KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#248


__ADS_3

Malam beranjak larut. Tuan Guru Izzul Islam masih menyandarkan tubuhnya di dekat Rianti berbaring. Setelah empat malamnya ia melaksanakan shalat istiharah, ia merasa sudah waktunya untuk menyampaikannya kepada Rianti.


Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Rianti yang terlihat damai dalam tidurnya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Rambut Rianti diusapnya lembut. Rianti membuka matanya perlahan.


"Astaghfirullah, Maafkan aku, Dik. Aku mengganggu tidur adik," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah menyadari Rianti terjaga dari tidurnya. Rianti tersenyum sembari mengusap-usap kedua matanya.


"Gak apa-apa, Kak Tuan. Lagi pula, tak seharusnya aku tidur saat Kak Tuan masih terjaga," kata Rianti. Ia lalu mengangkat tubuhnya dan membaringkan kepalanya di dada Tuan Guru Izzul Islam. Sembari menatap Tuan Guru Izzul Islam, tangannya lembut memijit-mijit dagu Tuan Guru Izzul Islam.


"Ada apa? Kak Tuan kok belum tidur?" tanya Rianti. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Rambut Rianti kembali diusapnya. Ia mendesah panjang.


"Sebenarnya, ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Tuan Guru Izzul Islam memalingkan pandangannya ke arah tulisan kaligrafi yang tergantung di tembok. Rianti mengerutkan keningnya. Sepertinya ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan Tuan Guru Izzul Islam.


"Katakan, apa yang ingin Kak Tuan sampaikan," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Tapi kamu harus janji. Kamu tidak akan marah," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti menatap lekat mata Tuan Guru Izzul Islam. Ia mencoba menerka apa gerangan yang akan disampaikan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan mencolek dagu Rianti ketika melihat Rianti hanya diam sambil memperhatikannya.


"Kak Tuan mau nikah lagi?" tanya Rianti.


"Ee...," Tuan Guru Izzul Islam menggaruk-garuk kepalanya.


"Mungkin," lanjut Tuan Guru Izzul Islam singkat. Rianti mengangkat kepalanya. Kini ia duduk dengan posisi menghadap Tuan Guru Izzul Islam.


"Kok mungkin?" tanya Rianti.


"Kalau kamu mengijinkan," jawab Tuan Guru Izzul Islam singkat.


Rianti menggelengkan kepalanya.


"Kita sudah sepakat. Jika Kak Tuan ingin menikah lagi, maka Kak Tuan harus mengantongi ijin dari ketiga istri Kak Tuan. Kita harus memanggil Qurratul Aini dan Jamila. Jika kami sudah sepakat, maka Kak Tuan boleh menikah lagi," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.

__ADS_1


"Kamu sendiri bagaimana?"


Rianti mengangkat kedua alisnya.


"Kalau aku, siapapun wanita pilihan Kak Tuan, aku pasti mengijinkannya. Tapi ijinku gak cukup sebelum ada ijin dari keduanya," kata Rianti. Ia lalu membaringkan tubuhnya dengan kepala di atas dada Tuan Guru Izzul Islam.


Tuan Guru Izzul Islam mendongakkan kepalanya. Ia terdiam beberapa saat. Rianti fak berusaha menegurnya. Ia memperhatikan saja Tuan Guru Izzul Islam yang tampak tersenyum-senyum sendiri. Karna Rianti tak kunjung juga menegurnya seperti yang ia inginkan, Tuan Guru Izzul Islam menoleh. Jari-jari tangannya dimasukkan disela-sela rambut Rianti.


"Sebenarnya?"


Rianti mendongakkan pandangannya ke arah wajah Tuan Guru Izzul Islam. Ia masih menunggu kelanjutan kata-kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Aku ingin melamar Layla."


Sontak Rianti mengangkat kepalanya dan bangun.


"Kalau sama Layla, aku yakin Jamila dan Aini pasti setuju. Gak perlu musyawarah dulu. Lewat telpon saja, malam ini pasti beres," kata Rianti antusias. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Dipandanginya wajah Rianti beberapa lama. Kening Rianti kemudian dikecupnya lembut.


"Aku ingin melamar Layla...untuk dik Fahmi," kata Tuan Guru Izzul Islam. Rianti mendesah panjang. Ia memegang kedua pipi Tuan Guru Izzul Islam dan mencubitnya.


"iih, Kak Tuan menyebalkan. Kenapa gak langsung ke intinya saja," kata Rianti dengan muka cemberut. Tuan Guru Izzul Islam langsung memeluknya.


"Memangnya kamu gak setuju dik Fahmi dengan dik Layla," kata Tuan Guru Izzul Islam.


"Setuju banget. Mungkin aku lebih dulu kepikiran itu daripada Kak Tuan," jawab Rianti.


"Terus, kenapa kamu gak mengatakannya?"


