KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#203/ Pernikahan ketiga Tuan Guru Izzul Islam


__ADS_3

Malam beranjak larut. Jamila yang lebih dahulu masuk ke dalam kamar setelah beberapa lama menemani Sulastri duduk di ruang tamu sebelum pulang, hanya bisa mondar-mandir di dalam kamar. Walaupun ia sudah sah menjadi istri Tuan Guru Izzul Islam, namun perasaan tak pantas masih membebani pikirannya. Dia merasa masih seperti orang asing dan sekedar untuk duduk di atas ranjang di dalam kamar itu, ia merasa tak pantas. Setiap kali memandang ke arah ranjang maupun sofa, bayangan Rianti terlihat nyata bercengkrama dengan Tuan Guru Izzul Islam. Dia merasa tidak pantas jika malam ini ia akan mengambil tempat terhormat itu, sedangkan Rianti sendiri masih di dalam penjara.


Jamila menggeser tubuhnya dan tepat menghadap ke arah cermin. Gaun yang ia kenakan masih belum juga ia lepas. Ia bingung harus meletakkannya dimana. Dia baru pertama kali ke rumah itu. Tuan Guru Izzul Islam pun masih belum kembali dari masjid, padahal sudah jam satu malam. Dia yakin para tamu sudah pulang dan tak akan berlama-lama mengganggu malam pertama Tuan Guru Izzul Islam. Apakah jangan-jangan Tuan Guru Izzul Islam tak mau masuk ke kamar itu? Apakah perasaan tak tega kepada Rianti juga di rasakan oleh Tuan Guru Izzul Islam? Ataukah Tuan Guru Izzul Islam menikahinya hanya karna ingin menyenangkan hati Rianti? Jika memang seperti itu, ia semakin merasa tak pantas berada di dalam ruangan itu.


Jamila mendesah. Ia menatap ke lantai. Kakinya sudah lelah di ajak berdiri dan mondar-mandir mengikuti kegelisahan hatinya. Terlebih lagi dengan kondisi kakinya yang belum sembuh benar. Jamila memilih duduk di atas lantai.


* * * * *


Tuan Guru Izzul Islam dan pak Nurasmin terlihat berjalan menuju tempat parkir mobil pak Nurasmin di luar gerbang pesantren. Pak Nurasmin yang terlambat datang adalah tamu terakhir Tuan Guru Izzul Islam. Pak Nurasmin tiba ketika acara penyerahan maskawin kepada Jamila.


"Ibumu juga adikmu Layla titip salam buat Nak Izzul. Mereka tidak bisa datang karna si Laylanya lagi ada tugas dari sekolah," kata pak Nurasmin setelah berada di depan mobilnya terparkir. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Oh ya, Pak. Bagaimana kabar dik Layla sekarang. Apa dia sudah berubah?" tanya Tuan Guru Izzul Islam.


"Alhamdulillah, Nak. Sejak nak Izzul datang menemuinya malam itu, Layla langsung berubah. Sekolahnya jadi rajin lagi seperti sebelumnya. Semoga saja, Laylanya benar-benar berubah, Nak," kata pak Nurasmin.


"Amin, Pak,"


"Oh ya, Nak Izzul. Bapak jadi lupa. Ada titipan dari adikmu," kata pak Nurasmin. Ia bergegas membuka pintu mobil. Kadu dari Layla di keluarkannya dan langsung ia serahkan kepada Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum melihat kado warna merah muda di tangannya.


"Bapak tidak tahu apa isi kado itu. Tiba-tiba saja dia memberikannya saat bapak hendak pergi," kata pak Nurasmin ketika melihat Tuan Guru Izzul Islam tersenyum-senyum.


" Kalau begitu, bapak pamit pulang dulu, Nak Izzul. Sudah malam. Takut ibumu khawatir,"kata pak Nurasmin.


"Ya, Pak. Terimakasih. Titip salam juga buat ibu dan dik Layla,"


Setelah bersalaman, pak Nurasmin masuk ke dalam mobilnya. Tuan Guru Izzul Islam menunggunya sampai mobil pak Nurasmin hilang di balik gelap malam.


Suara langkah kaki terdengar dari arah luar. Jamila menengok kesana kemari. Berkali-kali ia mengganti posisi duduknya. Sesekali ia bangun dan kembali duduk. Dadanya berdebar keras. Suara detak jantungnya beradu dengan suara nafasnya.


Terdengar ketukan dari arah pintu.


