KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#119


__ADS_3

Terik matahari benar-benar menyengat. Matahari di tengah-tengah langit terlihat begitu berkuasa di tengah-tengah birunya langit. Awan putih terlihat berarak menjauhi matahari.


Memasuki kawasan rumah makan Zamora, suasana gerah seketika berubah oleh teduhnya pepohonan waru, juga tanaman-tanaman hias yang menghijau dengan aneka rupa bunga. Dua orang pelayan nampak sedang menyemprotkan air ke arah tanaman-tanaman hias, menambah sejuk suasana sekitar rumah makan.


Qurratul Aini memarkir mobilnya agak ke dalam. Di parkiran khusus itu, ada satu mobil sedan berwarna hitam yang terparkir. Parkir khusus itu hanya dikhususkan bagi pelanggan yang menyewa kamar di tempat itu. Mobil milik Cristian belum terlihat di parkiran. Qurratul Aini menengok ke arah jam tangannya. Cristian telat 10 menit dari waktu yang telah ditentukan.


Qurratul Aini masih tak mau keluar dari dalam mobilnya. Dia mengeluarkan baju kaos dari dalam tasnya. Ia kemudian melepas gamis dan jilbab yang dipakainya dan menggantinya dengan baju kaos. Rambutnya yang sebahu, dibiarkannya terurai. Setelah memasang maskernya, ia lalu turun dari mobil.


Qurratul Aini terkejut ketika terdengar klakson mobil satu kali dari arah belakang. Ia mendesah ketika melihat mobil kijang kapsul warna silver parkir di belakang mobilnya. Dari balik kaca depan, ia bisa melihat dengan jelas senyum Cristian. Tak ingin dilihat orang berduaan dengan Cristian, Qurratul Aini memilih langsung naik ke lantai atas menuju kamar yang telah dipesan.


Sementara itu. Di tempat yang sama. Tepatnya di belakang rumah makan. Di Gazebo paling ujung, nampak pak Jamal, pak Efendi dan Jeri sedang duduk asik menikmati miuman mereka. Suara musik cadas yang terdengar menghentak, membuat kepala mereka sesekali terlihat mengangguk-angguk mengikuti irama musik.


"Bagaimana laporanmu, Jeri," kata pak Jamal. Ia menselonjorkan kakinya ke arah Jeri. Dia memberi isyarat dengan jari-jarinya agar Jeri memijit kakinya. Jeri meletakkan rokok di tangannya dan menaikkan kedua kaki pak Jamal di atas pangkuannya. Ia mulai memijat.


"Belum ada yang penting, Pak. Malam pertama saya kesana, saya hanya melihat ada acara Yasinan di rumah jalan Daha. Mungkin acara selamatan untuk kebebasan Rianti," kata Jeri.


"Memang sangat sulit untuk mendapatkan informasi penting kalau kamu hanya melihat dari kejauhan saja," sahut pak Efendi. Jeri menghentikan pijatannya. Ia menatap ke arah pak Efendi.

__ADS_1


"Kayaknya sulit, Pak. Dulu, saya memang pernah berminggu-minggu di rumah itu, tapi untuk masuk ke dalam rumah itu, saya belum mendapatkan celah. Sekarang ada tiga orang laki-laki yang menjaga rumah itu," kata Jeri.


Pak Jamal mendesah kasar dan menarik kedua kakinya.


"Kalau hanya itu informasi yang bisa kamu berikan, rugi aku mengeluarkan uang untuk membayarmu. Lebih baik aku mencari orang lain saja," kata pak Jamal. Ia menuangkan minuman ke dalam gelasnya lalu menenggaknya habis. Mendengar kata-kata pak Jamal yang bernada kesal, Jeri terlihat panik.


"Beri saya waktu, Pak. Saya akan berusaha mencarikan info penting terkait Rianti. Saya tidak akan menemui bapak sebelum mendapatkan informasi itu," kata Jeri.


Pak Jamal menyulut rokoknya.


"Begitu dong. Saya tidak senang jawabanmu yang pertama itu." Pak Jamal kembali menyodorkan kedua kakinya. Ia lalu membaringkan tubuhnya. Jeri kembali memijat kaki pak Jamal.


