KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#113


__ADS_3

Mobil Lycan hypersport itu tiba di pintu gerbang rumah selepas azan ashar. Selepas dari penjara, Sulastri tidak langsung mengajak Rianti pulang. Ia mengarahkan pak Mustarah menuju kawasan Doyan Medaran. Sulastri beranggapan, Rianti perlu melihatnya setelah hanya mendengarnya saja dari Sulastri ketika menjenguknya di penjara.


Mobil memasuki halaman rumah ketika pak Bayan membuka pintu gerbang.


Sulastri menengok ke belakang dan tersenyum sembari memberi isyarat kepada Rianti untuk keluar. Rianti mengarahkan pandangannya ke arah luar lewat kaca jendela mobil. Tak terasa air matanya keluar. Sulastri mendesah. Ia segera turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Rianti. Melihat Rianti menangis, Sulastri mengeluarkan tisu dari dalam tasnya.


"Sudah, Nak. Ayo kita turun. Kita langsung menuju kubur papamu. Dia pasti sudah merindukan kedatanganmu," bujuk Sulastri sambil mengusap air mata di wajah Rianti. Air mata Rianti semakin deras mengalir.


"Aku malu, Bu. Aku lah yang membuat hidup papa berakhir," kata Rianti sesenggukan. Sulastri tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Pak Mustarah hanya memperhatikan dari balik kaca spion mobil.


"Tidak, Nak. Apa yang kamu lakukan hanya perantara. Semua ada hikmah. Yakinlah, papamu saat ini sedang berada di surga-Nya Allah. Kamu sudah menebus kesalahanmu dengan perubahan besar yang luar biasa ini. Ayo, keluarlah, Nak," kata Sulastri. Ia memegang tangan Rianti dan perlahan menariknya keluar. Ia lalu merangkulnya menuju kubur Yulian Wibowo.


"Bi Aisyah, Munawarah, tolong bawakan tas non Rianti ke dalam," kata Sulastri ketika keduanya datang menghampiri.


Rianti menundukkan kepalanya ketika sudah dekat dengan kuburan Yulian Wibowo. Dalam sekejap, semua kenangan pahit satu persatu muncul dalam pikirannya. Pengusiran Sulastri, penodongan Farida dan apa yang ia lakukan bersama Castella sehingga membuat Yulian Wibowo meninggal dunia. Semua hadir menyesakkan dadanya. Ia merasakan tubuhnya semakin lemah dan tak mampu melangkah lagi. Sulastri terus menguatkannya. Ia merangkulnya erat hingga sampai di depan kubur Yulian Wibowo.


Rianti merasakan tubuhnya tak bisa ditahan lagi ketika begitu sampai di depan kubur Yulian Wibowo. Sulastri yang masih memegang tubuhnya pun tak sempat menahan tubuh Rianti, ketika tubuh Rianti luruh dan bersimpuh di tanah. Rianti meletakkan kepalanya di dekat batu nisan. Ia lalu memeluknya. Tangisnya terdengar menyayat.


"Maafkan aku, papa. Aku telah durhaka kepada papa. Aku menyesali semua perbuatan masa laluku. Maafkan Rianti, Papa,"


Sulastri mengusap air matanya. Ia lalu duduk dan mulai mengusap rambut Rianti lembut. Ia membiarkan saja Rianti puas dalam tangis dan ratapannya.


"Sekarang, lihatlah papa. Aku sudah berusaha berubah untuk menebus kesalahanku. Aku akan jadi anak yang shalehah untuk papa."

__ADS_1


Setelah puas dengan tangisnya, Rianti mengangkat tubuhnya. Setelah memperbaiki jilbabnya, ia terdiam menundukkan kepalanya. Sesenggukan tangisnya masih terdengar sesekali.


"Alfatehah...," ucap Rianti pelan. Mulutnya mulai komat-kamit membaca Fatehah dengan mata terpejam penuh khusyu'. Sulastri terlihat ikut membaca.


Tak berapa lama kemudian, lantunan surat Yasin mulai terdengar merdu dari mulut Rianti.


Sulastri menoleh. Dilihatnya Rianti yang sedang khusyu' melafalkan surat Yasin tanpa Al-qur'an di tangannya dengan tatapan kagum. Merdu dan Fasih. Bi Aisyah dan Munawarah yang sedang mondar-mandir menyiapkan makanan di dapur, nampak terdiam mendengarkan. Sulastri menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak menyangka, perubahan Rianti, lebih dari yang ia bayangkan. Rianti benar-benar memanfaatkan waktu panjangnya di penjara untuk memperdalam agamanya. Ia yang sudah terbiasa membaca yasin pun tak benar-benar bisa menghafalkan selancar dan sefasih Rianti.


