
Sulastri bangkit dari duduknya ketika mobil sedan warna hitam berhenti di ujung gang. Ia terlihat harap-harap cemas menunggu di depan rumah kontrakannya.
Pintu mobil bagian belakang terbuka, dan tak berapa lama kemudian Fahmi dan Farida terlihat keluar, di susul bi Aisyah yang sedang menggendong Rayhan. Fahmi dan Farida terlihat riang membawa barang belanjaannya.
Sulastri tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Air matanya mengalir deras. Ia masih tak percaya masih bisa melihat anak-anaknya setelah apa yang terjadi kepadanya beberapa hari yang lalu. Ia merasa seperti menemukan kembali masa-masa paling bahagianya ketika melihat senyum dan wajah ceria anak-anaknya.
Sulastri bangkit. Ia merasa tak harus menunggu sampai anak-anaknya tiba di depannya. Kakinya terasa ringan hendak melompat secepatnya ke arah mereka. Sulastri sudah tak tahan lagi. Ia segera berlari sambil menangis ke arah mereka. Pak Sahril dan pak Pratama hanya bisa menatapnya haru.
Fahmi dan Farida melongo ketika melihat Sulastri berlari ke arah mereka. Keduanya saling pandang. Beberapa barang belanjaan yang ada ditangan keduanya, mereka lepas dan serempak berlarian ke arah Sulastri.
"Ibu," teriak keduanya girang. Sulastri menyambar kedua tubuh anaknya dan memeluknya erat. Tangis keduanya pecah. Bergantian Sulastri mencium wajah keduanya.
"Ibu kemana saja. Ibu jahat. Ibu telah meninggalkan kami. Ibu kemana saja," raung Fahmi sambil memukul-mukul punggung Sulastri. Sulastri tak menjawab. Ia terus menangis sambil memeluk kedua tubuh anaknya. Dibiarkannya saja Fahmi melampiaskan kemarahannya.
Sulastri mengusap rambut keduanya. Keduanya terlihat lebih kurus dari sebelum ia meninggalkan keduanya.
"Maafkan ibu, Nak. Ibu pergi tanpa memberitahukan kalian." Sulastri menatap wajah keduanya dan kembali menciumnya bergantian.
"Ibu janji, ibu tidak akan meninggalkan kalian lagi," kata Sulastri.
Sulastri menoleh ke arah anak yang terlihat tenang dalam gendongan bi Aisyah. Sulastri tersenyum dan bangkit mendekat ke arah bi Aisyah. Fahmi dan Farida terus memegang tangannya.
Sulastri menyodorkan kedua tangannya ke arah Rayhan yang bergelayut dalam gendongan bi Aisyah. Rayhan menatap Sulastri beberapa lama. Seperti sedang mengingat wajah perempuan di depannya.
Sulastri tersenyum ketika Rayhan memajukan tubuhnya ke arah Sulastri. Sulastri meraihnya dan segera menggendongnya. Tak henti-henti ia mencium wajah dan seluruh tubuh Rayhan.
"Anak ibu yang cantik. Sudah besar sekarang kamu, Nak," kata Sulastri. Bi Aisyah yang berdiri mengusap air matanya di peluknya.
"Kemana saja, Bu. Bibik sempat putus asa mencari ibu," tangis bi Aisyah terisak. Sulastri tak menjawab. Tangisnya semakin pecah ketika ia memeluk erat tubuh bi Aisyah.
__ADS_1
"Terimakasih, Bi. Terimakasih telah menjaga anak-anak." kata Sulastri terisak-isak. Sulastri melepas pelukannya. Ia kemudian mengajak bi Aisyah menuju kontrakan. Fahmi dan Farida bergelayut kuat di tubuh Sulastri. Keduanya tak mau melepaskan pelukan mereka. Bu Trianti yang masih berdiri di depan mobil nampak mengusap air matanya.
"Hasbi, tolong bawakan barang-barang ini,"kata bu Trianti menunjuk ke arah barang-barang yang tadi dijatuhkan Fahmi dan Farida.
* * *
"Bu, kami pamit pulang. Nanti malam kami akan datang kesini lagi. Ada yang harus kita bicarakan," kata pak Sahril. Sulastri mengangguk. Pak Sahril menganggukkan kepalanya ke arah pak Pratama.
"Oh ya, Bu. Perkenalkan, ini pak Pratama, beliau adalah Chief eksekutife manager di perusahaan bapak. Dan ini istri saya," kata pak Sahril sambil memperkenalkan pak Pratama dan bu Trianti.
Bu Trianti mendekat dan menjabat tangan Sulastri.
"Maaf, kemarin saya gak sempat hadir saat pernikahan ibu dan pak Yulian," kata bu Trianti. Sulastri tersenyum.
