
"Kamu kenapa Eya? kamu sekarang ini terlihat aneh. Sangat berbeda dengan Eya yang dulu." Ujar Alex lembut, menatap wajah pucatnya Freya dari samping. Karena saat ini Freya melihat keluar jendela. Ia sama sekali tak mau menatap Alex yang duduk di kursi di sebelah kanannya.
"Eya, kamu kenapa sih?" Freya memegang tangan Frey lembut.
Akhirnya Freya menoleh ke arah Alex. "Iya Lex, aku bukan Freya yang dulu lagi. Please.... Jangan banyak tanya lagi, aku pusing banget Lex." Ujar Freya dengan lirih. Matanya terlihat berkaca kaca. Kesedihan mendalam tercetak jelas di matanya. "Dan ku harap, ini pertemuan kita terakhir. Di kampus juga, kita tak usah saling sapa." Tegas Freya yang membuat Alex semakin bingung dengan perubahan sikap Freya yang drastis berubah.
"Koq gitu? salahku apasih samamu?" tanya Alex semakin bingung. "Apa karena aku bilang suka kamu? apa karena ucapan ayah tadi? aku gak ada bilang apa apa pada ayah. Aki gak pernah cerita tentang kamu. Aku hanya sering cerita tentang kamu pada Mahesa."
"Mahesa..... ?" tanya Freya begitu penasarannya.
Alex mengangguk pelan. "Mahesa, adikku!" jelas Alex.
"Pak, aku turun di sini saja. Gak usah masuk gang." Freya tak mau berlama lama bersama Alex lagi. Bahkan ia tak tertarik untuk melanjutkan pembahasan sang adiknya Alex yaitu Mahesa.
Freya tak siap dengan kenyataan, jika suatu saat fakta tentang dirinya terungkap. Ia tak mau orang orang dekatnya tahu bahwa ia pernah jadi pelacur. Ia akan sangat malu sekali akan hal itu. Itulah alasan dia tak akan mau bertemu dengan Alex lagi.
"Eya.. Kamu kenapa sih? aku care padamu. Aku sayang padamu, tak ada niat buruk dihati dan pikiranku untuk kamu. Jadi, kamu tak usah bersikap berlebihan pada ku. Aku ini pure, mau bantuin kamu." Ujar Alex tegas, menahan tangan Freya yang ingin turun dari mobilnya.
Freya menatap sedih Alex. Harusnya ia tak punya rasa malu, untuk ceritakan semuanya. Agar Alex tahu, dan segera menjauh darinya. Tapi, ia tak mau membuka aib sendiri.
"Kamu gak ngerti Lex. Menurutku, lebih baik kita tak usah berteman lagi. Dan ku harap, kamu nantinya tetap anggap aku Freya yang dulu. Freya yang sebelum dua minggu lalu." Ujar Freya lirih. Mata indahnya berkaca kaca sudah saat ini menatap Alex.
Alex sungguh dibuat bingung jadinya akan maksud ucapan Freya. Anggap dia Freya yang dulu? "Ya sudah terserah kamu. Tapi, kapanpun kamu mau, kamu jangan segan hubungi aku ya?" ujar Alex serius.
Freya mengangguk lemah. Ia sebenarnya mau menangis mendengar ucapan Alex. Sepertinya Alex mau menerima bagaimanapun dia. Freya yang tak bisa menahan dirinya lagi, bergegas keluar dari mobilnya Alex. Ia pun berlari cepat ke kost an nya, yang memang tak jauh dari jalan besar. Tak mau menoleh ke belakang lagi, melihat mobilnya Alex sudah pergi atau tidak.
Menurut Freya keputusan yang ia ambil sudah tepat. Ia harus menjauhi Alex, agar ia bisa hidup tenang. Karena ia tak mau terus terusan berhutang budi pada Alex. Hasil ia melacur seminggu lalu, masih ada sisa 5 juta lagi. Sebenarnya terbilang, Freya gak pernah melacur. Karena ia hanya satu kali ditiduri pria. Itupun dia gak tahu pria itu beneran booking dia, atau gak? selebihnya pria yang memboking dia, hanya memintanya praktek kencing. Cukuran bulu bulu bambu gatel. Dan pria terakhir boking dia, malah tetangganya.
