KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#220


__ADS_3

Laju mobil Avanza Avelos warna putih terlihat semakin melambat dan terlihat menepi ke arah salah satu pohon mahoni besar, dimana Layla berdiri. Melihat mobil yang semakin mendekat ke arahnya, Layla menundukkan wajahnya. Dia yakin, itu adalah mobilnya Rianti dan ia tahu saat ini Rianti pasti sedang memperhatikannya dari dalam mobil.


Layla mendehem. Agak canggung, ia memperbaiki jilbabnya. Mobil berhenti tepat di depannya. Rianti yang duduk di depan segera membuka pintu dan melangkah mendekati Layla. Layla tersenyum malu menundukkan wajah. Tangan Rianti segera dipegangnya dan menciumnya.


"Kamu cantik hari ini," kata Rianti sambil mengusap kepala Layla. Layla tersenyum. Terdengar seperti lagu kesukaannya. Lagu milik Lobow yang dulu sering dinyanyikan oleh mantan cinta pertamanya saat masih duduk di bangku kelas tiga Tsanawiyah. Dan kini, walaupun yang mengatakannya bukan Tuan Guru Izzul Islam, tapi Rianti seperti telah mewakilkannya.


Tangan Layla bergetar saat Rianti memegang tangannya dan mengajaknya ke mobil. Ia lansung membukakan pintu belakang mobil untuk Layla dan mempersilahkannya masuk. Layla mendesah panjang, berusaha bersikap biasa-biasa saja. Tak memikirkan apapun seperti halnya dulu ketika ia memutuskan berhenti sekolah karna Tuan Guru Izzul Islam.


Setelah menutupkan pintu untuk Layla, Rianti melangkah ke pintu mobil bagian samping, membukanya dan duduk di samping Layla. Layla mengira Rianti akan tetap duduk di depan, tapi ternyata ia duduk sangat dekat dengan Rianti, bahkan kini Rianti mengalungkan tangannya di belakang lehernya.


"Aku tadi ada urusan sebentar. Mumpung ini hari minggu dan kebetulan aku akan melewati rumahmu, maka sekalian saja aku telpon kamu. Biar aku ada teman. Gak enak juga kan kalau aku sama Zaebon saja. Iya kan, Bon," kata Rianti. Terlihat Zaebon tersenyum menganggukkan kepalanya dari spion di atas kepalanya. Layla ikut tersenyum. Jantungnya masih berdetak tak normal. Wibawa Rianti seperti selubung yang menutupi seluruh tubuhnya.


"Kita ke pantai mana, Bu Nyai?" kata Zaebon sedikit menengok ke arah belakang. Rianti terdiam sejenak mengerutkan keningnya. Tangannya yang melingkar di punggung Layla di lepaskannya. Dia kemudian menoleh ke arah Layla.


"Bagaimana menurutmu, Layla. Hari minggu begini, semua pantai pasti lagi ramai-ramainya. Menurutmu, kita ke Pink 1 atau Pink 2," tanya Rianti. Layla tersenyum. Dia merasa serba salah. Dia canggung dan serasa sulit menjawab pertanyaan mudah Rianti.


"Pink 1 atau Pink 2," kata Rianti kembali mempertegas. Layla menggaruk-garuk kepalanya.


"Terserah Kak Rianti saja," jawab Layla. Rianti tersenyum.


"Ok, kalau begitu kita ke Pink 2 saja, Bon. Lebih dekat," kata Rianti. Zaebon mengangguk. Rianti kembali meletakkan tangannya ke belakang leher Layla. Kali ini tangannya memegang pundak Layla dan mendekatkannya ke tubuhnya.