Di sisi ranjang ia masih duduk menunggu Cristian masuk. Langkah sepatu terdengar menaiki tangga. Suaranya berhenti di depan kamar. Qurratul Aini tersenyum. Jantungnya berdegup melihat daun pintu mulai bergerak ke atas. Hal yang sangat langka terjadi. Seperti ini pertemuan pertamanya dengan Cristian. Mungkin karna kemarin ia seperti mengucapkan kata-kata terakhir dan tak akan bertemu Cristian lagi.


Pintu terbuka dengan pelan. Parfum khas Cristian tercium semerbak. Senyum Qurratul Aini mengembang. Cristian dengan wajah ceria dan sunggingan senyum manisnya terlihat di balik pintu. Merasa tak tahan menunggu, Qurratul Aini bangkit dan segera menyonsong tubuh Cristian. Dua bibir bertemu dan saling mengulum satu sama lain. Mereka saling memeluk erat seperti pecinta yang bertahun-tahun tak bersua. Cristian mengusap air matanya. Ia tersenyum. Ia merasa lucu dengan apa yang mereka perbuat.


"Hei, ada apa dengan kita. Bukankah belum satu hari kita tidak bertemu?" kata Cristian. Ia terus tersenyum. Begitu juga dengan Qurratul Aini. Senyumnya seperti air di pancuran. Tak henti-henti.

__ADS_1


"Entahlah, aku tidak tahu," jawab Qurratul Aini. Cristian memegang dagu Qurratul Aini. Matanya lekat menatap mata Qurratul Aini.


"Itu karna kamu terlalu dini mengisyaratkan perpisahan." Cristian kembali mencium lembut bibir Qurratul Aini. Qurratul Aini memejamkan matanya dan menikmati ******* lembut bibir Cristian.


" Sekarang, katakan kepadaku. Apakah kamu telah berubah pikiran?" bisik Cristian lembut. Qurratul Aini melepaskan pegangan tangan Cristian di wajahnya. Cristian mengerutkan keningnya. Qurratul Aini mendesah dan menundukkan wajahnya. Wajahnya yang tadinya ceria berubah murung. Ia menggelengkan kepalanya. Kernyitan di dahi Cristian semakin keras. Ia kembali memegang dagu Qurratul Aini dan mengangkat wajahnya.


"Maksudmu?" tanya Cristian seperti menekan. Kedua mata Qurratul Aini yang tadinya berpijar bahagia kini dipenuhi binar-binar kesedihan. Ia tak tahu harus menjawab apa pertanyaan Cristian karna ia tidak mempersiapkannya terlebih dahulu. Niatnya ke tempat itu menemui Cristian hanya untuk menyenangkan hatinya yang bersedih semalaman hingga menjelang siang tadi.


"Katakan, apa maksudmu menggelengkan kepalamu, Aini. Dan apa pula maksud kamu mengajakku kesini jika tidak ada yang berubah dari keputusanmu. Jangan buat aku menangis lagi, Aini. Aku sudah tidur semalaman karna menangisimu. Mohon, jangan buat aku menderita lagi, Aini," kata Cristian. Air matanya terlihat keluar.


Qurratul Aini menundukkan kepalanya dan menggeleng-geleng. Tubuhnya terhempas di tempat tidur di belakangnya berdiri.


"Maafkan Aku, Cristian. Aku hanya mengikuti kata hatiku. Aku hanya ingin melihatmu. Aku hanya ingin melihat hatiku sedikit terhibur setelah semalaman ia menangis merindukan kekasihnya," kata Qurratul Aini. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia mulai menangis terisak-isak.


Cristian mendongakkan kepalanya dan mendesah panjang. Setelah menatap sejenak Qurratul Aini yang menangis sesenggukan, ia duduk di dekat Qurratul Aini. Ia meraih kepala Qurratul Aini dan menyandarkannya di pundaknya.


"Kenapa kamu menyiksa dirimu sendiri, Aini. Kenapa kamu tak ikut saja denganku. Kita akan keluar dari masalah ini sejauh mungkin dan kita akan bahagia," kata Cristian. Ia kembali mendesah. Ia tahu kata-kata ini sering ia lontarkan kepada Qurratul Aini, dan ia tahu Qurratul Aini selalu menjawabnya dengan jawaban yang sama. Tapi kali ini ia berharap, Aini memberikannya jawaban berbeda, yang lebih memberikannya harapan dan kepastian.

__ADS_1


...mohon vote, like nya...


__ADS_2