Beberapa menit telah berlalu. Ketika mereka berdua telah selesai berdoa, Sulastri mengajak Rianti masuk ke dalam rumah.


"Ayo, kamu mandi dulu, Nak. Adik-adikmu sebentar lagi pulang. Sejak ibu memberitahukan kepulanganmu. Mereka terus kirim sms kepada ibu, menanyakan keadaanmu," kata Sulastri setibanya di dalam kamarnya. Ia mengeluarkan handuk dari dalam lemari dan memberikannya kepada Rianti. Rianti tersenyum dan melangkah menuju kamar mandi. Sulastri sendiri kembali keluar dan menuju dapur untuk mengecek persiapan untuk acara selamatan nanti malam.


* * * * *


Rianti yang tampak cantik dengan mukena birunya dan berdiri di pintu rumah tersenyum melihat kehangatan yang diperlihatkan Suastri dan anak-anaknya.


"Lihat, siapa gadis cantik yang berdiri di depan pintu," tunjuk Sulastri ke arah Rianti yang tersenyum manis ke arah mereka. Melihat itu, Farida segera berlari ke arah Rianti. Setelah mencium tangan Rianti, Farida memeluk Rianti.


"Senang sekali lihat kakak sudah bebas. Kakak cantik sekali," kata Farida.


"Kamu juga cantik. Gak nyangka sudah sebesar ini. Semenjak mondok, kamu gak pernah jenguk kakak lagi," kata Rianti. Pandangannya beralih ke arah Rayhan, Fahmi dan Sulastri yang sudah berada di depannya. Rayhan mendekati Rianti dan menyalaminya. Tak Henti-henti Rianti mencium pipinya.


"Ih, Ustadzah muda ini cantik sekali," kata Rianti. Rayhan hanya tersenyum.

__ADS_1


"Kelas berapa sekarang?" kata Rianti.


"Kelas satu tsanawiyah, Kak," jawab Rayhan.


"Ayo dong. Aku kok dilupakan?" protes Fahmi yang hanya berdiri menunggu Rianti selesai bercengkrama dengan Rayhan.


"Astaghfirullah, kakak jadi lupa. Kakak kira gak ada orang," canda Rianti. Fahmi tersenyum. Ia meraih tangan Rianti dan menciumnya.


"Fahmi, kamu kok gak ajak masuk sopirnya," tegur Sulastri ketika sadar, laki-laki yang mengantar mereka sempat terlupakan.


"Astaghfirullah. Zaebon, Jadi lupa," kata Fahmi sambil menepuk keningnya. Ia segera melangkah mendekati laki-laki itu. Sulastri mengajak ketiganya masuk ke dalam rumah.


"Bon, Ayo, kamu makan dulu, baru pulang," kata Fahmi. Zaebon menggaruk kepalanya. Ia tersenyum.


"Saya pamit pulang saja, Ustadz. Saya disuruh langsung balik sama Tuan Guru," kata Zaebon. Fahmi mendesah. Ia menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah. Hati-hati di jalan ya," kata Fahmi. Zaebon mengangguk dan melangkah mendekati Fahmi. Setelah mencium tangan Fahmi, ia langsung masuk ke dalam mobil. Fahmi mengikuti mobil itu hingga keluar dari gerbang.


Azan maghrib berkumandang. Karpet merah sudah digelar di halaman rumah untuk menyambut kedatangan anak yatim selepas isya' nanti. Bangku panjang tempat prasmanan sudah penuh terisi makanan dan lauk pauk. Terlihat juga pak Bayan dan pak Mustarah yang masih sibuk mengetes sound system yang akan digunakan malam ini.


Suasana di rumah besar itu terasa bahagia. Sementara Fahmi memimpin saudara-saudaranya shalat jamaah maghrib di ruang tamu, Sulastri masih berdiri memandang photo Yulian Wibowo. Malam ini kebahagiannya sudah terasa lengkap dengan kedatangan Rianti. Janjinya kepada Yulian Wibowo akhirnya satu persatu bisa ia tuntaskan. Malam ini ia merasa rindu akan sosok Yulian Wibowo. Ia rindu Yulian Wibowo hadir di tengah-tengah kebersamaan mereka malam ini.


Sulastri mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Ia mendesah panjang dan melangkah menuju tempat tidurnya. Mukena yang ia letakkan di atas tempat tidurnya ia pasang dan menuju ke sajadah yang tergelar di lantai. Dengan masih berlinang air mata, ia mulai bertakbir.

__ADS_1


__ADS_2