"Biasa saja, Dik Layla. Gak usah canggung begitu. Apalagi takut sama Kakak," kata Rianti. Lagi-lagi Layla hanya bisa membalas dengan senyuman. Entah harus bagaimana menilai sikap Rianti yang begitu ramah dan akrab kepadanya. Apakah memang murni karna kelembutan hatinya ataukah itu semua adalah sebuah sindiran untuknya. Tapi yang jelas, ia tidak boleh terus diam seperti itu lagi. Sesampainya di pantai, Rianti pasti akan membahas masalah yang sebenarnya. Dan dia harus menjawabnya. Berani berbuat, berani menghadapinya. Dia bukan anak kecil lagi. Dia harus berani mengungkapkan alasan kenapa dia ngotot ingin menikah dengan Tuan Guru Izzul Islam.


Tak ada lagi pembicaraan yang terjadi antara keduanya. Rianti yang sedari tadi terlihat beberapa kali menguap, akhirnya lunglai dengan menyandarkan kepalanya di pundak Layla. Perjalanan jauh melewati hutan dan jalanan yang berlubang dimana-mana menuju pantai pink 2, ditambah lagi tadi malam ia terjaga hingga larut malam, membuat Rianti akhirnya tertidur. Layla menghela nafas panjang dan menghempaskannya amat pelan. Ia merasakan pantatnya terasa panas akibat posisi duduk yang tak berubah. Ia belum berani menggerakkan tubuhnya. Ia takut Rianti yang tidur lelap menyandarkan kepalanya di pundaknya akan terbangun. Ia hanya berharap cepat sampai dan Zaebon bisa membangunkannya.


Rianti terbangun kaget ketika tiba-tiba Zaebon menghentikan mobil secara mendadak di depan tanjakan. Saking kuatnya Zaebon menginjak pedal rem mobil, hampir saja tubuh Rianti terdorong ke depan dan menubruk punggung jok mobil. Tapi beruntung Layla sigap menahannya dengan tangannya.


"Astaghfirullah, ada apa, Bon," tanya Rianti sambil menurunkan kaca mobil. Dia menengok ke arah luar. Zaebon tersenyum cengengesan sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia melirik ke arah kaca spion.


"Maaf, Bu Nyai. Tadi ada babi hutan melintas di depan. Saya kaget," kata Zaebon. Rianti mendesah sambil mengusap-usap dadanya. Ia kemudian menoleh ke arah Layla.


"Kamu gak apa-apa, Dik Layla?" tanya Rianti sambil memeriksa tubuh Layla. Layla tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Kak," jawab Layla. Rianti tersenyum dan mengusap-usap punggung telapak tangan Layla.


"Terimakasih,kalau dik Layla tidak menahan tubuh kakak, kakak pasti sudah jatuh di bawah kursi," kata Rianti.


"Masih jauh, Bon?"


"Sebentar lagi, Bu Nyai. Tinggal melewati tanjakan ini saja,"jawab Zaebon. Ia mengambil air botol kemasan dan meminumnya.


"Oh ya, aku sampai lupa. Aku kira kita gak ke pink 2. Kita lewat Authore dong. Sepulang dari pantai kita mampir ke dalam, Bon. Sekalian lihat persiapan menjelang panen mutiara," kata Rianti. Zaebon mengangguk dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Tak lama kemudian, mobil mulai menaiki tanjakan dengan pelan.


Rianti menaikkan kembali kaca mobil saat beberapa meter dari gerbang perusahaan mutiara miliknya. Suara gedebur ombak sudah terdengar bersama deru angin. Aroma laut yang khas sudah tercium. Mobil perlahan melewati jalan masuk kecil menuju pantai. Setelah membayar karcis masuk, Zaebon mengarahkan mobilnya ke tempat parkir.


Ombak terlihat berkejar-kejaran di tengah laut dan menghempas bergantian di tepi pantai. Pasir pantai yang berwarna pink, membuat Rianti tak sabar ingin secepatnya menginjakkan kakinya di atasnya. Setelah turun dari mobil, ia langsung mengajak Layla menuju gazebo yang terletak paling dekat dengan pantai. Sesampainya di gazebo, mereka hanya meletakkan tas dan sandal mereka,karna Rianti langsung mengajak Layla menuju ke bibir pantai.


