
Siang perlahan mulai tenggelam dalam kekuasaan gelap. Malam tiba dengan rembulan purna di tengah-tengah langit. Cahayanya yang benderang menimpa dedaunan pepohonan. Seluruh alam seperti bermandikan cahaya. Baik Tuan Guru Izzul Islam dan Jamila sama-sama tidur lebih awal malam ini. Jamila sendiri sibuk sepanjang hari tadi. Jamaah yang diperkirakan hadir besok lusa untuk merampungkan pembangunan rumah tempat tinggalnya nanti sepulang Rianti dari penjara, ternyata tanpa terjadwal datang pagi tadi. Praktis, dia yang tadi malam tidur sangat larut karna sibuk mempersiapkan ruangan untuk Rianti dan calon bayinya, terpaksa harus ikut membantu beberapa santriwati untuk menyiapkan makanan untuk jamaah yang bergotong royong. Dia tak sempat menemani Tuan Guru Izzul Islam makan malam.Selepas shalat isya' ia langsung merebahkan tubuhnya di ranjang. Beberapa menit kemudian, Tuan Guru Izzul Islam menyusul dan berbaring di sampingnya.
* * * * *
Rianti menatap ke arah rembulan purna di atasnya sembari tak henti-henti menggeleng takjub atas kebesaran Sang Pencipta. Tatapan matanya tak berpaling melihat wajah rembulan yang melingkar sempurna di atas langit. Ia menoleh ke arah Tuan Guru Izzul Islam yang berdiri di sampingnya dengan tatapan sama, penuh takjub ke arah rembulan.
__ADS_1
Rianti megernyitkan dahinya. Ada sesuatu yang bergerak saat ia tak memalingkan pandangannya dari menatap bulan. Sesuatu seperti cahaya putih yang perlahan seperti bergerak ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Ia memeras matanya kuat seperti ingin memastikan bahwa cahaya yang ia lihat adalah nyata. Rianti mundur beberapa langkah. Cahaya itu seperti semakin deras meluncur ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Semakin cepat dan..., Rianti segera mendorong kuat tubuh Tuan Guru Izzul Islam tapi sayang, cahaya itu terlalu cepat dan meluncur menghantam dada Tuan Guru Izzul Islam. Aneh, Tuan Guru Izzul Islam sama sekali tak terpengaruh. Bahkan ia hanya tersenyum melihat Rianti yang sibuk memeriksa bagian dadanya. Belum habis rasa penasarannya, lagi-lagi Rianti dikejutkan oleh seberkas cahaya yang meluncur ke atas dari arah belakangnya. Cahaya itu semakin menjauh dan akhirnya meredup dan hilang di tengah benderangnya sinar rembulan.
"Astaghfirullah!"
Rianti terbangun dari tidurnya. Ia hampir saja jatuh dari tempat tidurnya sebelum akhirnya salah satu tangannya berhasil menyeimbangkan tubuhnya. Rianti mendesah panjang. Ia berusaha menstabilkan nafas dan degup jantungnya. Segelas air di atas meja samping tempat tidur diambilnya dan diminumnya pelan.
__ADS_1
"Ya, Allah, apa arti mimpi hamba." Desah Rianti. Rianti mendongakkan kepalanya. Ia berusaha menafsirkan sendiri apa yang baru saja dilihatnya dalam mimpi. Cahaya adalah simbol untuk hal-hal yang baik. Dia tak meragukan bahwa mimpinya adalah mimpi yang baik. Tapi yang jadi pertanyaannya, keadaan kedua cahaya yang meluncur berlawanan. Apakah ini adalah tanda untuk kebebasannya besok? Ataukah pertanda akan segera lahirnya anak yang ada dalam kandungannya? batin Rianti.
"Semoga saja ya Allah. Lindungi hamba dan keluarga hamba dari perkara buruk yang tidak kami ketahui. Kepada-Mu kami bertawakkal dan berserah diri," doa Rianti. Setelah perasaannya mulai tenang, Rianti mengangkat tubuhnya pelan. Ia mengusap-usap perutnya yang sudah membesar.Dia sudah tidak bisa lagi berjalan terlalu jauh mengambil air wudhu'. Untung saja kepala lapas mau berbaik hati menyiapkan ember di dalam selnya untuknya berwudhu'. Dia berharap, perutnya tidak sakit lagi seperti yang dirasakannya tiga malam berturut-turut. Dia tahu waktu kehamilannya semakin dekat. Tapi ia ingin melahirkan ketika sudah pulang ke rumah.
Rianti melangkah pelan menuju ember hitam ukuran sedang di sudut ruangannya. Dia lalu membuka penutup lubang kecil tempat keluarnya air, yang terbuat dari alas sandal jepit. Rianti menurunkan tubuhnya pelan. Dengan posisi duduk, ia mulai berwudhu'.
__ADS_1
Malam larut dan hening. Suasana di dalam lapas sepi ditinggal lelap penghuninya. Hanya suara takbir Rianti yang sesekali terdengar.
* * * * *