
Dengan langkah pelan, Tuan Guru Izzul Islam melangkah menyusuri lorong di dalam rumah. Ia sempat menoleh ke belakang ketika terdengar suara pintu ditutup. Rupanya Abdul khalik dan Zaebon telah meninggalkan ruang tamu.
Suasana begitu sepi. Tuan Guru Izzul Islam menghentikan langkahnya ketika kini ia berada di tengah-tengah lorong, antara kamarnya dan kamar Nyai Mustiani. Melihat pintu kamar Nyai Mustiani, kedua mata Tuan Guru Izzul Islam berkaca-kaca seperti menahan kuat agar air matanya tak jatuh. Tapi semakin ia menahannya, isak tangis keburu terdengar menghentak sunyi. Begitupun saat ia menoleh ke kamarnya. Dua kamar itu sekarang sama-sama telah ditinggal penghuninya. Orang-orang yang sangat dicintainya. Tak ada lagi terdengar suara-suara indah dari perempuan-perempuan yang ia sayangi di setiap lorong rumah itu. Dia rindu bacaan Al-qur'an Nyai Mustiani yang selalu terdengar setiap malamnya Dia rindu tatapan dan senyuman terakhir Nyai Mustiani. Dia rindu saat melihat ekspresi khusyu' Nyai Mustiani saat mendengar ceritanya tentang kematian. Bahkan kini ia merindukan suara Suhaini dan Jamila yang sebelumnya selalu terdengar lembut menyapanya. Mereka berdua tak akan lagi masuk ke rumah itu seperti sebelum-sebelumnya.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Air matanya diusapnya dengan sorban. Dia lalu melangkah dan membuka pelan pintu kamar Nyai Mustiani.
Aroma khas minyak wangi Nyai Mustiani menyeruak memenuhi hidung Tuan Guru Izzul Islam. Air mata Tuan Guru Izzul Islam kembali menetes. Kakinya terasa lemah untuk dilangkahkan. Bahkan ketika ia belum benar-benar bisa memegang tepi tempat tidur, tubuhnya lebih dulu terhempas. Kehilangan sosok yang telah menemaninya hingga ia dewasa, bahkan disaat ia harus kehilangan sosok seorang ayah ketika ia masih berusia 5 tahun adalah hal paling memberatkan baginya. Tak ada teman yang menemani dan menghiburnya di saat-saat seperti itu. Orang-orang mungkin berpikiran, karna ia adalah seorang Tuan Guru, dia tak akan terlalu memikirkan kesedihannya. Tapi ia hanya seorang manusia biasa. Ia punya perasaan seperti halnya manusia kebanyakan. Dia juga akan merasakan kesedihan yang mendalam kehilangan orang-orang tercintanya. Hanya saja, ia harus menampakkan ketenangannya di depan semua orang.
Tuan Guru Izzul Islam merengsek dan membaringkan tubuhnya di tempat biasa Nyai Mustiani berbaring di atas ranjangnya. Tatapannya menerawang jauh seperti hendak menembus langit-langit kamar.
* * * * *
Sementara itu. Rianti masih mondar-mandir di dalam ruangan. Saat ini ia sedang memikirkan Tuan Guru Izzul Islam yang saat ini pasti sedang merasa kesepian. Rumah besar itu akan jadi ruang kosong tempat terdengarnya segala irama kenangan kebersamaan. Seharusnya ia yang saat ini mendampinginya melewati malam-malam panjangnya. Ia yang akan menghiburnya. Dia membayangkan saat ini Tuan Guru Izzul Islam sedang berbaring sendiri dengan tatapan sedihnya.
"Ya, Allah, hibur suamiku. Tabahkan dan kuatkanlah hatinya menjalani musibah ini," desah Rianti penuh harap sembari mengelus-elus perutnya.
__ADS_1
teng...teng...teng...
Suara pukulan penanda waktu istirahat penghuni lapas terdengar nyaring dari arah luar memecah hening malam. Rianti yang sedang berdiri memegang jeruji ruangan, membalikkan badannya. Jamila yang masih bersandar di atas tempat tidur segera menggeser tubuhnya dan memberi ruang untuk Rianti duduk. Jamila mengusap-usap punggung Rianti. Wajah sahabatnya itu terlihat lesu dan tak bersemangat. Ada banyak pikiran yang bisa ia tangkap dari ******* serta tatapannya yang sayu. Rianti menoleh dan tersenyum ketika Jamila merapikan rambutnya yang terurai.
"Jamila, antar aku mengambil air wudhu'," kata Rianti. Jamila tersenyum. Ia bangkit duluan. Dia lalu membantu Rianti mengangkat tubuhnya. Setelah Rianti berdiri sempurna, Jamila menunduk dan mendekatkan bibirnya ke perut Rianti.