Rianti tersenyum sembari memejamkan matanya menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Mendengarkan suara ombak yang menghempas dan kicau burung laut yang beterbangan, membuat hatinya terasa sejuk. Bukit-bukit menghijau yang mengapit pantai, dengan hamparan pasir berwarna merah muda, membuat Rianti tak sadar Layla memperhatikannya penuh kekaguman.


"Subhanallah. Ya, Allah, Engkau tidak menciptakan semua ini sia-sia. Maha suci Engkau. Hindarkan kami dari siksa api neraka," kata Rianti sambil membuka matanya perlahan. Layla yang ada di sampingnya mengucap amin. Rianti tersenyum ketika menoleh ke arah Layla. Ia lalu memegang tangan Layla dan mengajaknya duduk di hamparan pasir.


"Maaf, Bu Nyai."


"Ada apa, Bon," tanya Rianti ketika melihat Zaebon sudah duduk di belakangnya.

__ADS_1


"Ada sms dari Tuan Guru. Dia suruh bilang kalau Tuan guru dan Nyai Jamilah jadi jalan-jalan hari ini," kata Zaebon.


"Oh ya, jalan-jalan kemana?" tanya Rianti.


"Ke pantai kura-kura, Bu Nyai. Beliau sudah nelpon, tapi Bu Nyai gak mengangkatnya,"


"Aduh, ponselku ada di mobil. Aku lupa membawanya. Ya sudah, kamu pesankan kita kelapa muda ya. Kalau ada yang jual pecel, pesankan juga sekalian,"


"Mau dibawakan ke sini, Bu Nyai?"


"Kita makan di gazebo saja. Nanti kalau sudah siap, kamu panggil kita,"


Zaebon bangkit dan melangkah menuju gazebo


Rianti mengeluarkan beberapa bungkus permen karet dari balik saku gamisnya. Ia menoleh ke Layla dan memberikannya. Agak malu-malun Layla mengambilnya.


Rianti mendesah panjang. Pandangannya di arahkan jauh ke laut lepas.


"Dik Layla tahu gak, Kakak itu selalu bahagia melihat gadis-gadis seperti Dik Layla. Baik, tidak nakal dan tidak menghabiskan masa mudanya untuk foya-foya, apalagi sampai melanggar syariat agama. Tidak seperti Kakak dulu. Kehidupan Kakak begitu gelap dan suram. Jika saja Allah tidak mempertemukanku dengan Almarhum ibu Lastri dan Jamila, aku tidak tahu lagi apa yang terjadi kepadaku. Aku tidak menyalahkan kehidupanku yang dulu. Karna dengannya aku bisa belajar dan memperbaiki diri menjadi lebih baik. Sejak saat itu, aku senang berkumpul dengan orang-orang shaleh, dengan anak yatim, terlebih lagi dengan para penghafal Al-qur'an."


Rianti tersenyum. Ia melirik ke arah Layla. Layla masih terdiam menyandarkan dagunya di kedua lutut kaki yang dinaikkannya. Dia tahu saat ini Layla tidak akan meluputkan pendengarannya dari setiap kata yang diucapkannya. Ia yakin Layla sudah tahu maksud kenapa ia mengajaknya keluar hari ini.


"Aku memang masih awam. Tapi dari terjemah dan tafsir Al-qur'an yang aku baca, aku mendapati semua yang aku butuhkan dalam Al-qur'an sebagai pedoman hidupku. Al-qur'an memang benar-benar firman dari Sang Pencipta."


Rianti mendehem beberapa kali, berusaha menyingkirkan serak di kerongkongannya.


