
Sulastri membaca kembali paraghraf surat, dimana Tuan Guru Izzul Islam menyebut satu tanda lagi dari perempuan di dalam mimpinya.
Sulastri menyibakkan rambut yang menutupi telinga sebelah kanannya. Ia tersenyum karna merasa terbawa terlalu jauh dalam surat itu. Setahunya, ia merasa tidak pernah memiliki tahi lalat di bawah telinga kanannya. Di telinga kirinya pun tidak ada. Tapi mungkin saja ia tidak pernah benar-benar melihatnya. Atau mungkin saja tahi lalat itu tiba-tiba tumbuh untuk memenuhi mimpi Tuan Guru. Siapa yang tahu, Allah dengan Segala kekuasaan-Nya hanya cukup mengatakan, Kun Fayakun. Jadi, maka jadilah. Sulastri mendesah. Ia masih tersenyum. Ia benar-benar dibuat penasaran. Ia melepas surat itu dan bangkit melangkah menuju cermin. Sesampainya di depan cermin, ia ikat rambutnya ke belakang hingga tak sehelaipun menutupi kedua daun telinganya. Sulastri mulai memeriksa bagian bawah telinga kanannya. Tidak ada sesuatu yang hitam di sana. Dia mengalihkan pandangannya memeriksa telinganya yang kiri. Tetap tak ada apapun. Putih dan bersih tanpa noda.
Sulastri mendesah. Ia melangkah menuju meja di samping ranjang dan mengambil ponsel yang tergeletak di atasnya. Ia lalu menyalakan senternya dan kembali menuju meja rias. Ia kembali memeriksa kedua telinganya. Dia memang tidak memiliki tahi lalat itu. Positif sudah. Dia bukan perempuan berkerudung biru motif batik yang dimaksudkan Tuan Guru.
Sulastri kembali ke ranjangnya dan menghempaskan tubuhnya. Waktu di layar ponselnya telah menunjukkan pukul 1 malam. Dia sudah menghabiskan seharian waktunya dengan aktifitas yang begitu padat. Dan sampai selarut ini ia masih terjaga tanpa terjamah kantuk sedikitpun. Kedatangan Nyai Mustiani dan surat Tuan Guru Izzul Islam benar-benar menguras pikirannya sejak maghrib tadi. Walaupun ia sudah berjanji untuk tidak menikah lagi, tapi ia sempat punya harapan untuk mengingkarinya, jika memang perempuan berkerudung biru motif batik dalam mimpi Tuan Guru Izzul Islam adalah dirinya. Bukan karna nafsu, tapi untuk sesuatu yang penting. Mimpi Tuan Guru adalah mimpi yang benar. Dan beruntunglah perempuan yang ada dalam mimpi itu, karna telah ditunjuk Allah untuk mendampingi orang baik seperti Tuan Guru Izzul Islam.
Sulastri mendesah panjang. Tatapannya fokus ke arah langit-langit kamar dengan pikiran yang melayang-layang.
Sulastri memijit-mijit keningnya dengan keras. Matanya masih terjaga. Kantuknya seperti telah tercuri dan terbawa jauh oleh malam. Ia sadar tak akan bisa tidur malam ini. Ada baiknya ia bangun dan melakukan sesuatu yang bermanfaat agar malamnya tak menjadi sia-sia.
Sulastri menanggukkan kepalanya. Ada baiknya ia menulis surat balasan untuk Tuan Guru Izzul Islam. Besok, ia akan menitipkannya saat pak Mustarah pergi ke pondok pesantren Qudwatusshalihin mengantarkan Fahmi makanan.
Sulastri lalu bangkit dan membuka pintu kamarnya. Ia kemudian melangkah ke ruang tamu dan menuju meja kerjanya. Setelah terdiam sejenak memikirkan kata-kata yang hendak ditulisnya, ia meraih selembar kertas Hvs dan bolpoin. Ia kemudian mulai menulis.
Assalamualaikum wr.wb.
__ADS_1
Yang terhormat Tuan Guru. Semoga Allah selalu memberikan kesehatan kepada Tuan Guru, agar senantiasa membimbing umat kepada kebaikan. Amin.
Tuan Guru yang mulia. Betapa terkejutnya aku ketika mendengar bu Nyai menyampaikan apa yang menjadi hajat Tuan Guru. Tentang mimpi indah Tuan Guru, juga surat yang ditulis Tuan Guru.
