
Sulastri masih mondar-mandir di teras rumah. Sesekali ia masuk melihat Rahima yang sedang mempersiapkan beberapa toples makanan di atas meja, lalu keluar lagi. Memang baru saja adzan isya' selesai berkumandang, namun ia tak sabar. Ia ingin Nyai Mustiani segera datang dan ia akan segera tahu apa gerangan yang akan dibicarakannya malam ini. Dia sudah penasaran sejak membaca catatan kecil yang dititipkan Nyai Mustiani untuknya. Dan ketika menit demi menit jarum jam telah berlalu, debar di dadanya semakin kencang.
"Lastri, sudah siap semua," kata Rahima mengagetkannya dari belakang. Suastri memegang dadanya.
"Kamu temani aku dulu di sini," kata Sulastri.
Terdengar suara mobil dari arah luar gerbang. Sulastri menghela nafas panjang. Tamu yang ditunggu-tunggunya akhirnya datang juga. Ia mengajak Rahima lebih mendekat ke pos jaga.
Seorang perempuan terlihat keluar dari dalam mobil. Tak berapa lama kemudian, seorang laki-laki terlihat keluar dari pintu sebelah. Sulastri tersenyum dan lebih mendekat ketika wajah Nyai Mustiani tertimpa cahaya lampu teras rumah. Sulastri segera menyalaminya. Nyai Mustiani kemudian memeluknya.
"Perkenalkan, ini adik saya,namanya pak Nurasmin," kata Nyai Mustiani memperkenalkan pak Nurasmin. Pak Nurasmin menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Mari, silahkan masuk," kata Sulastri mempersilahkan tamunya masuk.
Nyai Mustiani dan pak Nurasmin nampak terkagum-kagum melihat keadaan di dalam rumah yang luas. Begitu juga dengan perabot-perabot dan hiasan dalam ruangan, yang membuat semakin mewah suasana dalam ruangan.
"Mari, Bu Nyai, Pak." Sulastri mempersilahkan keduanya duduk ketika sudah sampai di sofa ruang tamu.
"Besar sekali rumahnya, Bu Sulastri. Berapa orang yang tinggal di sini," kata Nyai Mustiani ketika telah duduk di atas empuknya sofa.
"Sama teman-teman, Bu Nyai. Sekarang tinggal enam orang. Yang lain sudah aku pindahkan ke panti asuhan dan rumah makan yang tadi pagi diresmikan," jelas Sulastri sembari tersenyum.
Nyai Mustiani mengangguk-anggukkan kepalanya seperti takjub.
"Saya tidak tahu sama sekali kalau bu Sulastri ini adalah istrinya pak Yulian Wibowo. Walaupun saya tidak pernah bertemu beliau, tapi berita tentang kedermawanan dan kekayaan beliau sudah lama saya dengar," kata Nyai Mustiani. Sulastri tersenyum malu.
"Saya istri keduanya, Bu Nyai. Istri pertama beliau sudah meninggal dunia," kata Sulastri. Nyai Mustiani dan pak Nurasmin mengangguk.
Pembicaraan mereka terjeda sejenak. Rahima datang membawa nampan berisi tiga gelas minuman. Sulastri membuka tutup toples-toples tempat makanan kering di depan kedua tamunya dan mempersilahkan mereka mencicipinya.
Nyai Mustiani dan pak Mustarah serempak mengangkat gelas kopinya dan menyeruputnya.
"Begini Bu Sulastri, mungkin saya langsung saja ke maksud kedatangan saya bersama adik saya malam ini. Mungkin ibu Sulastri lelah dan ingin istirahat segera," kata Nyai Mustiani.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Bu Nyai, aku sudah terbiasa bekerja sampai larut malam. Ini juga sebuah kehormatan buat saya dikunjungi Bu Nyai," kata Sulastri. Nyai Mustiani menoleh ke arah pak Nurasmin. Pak Nurasmin mengangguk.
"Mohon maaf sebelumnya, Bu Sulastri. Kami berdua kesini mewakili anak kami, Tuan Guru Izzul Islam untuk menyampaikan apa yang selama ini mengganjal di hati anak kami,"
Sulastri mengernyitkan dahinya. Debar di dadanya kembali muncul. Ternyata memang benar. Ini semua ada kaitannya dengan Tuan Guru Izzul Islam.
Sulastri hanya terdiam. Tak mencoba bertanya sekalipun ia penasaran. Ia menunggu kata-kata selanjutnya yang akan disampaikan Nyai Mustiani.
Nyai Mustiani mendesah. Ia menatap ke arah Sulastri . Sulastri tersenyum. Nyai Mustiani terlihat agak ragu.
"Sekali lagi mohon maaf jika saya hanya datang berdua menemui Bu Sulastri. Saya datang kesini untuk menyampaikan keinginan anak saya untuk melamar Bu Sulastri."
Sulastri sontak terkejut ketika mendengar kata-kata terakhir Nyai Mustiani. Jantungnya berdebar kencang. Nafasnya berhembus mengikuti irama detak jantungnya yang cepat. Matanya tak berkedip dari menatap wajah Nyai Mustiani. Nyai Mustiani terlihat tegang sambil mencoba mempelajari reaksi Sulastri dari raut wajahnya.
Sulastri mencoba menguasai dirinya. Senyum yang terkulum dari bibirnya cukup mencairkan suasana yang sejenak tegang.