"Orang-orang, dan Dik Layla sendiri mungkin bertanya-tanya kenapa aku begitu bodoh berbagi cinta suamiku dengan wanita lain. Jamila, selain berjasa besar menghidupkan kembali hatiku yang hampir mati, dia juga adalah wanita penghafal Al-qur'an. Aku mengaguminya karna apa yang ia ucapkan sesuai dengan perbuatannya. Dan ketika ia bebas, tiba-tiba saja aku merasa takut dia jatuh ke laki-laki yang salah. Para wanita penghafal Al-qur'an itu layaknya berlian. Harus tetap tersimpan di saku orang-orang shaleh. Dan dengan tulus, aku menawarkan Jamila kepada Kak Tuan untuk dinikahi. Aku ingin rumahku tetap menjadi surga, karna setiap gema dalam ruangannya, aku tak akan pernah berhenti mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an. Aku tidak perlu mendengar apa kata orang tentangku. Karna yang memberiku makan dan penghidupan bukan mereka, tapi Allah."


Rianti menghentikan pembicaraannya beberapa saat. Ia sudah terlalu panjang berbicara sendiri. Ia merasa sudah waktunya ia membahas persoalan inti.


"Sampai di sini, tentu Dik Layla sudah mengerti maksudku membawa Dik Layla kesini."


"Maafkan aku, Kak Rianti," jawab Layla setelah beberapa lama terdiam. Rianti tersenyum dan mengusap punggung Layla.


"Permintaan maafmu merupakan tanda bahwa Dik Layla memiliki hati yang lembut. Itu sebabnya, aku tidak marah seandainya nanti Kak Tuan menjadikanmu istri ketiganya." Jantung Layla kembali berdegup kencang. Ia sedikit kaget mendengar kata-kata Rianti. Tapi ia masih menundukkan wajahnya. Hanya matanya yang melirik ke arah Rianti. Rianti mendesah panjang sambil menselonjorkan kedua kakinya.


"Tadi malam aku sudah membahas surat kelulusanmu bersama Kak Tuan. Hanya berdua saja. Tak ada yang tahu selain aku dan Kak Tuan," kata Rianti kembali melanjutkan pembicaraannya setelah beberapa lama asik menimbun kakinya dengan pasir.


"Maafkan Kak Tuan karna tidak menyimpan rahasia itu sendiri. Tapi kamu tahu tidak,kenapa Kak Tuan memberitahuku," kata Rianti. Layla menggeleng pelan.


"Ternyata, akulah syarat kedua yang akan diajukan kak Tuan saat Dik Layla lulus nanti. Dik Layla harus mendapatkan ijinku untuk bisa menikah dengan kak Tuan." Rianti kembali mendesah panjang. Ia memperbaiki posisi duduknya. Kali ini ia membelakangi laut dan duduk berhadap-hadapan dengan Layla. Lutut keduanya bersentuhan. Layla ingat ada satu lagi syarat yang akan diajukan Tuan Guru Izzul Islam setelah syarat yang pertama ia penuhi. Namun ia tidak pernah terpikir bahwa syarat kedua adalah persetujuan dari Rianti.


"Lihat aku, Dik Layla," kata Rianti sambil memegang kedua pundak Layla. Layla mengangkat wajahnya. Matanya tetap tak mampu menatap langsung mata Rianti.


"Seperti yang aku katakan di awal pembicaraan kita, aku senang berkumpul dengan para penghafal Al-qur'an. Aku senang kelak dapat syafaat dari mereka. Hafalkan Al-qur'an dan aku akan sangat bahagia menerimamu sebagai bagian dari keluarga besarku. Di dunia dan akhirat." Rianti menutup pembicaraannya dengan memegang kedua tangan Layla. Layla mencoba mengangkat pandangannya. Kali ini ia ingin melihat sorot mata Rianti. Sebenarnya, mendengar nada bicara Rianti saja sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa apa yang dikatakannya benar-benar tulus keluar dari hatinya yang bersih.


Sorot mata Rianti begitu bening. Seperti memperlihatkan apa yang ada dalam hatinya. Begitupun dengan senyumnya yang mengembang.


"Ayo, semangat, Dik Layla. Aku mendukungmu. Hanya tiga puluh juz saja. Jika kamu tekun, kamu bisa seperti Jamila yang bisa khatam sampai lima bulan saja. Tidak apa-apa jika niat awalmu menghafalnya karna cinta kak Tuan. Itu akan jadi motivasi buat Dik Layla."


