
Mami Zelayin terdiam. Ia masih mencari cara agar pak Ahyar melunak. Walaupun sebelum-sebelumnya, ia sudah beberapa kali mencobanya, tapi mungkin usaha terakhirnya ini bisa membuahkan hasil.
Mami Zelayin tersenyum. Ia meraih ponsel di sampingnya dan lebih mendekat ke arah pak Ahyar. Ia nampak mulai memeriksa beberapa photo dalam galeri ponselnya. Ia tersenyum dan meletakkan ponselnya di depan pak Ahyar. Pak Ahyar hanya menatapnya dengan menyedekapkan kedua tangan di dadanya. Ia memperhatikan photo yang ada di layar ponsel mami Zelayin. Ia tersenyum ketus.
"Apa ini, Zelayin. Hal sia-sia apalagi yang kamu tunjukkan," kata pak Ahyar. Ia menatap mami Zelayin lekat. Wajahnya masih menyiratkan rona tidak senang. Mami Zelayin tersenyum.
"Dia barang baru, Pak, masih fresh. Lihat, wajahnya mirip artis dangdut delapan puluhan. Pak Ahyar pasti suka. Dia saya khususkan untuk tamu-tamu spesial, seperti pak Ahyar ini," kata mami Zelayin. Pak Ahyar mendengus. Setelah menatap mami Zelayin beberapa saat, ponsel di depannya dihempaskannya kuat ke arah mami Zelayin.
"Mau mirip dewi persik, Mulan Jamila, aku tidak peduli. Dalam keadaan pikiran kusut seperti ini, aku sama sekali tak bernafsu memikirkan itu," kata pak Ahyar keras. Tatapannya semakin tajam.
"Lama-lama, aku merasa kamu mengolok-olokku, Zelayin,"
"Bukan, bukan seperti itu, Pak Ahyar," kata mami Zelayin tergopoh-gopoh ketakutan. Ia memegang tangan pak Ahyar tapi pak Ahyar segera menghalaunya.
"Sudahlah, jika memang kamu tidak berniat mengembalikan uangku, kita bertemu di kantor polisi. Aku akan membongkar tempat zina terselubung ini," ancam pak Ahyar.
Mami Zelayin terlihat kelimpungan. Ia berusaha menahan tubuh pak Ahyar yang hendak beranjak dari duduknya.
"Tenang Pak Ahyar, kumohon, beri aku waktu sejenak untuk berpikir," kata Mami Zelayin. Sikap pak Ahyar benar-benar membuatnya tak bisa berbuat apa-apa.
Pak Ahyar mendesah kasar.
"Waktu, waktu. Waktu terus yang kamu minta. Apa kamu juga tidak pernah berpikir bahwa saat ini, aku hanya diberi waktu terbatas untuk melunasi hutangku." Pak Ahyar nampak geram.
"Sudahlah." Pak Ahyar bangkit. Mami Zelayin hanya bisa mendongak menatapnya.
"Aku mau hari ini aku sudah menerima uangku. Kalau tidak, hari ini juga aku akan pergi ke kantor polisi. Mereka harus tahu siapa kamu dan apa yang kamu lakukan di tempat ini."
Pak Ahyar membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju pintu. Melihat itu, mami Zelayin segera bangkit dan mengejar pak Ahyar.
__ADS_1
"Ok, Pak, baik, saya akan segera membayar hutang saya. Bapak, tenang dulu," kata mami Zelayin.
"Terus," respon pak Ahyar singkat. Tangan mami Zelayin yang kuat memegang tangannya dilepaskannya kasar. Mami Zelayin mendesah. Ia menggerakkan kepalanya ke sana kemari. Ia belum mendapatkan penjelasan yang baik untuk menjawab pak Ahyar.
"Ok, beri aku waktu satu minggu untuk menjual tanah ini," kata Mami Zelayin setelah beberapa saat tadi ia terlihat seperti berpikir keras.
"Satu minggu itu terlalu lama, Zelayin. Bank tidak akan memberiku waktu selama itu,"
Wajah mami Zelayin nampak memelas.
"Tapi, saya butuh waktu untuk mencari pembeli," kata mami Zelayin dengan suara bergetar.
Ekspresi wajah pak Ahyar perlahan terlihat melunak. Ia tahu saat ini mami Zelayin benar-benar panik. Ia tersenyum.
"Aku akan membantumu mempromosikan tanahmu," kata pak Ahyar. Mami Zelayin terlihat mengambil nafas panjang dan menghempaskannya perlahan. Ia mengusap-usap dadanya. Ia jatuhkan keras tubuhnya di lantai kamar.
