
"Panggilkan bibik Rahimanya ya," kata Sulastri kepada Fahmi begitu keduanya turun dari mobil. Fahmi dan Farida segera berlari menuju rumah. Belum sampai di teras rumah, Rahima sudah terlihat melangkah ke arahnya. Sulastri menghempaskan tubuhnya di atas kursi teras rumah.
"Ada apa, Lastri," kata Rahima sesaat setelah duduk di samping Sulastri.
Sulastri berdiri. Ia memperhatikan tubuh serta pakaian yang dikenakannya. Sulastri menoleh ke arah pos jaga. Setelah merasa tak ada orang yang akan melihatnya, ia mulai membolak-balikkan badannya di depan Rahima. Rahima mengernyitkan keningnya. Tingkah Sulastri yang seperti model, membuatnya heran.
"Kamu lagi ngapain sih, Lastri," tanya Rahima.
"Menurut kamu, ada yang salah gak dengan cara berpakaianku," kata Sulastri meminta pendapat pada Rahima. Rahima memiringkan kepalanya ke sana kemari, mulai memperhatikan pakaian Sulastri.
"Gak ada. Kan tadi sebelum berangkat, saya sudah memeriksanya. Kamu terlihat cantik dan sopan dengan pakaian ini. Kalau menurutku, bila perlu tiap hari kamu pakai pakaian ini. Kamu benar-benar terlihat berbeda. Lebih anggun dan berwibawa. Memangnya ada apa sih. Kok tiba-tiba nanya pakaian. Tumben,"
"Tadi Tuan Guru kok mandangnya lain sama saya. Saya jadi malu dan berpikir, mungkin ada yang salah dengan cara berpakaian saya. Atau gak cocok kali jika dibawa ke pesantren," kata Sulastri. Ia masih berdiri melihat gamisnya.
"Itu memang pakaian yang cocok di bawa ke pesantren. Memangnya mau pakai model apa lagi. Itu sudah sangat sopan," kat Rahima. Ia terdiam sejenak. Ditatapnya Sulastri lekat. Ditatap seperti itu, Sulastri jadi salah tingkah. Rahima mengangkat telunjuknya dan diamkan di depan wajahnya. Ia tersenyum.
"Aku tahu sekarang. Tuan Guru pasti tertarik melihatmu," kata Rahima. Sulastri mencolek tangan Rahima.
"Ah, kamu apa-apaan sih. Tuan Gurunya masih muda begitu, ganteng lagi. Gak mungkinlah Tuan Guru mau sama janda tua sepertiku. Beranak tiga lagi,"
__ADS_1
"Tuan Guru itu biasanya gak main cantik ataupun umur. Ia mainnya shalat istiharah. Apapun yang diperlihatkan Tuhan dalam mimpinya, mau janda kek, mau gadis, bahkan perempuan jelek sekalipun, pasti akan diterima." Sulastri duduk. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Tapi ngomong-ngomong, Tuan Guru tahu gak kalau kamu itu seorang janda," sambung Rahima. Ia terlihat penasaran dan semakin tertarik membahasnya. Bola mata Sulastri menghadap ke atas. Seperti mengingat sesuatu.
"Kayaknya dia tahu. Soalnya Tuan Guru tadi sempat menanyakan bapak anak-anak. Ya aku jawab, aku janda," kata Sulastri. Rahima tersenyum.
"Nah, itu kan. Tidak salah lagi. Aku yakin, Tuan Guru pasti jatuh cinta sama kamu. Lagian , siapa juga yang gak tertarik sama kamu. Kamu masih terlihat sangat cantik walaupun sudah punya anak tiga,"
"Ah, sudah, sudah. Gak boleh ngomongin Tuan Guru seperti itu." Wajah Sulastri terlihat memerah malu. Rahima tersenyum sambil menutup mulutnya.
"Aku mau shalat dulu. Temani aku besok antar Fahmi ke pesantren," kata Sulastri. Ia lalu bangkit dan masuk ke dalam kamarnya.
* * ** *
Detak jam terdengar dari dalam ruangan kecil tempat Tuan Guru Izzul Islam sedang shalat. Setelah salam, ia langsung menengadahkan tangannya dan mulai berdoa. Wajah Sulastri sesekali berkelebat di sela-sela permintaannya. Tuan Guru Izzul Islam menutup doanya dengan mengusap kedua telapak tangannya di wajahnya. Ia mendesah lalu membaringkan tubuhnya di atas sajadah.