Layla termangu menatap Rianti. Benarkah yang ada di hadapannya adalah seorang manusia? Terbuat dari apa hati Rianti sehingga ia benar-benar mengesampingkan perasaannya sendiri demi akhirat, yang kebanyakan orang mempercayainya ada namun tak terlalu mempedulikannya? ia merasa berdosa jika menyakiti hatinya. Lebih baik ia sengsara karna cintanya yang tak sampai dari pada harus menyakiti perasaan orang sebaik Rianti. Air mata Layla mengalir. Rianti mengerutkan keningnya. Air mata Layla langsung diusapnya.


"Kenapa kamu menangis, Dik Layla?" tanya Rianti. Layla menggelengkan kepalanya. Tangisnya semakin deras. Rianti segera memeluknya.


"Maafkan aku, Kak. Maafkan aku. Maafkan kekhilafanku. Aku tak akan melakukannya lagi," kata Layla terisak-isak.

__ADS_1


Rianti melepaskan pelukannya. Ia menatap Layla dalam.


"Kenapa Dik layla mengatakan itu? Kenapa aku harus memaafkan dik Layla atas sesuatu yang tidak aku anggap kesalahan? Aku tidak sedang menyindirmu, Dik Layla. Aku hanya memberi dukungan kepadamu agar aku bisa serumah denganmu seperti aku dengan Jamila," kata Rianti.


"Tidak, Kak. Aku tidak pantas. Biarkan aku tetap menjadi adikmu saja. Aku senang melihat kak Tuan mendapatkan istri seperti Kak Rianti. Sekarang, itu sudah cukup bagiku untuk melupakan keinginanku," Jawab Layla. Rianti kembali mengerutkan keningnya. Ia terlihat kecewa.


"Kamu menyerah begitu saja, Dik Layla. Kamu membuang kesempatan emasmu memiliki berlian seperti kak Tuan? Kamu belum merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Sebelum merasakan surga yang sebenarnya, aku sudah merasakannya bersama kak Tuan," kata Rianti. Layla tersenyum. Ia mengusap air matanya.


"Sudah cukup bagiku mengenal dan berbuat baik kepada penghuni surga itu. Allah pasti akan menyayangiku juga," kata Layla. Ia memegang tangan Rianti dan menciumnya.


"Sudah, Kak. Pembicaraan kita hari ini memberiku banyak pelajaran untuk menjadi manusia yang lebih baik. Terus terang, aku ingin cepat pulang. Aku tiba-tiba ingin shalat, membaca Al-qur'an dan ibadah lainnya. Benar kata buku yang aku baca. Tanda orang shaleh itu, ketika kamu melihatnya, kamu ingin melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya," sambung Layla. Rianti mendesah panjang. Ia tersenyum. Tubuh Layla kembali dipeluknya. Layla membalas memeluknya erat. Mereka terus berpelukan, bahkan ketika Zaebon datang dan akhirnya pergi lagi karna melihat keduanya berpelukan.


"Ayo, kayaknya pesanan kita sudah datang." Bisik Rianti sambil perlahan melepaskan pelukannya. Ia memegang ujung jilbabnya dan mengusap air mata Layla. Layla tersenyum. Ingin ia melakukan hal yang sama, namun ia malu. Rianti kemudian mengajaknya berdiri dan melangkah menuju gazebo dengan tangan saling merangkul.


* * * * *


Matahari sudah berada di tengah-tengah langit. Seorang perempuan berpakaian lusuh, yang kemarin siang datang dan berdiri di depan gerbang rumah Tuan Guru Izzul Islam kembali terlihat. Panasnya sinar matahari membuatnya melepaskan selendang lusuh yang melingkar di kepalanya untuk melindungi wajahnya. Lagi-lagi suasana di dalam rumah terlihat sepi. Pintunya tertutup rapat.


