
"Bagaimana keadaan ibu, Kak Tuan, dan siapa yang menjaga di sana?" Rianti langsung menyodorkan pertanyaan kepada Tuan Guru Izzul Islam begitu Tuan Guru Izzul Islam muncul di balik pintu. Tuan Guru Izzul Islam memgambil kursi plastik di dekat pintu dan membawanya ke dekat tempat tidur Rianti. Kopiahnya di letakkannya di dekat kepala Rianti. Jamila sendiri, begitu melihat Tuan Guru Izzul Islam datang, ia langsung menyiapkan makanan yang telah di belinya.
Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Hanya sekedar ingin memberi isyarat kepada Rianti bahwa musibah yang terjadi tidak harus menghilangkan senyum dari bibir.
"ibu sempat merespon ketika aku menyebut nama dan namamu. Harapan hidup ibu pasti ada, tapi itu tipis sekali. Dengan sisa dua persen pembuluh darah, ibu tidak akan hidup normal jika diberi kesempatan hidup oleh Allah. Kita serahkan semua kepada Allah, karna kepada-Nya lah kita akan kembali."
Rianti menundukkan wajahnya. Ia menganggukkan kepalanya pelan.
"Kata dokter, Adik bisa menjenguk ibu nanti malam." Sambung Tuan Guru Izzul Islam. Suara gemerincing sendok di atas piring membuat Tuan Guru Izzul Islam menoleh. Rianti memegang tangannya lembut.
"Kak Tuan makan dulu sana. Dari tadi siang Kak Tuan belum makan," kata Rianti. Tuan Guru Izzul Islam. Ia mendesah, lalu bangkit. Makanan di atas meja sudah selesai disiapkan Jamila.
Tuan Guru Izzul Islam urung menuju tempat makan ketika terdengar tangisan bayi yang ada dalam dekapan Rianti. Rianti menatap Tuan Guru Izzul Islam.
"Sudah sana. Kak Tuan makan dulu. Ini urusan perempuan," kata Rianti. Jamila tersenyum. Setelah Rianti selesai menyusui, dia langsung mengambil bayi itu dan menggendongnya.
"Awas, kamu sudah membiasakan anak itu kamu gendong. Besok-besok dia pasti tidak akan mau tidur sebelum di gendong oleh kamu," kata Rianti. Jamila tersenyum.
__ADS_1
"Biarkan saja ya Nak. Ibu Jamila kuat kok walapun akan menggendong kamu sampai pagi," kata Jamila sambil menatap bayi dalam gendongannya, mengajaknya bicara. Rianti tersenyum. Melihat kebersamaannya untuk pertama kalinya dengan Tuan Guru Izzul Islam dan Jamila hari ini, sedikit tidak bisa menghibur kesedihannya karna musibah yang menimpa Sulastri. Inilah kebahagiaan yang diidam-idamkannya. Dan kalaupun misalnya suatu hari nanti Tuan Guru Izzul Islam kawin lagi hingga punya istri empat, ia sama sekali tidak akan mempermasalahkannya. Asalkan mereka punya hati seperti Jamila. Tapi jika pun Tuan Guru Izzul Islam meminta ijin untuk kawin lagi, dia sebagai istri pertama akan mengajukan syarat wajib untuk wanita itu. Mereka harus menghafal Al-qur'an. Dia mau di dalam rumahnya dipenuhi oleh lafadz-lafadz suci kalam ilahi. Hidup hanya sementara. Di akhirat kelaklah kehidupan yang kekal dan hakiki.
* * * * *
Suara roda kursi roda yang menggelinding di lantai terdengar menggema di dalam lorong rumah sakit menuju ruang ICU. Bakda Isya'. Tuan Guru Izzul Islam bertugas mendorong kursi roda yang diduduki Rianti. Sedangkan Jamila ada di sampingnya menggendong anak Rianti. Fahmi yang sedang menikmati secangkir kopi di luar ruangan tersenyum ketika melihat Rianti melambaikan tangannya ke arahnya. Tanpa menunggu Rianti sampai di depannya, ia bangkit dan mendekat. Ia langsung menggantikan Tuan Guru Izzul Islam mendorong Rianti.
"Sabar ya, Dik," kata Rianti saat mendongak ke arah Fahmi yang mendorongnya. Fahmi tersenyum menganggukkan kepalanya.
"Insya Allah, aku sudah siap apapun yang akan terjadi pada ibu, Kak. Kita tidak punya daya dan upaya selain Dia," jawab Fahmi.