"Assalamualaikum,"


Jamila menelan ludahnya dalam-dalam. Dia belum juga bisa menjawab salam. Kerongkongannya seperti tercekat.


Pintu perlahan dibuka. Jamila masih tetap terpaku dalam duduknya. Bahkan ketika Tuan Guru Izzul Islam muncul dari balik pintu, ia masih diam terpaku.


Melihat Jamila duduk di atas lantai, Tuan Guru Izzul Islam segera berlari mendekatinya. Tubuh Jamila lalu diangkatnya. Keringat mengucur dari tubuh Jamila. Dia hampir-hampir tidak bisa bernafas saat tubuhnya bersentuhan dengan tubuh Tuan Guru Izzul Islam. Jamila memejamkan matanya dengan kepala tertunduk malu saat Tuan Guru Izzul Islam merangkul tubuhnya dan mendudukkannya di tepi ranjang. Keringat yang mengalir di keningnya diusap Tuan Guru Izzul Islam dengan sorbannya.

__ADS_1


"Ya, Allah, beginikah rasanya bersama orang yang kita kagumi? Orang yang hanya bisa aku lihat dan kagumi, kini begitu dekat denganku. Ya, Allah, jadikan tubuhku sempurna untuknya. Jika aku nakjis, sucikanlah, Ya Allah," batin Jamila.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah pendek.


"Kenapa kamu duduk di bawah, Jamila," tanya Tuan Guru Izzul Islam. Jamila terdiam. Dia tak tahu harus menjawab apa. Tuan Guru Izzul Islam menatap wajah Jamila. Wajah Jamila yang memerah menahan malu membuatnya harus bisa memperlakukannya agar Jamila tidak terus tegang seperti itu. Apalagi di saat malam pertama pernikahannya. Pertama kali berdua dengan laki-laki asing tentu membuat Jamila bingung dan serba salah.


Tuan Guru Izzul Islam meraih tangan Jamila. Ia tersenyum saat merasakan tangan Jamila yang bergetar. Tuan Guru Izzul Islam menggenggamnya erat.


"Jamila, malam ini kamu sudah bukan orang lain lagi. Kamu adalah istriku. Apa yang menjadi hak dan kewajiban Rianti, juga menjadi hak dan kewajibanmu mulai malam ini." Tuan Guru Izzul Islam terdiam beberapa saat memperhatikan wajah Jamila. Keringat di kening Jamila kembali di usapnya saat melihat beberapa kali Jamila mengusapnya dengan tangannya.


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Kepala Jamila kemudian dipegangnya lalu mencium keningnya. Jamila memejamkan matanya. Air matanya meleleh. Tuan Guru Izzul Islam memeluk tubuh Jamila. Ia ingin Jamila sesegera mungkin merasakan kenyamanan bersamanya.


"Katakan apa yang ingin kamu katakan, Jamila," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah untuk beberapa lama ia sabar menunggu Jamila berhenti dari tangisnya. Air mata Jamila disekanya lembut dengan tangannya.


Jamila menghela nafas pelan. Ia menatap jari-jari tangannya yang tak henti-henti ia permainkan untuk mengalihkan rasa serba salahnya. Tapi perlakuan Tuan Guru Izzul Islam perlahan membuatnya mulai merasa nyaman. Sikap Tuan Guru Izzul Islam yang memperlakukannya seperti orang yang sudah bersama lama, membuat ketegangannya perlahan berkurang.


"Maaf, Tuan Guru, saya merasa tidak nyaman di kamar ini. Kamar ini adalah milik Tuan Guru dan Rianti. Saya merasa tidak pantas mengambil posisi Rianti di kamar ini," kata Jamila dengan suara lirih dan terbata-bata.


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia mengerti apa yang dirasakan Jamila saat ini.


"Ini hanya sementara, Jamila. Insya Allah, kita akan memulai pondasi rumah di dekat asrama putri bulan depan. Tapi kalau kamu menginginkan pindah dari kamar ini, kita bisa pindah ke kamar ibu di sebelah,"kata Tuan Guru Izzul Islam. Jamila tersenyum. Ia menganggukkan kepalanya.


"Oh ya, Jamila. Dimana kamu menaruh pakaianmu, biar aku ambilkan," kata Tuan Guru Izzul Islam setelah sampai di dalam kamar. Jamila tersenyum.


"Saya tidak punya pakaian, Tuan Guru. Saya tinggalkan di rumah bu Sulastri. Itu juga hanya beberapa potong pakaian pemberian Rianti," kata Jamila tersipu malu.