"Begini kan bagus, kita tidak perlu saling ancam dan emosi seperti tadi. Lagi pula, jika harga lahan di sini 30 juta atau 25 juta per arenya, dengan lahan seluas ini, kamu masih punya sisa setelah membayar hutangmu. Lumayan buat beli rumah mewah," kata pak Ahyar. Dia tersenyum melihat mami Zelayin yang nampak shock dengan keputusan yang baru saja diambilnya.
Mami Zelayin menatap pak Ahyar tajam. Kali ini ia merasa tak punya beban lagi untuk takut kepada pak Ahyar.
Puih!
Mami Zelayin meludah ke arah pak Ahyar.
"Dasar laki-laki bangsat. Cepat! pergi dari sini, aku sudah muak melihatmu," hardik mami Zelayin. Tangannya meraih sapu yang tergeletak di sampingnya. Pak Ahyar mengangkat kedua tangannya, isyarat menyerah.
"Ok, ok, Mami Zelayin yang cantik." Pak Ahyar tersenyum mengolok. Perlahan ia menuruni tangga.
"Ingat, kosongkan tempat ini secepatnya, aku tidak mau calon pembeli membatalkan niatnya karna melihat wanita-wanita tidak jelas di tempat ini," teriak pak Ahyar ketika kakinya telah sampai di anak tangga terakhir. Teriakannya yang agak keras membuat Sulastri dan Rahima yang sedang duduk di bawah pohon, saling pandang. Mereka mulai menebak dalam hati masing-masing apa gerangan yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Kamu kenal laki-laki itu?" tanya Sulastri sambil melihat pak Ahyar yang berjalan menuju mobilnya. Rahima memperhatikan tubuh pak Ahyar dengan seksama. Ia menggeleng.
"Aku tidak pernah melihatnya," kata Rahima. "Tapi, kamu dengar gak apa yang dikatakan laki-laki itu," sambung Rahima.
Sulastri mengangguk. Rahima tersenyum.
"Coba bayangkan. Seandainya laki-laki itu datang untuk membeli tempat ini dan kita akhirnya bebas dari tempat ini." Rahima memegang tangan Sulastri dan tersenyum girang.
"Amin, Ya Allah, semoga saja apa yang kamu pikirkan itu benar, Rahima," harap Sulastri semakin erat memegang tangan Rahima. Rahima tersenyum dan memeluk tubuh Sulastri.
"Jika itu terjadi, jangan pernah lupakan aku, Lastri. Aku mungkin tidak akan bisa kemana-mana. Mami Zelayin pasti tidak akan membiarkanku pergi," kata Rahima lemah. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Sulastri. Sulastri mendesah.
"Tapi kita bisa melaporkannya. Dia sudah melakukan pemerasan dan pemaksaan kepada kita," tegas Sulastri. Rahima tersenyum.
"Tapi kita beda, Lastri. Aku melakukannya karna aku menyetujuinya. Aku tidak tahu harus bersikap apa. Sejahat-jahat mami Zelayin, dia telah menolongku dari kejaran para rentenir." jelas Rahima dengan nada lemah penuh putus asa.
Kembali Sulastri hanya bisa mendesah. Dia sama sekali tidak punya kata-kata untuk menenangkan Rahima yang terlihat pasrah menyandarkan kepalanya. Dia sama sekali tak punya daya untuk membantu Rahima keluar dari masalahnya. Dia sendiri masih gelap dengan masa depannya.
Sulastri mencolek tangan Rahima. Rahima menoleh. Sulastri memberi isyarat dengan matanya ke arah Jamblang yang tergesa-gesa menaiki rumah mami Zelayin.
* * *
"Carikan aku beberapa are tanah yang jauh dari kota. Cari yang murah. Aku tidak tahu berapa yang akan tersisa dari hasil penjualan tempat ini," kata mami Zelayin ketika Jamblang telah duduk di depannya. Jamblang yang belum mengerti maksud mami Zelayin hanya menatap bingung.
"Ibu mau menjual tempat ini?" tanya Jamblang. Mami Zelayin menjambak rambutnya sendiri. Ia terlihat sangat kesal.
"Kita terpaksa harus menjualnya. Aku punya utang 1 M sama pak Ahyar untuk membeli dan membangun tempat ini juga. Tempat ini belum menghasilkan apa-apa untuk memberiku laba yang banyak untuk mencicil hutangku,"
Jamblang menggaruk-garuk kepalanya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan perempuan-perempuan itu," kata Jamblang.