
Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam memutuskan pamit pulang ketika suara jam dinding selesai berdentang. Tepat pukul 10 malam. Baik Tuan Guru Izzul Islam maupun Qurratul Aini sama-sama mengangguk atas keputusan yang dibuat kedua orang tua mereka. Dan hanya itu yang bisa mereka lakukan. Mereka pasrah dan menerima hasil dari pembicaraan Nyai Mustiani dan Tuan Guru Faeshal.
Dari hasil pembicaraan malam ini, pernikahan antara Tuan Guru Izzul Islam dan Qurratul Aini disepakati akan dilaksanakan setelah Qurratul Aini menyelesaikan wisudanya bulan depan. Jika dihitung dari sekarang, maka tinggal 2 minggu lagi. Baik Nyai Mustiani maupun Nyai Indrawati terlihat begitu puas dengan hubungan perjodohan itu. Sekalipun menerima keputusan ibunya, Tuan Guru Izzul Islam masih saja tidak yakin dengan pilihan ibunya. Memang, tak ada yang kurang dari Qurratul Aini. Allah menciptakannya begitu sempurna. Kecantikannya di atas rata-rata. Tapi kata hatinya tetap menolak. Walaupun begitu, ia memasrahkan semuanya kepada Allah. Jika pernikahan itu terjadi juga nantinya, maka itulah kehendak Allah. Dia hanya berharap, siapapun dia, Allah memberikan kebahagiaan dalam hidupnya kelak.
Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Nyai Mustiani yang sudah terlelap dalam tidurnya. Ia mendesah. Jalanan sudah terlihat lengang, bahkan di tempat-tempat yang biasanya ramai setiap malamnya dengan pedagang-pedagang di pinggir jalan. Tuan Guru Izzul Islam terus mengemudikan mobilnya hingga tak beberapa lama kemudian, ia sudah sampai di depan gerbang pesantren.
* ** * *
Sementara di tempat lain. Sulastri dan Rianti masih terlihat duduk di teras rumah. Suasana di halaman rumah kembali sepi setelah anak-anak yatim telah pulang kembali ke panti asuhan. Rayhan dan Farida sudah sedari tidur. Malam ini mereka sudah sepakat tidur bersama di kamar utama.
Fahmi terlihat membawa secangkir kopi menuju ke tempat keduanya duduk. Ia lalu meletakkan kopinya di atas meja. Ia lalu duduk di dekat Rianti.
"Mau saya buatkan kopi, Kak?" tanya Fahmi. Rianti menggeleng.
"Gak usah, nanti kakak gak bisa tidur," kata Rianti. Sulastri mendesah melihat Fahmi menyeruput kopinya.
"Perasaan, kopi yang ada di dalam belum habis," kata Sulastri. Fahmi tersenyum.
"Sudah dingin, Bu. Tadi kasihan sama pak Bayan, gak ada teman ngobrol. Eh, tahu-tahunya ditinggal tidur," kata Fahmi. Sulastri dan Rianti tersenyum.
Sejenak suasana hening. Fahmi mulai sibuk dengan ponselnya.
"Rianti, ada yang ingin ibu bicarakan. Mungkin sudah waktunya," kata Sulastri. Fahmi meletakkan ponselnya di atas meja. Ranti memegang tangan Sulastri.
__ADS_1
"Rianti kok jadi takut ibu ngomong seperti itu," kata Rianti sembari tersenyum.
Sulastri menepuk-nepuk punggung tangan Rianti yang ia letakkan di atas salah satu tangannya. Sulastri tersenyum. Ia lalu bangkit dan masuk ke dalam rumah. Tak beberapa lama kemudian, ia keluar. Di tangannya sebuah amplop berwarna hijau. Setelah duduk, ia memberikan amplop itu kepada Rianti.
Rianti menoleh ke arah Sulastri. Sulastri menganggukkan kepalanya, memberi isyarat agar Rianti membuka amplop. Perlahan, Rianti membuka amplop itu. Lipatan kertas di dalam amplop di gelarnya. Ia terlihat mulai membacanya. Sulastri dan Fahmi diam menunggu.
Untuk sesaat suasana menjadi hening. Fahmi dan Sulastri menoleh ke arah Rianti ketika terdengar isak tangis dari mulut Rianti. Rianti terlihat menangis. Sulastri mengusap lembut punggung Rianti, berusaha menenangkannya.
Rianti mendesah panjang. Setelah menenangkan dirinya beberapa saat, Ia melipat kembali dua lembar surat yang baru saja dibacanya dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Ia mengusap kedua matanya dengan kedua tangannya. Sulastri tersenyum. Salah satu tangan Rianti di pegangnya erat.
"Itu yang ingin ibu bicarakan malam ini, Nak. Sudah waktunya kamu mengambil apa yang menjadi hakmu. Itu sesuai pesan papamu," kata Sulastri. Rianti menundukkan wajahnya beberapa saat. Setelah itu ia menatap wajah Sulastri.
"Aku sudah tidak tertarik lagi mengurus perusahaan, Bu. Perusahaan ini sudah sangat maju di bawah kepemimpinan ibu. Lanjutkan, Bu," kata Rianti kemudian. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Sulastri yang menggenggam salah satu tangannya. Ia tersenyum seakan-akan hendak memperlihatkan keikhlasannya. Sulastri menggeleng.
