
Sulastri, pak Sahril dan pak Pratama sepakat pulang ketika adzan dhuhur usai berkumandang. Pembicaraan mereka dengan pak Suma sebagai pemilik lahan tentang kesepakatan pembayaran lahan diputuskan besok di kantor perusahaan.
Di dalam mobil, Sulastri masih menatap kertas berisi tulisan yang ia ketik tadi sebelum berangkat ke lokasi itu. Ia membacanya lagi. Setelah itu, Ia menatap ke arah kaca spion dalam mobil, takut pak Pratama memperhatikannya. Ia menggeser tubuhnya lebih ketepi hingga menempel di pintu mobil. Pandangannya di arahkan menerawang ke arah luar.
Ia mendesah. Dilihatnya lagi kertas di dalam tasnya. Ia agak ragu untuk memperlihatkannya pada pak Sahril.
"Pak Pratama," panggil Sulastri pelan. Pak Pratama mencoba mencari wajah Sulatri lewat kaca spion. Ia menoleh sebentar lalu kembali fokus ke arah depan.
"Ada apa, Bu,"
"Kalau Bapak lihat ada tempat photo copy, berhenti ya?" jawab Sulastri. Pak Sahril memperhatikan Sulastri dari kaca spion di depannya.
"Apa yang mau di copy, Bu," kata pak Sahril.
Sulastri kembali mendesah. Ia tersenyum. Ia masih ragu mengatakannya pada pak Sahril. Masalah yang akan ia bahas tidak terkait sama sekali dengan perusahaan. Ini hanya masalah pribadi. Tapi jika ia tidak mengatakannya, ia ragu bisa melakukannya sendiri. Pengumuman itu harus ia sebarkan ke berbagai tempat dan ia tidak bisa melakukannya tanpa bantuan pak Sahril.
"Saya mau memperbanyak pengumuman ini, Pak." Sulastri mengeluarkan kertas di dalam tasnya dan memberikannya kepada pak Sahril. Pak Pratama melirik.
Pak Sahril mulai membaca tulisan yang dicetak dengan font besar di tangannya.
...Di cari, seorang perempuan bernama Rahima. Usia 45 tahun....
...Bagi siapa saja yang bisa menemukannya, akan diberi imbalan sepantasnya....
...hub. Hp. 0872341273....
Pak Sahril mengerutkan keningnya.
"Rahima. Siapa ini, Bu," kata pak Sahril. Sulastri mendesah. Ia masih malu mengatakannya.
__ADS_1
"Saudara saya, Pak. Dia sudah lama menghilang. Saya ingin sekali bertemu dengan dia," kata Sulastri sambil menundukkan kepala.
Pak Sahril lagi-lagi mengernyitkan dahinya.
Ibu punya saudara?" tanya pak Sahril. Sulastri tak menjawab. Hanya menganggukkan kepala.
"Ini terlalu umum, Bu. Seharusnya alamat dan ciri-cirinya lengkap. Nama ibu juga seharusnya tertera di sini," kata pak Sahril.
Sulastri terdiam sejenak. Dia terpaksa harus berterus terang pada pak Sahril. Jika ia terus berbohong dengan mengatakan bahwa Rahima adalah saudaranya, maka ia akan kesulitan menjawab jika nanti pak Sahril menyodorkan pertanyaan yang lain.
"Sebenarnya..., dia bukan saudara saya, Pak. Maaf, saya malu. Ini bukan urusan perusahaan. Seharusnya saya tidak melibatkan Bapak dalam hal ini," kata Sulastri. Pak Sahril tersenyum.
"Justru kesuksesan pak Yulian karna selalu melibatkan bantuan orang lain, walaupun itu adalah masalah pribadi beliau. Sedalam apapun masalah pribadi ibu, jika memang ibu berkenan melibatkan kami, kami siap membantu. Kami ini sudah hidup berkecukupan, Bu. Semuanya berkat pak Yulian. Ibaratnya, jika dulu kami hidup di zaman kerajaan, maka pak Yulian adalah raja yang akan kami bela mati-matian. Jadi, Bu Sulastri tak usah sungkan-sungkan memerintah kami," kata Pak Sahril panjang lebar. Pak Pratama terlihat menganggukkan kepalanya. Kata-kata pak Sahril membuat hati Sulastri menjadi tenang.
Sulastri menganggukkan kepala. Ia memperbaiki posisi duduknya. Pak Pratama memperlambat laju mobilnya.