"A...aku tidak tahu harus berkata apa, Bu Nyai. Ini sesuatu yang tak pernah aku duga sebelumnya. Tuan Guru Izzul Islam ingin melamar seorang janda seperti aku. Apa aku tidak salah dengar, Bu Nyai,"
Sulastri mengerutkan dahinya.
"Kalau boleh aku tahu, bermimpi apakah Tuan Guru, Bu Nyai. Dan benarkah itu adalah aku?"
Nyai Mustiani mendesah.
"Dia hanya bilang, perempuan yang ada dalam mimpinya memakai pakaian dengan kerudung berwarna biru dengan motif batik, yang warnanya sama dengan yang dipakai Ibu saat berkunjung ke pesantren. Mungkin itu suatu kebetulan, tapi anak saya meyakini, itulah jawaban dari mimpinya," kata Nyai Mustiani sedikit menjelaskan.
Sulastri mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mendesah sembari menundukkan kepalanya. Sejenak ia terdiam. Ia masih mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab.
Sulastri mengangkat wajahnya dan menatap wajah Nyai Mustiani.
"Sebelumnya mohon maaf, Bu Nyai, Pak." Sulastri mendesah pelan. Dia masih ragu melanjutkan kata-katanya. Ia takut jawabannya mengecewakan Nyai Mustiani. "Katakan saja, Bu Sulastri. Kami menerima apapun keputusan dari bu Sulastri," kata Nyai Mustiani. Ia bisa menangkap kekhawatiran dari sikap Sulastri.
Sulastri kembali mendesah.
__ADS_1
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan tetap jadi istri suamiku, sekalipun ia telah meninggal dunia. Aku sudah berjanji tidak akan menikah lagi. Tapi jika memang aku yang ada dalam mimpi Tuan Guru, Tuhan memang menghendakiku untuk menikah lagi. Tuhan memang menginginkanku melupakan janjiku. Aku tidak mungkin mengingkarinya. Aku tidak meragukan mimpi Tuan Guru, Karna aku yakin dia lebih dekat dengan Allah dan punya hati yang bersih. Aku hanya ingin memastikan apakah itu benar-benar aku atau orang lain. Aku takut Tuan Guru salah orang," kata Sulastri. Nyai Mustiani memandang wajah Sulastri lekat. Kata-kata Sulastri mengingatkannya kepada keputusannya tiga tahun yang lalu saat suaminya, Tuan Guru Liwaul Hamdi, meninggal dunia. Ia tidak akan menikah lagi sampai ajal menjemputnya.
Nyai Mustiani tersenyum.
"Boleh saya duduk dekat ibu?" kata Nyai Mustiani. Sulastri tersenyum dan menggeser tubuhnya. Nyai Mustiani bangkit dan duduk di sofa panjang tempat Sulastri duduk. Ia duduk sangat dekat dengan Sulastri. Ketika Sulastri hendak menggeser tubuhnya karna sungkan, Nyai Mustiani menahannya.
"Aku duduk di sini agar bisa berdekatan denganmu." Nyai Mustiani memegang tangan Sulastri.
"Akupun pernah membuat keputusan yang sama denganmu. Sampai saat ini pun aku masih memegang janjiku untuk tidak menikah lagi."
Sulastri menoleh dan menatap wajah Nyai Mustiani.
"Sungguh, aku merasa terhormat Tuan Guru menyukaiku, sekaligus merasa tak pantas. Jangankan menjadi kenyataan, membayangkannya saja, Aku tetap merasa tidak pantas," kata Sulastri.
Nyai Mustiani menepuk-nepuk tangan Sulastri.
"Jangan terlalu merendah seperti itu. Semua kita diciptakan sama. Yang membedakan kita hanyalah seberapa berbakti kita kepada Allah. Saya menghargai keputusan Ibu sebagai sesama wanita. Dan sebagai ibu, saya hanya menyampaikan apa yang akan membuat anak saya bahagia,"
"Sekali lagi mohon maaf. Saya masih penasaran dengan mimpi Tuan Guru. Aku takut berdosa jika terbukti orang yang ada dalam mimpi memang benar adalah aku. Aku takut mengingkari petunjuk itu."
Nyai Mustiani mendesah. Ia tidak bisa menjelaskan secara detail mimpi Tuan Guru Izzul Islam karna dia hanya menjelaskannya secara umum.
"Apa kita telpon saja si Izzul," kata Nyai Mustiani meminta pendapat kepada pak Nurasmin.
"Boleh juga," kata pak Nurasmin.
"Tapi tunggu, Kak." Pak Nurasmin meraba-raba bajunya.
" Astaghfirullah, saya sampai lupa, ada titipan dari Nak Izzul untuk Ibu Sulastri. Astaghfirullah, hampir saja kelupaan," kata pak Nurasmin kaget sambil mengeluarkan sebuah amplop warna putih dari balik bajunya. Berkali-kali ia menggeleng sambil mendesah.
"Kamu bagaimana sih, Dik. Kok bisa lupa begitu," kata Nyai Mustiani. Sulastri hanya tersenyum.
"Habis, beberapa saat tadi saya seperti sedang menonton sinetron, Kak," kata pak Nurasmin. Lagi-lagi keduanya tersenyum. Pak Nurasmin menyerahkan amplop itu kepada Sulastri.
__ADS_1