Rianti mendesah.
"Tidak ada istilah pengambil alihan, Bu. Ini milik kita bersama. Jika itu pesan papa, aku juga ingin mengelolanya bersama dengan saudara-saudaraku," jawab Rianti.
Sulastri menganggukkan kepalanya. Ia meraih kepala Rianti dan menyandarkannya di pundaknya. Dengan penuh kasih sayang, rambut Rianti dibelainya lembut. Fahmi memandangnya penuh haru.
"Itu juga harapan ibu. Tak ada yang lebih membahagiakan ibu, selain melihat kalian akur satu sama lain. Tak ada istilah saudara sambung, kalian semua adalah anak-anakku,"kata Sulastri. Ia meminta Fahmi mendekat. Ia lalu memegang tangan Fahmi dan menyatukannya dengan tangan Rianti.
"Jadilah kakak yang baik untuk adik-adikmu, Nak." Sulastri mengusap air matanya. Rianti meraih tubuh Fahmi dan merangkulnya. Mereka bertiga tersenyum bahagia.
__ADS_1
Malam beranjak larut. Hawa dingin mulai terasa. Alam seperti kedinginan dalam hembusan bayu malam. Bintang-bintang di langit seperti serakan mutiara di atas kaca.
Di sebuah kamar luas bercat ungu. Di atas ranjang empuknya, Qurratul Aini terbaring gelisah. Matanya terlihat sembab. Bahkan air matanya terus mengalir walaupun tanpa isak. Bayangan Cristian kini mendominasi setelah untuk beberapa lama tadi, bayangan tentang pernikahannya dengan Tuan Guru Izzul Islam memenuhi pikirannya. Sikap entengnya saat menjawab pertanyaan Cristian di rumah makan Zamora selepas isya tadi, tak sama dengan apa yang dirasakannya kini. Dadanya terasa sesak. Beragam rasa tidak enak mengepung hatinya. Ia yakin Cristian saat ini pun merasakan hal yang sama. Tapi untuk menghubunginya, ia masih menahan diri. Ia akan menunggu perubahan hatinya malam ini.
Ia tak bisa menafikan, Cristian adalah orang maha penting dalam hatinya. Sudah lima tahun terjalin hubungan antara mereka. Susah senang mereka telah lalui bersama. Termasuk serapat mungkin menyembunyikan hubungannya, bahkan dari teman terdekat mereka sekalipun. Jika tidak karna perbedaan agama, ia akan membantah apapun inervensi ayahnya terkait pernikahannya.
Dan tadi, ia telah meninggalkan Cristian sendiri begitu saja dengan kata-kata entengnya. Tentu, sudah pasti Cristian saat ini sedang bersedih. Ia merasa menyesal telah membuat Cristian bersedih.
"Ya, Allah," desah Qurratul Aini resah. Ia membolak-balikkan tubuhnya kesana kemari. Rasa tidak enak dalam hatinya membuatnya tak nyaman berbaring. Dua keputusan sulit, menunggu untuk dipilihnya. Memilih menikah dengan Tuan Guru Izzul Islam atau tetap bersama Cristian, walaupun akibat buruk akan menantinya. Dia sudah menyerahkan segala-galanya untuk Cristian. Bahkan miliknya yang paling berharga. Cristian tulus mencintainya. Tak pernah berkhianat. Dia telah membuatnya seperti bidadari di saat berbagai aturan ketat ayahnya seperti membuatnya berada di dalam penjara.
Tapi di sisi lain, ia merasa berdosa karna sudah terlalu lama berbuat maksiat dengan Cristian. Sejak berhubungan badan dengan Cristian setahun yang lalu, dia tak pernah shalat, karna merasa dosa yang ia lakukan akan membuat shalatnya jadi sia-sia.
Ia sempat mengikhlaskan semuanya. Dia akan berusaha melupakan Cristian dan memperbaiki diri setelah menikah dengan Tuan Guru Izzul Islam. Tapi nyatanya, bayangan Cristian, serta masa-masa bahagia dan sedih yang sudah terlewati bersama Cristian, mulai membuatnya bimbang.
Qurratul Aini mendesah. Ia bangkit dan duduk dengan kaki berjuntai di sisi ranjang. Ia kemudian bangkit dan melangkah ke arah lemari. Mukena putih dan sajadah yang terlipat rapi di dalam lemari dikeluarkannya. Mukena dan sajadah itu sudah terlipat satu tahun yang lalu. Ia tak pernah menggunakannya lagi. Ayahnya pun tak pernah lagi mengajaknya shalat berjamaah karna kesibukan satu tahun di semester akhirnya.
Malam ini ia akan memulai shalat pertamanya. Ia ingin meminta petunjuk. Siapa tahu Tuhan berkenan sedikit menunjukkan jalan keluar dari masalahnya.
Qurratul Aini melangkah pelan menuju ranjangnya. Ia meletakkan sajadah dan mukena di tangannya di atas ranjang. Setelah itu ia keluar rumah untuk mengambil air wudhu'.
Alam seperti sedang membisu dalam lelap tidurnya. Hanya suara jangkrik yang terdengar seperti sedang meninabobokan agar penghuni malam tetap lelap dalam mimpi indahnya.
"
__ADS_1