Kalau begitu, kamu periksa lemari ibu. Ada beberapa gamis peninggalan ibu. Aku yakin kamu cocok memakainya," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia lalu melangkah mendekati lemari dan membuka pintunya lebar-lebar. Ia lalu kembali ke tempat Jamila berdiri dan menarik tangannya lembut ke arah lemari. Jamila tersipu malu.


"Pilihlah,semua ini milikmu." Tuan Guru Izzul Islam mendesah pendek.


"Aku mau ambil wudhu dulu. Jika kamu sudah siap, kita akan berziarah ke makam ayah dan ibu. Mumpung malam jumat," kata Tuan Guru Izzul Islam. Jamila menganggukkan kepalanya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan melangkah keluar ruangan.


* * * * *


Tok...tok...tok...


"Layla, kamu masih bangun, Nak," panggil bu Sofia pelan setelah mengetuk pintu kamar Layla pelan. Dia terpaksa meninggalkan tempat tidurnya, karna dari tadi ia mendengar suara batuk dari kamar Layla.


"Masuk, Bu." terdengar jawaban dari dalam kamar. Bu Sofia segera membuka pintu. Dilihatnya Layla sedang duduk di meja belajarnya. Layla tersenyum melihat bu Sofia mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Sudah malam,Nak. Kenapa kamu belum tidur?" tanya bu Sofia. Pundak Layla dipegangnya.


"Nanggung, Bu. Besok Layla harus menyelesaikan tugas dari sekolah," jawab Layla.


"Tugas apa sih." Bu Sofia memeriksa buku di depan Layla. Ia mendesah pendek.


"Bahasa Arab?"


Layla tersenyum mengangguk.


"Ibu bisa bantu?"


Lagi-lagi bu Sofia mendesah.


"Melihatnya saja ibu sudah pusing, apa lagi menulisnya," kata bu Sofia. Layla tertawa.


"Rencananya Layla mau tanyakan ini sama Kak Tuan, tapi sayang, kak Tuannya pasti tidak bisa diganggu malam ini,"kata Layla. Layla mendesah panjang.


"Alangkah bahagianya wanita yang jadi istrinya kak Tuan malam ini. Ganteng, alim, shaleh lagi. Semoga saja rumah tangga mereka sakinah mawaddah dan warohmah ya, Bu," sambung Layla. Bu Sofia tersenyum dan mengusap punggung Layla. Ia terdiam beberapa saat memandang Layla yang kembali sibuk mengerjakan tugasnya. Tak ada sama sekali sakit hati dan kesedihan yang terlihat ketika Tuan Guru Izzul Islam menikah lagi. Layla seperti sudah melupakan perasaan tiba-tibanya kepada Tuan Guru Izzul Islam beberapa bulan lalu. Bu Sofia mendesah.


"Nak, ibu boleh tanya gak," kata bu Sofia. Layla mengangguk sambil terus menulis.


"Apa kamu sudah melupakan kak tuanmu?"


"Kenapa ibu bertanya seperti itu?" tanya Layla balik.


Bu Sofia menggaruk kepalanya.


Ah, sudahlah. Ibu tadi ngomongnya ngelantur. Mungkin karna ngantuk kali ya," kata bu Sofia. Ia merasa menyesal telah mengajukan pertanyaan itu kepada Layla.


Layla tersenyum.


"Ibu pasti mengira Layla sudah melupakan kak Tuan." Layla kembali melanjutkan menulisnya. Bu Sofia mengernyitkan dahinya. Penasaran.


"Layla tenang karna Layla yakin, suatu hari nanti Layla pasti akan jadi bagian hidup Kak Tuan. Layla sudah bermimpi beberapa kali, Bu."


Layla menatap bu Sofia. Senyumnya mengembang ceria.


"Bu, Layla sudah dewasa. Layla tahu mana baik dan buruk. Ibu dan bapak selalu mengajarkan Layla untuk tidak menyimpan apapun di hati Layla. Layla tidak sedang berhayal, Bu. Layla hanya memegang keyakinan yang tidak pernah pudar dari hati Layla. Itu sebabnya Layla tak perlu memikirkan apapun lagi,"kata Layla mantap. Bu Sofia tersenyum. Layla benar-benar telah menjelma menjadi gadis dewasa. Ia kemudian memeluk Layla.

__ADS_1


siapakah istri ketiga Tuan Guru Izzul Islam?


__ADS_2