"Assalamualaikum," ucapnya lemah. Perempuan tua itu mendesah. Ia sadar, dengan suara selemah itu, tak ada orang yang akan mendengarnya. Ia kemudian mengambil sebuah batu sebesar genggaman tangannya dan dipukulkannya digerbang.


Abdul khalik terlihat keluar. Ia berdiri di depan pintu kamarnya dan menoleh ke arah gerbang. Ia segera mendekat.


"Mau cari siapa, Bu?" tanya Abdul khalik.


"Mukaromnya ada, Nak," kata perempuan itu. Abdul khalik mengernyitkan dahinya.


"Siapa, Bu?" tanya Abdul khalik mempertegas.


" Tuan Mukarom,"


Abdul khalik menggaruk-garuk kepalanya. Ia belum mengerti maksud perempuan itu.


"Saya sudah dua belas tahun di sini, Bu. Gak ada yang namanya Mukarom di sini," jawab Abdul khalik.


"Yang punya pesantren ini, Nak. Masak kamu gak tahu," kata perempuan itu. Abdul khalik terdiam sejenak.


"Maksud ibu, Tuan Guru?"


"Bukan, Mukarom,"


Kembali Abdul khalik menggaruk-garuk kepalanya. Bingung. Tapi tak berapa lama kemudian, Abdul khalik tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya. Ia mulai mengerti maksud perempuan itu. Yang dimaksud ibu itu adalah Tuan Guru Izzul Islam. Kata Mukarom yang ia maksudkan adalah Al-mukarrom atau yang dimuliakan. Mungkin ia mendengarnya dari pembawa acara yang biasa memanggil dengan sebutan itu di depan nama tokoh agama yang mengisi pengajian. Abdul khalik tersenyum.


"Maaf ya, Bu. Mukaromnya lagi gak ada di rumah. Kalau ada pesan biar nanti saya sampaikan. Ibu tinggal sebut nama ibu siapa," kata Abdul khalik.


Perempuan itu menatap Abdul khalik. Setelah itu, pandangannya diarahkannya ke rumah di depannya. Perempuan itu mendesah panjang. Dia melepaskan kain lusuh yang menutup kepalanya.Setelah melipatnya, ia kemudian melilitkannya kembali di kepalanya.


"Kira-kira kapan Mukarom ada di rumah, Nak, " kata perempuan itu.


"Saya tidak tahu pasti, Bu. Tapi kalau ibu mau bertemu, ibu datang pagi-pagi saja," jawab Abdul khalik. Perempuan itu mengangguk.


"Ya sudah, Nak. Ibu pergi dulu. Bilang nanti kalau mukaromnya sudah pulang, saya, Inak Nurmah (inak\=ibu/lombok) mencarinya," kata perempuan itu. Abdul khalik tersenyum. Ia mendongakkan kepalanya ke atas. Kedua matanya memincing akibat silau oleh sinar matahari. Ia merasa kasihan dengan perempuan tua di depannya. Karna keasikan berbicara dengannya, ia tak sempat membukakannya pintu gerbang dan mengajaknya berteduh.


"Ibu tunggu sebentar ya?" kata Abdul khalik. Ia bergegas menuju kamarnya. Tak beberapa lama kemudian, ia kembali dengan membawa tas plastik. Abdul khalik membuka pintu gerbang.


"Bu, ini ada makanan dan minuman untuk bekal ibu. Ini, ada sedikit uang. Ibu naik ojek saja. Cuaca hari ini sangat panas," kata Abdul khalik. Perempuan itu berusaha menolak pemberian Abdul khalik, tapi Abdul khalik tetap bersikeras agar perempuan itu membawanya. Bahkan Abdul khalik mengantarnya sampai ke jalan besar dan memanggilkannya ojek.

__ADS_1


* * * * *


Setelah menghabiskan makanan dan minuman yang telah dipesannya, Rianti mengajak Zaebon mampir sebentar di kantor perusahaan mutiara miliknya. Setelah beberapa menit lamanya Rianti berbincang-bincang dengan beberapa karyawan di sana, ketiganya memutuskan pulang.


__ADS_2