"Dia teman saya sewaktu disekap di perkebunan yang kita beli itu, Pak. Dia sudah 30 tahun terjerat hutang pada mami Zelayin, pemilik tanah itu. Dia harus membayar hutang dengan cara melayani tamu-tamu yang didatangkan mami Zelayin. Saya ingin dia bebas dan bekerja di rumah." Kata Sulastri tanpa beban. Senyum Rahima yang ceria terbayang dalam pikirannya.
"Bila perlu, cantumkan nominal uang hadiahnya, Bu. Biar cepat ketemu," sahut pak Pratama.
"Betul, Bu. Saya setuju dengan pak Pratama. Nama ibu juga harus dicantumkan," sambung pak Sahril.
Gak usah, Pak. Orang-orang tidak akan percaya kalau nama saya dicantumkan di sana. Saya yakin saat ini Rahima masih bersama mami Zelayin. Dia pasti akan menganggap ini hanya lelucon, Dia tidak akan percaya, saya yang bekas budaknya bisa memberi imbalan untuk menemukan Rahima, " tanggap Sulastri.
"Tadi kok gak ditanyakan sama pak Suma, Bu," tanya pak Pratama.
"Sudah, Pak.Tapi dia juga tidak tahu kemana mami Zelayin pindah," jawab Sulastri.
Suara ponsel di dashboard mobil berdering. Pak Sahril mengambilnya dan segera mengangkatnya. Sulastri terlihat menyandarkan kepalanya lega.
__ADS_1
"Halo, Assalamualaikum, Pak Satria."
Pak Sahril mendengar dengan seksama pembicaraan seeorang dari seberang. Sesekali Ia menoleh ke arah pak Pratama dan Sulastri. Itu membuat keduanya penasaran.
"Baik, Pak. Kami akan segera meluncur pulang."
Pak Sahril menutup panggilannya dan meletakkan kembali ponselnya. Ia kembali menatap bergantian ke arah pak Pratama dan Sulastri. Keduanya masih menunggu penasaran.
"Tadi pak Satria yang nelpon. Katanya, bu Castella meninggal dunia akibat bunuh diri,"
"Astaghfirullah," kata keduanya serempak di ikuti kalimat istirja'.
"Kapan itu, Pak," tanya Sulastri. Ia nampak kaget mengusap-usap dadanya.
"Tadi, sebelum dhuhur. Saat petugas dari kepolisian datang hendak menjemput bu Castella." Pak Sahril mendesah panjang.
"Ini mungkin buntut dari penangkapan non Rianti. Tapi untuk lebih jelasnya, kita harus ke rumah sakit dulu," kata pak Sahril. Sulastri terdiam sejenak.
"Mungkin saya gak ikut, Pak. Antarkan saya pulang dulu," kata Sulastri. Ia merasa tak sanggup jika harus melihat jasad Castella. Lebih-lebih dengan cara kematiannya yang tak wajar.
"Baik, Bu." Pak Sahril mengangguk.
Mobil yang ditumpangi mereka pun kembali melaju kencang menerobos keramaian jalan. Sebelum ke rumah sakit, terlebih dahulu pak Pratama mengantar Sulastri ke rumahnya.
Oh ya, Pak. Kapan-kapan saya minta di antar untuk menjenguk Rianti. Kasihan, saat ini dia sudah tidak punya siapa-siapa," kata Sulastri sesaat sebelum turun dari mobil. Pak Sahril terdiam memandang pak Pratama.
"Saran saya, jangan dulu, Bu. Non Rianti saat ini pasti sedang marah-marahnya sama ibu. Saya takut dia akan berkata yang tidak-tidak kepada Ibu," kata pak Sahril. Sulastri tersenyum.
"Gak apa-apa, Pak. Kalau hanya sekedar umpatan atau cacian, saya siap mendengarkannya. Saya harus mencintainya sebagaimana saya mencintai pak Yulian. Ini juga pesan bapak kepada saya. Mudah-mudahan, Rianti mau berubah hingga kelak ia bisa memimpin perusahaannya," jawab Sulastri bijak. Setelah berpamitan dengan pak Pratama dan pak Sahril, Ia kemudian masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Adzan Ashar mengalun lembut membuai telinga-telinga yang rindu pada Sang Khaliq. Membuat mereka terjaga menggunakan sedikit waktu senggangnya untuk menghadap Sang Pencipta. Tapi sebagian mereka menganggapnya angin lalu. Tak pernah mengambil pelajaran. Bahwa setelah senja, akan datang waktu gelap.