KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#109


__ADS_3

Pagi kembali merekah cerah. Suara ramai burung-burung di ranting-ranting pohon tabebuya depan rumah,menarik hati Sulastri untuk keluar menikmati suasana pagi di teras rumah. Ia terlihat rapi dengan gamis warna hitam berpadu dengan kerudung dengan warna yang sama. Aroma secangkir kopi panas di depannya menggugah seleranya untuk segera menyeruputnya.


Selepas shalat subuh tadi, ia sudah menghubungi pak Sahril dan pak Pratama untuk membawa istri masing-masing untuk menjemput Rianti hari ini. Dia ingin memperlihatkan kepada Rianti bahwa orang-orang perusahaan berbahagia dengan kebebasannya. Malam nanti, ia juga telah mempersiapkan acara selamatan di rumah itu.


"Munawarah, kamu ajak suamimu kesini ya. Kita akan sarapan bareng. Panggil juga pak Mustarah dan Masku," kata Sulastri saat Munawarah meletakkan menu sarapan di atas meja.


"Baik, Bu," kata Munawarah. Ia segera berjalan menuju pos jaga. Pak Bayan, Masku juga pak Mustarah yang kebetulan sedang menikmati kopi pagi mereka, terlihat mendekat ke teras rumah.


"Jam berapa berangkatnya, Bu," kata pak Mustarah sesaat setelah duduk di depan Sulastri. Sulastri mencomot sebiji kerupuk sapi di dalam wadah plastik. Dia melirik ke arah jam tangannya.


"Setelah sarapan ini, Pak. Kita akan bertemu pak Sahril dan pak Pratama di Masjid Besar," jawab Sulastri. Kerupuk sapi ditangannya mulai dimakannya. Bi Aisyah dan Munawarah segera mengambil tempat duduk dekat Sulastri. Setelah semuanya berkumpul, Sulastri mempersilahkan mereka menyantap makanan masing-masing.


"Bi Aisyah dan Munawarah, nanti malam kita akan sibuk lagi kedatangan tamu. Kita akan mengadakan selamatan untuk menyambut kedatangan non Rianti ke rumah ini. Bi Aisyah dan Munawarah hanya mempersiapkan minuman saja, makanannya akan kita suplai dari rumah makan. Saya sudah menghubungi bu Trianti dan Retno untuk mempersiapkannya," kata Sulastri usai menyantap makanannya.


"Tamunya dari mana saja, Bu," kata bi Aisyah.


"Kita hanya mengundang anak yatim di panti asuhan kita. Hanya acara zikiran dan pembacaan yasin saja. Kurang lebih seratus lima puluh orang," kata Sulastri. Ia lalu bangkit.


"Gak usah terburu-buru, Pak Bayan. Ayo di teruskan makannya. Masku, Ayo tambah lagi nasinya, Nak," kata Sulastri. Pak Bayan dan Masku mengangguk. Sulastri lalu masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama kemudian, ia keluar lagi. Pak Mustarah yang sedang asik memakan kerupuk di depannya segera mencuci tangannya. Ia bangkit ketika melihat Sulastri sudah keluar dari rumah.


"Ayo semuanya, saya berangkat dulu," kata Sulastri sembari berjalan diikuti pak Mustarah menuruni teras menuju mobil. Pak Mustarah membunyikan klakson mobilnya satu kali ketika mobil sudah keluar dari gerbang rumah.

__ADS_1


* * * * *


Sementara itu, Rianti tampak tak bersemangat melihat Jamila merapikan pakaian miliknya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia juga enggan membantu Jamila merapikan pakaian yang akan ia bawa pulang hari ini. Entah, ia tidak tahu perasaannya saat ini. Di sisi lain, ia merasa senang karna akan segera bebas menghirup udara bebas. Tapi di sisi lain, ia merasa sedih dan berat meninggalkan Jamila yang telah menemaninya di ruang sempit selama lima belas tahun. Jamila sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. Jamila juga yang dengan sabarnya mengajarkannya cara membaca Al-qur'an, sehingga kini ia begitu mahir membacanya. Jamila harus menghabiskan masa tahanannya lima tahun lagi karna kasus narkoba yang menjeratnya. Jika dibolehkan, ia ingin tetap di sana dan menunggu sampai Jamila benar-benar bebas dari penjara. Ia ingin merasakan kebahagiaan kebebasan itu bersama dengan Jamila.


Jamila mendesah dan tersenyum ke arah Rianti.