Sungguh, aku merasa terhormat dan merasa paling mulia setelah mendengar bu Nyai menjelaskan kepadaku, bahwa akulah perempuan yang Tuan Guru yakini sebagai perempuan terhormat dalam mimpi Tuan Guru. Sehingga aku bertanya kepada diriku sendiri. Sebegitu muliakah aku hingga ditunjuk Tuhan menjelma sebagai perempuan berkerudung biru motif batik dalam mimpi Tuan Guru?
Siapakah perempuan yang tidak beruntung di peristri orang mulia seperti Tuan Guru? Tahukah Tuan Guru? Ikrarku untuk tetap setia tak menikah sebab kecintaanku pada almarhum suamiku hampir saja ku ingkari. Itu karna aku meyakini? suamiku tentu akan senang jika aku menikah dengan laki-laki shaleh seperti Tuan Guru.
Dan Tahukah Tuan Guru?
Betapa kecewanya aku ketika pada lembaran kedua, aku yang sudah mulai yakin, bahwa akulah sosok perempuan berkerudung biru motif batik dalam mimpi Tuan Guru akhirnya terbantahkan. Aku menyesali karna tanda kedua, sebagai tanda penentu sahnya aku sebagai perempuan berkerudung biru motif batik itu ternyata tidak aku miliki.
Dan untuk menguatkan perkataanku ini, Aku bersumpah demi Allah, bahwa aku benar-benar tidak memiliki tanda itu. Tanda itu milik perempuan lain yang sekufu dengan Tuan Guru. Tuan Guru yang selalu menjaga pandangannya dari melihat wanita yang bukan mahromnya.
Tuan Guru, aku berharap, kelak anakku Fahmi bisa seperti Tuan Guru, yang lebih mementingkan adabnya dari pada ilmunya. Aku juga mendoakan, semoga Allah segera mempertemukan Tuan Guru dengan perempuan berkerudung biru motif batik yang sebenarnya.
Teriring salam hormatku pada Tuan Guru. Semoga Allah memanjangkan umur Tuan Guru serta senantiasa dalam lindungan-Nya. Amin.
__ADS_1
Assalamualaikum wr.wb.
Sulastri.
** * * *
Sulastri melipat kertas yang telah ditulisnya dan memasukkannya ke dalam amplop.
Sulastri lalu bangkit dan membaringkan tubuhnya di atas sofa. Suara detak jam dinding, mengiringi lamunan panjang Sulastri.
Suara guntur terdengar bergemuruh. Angin mulai terdengar sesekali menghempas, menggerak-gerakkan kesana kemari kelambu jendela. Tak berapa lama kemudian, rintik hujan mulai terdengar turun.
Sulastri mendesah kesal dan kembali bangkit. Ia benar-benar sulit memejamkan matanya. Ia berjalan pelan ke arah jendela ruang tamu. Ia menyibakkan kelambu jendela dan berdiri menatap ke arah rintik-rintik hujan yang berjatuhan di halaman rumah.
Dia sudah berada di masa yang ia inginkan. Dari masa lalunya yang kelam menuju masa dimana ia bisa tegap berdiri dalam kejayaannya. Kebutuhan hidup yang tak akan mengganggu pikirannya lagi. Dunia kini telah berada di genggamannya. Ia berhasil keluar dari kehinaannya di mata dunia menjadi sosok yang dihormati.
Kini saatnya ia mensyukurinya. Kenikmatan dunia hanyalah sementara. Saatnya ia tak memikirkan apapun yang akan memalingkan wajahnya dari Sang Pencipta yang telah memberikannya segala-galanya. Tak ada yang perlu ia risaukan lagi selain amanah menjaga apa yang dititipkan kepadanya. Masing-masing orang akan ditanya tentang apa yang diperbuatnya kelak di hadapan pengadilan Akbar Sang Pencipta. Mensyukuri nikmat berarti menambah nikmat itu sendiri. Sebaliknya siksa yang pedih bagi orang yang kufur nikmat.
__ADS_1
Perempuan berkerudung biru motif batik bukanlah dia. Itu sebagai pertanda untuknya agar tak memikirkan apapun selain bersyukur dan beribadah kepada Allah.
Sulastri menutup kembali tirai jendela. Ia melangkah pelan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, ia langsung mengambil air whudu' dan melaksanakan shalat.