"Ya, Allah, Nak. Bibi sudah bisa membayangkan bagaimana tampan dan shalehnya kamu kelak. Kamu punya orang tua yang shaleh dan shalehah. Kedua orang tua jika wajah keduanya di pandang, maka damailah hati yang memandangnya. Berzikirlah di dalam sana sembari mengantar ibumu mengambil air wudhu'," bisik Jamila seolah sedang berbicara dengan bayi di dalam kandungan Rianti. Rianti hanya tersenyum. Keduanya lalu melangkah. Setelah mengetukkan gembok sel tiga kali, petugas jaga muncul dan membukakan mereka pintu sel.
* * * * *
Tuan Guru Izzul Islam mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Setelah puas melihat ke setiap sudut ruangan, ia bangkit dan melangkah keluar dari kamar Nyai Mustiani.
Tuan Guru Izzul Islam berdiri termangu di depan pintu sesaat setelah masuk ke kamarnya. Tatapan matanya langsung tertuju ke arah sofa panjang di depannya. Sofa tempat dimana ia sering duduk bercengkrama dengan Rianti sehabis makan malam dan sebelum tidur. Di tempat itu juga, saban malamnya Rianti berbaring menunggunya pulang dari mengaji. Terkenang ia bagaimana manjanya Rianti ketika melihatnya pulang. Menyodorkan kedua tangannya minta digendong ke atas tempat tidur. Seperti lirik lagu bang Rhoma Irama, jika sudah tiada baru terasa. Bahwa kehadirannya begitu berharga.
"Subhanallah...," desah panjang Tuan Guru Izzul Islam. Dia melangkah pelan dan meletakkan kopiahnya di atas meja. Jika menuruti kata hati yang sedih, maka kesedihan itu tidak akan hilang walau berlalu berbilang-bilang malam. Dia tidak mau setan memanfaatkan kesedihannya untuk membuang waktu berharganya untuk beribadah. Semua yang terjadi atas Kuasa dan Kehendak Allah. Dialah sebaik-sebaik Yang Maha menepati Janji. Musibah dan ujian yang dihadapinya kini akan berbalas kebaikan yang berlimpah suatu hari nanti. Tidak di dunia, tapi pasti di akhirat kelak. Cara menghadapi musibah adalah dengan bersabar dan shalat. Karna berita gembira hanya untuk orang-orang yang bersabar.
__ADS_1
Tuan Guru Izzul Islam mendongak seraya tersenyum. Wajahnya kembali berbinar ceria. Dia lalu melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu'.
Lantunan surat yasin yang dibaca berirama dengan suara lembut Tuan Guru Izzul Islam, menggema di dalam ruangan. Selesai membaca Al-Qur'an, ia melanjutkannya dengan berzikir panjang. Kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan tak terkontrol karna hatinya tenggelam dalam kenikmatan berzikir. Hingga ketika penutup zikir dilafadzkannya, ia tak sadar mulai terlelap dalam tidurnya dalam posisi bersila.
* * ** *
Tuan Guru Izzul Islam tertegun ketika melihat sebuah lingkaran cahaya sebesar bola sepak tiba-tiba saja turun dari atas. Cahaya yang sangat bening dan benderang, namun tidak menyilaukan mata ketika memandangnya. Tubuh Tuan Guru Izzul Islam mematung tanpa gerakan sedikitpun. Hanya kedua matanya yang bergerak mengikuti lingkaran cahaya yang perlahan turun dan akhirnya jatuh di pangkuannya. Tak berselang lama, tiga buah cahaya muncul dengan ukuran lebih kecil dari cahaya yang ada di pangkuannya. Ketiga cahaya itu mengambang di depannya untuk beberapa lama. Satu persatu cahaya itu bergerak dan perlahan masuk dan menyatu ke lingkaran cahaya besar di pangkuan Tuan Guru Izzul Islam. Seluruh ruangan seketika menjadi terang benderang.
"Astaghfirullahal Adzim,"
Tuan Guru Izzul Islam membuka matanya. Keringat dingin mengalir di leher dan keningnya. Untuk sejenak ia hanya terdiam memikirkan apa yang baru saja dilihatnya dalam tidurnya.
Tuan Guru Izzul Islam menatap ke pangkuannya. Benar-benar seperti nyata dan bukan dalam mimpi.
Tuan Guru Izzul Islam mengangkat kepalanya.
__ADS_1
"Ya, Allah, pertanda gembira apakah yang akan Engkau kabarkan kepada hamba. Aku bersaksi bahwa apa yang aku lihat dalam mimpiku adalah mimpi yang baik sebab Engkau menurut persangkaan hamba-Mu Ya, Allah. Kuatkan aku untuk menerima apapun qada' dan qadar-Mu. Dan maafkan aku atas rintihan kecil kesedihanku. Jangan biarkan setan menguasaiku sehingga aku menjadi putus asa dari rahmat-Mu." doa Tuan Guru Izzul Islam. Setelah itu, ia kembali memegang tasbihnya dan mulai berzikir.