KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#118


__ADS_3

Karna kursi mobil bagian belakang kosong, Sulastri memilih pindah duduk ke bagian belakang bersama Rianti. Selain itu, sikap membingungkan Rianti saat berada di rumah Tuan Guru Izzul Islam masih membuat Sulastri penasaran. Ia tidak mau melihat Rianti menyimpan masalah yang ia hadapi sendirian. Apalagi sejak memasuki mobil, ia lihat Rianti nampak senyum-senyum sendiri. Sikap yang berbeda dari yang ia lihat saat masih di dalam rumah. Perjalanan menuju kawasan segui masih beberapa jam lagi untuk sampai. Mungkin Rianti juga mau menceritakan masalahnya.


Setelah melambaikan tangannya ke arah Fahmi, Farida, dan Rayhan yang berdiri di depan gerbang mengantar kepulangan mereka,Sulastri memerintahkan pak Mustarah melanjutkan perjalanan ke kawasan Segui.


"Nak, ceritakan sama ibu kalau kamu lagi ada masalah," kata Sulastri. Rianti yang mulai menyandarkan kepalanya manja di pundak Sulastri menatap Sulastri sambil tersenyum.


"Ibu pasti ingin menanyakan kejadian tadi di rumah Tuan Guru." Rianti mendesah. Kepalanya di angkat dan menyandarkannya di kursi seraya tetap menatap Sulastri. Sulastri mengangguk.


"Ibu kok jadi cemas melihatmu seperti tadi. Ibu jadi bertanya-tanya, kenapa kamu berubah tiba-tiba seperti itu," kata Sulastri.


"Aku kesal, Bu. Aku kesal karna tidak bisa mengingat dimana aku pernah melihat Kalighrafi di rumah Tuan Guru," kata Rianti. Senyumnya melebar.


"Ternyata itu pernah aku lihat di dalam penjara, itu sebabnya aku tersenyum-senyum sendiri dari tadi," sambung Rianti.


Sulastri menatap lekat wajah Rianti seperti hendak menelisik kejujuran di mata Rianti.


"Yakin?" tanya Sulastri tanpa berkedip. Rianti tersenyum. Ia mencubit pipi Sulastri.


"Ya Allah, Bu. Masak Rianti berbohong sama ibu,"


"Terus, kenapa kamu pandang Tuan Guru seperti tadi. Atau jangan-jangan kamu jatuh cinta ya,"


"Ih, Ibu. Apaan sih. Ranti cuma kagum kok," kata Rianti tersipu malu. Sulastri tersenyum. Ia mendekatkan wajahnya.


"Tuan Guru masih bujangan lo, umurnya kurang lebih sama dengan kamu," bisik Sulatri. Wajah Rianti merona merah.


"Ah, ibu. Lagi pula mana pantas aku yang hina ini disandingkan dengan Tuan Guru yang alim dan mulia. Aku cuma mengagumi, Bu," kata Rianti. Sulastri memeluk tubuh Rianti.


"Jangan merendah seperti itu. Masa lalu adalah masa lalu. Orang besar belajar dari masa lalunya. Orang yang baik belajar dari masa lalunya," kata Sulastri. Rianti mendesah menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya sudah, ibu mau tidur dulu mumpung perjalanannya masih jauh," kata Sulastri. Ia lalu menyandarkan kepalanya dekat jendela mobil.


"Oh ya, terkait amalan yang kamu minta dari Tuan Guru, nanti adikmu Fahmi akan mengirimkannya ke nomor WA mu," kata Sulastri sambil memejamkan matanya.


Rianti tersenyum. Ia mengusap punggung Sulastri.


Suasana menjadi sepi. Hanya terdengar suara mesin mobil dan suara kendaraan yang berseliweran di jalan raya. Rianti menggeser tubuhnya hingga dekat ke jendela mobil. Suara dengkur Sulastri sesekali terdengar.


Rianti mendesah. Tatapan matanya menerawang ke arah luar jendela. Dia kembali ingat mimpinya di penjara yang ia ingat ketika keluar dari rumah Tuan Guru Izzul Islam. Kalighrafi yang ia lihat dalam mimpinya di penjara, sama persis dengan kalighrafi yang ia lihat di rumahnya Tuan Guru Izzul Islam. Dari segi tulisan, warna, nyaris tak ada yang berbeda. Dia jadi penasaran apa arti kalighrafi itu. Dia berfikir, mungkin saja ada pertanda atau petunjuk untuk perbaikan dirinya dari mimpi tersebut. Dan tatapannya ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam? entah, ia tiba-tiba saja melakukannya. Saat itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda hingga ia sulit memalingkan wajahnya dari melihat Tuan Guru Izzul Islam. Bukan karna ketampanannya, tapi lebih kepada sesuatu yang sulit untuk ia ceritakan.