Sesampainya di kost an, waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore. Anak anak kost an, pada duduk duduk sore di teras kost an, termasuk Chika yang kini datang menghampirinya.
"Bagaimana kabar ibumu Ya?" tanya Chika pelan. Bahasa tubuh nya Chika, menunjukkan perhatian.
__ADS_1
"Sudah baikan Chik." Sahut Freya ramah. Dan kini Freya terlihat membuka pintunya.
"Apa pak Polisi cariin kamu ke kampungmu?" tanya Chika serius.
Deg
Freya terkejut mendengar pertanyaan Chika. Apa ia benar benar akan diselidiki polisi.
"Gak, gak ada Chika." Jawab Freya gugup.
"Oouuww.. Ayo, kita masuk dulu." Chika merangkul Freya masuk ke dalam kamar.
Freya menyimpan tas yang ia bawa dari kampung. Sedangkan Chika terlihat duduk di atas ranjang Freya.
"Eemmm.. Akhirnya kamu ikutin jejak aku. Koq kamu main cantik sih Eya?"
Freya terkejut mendengar ucapan Freya. Wajahnya terlihat panik.
"A, apa maksudmu Chika?" tanya Freya gugup, tak berani tatap mata Chika.
"Takut kamu aku minta pesenannya ya?" tanya Chika penuh selidik.
Freya mengangkat wajahnya. "Gak Chika, bukan itu masalahnya. Aku, aku tak mau orang tahu, kalau aku terjun ke dunia hitam itu." Jawab Freya sedih. Matanya berkaca kaca sudah.
"Berapa yang kau dapat kan, saat pecah perawanmu?" tanya Chika dengan penasarannya.
Freya menggeleng lemah. "Gak ada." Jawab Freya sedih.
"Gak ada? gak ada kek mana?" tanya Chika dengan tak percayanya.
"Uangnya hilang."
__ADS_1
Hahahahhaa..
Chika tertawa lebar. Ia sampai memegangi perutnya yang terasa kram, karena tertawa lepas itu. Ia merasa Freya sangat lucu dan bodoh.
"Hahahahaha... Sial banget sih loe, hilang keperawanan, hilang uang dan jadi buronan polisi." Ujar Chika masih menertawakan Freya.
Freya terdiam, ia tak suka disudutkan seperti ini. Rasanya ia ingin marah.
"Cerita padaku, kenapa kamu malah dicariin polisi waktu itu?"
Huufftt..
Freya menarik napas panjang, ia sedang setres. Ia tak ingin membahas itu lagi.
"Chik, kamu keluar ya, aku capek, mau tidur.." Ia mendekati pintu kamarnya, mempersilahkan Chika untuk keluar.
"Bah... Sombong kamu sekarang Freya." Ujar Chika dengan tatapan tak senangnya.
"Bukan gitu Chik, aku lelah. Hati, otak dan badanku lelah. Aku sedang tak mood mendengar ketawamu yang menyudutkan itu." Ujar Freya tegas, mulai terlihat menarik pintu.
"Eemmm.. Sombong kamu Freya, biasanya gitu sih, orang yang gak punya harga diri pasti bawaannya sombong. Hahahha.. Jual perawan, tapi uangnya hilang. Makanya belajar sama Eike. Loe sih, sok hebat."
Prakk..
Freya menutupi pintunya cepat. Ia kesal mendengar ocehan Chika yang mengolok olok nya. Ia sedang tertekan saat ini. Ucapan penghakiman dan merendahkan membuatnya setres mendengarnya.
Bruggkk...
Freya melorotkan tubuhnya, bersandar di daun pintu. Ia sedang lemah saat ini. Ia ketakutan, ia was-was, ia khawatir. Semua rasa gamang dan tak percaya diri menyergap hatinya sekarang.
"Aarrggkkk... Bu... Anakmu telah hancur...!" teriaknya kencang. Ia yakin penghuni kamar lain, mendengar teriakannya. Lagian untuk apa lagi sok suci dan menutup nutupi aib itu. Chika sudah tahu, dan Chika sudah sakit hati pada nya. Ia yakin, Chika akan bergosip tentangnya pada teman kos, bahkan teman kampus mungkin.
__ADS_1
TBC
Like komentar positif say