
Hujan masih deras turun saat Tuan Guru Izzul Islam yang ditemani Abdul khalik menyelesaikan makan malamnya. Hawa dingin mulai menguasai ruangan, membuat Tuan Guru Izzul Islam sedikit menggigil kedinginan. Ia meminta Abdul khalik mengambil jaket di kamarnya.
"Lik, sekalian ke dapur ya. Buatkan kita minuman susu kambing. Malam ini dingin sekali. Kalau kamu belum mengantuk, temani aku dulu di sini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Abdul khalik menganggukkan kepalanya. Setelah mengambilkan jaket untuk Tuan Guru Izzul Islam, ia langsung beres-beres membersihkan sisa makanan di meja makan dan membawanya ke dapur.
Nyai Mustiani yang belum juga bisa memejamkan matanya, bangkit dari tempat tidurnya. Berbaringnya sedari tadi jadi tak nyaman memikirkan keputusannya membatalkan perjodohan Rianti dengan Tuan Guru Izzul Islam. Walaupun ia cendrung membenarkan apa yang telah diputuskannya. Tapi permasalahan lain bergantian muncul dalam pikirannya. Termasuk menyakiti hati Tuan Guru Izzul Islam.
Nyai Mustiani melangkah pelan. Dia membuka pintu kamarnya perlahan dan mencoba mengintip ke arah luar. Tapi baru saja ia hendak mengeluarkan kepalanya, dia segera menutup pintu, ketika melihat Abdul khalik lewat membawa gelas minuman menuju ruang tamu.
Nyai Mustiani mendesah.Setelah terdiam beberapa saat di balik pintu kamarnya, Ia memutuskan membuka pintu dan keluar dari kamarnya menemui Tuan Guru Izzul Islam.
Tuan Guru Izzul Islam dan Abdul khalik bangkit ketika melihat Nyai Mustiani tiba-tiba muncul dari arah samping mereka. Tuan Guru Izzul Islam segera menyonsongnya dan mengajaknya duduk.
"Sudah hampir jam satu. Ibu kok belum tidur juga?" kata Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam memperhatikan wajah Nyai Mustiani. Tampak tak tenang. Mungkin karna belum tidur sampai semalam ini.
"Apa Ibu mau diseduhkan susu kambing juga? Hujan-hujan begini minumannya cocok yang hangat-hangat," sambung Tuan Guru Izzul Islam menawarkan minuman. Abdul khalik berdiri. Siap-siap menunggu perintah. Nyai Mustiani menggelengkan kepalanya.
"Gak usah, Nak," kata Nyai Mustiani. Abdul khalik duduk kembali. Nyai Mustiani menatap ke arah Abdul khalik. Abdul khalik menundukkan wajahnya.
"Lik, kamu ke kamarmu dulu sana. Ada yang mau ibu bicarakan sama Tuan Guru," kata Nyai Mustiani. Abdul khalik kembali menganggukkan kepalanya. Ia berdiri dan mundur perlahan.
"Lik, minumannya kok ditinggal? bawa sana ke kamarmu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Abdul khalik tersenyum dan kembali maju mengambil minumannya.
Tuan Guru Izzul Islam mendesah dan menoleh ke arah Nyai Mustiani. Ia mulai memijit lengan tangan Nyai Mustiani. Wajah Nyai Mustiani dipandangnya lekat. Wajah Nyai Mustiani malam ini terihat berbeda.
"Ibu kok tampak gelisah dan gak bersemangat?"
Nyai Mustiani tersenyum.
"Mungkin karna selarut ini ibu belum juga bisa tidur," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mendesah seraya tersenyum.
"Memangnya kenapa ibu belum bisa tidur. Gak biasanya. Apa gerangan yang sedang ibu pikirkan?"
Nyai Mustiani memandang wajah Tuan Guru Izzul Islam. Tak ada yang berbeda dari wajah tenang anaknya itu. Setiap memandang wajahnya, ia selalu merasa damai. Tapi kali ini, ia ingin menguji wajah tenang itu dengan sesuatu yang akan ia bicarakan malam ini. Sesuatu yang ia yakin akan mengagetkan Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani menepuk-nepuk tangan Tuan Guru Izzul Islam.
"Kita bicara di kamar ibu saja. Suara hujan mengganggu pendengaran ibu," kata Nyai Mustiani sembari hendak berdiri. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk dan segera membantu Nyai Mustiani untuk berdiri. Dia lalu memapahnya pelan menuju ke dalam kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Tuan Guru Izzul Islam mendudukkannya di atas tempat tidur. Beberapa bantal di atas tempat tidur di susunnya sebagai sandaran punggung Nyai Mustiani.
Nyai Mustiani meraih ponsel di dekatnya. Ia mendesah dan menatap Tuan Guru Izzul Islam.