Setelah berpamitan, ketiganya pun pergi meninggalkan tempat itu.
* * *
Waktu demi waktu berganti. Tak terasa gelap sudah menyebar mengganti cerahnya siang. Selepas adzan isya, pak Sahril dan bu Trianti kembali mengunjungi Sulastri di rumah kontrakannya. Ada beberapa tas besar yang dibawa oleh Hasbi, sopir pribadi mereka. Maemunah, pembantu baru yang di tugaskan pak Sahril untuk membantu bi Aisyah mengurus anak-anak Sulastri segera menuju dapur untuk membuatkan minum tamu-tamu mereka.
"Apa itu, Pak," kata Sulastri saat melihat Hasbi meletakkan tas-tas yang dibawanya di dekat pak Sahril duduk. Pak Sahril menoleh ke arah tas-tas itu dan tersenyum ke arah Sulastri.
"Itu pakaian dan barang-barang milik ibu," kata pak Sahril. Sulastri mengernyitkan keningnya.
"Pakaian? pakaian yang mana, Pak. Setahu saya, semua pakaian saya dan pakaian anak-anak habis dibakar bu Castella," kata Sulastri.
Mendengarkan itu, bu Trianti menggelengkan kepalanya.
Pak Sahril mendesah. Mendengar Sulastri menyebut nama Castella, wajahnya berubah murung dan ia merasa bersalah.
__ADS_1
"Sekali lagi saya mohon maaf, Bu. Saya gagal menjaga ibu sesuai amanat pak Yulian. Saya hanya tidak pernah berpikir bahwa bu Castella tega melakukannya sama ibu," kata pak Sahril. Ia menggelengkan kepalanya.
"Gak apa-apa, Pak. Semua sudah berlalu. Saat ini saya cukup bahagia bisa berkumpul lagi bersama anak-anak saya," jawab Sulastri. Ia mempersilahkan bu Trianti, pak Sahril dan Hasbi meminum kopi yang di hidangkan Maemunah.
Sulastri menengok ke arah Maemunah dan menatap pak Sahril ketika Maumunah benar-benar hilang dari pandangannya.
"Dan terkait bi Maemunah, mungkin bapak bisa mengambilnya lagi.Saya tidak punya uang untuk menggajinya,"sambung Sulastri sesaat setelah memastikan Maemunah tak mendengar pembicaraannya. Pak Sahril dan bu Trianti tersenyum.
"Ibu tidak usah mikir gajinya Maemunah. Gajinya dari perusahaan dan ibu adalah salah satu bagian terpenting dari perusahaan," kata pak Sahril. Sulastri kembali mengernyitkan keningnya bingung.
"Maksud bapak?"
"Maksud bapak, ibu ini masih berstatus istri sah pak Yulian Wibowo. Ibu berhak atas segala fasilitas perusahaan, karna ibu juga adalah pemilik perusahaan. begitu sederhanya, Bu," sahut bu Trianti menjelaskan. Pak Sahril menganggukkan kepalanya, menyetujui kata-kata istrinya.
Sulastri terdiam. Setelah apa yang terjadi pada dirinya, ia merasa tidak pantas disandingkan dengan nama Yulian Wibowo.
Pak Sahril menoleh ke arah bu Trianti.
"Bu, ajak Hasbi di luar dulu. Ada yang harus papa bicarakan berdua sama ibu," kata pak Sahril. Bu Trianti menganggukkan kepalanya dan memberi isyarat pada Hasbi untuk bangun.
Pak Sahril mengeluarkan beberapa map dan sebuah amplop berwarna hijau dari dalamnya. Pak Sahril menyerahkan amplop berwarna hijau itu kepada Sulastri.
"Surat itu di tulis Bapak sehari setelah akad nikah. Mungkin surat itu ada hubungannya dengan map-map ini. Surat itu diserahkan bapak bersamaan dengan map-map ini. Ada baiknya ibu membaca terlebih dahulu surat itu, biar ibu lebih mengerti apa yang akan saya sampaikan malam ini," kata pak Sahril. Ia menyeruput kopi di depannya. Ia masih menunggu keputusan Sulastri.
Sulastri mendesah. Perlahan ia membuka amplop di tangannya dan mengeluarkan lipatan kertas dari dalamnya. Ia belum mulai membacanya tapi air matanya sudah mengalir di pipinya ketika ia melihat nama Yulian Wibowo di akhir tulisan.
Melihat itu, pak Sahril bangkit. Setelah menepuk pundak Sulastri pelan, ia melangkah keluar dan membiarkan Sulastri sendiri.
Sulastri memperbaiki posisi duduknya. Ia mulai membaca surat.
__ADS_1