
Semilir angin pagi meniup wajah Tuan Guru Izzul Islam, Rianti dan Jamila yang sedang menikmati pagi di teras rumah. Hari ini, tak ada aktifitas apapun,baik bagi Rianti dan Tuan Guru Izzul Islam. Tapi setelah shalat subuh berjamaah tadi, Rianti sudah meminta ijin kepada Tuan Guru Izzul Islam untuk pergi menemui Layla hari ini. Untuk sementara ini, Jamila tak boleh tahu. Ia akan menunggu dulu hasil pembicaraannya dengan Layla. Tapi masalahnya, mereka sudah merencanakan jauh-jauh hari. Hari minggu ini, mereka akan pergi jalan-jalan bersama.
Rianti menyeruput susu hangat di depannya. Ia kemudian bangkit dan duduk di samping Jamila.
"Jamila, jalan-jalannya ke pantai Pink sama Kak Tuan dan Azka saja ya? Ada yang harus aku bicarakan dengan salah satu partner bisnis perusahaan hari ini," kata Rianti sambil memegang pundak Jamila. Jamila mengerutkan dahinya.
"Hari minggu masih rapat?" tanya Jamila sambil menggelengkan kepalanya. Rianti tersenyum.
"Ok, aku janji, besok aku gak ngantor. Kita pergi lagi jalan-jalan ke pantai pink, sekalian mau berkunjung ke Authore. Gimana?" rayu Rianti. Ia tahu Jamila kecewa karna rencana jalan-jalan bersama tak pernah terlaksana karna kesibukannya dan kesibukan Tuan Guru Izzul Islam.
"Tapi Kak Tuan ikut juga kan?" kata Jamila. Rianti melirik ke arah Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam menatap ke atas sambil menggerak-gerakkan kedua bola matanya ke atas. Jamila terlihat cemberut.
"Kalau aku gak bersama keluarga lengkapku, aku gak akan kemana-mana," kata Jamila. Masih dengan muka cemberutnya. Tuan Guru Izzul Islam melirik Rianti sambil tersenyum. Rianti ikut tersenyum.
Tuan Guru Izzul Islam bangkit. Kepala Jamila dipegangnya dan mencium lembut keningnya. Jamila masih terlihat cemberut. Kembali Tuan Guru Izzul Islam mencium keningnya. Kali ini lebih lama dari sebelumnya. Rianti yang melihat itu tak bisa menahan tawanya. Tawa Jamila ikut pecah ketika melihat Rianti memegang perutnya. Ia segera mencubit perut Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam yang merasa kesakitan dengan cubitan Jamila, segera menarik tubuhnya mundur dengan gaya slow motion. Ekspresi yang membuat Jamila dan Rianti tak bisa menghentikan tawanya.
"Ssst..., sudah, nanti dilihat sama anak-anak santri. Malu," kata Rianti sambil menoleh ke arah kamar Abdul khalik. Ia masih memegang perutnya karna masih menahan tawa melihat Tuan Guru Izzul Islam. Baru kali ini ia melihat Tuan Guru Izzul Islam dengan ekspresi selucu itu.
"Ok, aku janji besok kita akan pergi jalan-jalan. Aku akan meliburkan semua kegiatanku," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah suasana menjadi tenang kembali. Rianti dan Jamila tersenyum.
"Zaebonnya sudah dipanggil, Dik?"
"Sudah aku sms tadi malam," jawab Rianti. Baru saja dibicarakan, Zaebon muncul dari arah samping rumah dan langsung berhenti dengan posisi setengah membungkuk memberi hormat.
__ADS_1
"Wah, panjang umur kamu, Zaebon. Baru saja kami membicarakanmu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam kemudian menyuruh Zaebon duduk di sampingnya.
"Sudah jam berapa, Kak Tuan," tanya Rianti sambil melirik ke arah jam tangan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam memeriksa jam tangannya.
"Jam delapan lewat tujuh menit,"
Rianti menoleh ke arah Zaebon.
" Kayaknya kita harus cepat berangkat, Bon. Nanti kita terlambat. Tunggu sebentar ya, Aku mau ganti baju dulu," kata Rianti sembari bangkit dari tempat duduknya. Zaebon menganggukkan kepalanya.
"Loh, Gak sarapan dulu?" kata Jamila.
"Nanti saja. Aku ijin langsung berangkat ya, Kak Tuan?"
Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya. Rianti kemudian masuk ke dalam rumah.
Nada ponsel terdengar berdering keras dari dalam kamar Layla. Layla yang sedang membersihkan ruang tamu, tak menghiraukannya. Debu-debu yang menumpuk di bawah meja ruang tamu, membuatnya enggan untuk memeriksa ponselnya.