"Nak, tadi ada tamu yang mencarimu. Tapi karna kamu masih di masjid, maka ibu yang menemaninya," kata Nyai Mustiani memulai pembicaraannya.
__ADS_1
"Tamu? Apa aku mengenalnya, Bu," tanya Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani menggeleng kecil.
"Ibu sendiri juga tak mengenalnya. Tapi katanya, dia adalah jamaah almarhum ayahmu. Ibu juga tak sempat menanyakan nama dan alamatnya," kata Nyai Mustiani.
Tuan Guru Izzul Islam terdiam. Suara angin yang menghempas di luar sana terdengar sangat keras.
"Kira-kira, ada keperluan apa, Bu,"
Nyai Mustiani mendesah panjang. Ia memegang tangan Tuan Guru Izzul Islam.
"Itulah yang ingin ibu bicarakan dengan kamu. Orang itu memberikan sesuatu kepada ibu. Sesuatu yang membuat ibu tidak bisa tidur malam ini."
Mendengar kata-kata Nyai Mustiani, Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya. Ia menatap wajah Nyai Mustiani lekat.
"Maksud ibu?" tanyanya penasaran. Nyai Mustiani membuka ponselnya. Sejenak ia nampak sibuk menggeser layar ponselnya. Tuan Guru Izzul Islam memperhatikannya dengan rasa penasaran.
Nyai Mustiani menatap Tuan Guru Izzul Islam. Ia merasa ragu memperlihatkan video itu pada Tuan Guru Izzul Islam. Dia melepaskan ponselnya pelan di depan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam memperhatikan gambar di dalam ponsel. Agak kurang jelas karna ponsel itu diletakkan terbalik. Tuan Guru Izzul Islam membaliknya. Dan ia tampak terkejut.
"Astaghfirullahal Adzim,"
Tuan Guru Izzul Islam menatap Nyai Mustiani. Nyai Mustiani mendesah panjang. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Benarkah yang aku lihat ini, Bu? Apakah wanita dalam video itu adalah Rianti?" tanya Tuan Guru Izzul Islam setengah tak percaya. Nyai Mustiani menganggukkan kepalanya pelan. Tuan Guru Izzul Islam menggelengkan kepalanya. Masih merasa tak percaya. Walaupun cover video itu nampak vulgar, Tuan Guru Izzul Islam yang masih penasaran,mencoba melihatnya sekali lagi. Kali ini agak lama. Tatapannya fokus pada wajah Rianti. Walaupun kulit wanita mirip Rianti dalam video itu lebih gelap, namun tak ada yang meragukan bahwa itu memang Rianti.
"Ibu terpaksa menghubungi Sulastri dan membatalkan sepihak perjodohanmu. Ibu tidak mau marwah keluarga kita tercoreng. Kamu cari perempuan yang lain saja, Nak. Pilih salah satu santriwatimu. Mereka ibu yakin lebih baik dari Rianti," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam mengerutkan keningnya.
"Ibu? Kenapa ibu melakukannya. Kenapa ibu tak membicarakannya terlebih dahulu denganku? Maaf, Bu. Apapun alasannya, kita harus membicarakannya baik-baik dengan pihak keluarga Sulastri,." Nyai Mustiani menggeleng keras.
"Tak perlu, Nak. Sudah jelas-jelas ini akan merusak nama baik kita, jika kita melanjutkan perjodohan ini,"
"Tapi, Bu. Lihat. Jika melihat tanggal pembuatan video ini, ini sudah terjadi enam belas tahun yang lalu. Ini jelas video masa lalu Rianti. Setelah bebas dari penjara, Rianti telah berubah menjadi pribadi yang lebih baik," kata Tuan Guru Izzul Islam. Mata Nyai Mustiani terbelalak.
"Sebentar, apa kamu tadi bilang kalau Rianti pernah dipenjara?"
Tuan Guru Izzul Islam mengangguk. Nyai Mustiani mengerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan dengan cepat.
"Kasus apa, Nak?"
Tuan Guru Izzul Islam mendongakkan kepalanya seraya mendesah panjang. Dia sudah terlanjur menceritakan ibunya. Keadaannya kini bertambah ruwet.
__ADS_1
"Pembunuhan almarhum pak Yulian Wibowo, papanya sendiri,"
Nyai Mustiani menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Sudah, Nak. Keputusan yang ibu ambil memang sudah tepat. Kamu tak pantas menikah dengan perempuan itu. Sifat jahatnya akan tetap bersemayam dalam dadanya,"
"Tidak, Bu. Kita tak boleh berburuk sangka seperti itu. Semua orang punya masa lalu yang tidak baik. Dan banyak dari mereka yang sudah berubah. Sebagian besar ulama dan para sufi berangkat dari kelamnya masa lalu mereka yang penuh dosa. Dosa yang mengantar mereka kepada taubat, hingga mendudukkan mereka pada drajat paling tinggi." Tuan Guru Izzul Islam menghentikan kata-katanya sejenak. Ia memberanikan dirinya menatap lama wajah Nyai Mustiani.
