
Tuan Guru Izzul Islam menatap surat yang ia gelar di atas meja di depannya. Dia sudah tiga kali membacanya, dan ia masih belum percaya jika Sulastri, yang ia yakini sebagai perempuan pilihan dalam mimpinya, ternyata bukan dia orangnya. Awalnya ia ingin mengirimkan surat balasan kepada Sulastri untuk lebih memperjelasnya, tapi pak Mustarah yang mengantarkan surat itu sudah pergi. Setidak-tidaknya, jika memang ia tidak punya tahi lalat, tapi jilbab biru motif batik sudah cukup jadi perwakilan bahwa Sulastri adalah calon istrinya.
Tuan Guru Izzul Islam menyandarkan tubuhnya di kursi. Tatapannya kini lekat memandang ke arah lukisan kaligrafi yang tergantung di dinding rumah. Mungkin itu jawaban untuk sementara ini.
فان عزمت فتوكل على الله
"Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah"
Tuan Guru Izzul Islam mendesah pasrah. Saatnya untuk bertawakkal. Menyerahkan semuanya kepada Allah. Rizki, jodoh dan kematian adalah rahasia Allah. Jika sudah waktunya nanti, ia tak perlu bersusah-susah mencarinya. Dia akan datang sendiri tanpa perlu mencarinya.
Suara pintu kamar terdengar di ketuk pelan dari arah luar. Tuan Guru Izzul Islam segera bangkit dan membuka pintu. Ia segera mencium tangan Nyai Mustiani yang tampak tersenyum di balik pintu. Ia kemudian memapah ibunya masuk.
Nyai Mustiani meraih surat di atas meja setelah untuk beberapa saat menatapnya. Tuan Guru Izzul Islam yang tak sempat menyimpannya hanya tersenyum tersipu malu.
__ADS_1
"Surat dari perempuan berkerudung biru motif batik?" canda Nyai Mustiani sembari melirik ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam memberi isyarat dengan senyuman dan sedikit anggukan kepala. Ia lalu duduk di dekat Nyai Mustiani.
"Ibu lupa membawa kaca mata. Ceritakan ibu, apa jawaban Sulastri," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mendesah lalu kembali tersenyum.
"Ternyata bukan dia, Bu. Dia tidak memiliki tahi lalat seperti yang aku lihat dalam mimpi. Pencarianku masih panjang dan aku perlu bersabar untuk itu," kata Tuan Guru Izzul Islam bijak.
Nyai Mustiani mengangguk kecil. Ia memegang pundak Tuan Guru Izzul Islam.
Tuan Guru Izzul Islam memegang tangan Nyai Mustiani. Ia menggelengkan kepalanya.
"Dalam sebuah hadist, kita disuruh untuk meminta fatwa pada hati kita. Aku sudah mencoba melakukannya, tapi tak sedikitpun cinta dan keyakinan di hatiku pada Baiq Miftahul Hafizah. Jadi, aku tak bisa memaksakan hatiku untuk hidup bersama orang yang tidak aku inginkan. Lupakah ibu? Bukankah ibu juga yang mencarikan falak jodohku dengan Miftahul Hafizah? Kita memang tidak dituntut untuk mempercayainya, tapi untuk tidak mempercayainya juga, itu hal yang tidak dibenarkan." Tuan Guru Izzul Islam menatap Nyai Mustiani.
"Tak perlu cinta untuk memulai rumah tangga, Nak. Cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Ibu dan Almarhum ayahmu pun tak pernah saling mengenal sama sekali. Tapi seiring dengan waktu, aku mencintai ayahmu sampai-sampai ibu tak ingin menikah lagi,"
__ADS_1
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.
"Miftahul Hafizah tak pernah muncul dalam mimpiku, padahal aku selalu mengikutkannya dalam setiap istiharahku. Hatiku pun tak pernah condong kepadanya. Sudahlah, Bu. Kita tidak usah memikirkan rahasia Allah yang satu ini. Aku siap menunggu sampai Allah menunjukkannya kepadaku, bahkan ketika usiaku sudah menua.
Tuan Guru Izzul Islam melepaskan tangan Nyai Mustiani. Ia lalu bangkit dan melangkah mengambil kopiah yang tergantung di gantungan baju.
"Bu, aku harus keluar dulu. Aku sudah menelpon Pak Kiyom untuk datang hari ini. Kita harus segera melunasi hutang bahan bangunan untuk asrama santri putra. Alhamdulillah, uang sumbangan dari ibunya Fahmi, cukup untuk melunasinya," kata Tuan Guru Izzul Islam sesaat setelah kembali duduk di dekat Nyai Mustiani.
"Ibunya Fahmi, atau..., perempuan berkerudung biru motif batik," canda Nyai Mustiani.
"Ah, Bu. Kok diungkit lagi." Tuan Guru Izzul Islam memegang tangan Nyai Mustiani dan membantunya berdiri. Nyai Mustiani hanya tersenyum dan menurut saja ketika Tuan Guru Izzul Islam memapahnya keluar kamar.
* ** * *
__ADS_1