Rianti menoleh ke arah Sulastri yang tampak terlelap dalam tidurnya. Sulastri juga masuk dalam mimpinya. Dia mengalungkannya sorban hijau dan mengajaknya ke suatu tempat hingga mimpinya berakhir. Semuanya seperti mengarah kepada sesuatu yang sedang dipikirkannya kini. Semua seperti saling terkait. Rasa yang berbeda ketika memandang Tuan Guru Izzul Islam, kalighfari emas, juga sorban hijau dalam mimpinya yang mirip dengan sorban yang dipakai Tuan Guru Izzul Islam.


Rianti mendesah. Ia menengok ke arah pak Mustarah yang fokus mengemudikan mobil. Rianti memperbaiki posisi duduknya.


"Masih jauh, Pak," sapa Rianti. Pak Mustarah menatap Rianti lewat kaca spion.


"Kurang lebih tinggal satu jam lagi, Non. Non Rianti istirahat saja dulu,"kata pak Mustarah.


"Diminum, Pak. Biar segar," tawar Rianti. Pak Mustarah tersenyum.


"Terimakasih, Non."


* * * * *


Udara siang terasa terik menyengat. Hawa panas terlihat menguap di permukaan aspal. Panasnya memantul, membuat pejalan kaki dan pengendara sepeda motor memilih istirahat di tempat-tempat teduh di pinggir jalan.


Pepohonan di tepi jalan menuju kawasan segui hampir seluruhnya menggugurkan daunnya. Pohon-pohon singon terlihat banyak yang tumbang di sisi jalan. Hawa dan hembusan angin laut terasa sekali. Pemandangan nampak kering kerontang.


* * * * *

__ADS_1


Qurratul Aini masih terbaring malas di atas tempat tidurnya. Dari pagi tadi ia hanya keluar untuk sarapan dengan ayah dan ibunya. Selanjutnya ia memilih masuk dan mengurung dirinya di dalam kamarnya. Selain mengantuk dan tak bersemangat karna tak tidur semalaman, ia juga belum menemukan petunjuk yang menguatkan hatinya untuk memutuskan memilih salah satu dari dua pilihan sulit yang disodorkan hatinya. Tak ada tanda apa-apa. Hatinya pun tak condong kepada salah satu. Itu yang membuatnya sulit menenangkan diri dan memejamkan matanya. Pilihan antara Tuan Guru Izzul Islam dan Cristian sama-sama kuat. Itu membuat ruang dalam hatinya dipenuhi oleh rasa tidak menentu.


Qurratul Aini bangkit dari berbaringnya. Ialu melangkah menuju meja kecil di samping lemarinya. Ia membuka laci lemari dan mengeluarkan sebuah buku kecil namun tebal berwarna hijau. Itu buku adalah kumpulan kata-kata mutiara yang diberikan Cristian seminggu setelah pacaran. Ia tak pernah benar-benar membacanya. Buku itu selalu di sana sejak Cristian memberikannya.


Qurratul Aini kembali ke tempat tidurnya. Ia menyandarkan tubuhnya dan mulai membacanya. Lembar demi lembar buku di baliknya, hingga ia terhenti ketika melihat kata-kata yang menarik hatinya.


"Biarlah kamu dibentuk oleh tarikan yang kuat dari sesuatu yang kamu cintai."


Qurratul Aini mendesah. Ia tak begitu mengerti menafsirkan kata para pujangga. Tapi sedikit tidak, kata-kata itu membuatnya merenung agak lama.


Dia kembali membalikkan lembaran dan menemukan lagi kata-kata yang menarik hatinya.


"Tak ada yang lebih indah daripada hari-hari yang dinaungi cinta. Dan tak ada yang lebih menyakitkan, daripada malam-malam penuh ketakutan, karena ditinggalkan kekasih.”


Qurratul Aini menutup buku. Ia tersenyum. TIba-tiba saja pipinya bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan cahaya dalam kegelapan.


Tanpa berpikir panjang lagi, ia bangkit. Setelah mengganti pakaiannya, ia mengambil kunci mobil di atas meja dan bergegas keluar kamar.


"Kamu mau kemana, Nak," tegur Nyai Indrawati yang sedang duduk di ruang tamu ketika melihat Qurratul Aini keluar dari kamarnya.


"Mau ke rumah Fitri, Bu. Ada tugas mendadak dari kampus." Qurratul Aini mendekati Nyai Indrawati dan mencium tangannya.


" Ayah mana, Bu,"


"Lagi ada undangan ngaji di gang sebelah. Pulangnya jangan terlalu malam seperti tadi malam. Ayah kamu tadi malam negur ibu," kata Nyai Indrawati sembari mencium bergantian kedua pipi Qurratul Aini.


"Ya, Bu," jawab Qurratul Aini. Ia lalu melangkah meninggalkan Nyai Indrawati.


"Hati-hati mengemudinya, Nak," kata Nyai Indrawati setengah berteriak.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Bu," kata Qurratul Aini terdengar dari luar rumah. Tak beberapa lama kemudian, suara mobilnya terdengar semakin menjauh.


__ADS_2