" Sampai detik ini, aku masih yakin, Rianti lah perempuan dalam istiharahku. Tuhan mengirimkannya padaku tentu ada maksudnya. Tidak, Bu. Aku akan tetap menikahi Rianti. Apapun dan bagaimanapun dia dalam pandangan orang," sambung Tuan Guru Izzul Islam mengakhiri perkataannya. Ia mendesah pelan dan menundukkan wajahnya.
Mendengar bantahan Tuan Guru Izzul Islam, wajah Nyai Mustiani terlihat tidak senang.
"Cukup kamu berdalil dengan mimpimu itu. Mimpi itu sudah kedaluarsa. Baktimu pada ibumu yang tak akan pernah kedaluarsa. Bisa jadi mimpimu itu kelak adalah jelmaan bidadari di surga. Sudah, ikuti saja perintah ibu. Jangan membantah."
Tuan Guru Izzul Islam mengusap wajahnya.
"Ya Allah, Bu. Kali ini aku yang meminta pada ibu untuk mendengarku sekali saja. Rianti sudah ber...,"
"Sudah, sudah. Ibu tidak mau mendengar itu lagi. Ayo,kamu keluar sana. Ibu mau tidur. Jangan temui ibu jika kamu membela Rianti lagi. Apa yang ibu putuskan adalah yang terbaik untukmu," kata Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam menundukkan kepalanya. Ia mendesah pelan. Ia menatap wajah Nyai Mustiani. Wajah Nyai Mustiani terlihat tidak senang. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia meraih tangan Nyai Mustiani dan menciumnya. Tak lupa, sebelum meninggalkan ruangan itu, Tuan Guru Izzul Islam mencium kening Nyai Mustiani.
"Assalamualaikum, Bu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani menjawab pelan. Tuan Guru Izzul Islam melangkah keluar ruangan.
* * * * *
Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah pintu kamar Nyai Mustiani. Ia mendesah panjang dan mendongak beberapa saat. Setelah itu ia melangkah gontai menuju kamarnya.
Di dalam kamarnya, Tuan Guru Izzul Islam menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Ia menundukkan kepalanya dan memejamkan matanya. Ia mendesah. Kali ini ia merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Ia mulai merasa gelisah. Dan ia merasa takut. Takut kehilangan Rianti. Takut tak bisa menikahi Rianti.
Tuan Guru Izzul Islam membuka matanya perlahan. Wajahnya diusapnya beberpa kali. Membantah titah ibunya adalah sesuatu yang berat baginya. Tapi di sisi lain, apa yang dilakukan ibunya dengan secara sepihak memutuskan perjodohan itu adalah salah. Dia tak tahu bagaimana perasaan Sulastri dan Rianti saat ini. Dia harus segera minta maaf. Dia harus ke rumah Sulastri besok.
Tuan Guru Izzul Islam bangkit dan melangkah menuju tempat tidurnya. Setelah melepaskan kopiah dan sorbannya di atas meja, ia membaringkan tubuhnya perlahan. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar. Malam ini ia merasa tak setenang malam-malam sebelumnya ketika ia menghadapi masalah. Wajah Rianti kini seperti terpajang kemana ia mengarahkan pandangannya. Ia hanya manusia biasa. Kali ini ia merasa putus asa setelah selama lima belas tahun menunggu penuh kesabaran.
"Astaghfirullah..." desah Tuan Guru Izzul Islam panjang. Ia bangkit dan turun dari tempat tidurnya. Setelah beberapa saat berdiri menatap bayangannya, ia memutuskan keluar mengambil air wudhu'.
** * * *
Malam semakin larut. Hujan mulai reda. Suasana dingin terasa oleh hawa tanah yang terhembus angin. Suara kodok yang bersahut-sahut ramai mengalahkan suara binatang malam lain, seperti irama suka cita atas datangnya musim penghujan. Pohon-pohon tabebuya di halaman rumah yang sebelumnya kering meranggas, kini telah mengeluarkan tunas-tunasnya yang menghijau.
Di atas sajadahnya, Rianti khusyu' membaca ayat-ayat Al-Qur'an di depannya. Sulastri sendiri sudah terlelap dalam tidurnya di atas ranjang. Suara lembut Rianti membaca Al-qur'an dalam hening ruang, perlahan meninabobokan Sulastri dalam mimpi panjangnya.
__ADS_1
"Shodaqallahul Adzim."
Rianti mengakhiri bacaan Al-qur'annya dan menutupnya. Ia lalu menengadahkan tangannya dan mulai berdoa dengan khusyu'.