Untuk kedua kalinya, ponsel di kamarnya kembali berdering. Layla mendesah kesal. Sapu di tangannya terpaksa dilepasnya. Ia paling tidak suka diganggu saat pekerjaannya belum selesai. Tapi suara dering ponsel begitu mengganggu telinganya. Dia lupa mengecilkan volume ponselnya setelah tadi malam dia sempat melakukan video call dengan teman-teman sekelasnya.
Setelah mengibas-ngibas debu di pakaiannya, Layla segera bergegas menuju kamarnya. Ia kembali mendesah. Setibanya di depan pintu kamarnya, ponselnya berhenti berdering. Tapi karna sudah terlanjur di depan pintu, ia memutuskan masuk.
Layla memperhatikan nomor tanpa nama yang tertera di layar ponselnya. Biasanya, ia tak akan mengangkat atau meladeni nomor yang tidak ada dalam kontak ponselnya. Ia trauma dengan nomor tak dikenal. Banyak cowok yang pura-pura salah nomor tapi ujung-ujungnya minta kenalan. Bahkan ada yang pembicaraannya tidak etis dan jorok.
__ADS_1
Layla meletakkan kembali ponselnya di atas ranjang. Tapi ketika ia hendak membalikkan badannya keluar kamar, ponsel kembali berdering. Tapi kali ini adalah dering pesan masuk.
Layla mengerutkan keningnya saat membaca pesan yang masuk. Dadanya seketika berdebar kencang ketika melihat nama yang tertera di bawah pesan.
Kak Rianti?
Layla tercenung. Tangannya bergetar. Semakin ia memegang erat ponselnya, tangannya semakin bergetar hebat. Rianti menyuruhnya menelponnya balik karna ada urusan penting yang harus dibicarakan.
Apakah ini ada kaitannya dengan surat pengumuman yang ia kirimkan kemarin pagi? Ia sudah sangat yakin Tuan Guru Izzul Islam tidak akan memberitahukan siapa-siapa, termasuk istrinya terkait maksud surat itu. Siapapun selain dirinya dan Tuan Guru Izzul Islam, tak akan tahu, jika tidak Tuan Guru Izzul Islam sendiri yang memberitahunya. Apakah Rianti marah? Dan seperti yang sering ia tonton di snack video, istri-istri yang melabrak pelakor karna merebut suami-suami mereka. Apakah itu yang kini akan dilakukan Rianti kepadanya? Entah kenapa ia tiba-tiba merasa takut mendengar nama Rianti. Rianti punya aura yang mengagumkan. Tiga kali ia bertemu dengannya, ia tak pernah benar-benar bisa menatap matanya secara langsung. Tapi satu lagi yang berbeda, yang ia rasakan saat ini. Ia tiba-tiba takut dan merasa malu disebut perebut suami orang.
Layla melonjak kaget. Nada ponsel yang kembali berdering membuatnya tak sadar telah membuang ponselnya. Nasib baik ponsel itu jatuh di atas ranjang.
"Astaghfirullah...," Layla mengusap-usap dadanya. Ia terdiam memejamkan matanya sejenak. Setelah merasa dirinya agak tenang, ia naik ke atas ranjang dan mengambil ponselnya.
"Assalamualaikum, Kak," kata Layla dengan suara bergetar ketika mendengar suara Rianti dari arah seberang.
"Sekarang, Kak?" tanya Layla setelah beberapa saat mendengar dengan seksama pembicaraan Rianti. Tangannya masih terlihat bergetar sehingga ponsel yang ia tempelkan di telinganya selalu bergerak kemana-kemana.
"Baik, Kak. Waalaikum salam."
Layla melepas ponsel di tangannya dan membiarkannya jatuh di atas ranjang. Rianti menyuruhnya menunggunya di depan rumah. Ada yang ingin ia bicarakan. Tapi tidak di rumah. Ia akan mengajaknya jalan-jalan sebentar ke pantai. Ini pasti ada kaitannya dengan rahasia antara dirinya dengan Tuan Guru Izzul Islam.
"Bismillah!
__ADS_1
Layla bangkit dan turun dari ranjangnya. Ia sudah terlanjur memulainya. Dia merasa harus bertanggung jawab dan bersiap menerima apapun resiko dari perbuatannya. Kalau Rianti memarahinya ataupun mungkin mencacinya, itu wajar. Dia harus segera keluar sebelum ibunya pulang dari pasar.
Layla segera mengganti pakaian dan memasang jilbabnya. Setelah memoles sedikit make up di wajahnya, ia segera keluar dari kamarnya. Di bawah pohon mahoni tepi jalan, berjarak beberapa meter dari rumahnya, ia menunggu Rianti.