"Aku masih menunggu Kak Tuan. Aku takut. Jangan sampai ketika aku menjodohkan dik Fahmi dengan dik Layla, Kak Tuannya juga menginginkan Layla," kata Rianti.

__ADS_1


"Kan aku sudah bilang. Untuk sementara waktu, istriku cukup tiga dulu. Kalian saja yang maksa,"


"Memangnya Kak Tuan ada rencana mau nambah lagi?"


Tuan Guru Izzul Islam mengangkat kedua pundaknya.


"Gak ada rencana sih, tapi kita tidak tahu apa rencana Allah nanti,"


Rianti menoleh ke arah jam dinding. Sudah jam dua malam. Ia lalu mengambil selimutnya dan menutupi sebagian tubuhnya. Ia kemudian memejamkan matanya. Tuan Guru Izzul Islam mengernyitkan dahinya. Ia heran melihat senyum terus tersungging di bibir Rianti dengan mata terpejam. Tuan Guru Izzul Islam mencolek pipi Rianti.


"Kamu kok senyum-senyum gitu? Ada apa?" tanya Tuan Guru Izzul Islam. Rianti membuka matanya. Senyumnya tersungging lebar.


"Gak sabar menunggu subuh. Ingin cepat-cepat membertahukan dik Fahmi. Aku bahagia sekali Kak Tuan. Tapi semoga saja dik Layla nya mau sama dik Fahmi," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya dan membaringkan tubuhnya pelan di samping Rianti. Tubuh Rianti kemudian dipeluknya erat. Rianti tersenyum manja sambil menggesek-gesekkan punggungnya di dada Tuan Guru Izzul Islam.


** * * *


Layla yang sedang berbaring di atas sajadahnya melonjak bangkit ketika mendengar suara pintu kamarnya diketuk. Ia memperbaiki mukena yang dipakainya dan segera melangkah menuju pintu. Perlahan ia membuka pintu kamarnya. Dan betapa terkejutnya ketika melihat dua orang laki-laki di depan pintunya. Spontan Layla menutup kembali pintu kamarnya. Nafasnya turun naik. Ia memijat kedua matanya dan terdiam sejenak di depan pintu. Ia masih belum percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Dari mana kedua orang laki-laki yang dikenalnya itu muncul dan tiba-tiba saja berada di luar kamarnya.


Tangan Layla bergetar ketika ia memegang kembali daun pintu dan membukanya perlahan. Kali ini Layla hanya tertegun menatap kedua laki-laki tampan yang tersenyum kepadanya. Tak sampai di situ, salah satu laki-laki itu memegang tangannya dan menariknya pelan keluar dari kamarnya. Walaupun masih bingung, Layla ikut saja ketika laki-laki itu mengajaknya berjalan ke ruang tamu.


Layla menoleh ke belakang. Laki-laki yang satunya juga ikut-ikutan memegang tangannya dari belakang.


Tiba-tiba bu Sofia dan pak Nurasmin muncul dari arah depan. Itu membuat Layla kaget dan berusaha melepaskan pegangan tangan keduanya.


Layla melonjak kaget dan terbangun dari tidurnya. Ia menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Fahmi dan Tuan Guru Izzul Islam kembali muncul dalam mimpinya pada malam ke empat setelah dua malam sebelumnya tak ada apapun yang terlihat dalam tidurnya. Kali ini terasa begitu nyata. Bahkan bekas pegangan tangan keduanya masih terasa hangat dan seperti masih menggenggam tangannya.


Layla mendesah pelan. Dia merasa sudah cukup untuk menyimpulkan petunjuk yang diberikan Tuhan dalam mimpinya. Jodohnya adalah salah satu dari keduanya. Tak perlu menganggap salah satu dari keduanya lebih baik dari yang lainnya. Dan detak dalam hatinya pun, sejak pertama kali memimpikan keduanya, lebih cenderung kepada keduanya dari pada calon-calon yang lain.


"Bismillah." Layla bangkit dari duduknya setelah melepas mukenanya dan meletakkannya di atas sajadahnya. Senyumnya tersimpul saat melirik ke arah jam dinding. Sudah jam 3 malam. Hatinya sekarang menjadi lebih tenang. Tak lagi terbebani dengan pilihan-pilihan yang sebelumnya mengganggu pikirannya. Seandainya malam ini Fahmi ataupun Tuan Guru Izzul Islam datang melamarnya, ia akan langsung menjawab Ya. Layla menutup mulutnya dengan punggung telapak tangannya ketika ia mulai menguap. Tapi sebentar lagi subuh. Ada baiknya ia mengambil wudhu' dan mengaji sambil menunggu waktu subuh tiba. Layla mengangkat tubuhnya pelan. Ia kemudian melangkah mantap keluar rumah untuk mengambil air wudhu'.

__ADS_1


__ADS_2