"Loh, Farida, Rayhan, kapan kesini, Dik," tanya Tuan Guru Izzul Islam ketika melihat Farida dan Rayhan duduk di samping kiri dan kanan Sulastri. Keduanya langsung berdiri dan mendekat. Kedua mata mereka terlihat sembab. Tuan Guru Izzul Islam segera merangkul keduanya.
Keduanya lalu memeluk Rianti. Sejenak ketiganya larut dalam tangis.
"Sudah, Dik. Kita doakan ibu sembuh dan sehat sempurna. Tapi seperti yang dikatakan Kak Tuan, apapun yang terjadi nanti, kita tak boleh berlebihan menyikapinya. Kita sebagai muslim percaya qada' dan qadar Allah. Ini semua adalah ketentuan Allah." Rianti bergantian menyeka air mata Rayhan dan Farida.
"Lihatlah, ibu memang tidak bisa melihat kita, tapi kita yakin beliau bisa mendengar kita. Yakinlah, ibu akan tenang jika mendengar anak-anaknya hidup rukun dan saling menyayangi," sambung Rianti sambil menatap ke wajah Sulastri. Terlihat tangan Rianti bergerak. Memandang wajahnya lebih lama, rautnya seperti perlahan berubah. Seperti ekspresi orang tersenyum.
__ADS_1
"Yakinlah, gerakan tangan ibu itu sebagai pertanda bahwa ibu sangat bahagia mendengarnya." Rianti tersenyum ke arah keduanya.
"Farida, ambil keponakanmu sama Kak Jamila ya. Kita akan membaringkannya di dekat ibu," kata Rianti. Farida segera berbalik. Jamila yang menggendong anak Rianti di bawah kaki Sulastri langsung memberikannya kepada Farida. Farida lalu membaringkannya pelan di samping Sulastri. Suara bayi dan sentuhannya di tubuh Sulastri membuat tangan Sulastri kembali bergerak.
"Bu, Aku memang tidak dilahirkan dari rahimmu. Aku bahkan pernah memusuhi dan mencelakakanmu. Tapi jangankan nyawaku, amal baikku selama aku hidup di dunia, kalau memang ada, akan aku serahkan kepadamu. Biarlah aku disiksa di neraka asalkan ibu bisa bahagia di surga bersama papa." Rianti memegang keningnya dan menunduk. Ia tak kuasa lagi melanjutkan kata-katanya. Sejenak isak tangisnya terdengar di dalam ruangan. Suasana hening. Tak ada suara apapun selain isak tangis dari orang-orang yang ada dalam ruangan. Mereka ikut menangis. Bahkan bayi yang masih terjaga di dekat Sulastri terdiam, seperti sedang mendengar kata Rianti.
Rianti mengangkat wajahnya. Ia kemudian berdiri. Farida yang ada di sampingnya segera memegang tubuhnya. Rianti tersenyum menatap wajah Sulastri.
"Bu, anak ini adalah cucumu. Aku akan selalu mengingatkannya bahwa ibu adalah orang yang paling berjasa dalam perbaikan hidupku," kata Rianti. Ia lalu mencium lembut kening Sulastri.
* * * * *
Suasana di dalam dan di luar ruangan ICU, bahkan di halaman rumah sakit mendadak ramai. Perkumpulan ibu-ibu pengajian, anak-anak yatim dari berbagai panti asuhan, karyawan dari semua perusahaan milik Yulian Wibowo, dan orang-orang yang pernah merasakan kedermawanan tangan Sulastri. Mereka bahkan bersedia menginap saat waktu berkunjung telah usai. Mereka tanpa diminta, terlihat membacakan surah yasin buat Sulastri. Pemandangan yang membuat Tuan Guru Izzul Islam menggeleng takjub.
"Ini adalah kekuatan shadaqoh dan kedermawanan, Dik Fahmi. Orang-orang ini sudah menyatu hatinya dengan ibu. Ibu sudah menikmati hasil keshalehan hatinya di dunia sebab berbaginya kepada sesama, insya Allah, ibu akan menikmatinya kelak di sisi Allah," kata Tuan Guru Izzul Islam sambil tersenyum bangga kepada Fahmi.
"Amin, Kak Tuan. Bahkan ibu sengaja menabung gajinya selama menjadi pimpinan perusahaan untuk uang belanja anak-anak yatim," kata Fahmi ikut bangga.
__ADS_1
" Masya Allah. Para penyayang anak yatim kelak yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari tak ada naugan apapun di padang mahsyar," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia lalu mengajak Fahmi kembali masuk ke dalam ruang ICU.