayaknya mobil yang tadi ke sini. Tapi kenapa ia masih di sini?" tanya pak Bayan penasaran.
Pak Bayan membalikkan tubuhnya dan bergegas masuk. Tak berapa lama kemudian ia keluar lagi dengan membawa sebuah pentungan kayu di tangannya. Ia menarik tangan pak Ahmad dan mengajaknya menuju mobil itu.
__ADS_1