"Ya, Allah," desahnya. Dia tak pernah mengalami hal semacam ini. Benar kata orang, wanita itu terkadang bisa menjadi racun yang mematikan. Beberapa pembesar tercatat dalam sejarah tumbang dan bertekuk lutut di hadapan seorang wanita.Tak terkecuali dia. Seorang pemuda berumur 25 tahun dan putra seorang Tuan Guru besar di kecamatan itu. Ini semua sebenarnya berawal dari pertanyaan ibunya. Selanjutnya mimpi yang datang tiga kali berturut-turut tentang seorang wanita yang sama meskipun wajahnya masih tertutup dari pandangannya. Bukan karna ia jatuh cinta. Tapi ia yakin, wanita yang ada dalam mimpinya adalah wanita istimewa yang ditunjukkan Tuhan kepadanya.
Tuan Guru Izzul Islam kembali mendesah. Pikirannya kembali tertuju kepada Sulastri. Dia mencoba memantapkan hatinya bahwa Sulastrilah perempuan yang ada dalam mimpinya. Dia datang saat ia dan ibunya baru saja membicarakan terkait pernikahannya. Dia datang di saat ketiga kalinya ia memimpikan perempuan berkerudung biru motif batik, yang warna dan coraknya sama dengan yang dipakai Sulastri sore tadi. Ia bertambah yakin saat mengetahui status Sulastri yang telah menjanda. Apalagi, perempuan itu akan memondokkan anaknya di pondok pesantren miliknya. Tentu ia akan sering bertemu dengannya. Ini mungkin sebuah petunjuk. Dia tidak akan menghentikan shalat istiharahnya, sebelum Tuhan benar-benar memperlihatkan nyata sosok perempuan itu. Jika malam ini, Tuhan berkenan memperlihatkannya lagi dalam mimpinya, besok dia akan meminta bantuan ibunya untuk bicara dengan Sulastri. Dia akan menunggu, apakah Sulastri akan kembali datang membawa anaknya mondok.
__ADS_1
Tuan Guru Izzul Islam mengambil tasbihnya dan mulai berzikir. Sesekali ia menutup mulutnya ketika menguap. Tanpa sadar, ia sudah terseret ke alam tidurnya.
* * * * *
Sulastri masih mondar-mandir di dalam kamarnya. Sampai jam telah menunjukkan pukul 12 malam, ia masih saja belum merasa ngantuk. Ia sudah memaksa berbaring memejamkan mata dengan lampu dimatikan, namun tetap saja ia tidak bisa tidur. Rahima yang biasa menemaninya tidur di kamarnya, harus mengganti bi Aisyah menemani anak-anak tidur sebab dia masih sakit.
Sulastri mendekat ke arah photo Yulian Wibowo yang tergantung di dinding kamarnya. Ia lalu menggeser meja di dekatnya. Ia menaikinya dan mengambil photo itu. Setelah turun, ia kembali berbaring di ranjangnya.
Sulastri menatap lekat wajah Yulian Wibowo di dalam photo. Sulastri tersenyum dan mencium photo itu.
"Maafkan aku, Pak. Maafkan atas rasa yang muncul untuk orang lain ini." Sulastri kembali mencium photo itu dan mendekapnya erat. Ia merasa bersalah karna sempat merasa punya rasa kepada Tuan Guru Izzul Islam. Beberapa waktu lalu, Ia sempat melupakan Yulian Wibowo. Bukan karna jatuh cinta dengan Tuan Guru Izzul Islam. Tapi lebih kepada mengagumi sosok muda kharismatik dengan segudang ilmu agamanya. Sekalipun sah-sah saja dan tak akan ada orang yang marah jika ia menikah lagi, tapi Yulian Wibowo masih tak dapat tergantikan.
Sulastri meletakkan photo Yulian Wibowo di dekat kepalanya. Ia memasrahkan semuanya kepada Allah atas nasib yang telah ditentukan. Dia tak mau lagi mendahului kehendak Allah. Yang jelas, ia tak akan merencanakannya.
Sulastri meraih kembali photo Yulian Wibowo dan menciumnya tepat di keningnya.
"Datangi aku dalam mimpiku,ya," desah Sulastri sambil tersenyum menatap wajah Yulian Wibowo. Ia lalu meletakkannya kembali di dekat kepalanya.
Ia menguap. Kali ini ia benar-benar merasa mengantuk.
__ADS_1
Malam semakin larut. Suara detak jam di ruang tamu terdengar merajai suasana. Malam hening mengantarkan perlahan Sulastri dalam tidur lelapnya.