"Gak usah bersedih, Rianti. Aku yakin sebentar lagi aku bebas. Gak sampai lima tahun, kok. Doakan saja biar aku dapat remisi umum II biar langsung bebas," kata Jamila mencoba menghilangkan kesedihan Rianti. Rianti tersenyum, tapi tak sepenuhnya melebar di bibirnya. Ia menatap wajah Jamila,lalu mendekatinya. Ia memeluk Jamila erat. Jamila tersenyum dan membalas erat pelukan Rianti. Isak tangis Rianti terdengar.


"Sudah, aku gak suka kalau kamu menangis. Yang paling membuatku bahagia saat ini hanyalah melihatmu bebas. Aku pasti keluar. Satu lagi. Aku tidak punya siapa-siapa di luar sana. Jadi, kalau aku keluar nanti, siapkan satu kamar untukku ya," kata Jamila. Ia melepaskan pelukan Rianti. Mata Rianti yang sembab dengan air mata di usapnya lembut dengan tangannya.


"Tidak hanya kamar, Jamila. Aku berjanji akan membuatkanmu rumah," kata Rianti. Jamila tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Maaf, Aku cuma becanda," kata Jamila.


"Saudari Rianti, ada tamu." Seorang petugas telah berdiri di luar jeruji kamar. Rianti mendesah pendek. Ia menatap Jamila. Jamila tersenyum dan membantu tubuh Rianti berdiri.


"Ayo, Aku bawakan tas kamu," kata Jamila. Rianti menggeleng.


"Tidak, Jamila. Kita masih punya banyak waktu untuk bersama. Aku pulang nanti malam saja," kata Rianti. Jamila mendesah. Kata-kata Rianti membuatnya terpengaruh juga. Air mata yang sedari tadi ditahannya,akhirnya keluar juga. Ia kembali memeluk tubuh Rianti. Isak tangisnya terdengar lebih keras dari tangis Rianti. Petugas itu hanya berdiri menyaksikan keduanya.


"Silahkan, Saudari Rianti. Tamunya sudah menunggu lama," kata petugas ketika melihat tangis mereka mulai reda. Jamila segera mengusap air mata Rianti. Ia lalu mendorong tubuh Rianti keluar.

__ADS_1


"Aku akan kembali lagi. Jangan bawa pakaianku," kata Rianti. Ia menoleh ke belakang ketika baru beberapa langkah berjalan di belakang petugas. Jamila tersenyum menganggukkan kepalanya.


* * ** *


Sulastri menghentikan langkahnya ketika salah satu kakinya berada di ruang tunggu. Ia mendesah. Raut wajahnya tampak tak begitu senang. Ia memilih diam di depan pintu.


"Rianti. Selamat atas kebebasanmu, Nak," kata Pak Jamal sembari bangkit dari tempat duduknya. Ia langsung mendekati Rianti dan memeluknya. Rianti hanya diam saja. Pandangan matanya tertuju ke arah pak Efendi yang tersenyum ke arahnya.


"Ayo, duduklah. Ada yang perlu kita bicarakan," kata pak Jamal. Ia lalu merangkul tubuh Rianti menuju tempat duduk.


"Oh ya, perkenalkan ini Pak Efendi," kata pak Jamal sambil menunjuk ke arah pak Efendi.


"Saya sudah kenal, Pak," kata Rianti. Ia mendesah dan duduk.


"Non Rianti ini saya lihat kok tambah cantik saja. Sudah pakai jilbab lagi," kata pak Efendi. Rianti tak menjawab. Matanya seperti malas menatap pak Efendi.


"Bapak kesini untuk menjemputmu. Bapak sudah menyiapkan sebuah rumah untukmu. Jadi, kamu gak perlu pusing-pusing memikirkan tempat tinggal. Nanti, kalau kamu sudah berhasil mengambil alih kembali perusahaan papamu, kamu bebas tinggal dimana saja," kata pak Jamal. Pak Efendi mendesah. Ia menggaruk-garukkan kepala sembari menggeleng. Ia tampak tidak setuju pak Jamal terlalu tergesa-gesa ke inti pembicaraan.


Rianti bangkit dari duduknya.


"Maaf, Aku gak suka kalau Bapak membicarakan masalah ini lagi. Sudah aku bilang, aku sudah tidak tertarik lagi membicarakan perusahaan. Aku ikhlas perusahaan dipegang ibu. Dia juga berhak karna dia adalah istri sah papa," kata Rianti sengit. Dia tidak peduli lagi dengan siapa ia berbicara.

__ADS_1


__ADS_2