
"Tolong.... Tolong....!" teriak Freya panik. Ia tak tahu harus ke mana. Ia baru dua hari di perumahan itu. "Oouuww.. aku harus ke pos satpam!"
Freya berlari kencang. Sang suami juga tak kalah kencangnya mengejarnya.
"Ya Tuhan... Aku merah, aku nyerah! aku harus bilang sama ibu mertua. Aku belum mau mati...!" Teriak nya dan semakin mempercepat kakinya berlari menuju pos satpam.
"Tolong...!" teriak Freya.
Mahesa sudah berhasil menangkap sang istri. "Berani kamu menyetrum perkakasku...!" Mahesa yang emosi menarik rambutnya Freya kuat. Ia sudah seperti setan saat ini. Mukanya memancarkan kebencian.
"Sakit, sakit... Ampun... Aku, aku akan pergi dari hidupmu..!" Ujar Freya, terpaksa memundurkan langkahnya, karena tak tahan dengan sakit yang ia rasakan di kepalanya, saat Mahesa menarik rambut panjangnya. Saking sakitnya, Freya sampai menutup kedua matanya yang digenangi air mata itu.
"Kamu lebih baik mati..!" Teriak Mahesa, semakin memperkuat tenaganya menarik rambutnya Freya, agar mengikuti langkahnya menuju rumah.
"Hei... Ada apa ini?" Seorang pria nampak keluar dari rumah dan menghadang Mahesa yang masih menarik kuat rambutnya Freya.
"Bukan urusan anda!" tegas Mahesa menatap tajam pria yang mau ikut campur.
"Ini akan jadi urusanku, aku gak sanggup melihat seorang wanita diperlakukan seperti itu. Lepas....!" Si pria mencoba melepaskan tangan Mahesa dari kepalanya Freya. Tapi di tepis oleh Mahesa.
"Aku Seorang wartawan, tindakan anda ini bisa ku sebar dan membuat malu anda dan keluarga besar anda tuan Mahesa." Tegas si pria yang tak Freya kenal itu.
"To, tolong aku pak! aku akan mati dibuatnya. Aku sedang hamil pak!" Aduh Freya dengan berderai air mata.
Si pria itu sungguh kasihan melihat keadaan Freya yang sangat memprihatinkan.
"Anda manusia atau binatang. Hanya binatang, yang gak perduli dengan betina yang ia cabuli hingga hamil dan melahirkan. Anda tega berbuat kasar pada istri anda yang sedang hamil?"
"Jangan ikut campur, ini urusan rumah tangga saya." Ketus Mahesa, mencoba melalui pria yang menghadangnya.
"Lepas.... Lepaskan istri anda. Lihat dia sudah begitu ketakutan pada anda. Dia bisa mati berdiri!"
"Bagus, jika dia mati!" Hardik Mahesa pada pria itu.
Si pria itu terlihat masuk ke rumahnya.
"To, tolong pak!' teriak Freya, tangannya masih menahan tangannya Mahesa, agar tak kuat mencengkram rambutnya.
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
Suara kentongan terdengar 1 : 1 : 1
Freya yang Tadinya pasrah. Kini bernapas lega, ia akhirnya ada yang menolong, sempat Freya berpikir bapak yang tiba-tiba muncul itu, tak akan keluar lagi setelah masuk ke rumahnya. Ternyata bapak itu masuk ke dalam rumah hanya untuk mengambil sebuah kentongan dan membunyikan kentongan itu dengan kode 1; 1. Kode atau sandi itu artinya adalah sedang terjadi pembunuhan
Dalam sekejap, para warga keluar dari rumah berduyung-duyung, memadati jalan di mana Mahesa dan Freya berada
" Ada apa pak ahmad?" tanya Pak Danu. Yang lain pun semakin mempercepat langkahnya menghampiri Mahesa yang masih menjambak rambut Freya.
Tatapan para warga yang menatap heran dan sebagian jijik Mahesa, membuat pria itu melepas tangannya dari rambut Freya. Ia terlihat semakin kesal. Wajahnya memerah sudah.
"Ini, penghuni kompleks baru. Yang punya perumahan ini, pak Mahesa, bertengkar dengan istrinya. Gak bisa ku lerai, aku minta bantuan kalianlah. Kasihan istrinya sedang hamil." Sahut Pak Ahmad tegas. Pak Ahmad, adalah kepala lingkungan di kompleks itu. Ia sangat disegani di area perumahan itu, karena ia juga seorang ustadz.
"Apa? pemilik perumahan ini? adek ini pak Mahesa? anaknya pak Adnant?" tanya seorang pria lagi.
Rupanya Mahesa dan keluarganya sedang jadi perbincangan kompleks itu. Karena merkea heran saja, koq orang kaya mau tinggal di perumahan sederhana.
Mahesa menyoroti satu-persatu orang-orang di tempat itu dengan tatapan bringas nya. Ia merasa dipermalukan saat ini. Ingin rasanya ia cabik cabik orang orang di hadapannya.
"Bu Jannah, pak Danu. Tolong bawa ibu ini masuk ke rumah kalian. Tenangkan adik ini dulu!" Ujar Pak Ahmad serius pada tetangganya itu.
Freya menoleh ke arah Bu Jannah yang dimaksud. Ia refleks memeluk Bu Jannah yang menghampirinya.
"Ayo nak, kita masuk ke rumah! " ajak Bu Jannah ramah, pada Freya. Dengan ragu Freya menyeret kakinya ke rumah Bu jannah. Karena ia lihat sang suami, nampak diselimuti emosi yang berkobar kobar.
Freya juga merasa malu dengan kejadian ini. Tapi, ia tak mau mati konyol, jika tak meminta pertolongan.
"Eemm.. Baiklah, bapak, ibu. Keadaan sudah aman. Silahkan masuk kembali ke rumah masing-masing!" Tegas Pak Ahmad.
Warga yang keluar dari rumah, masuk kembali ke dalam rumah.
Pak Ahmad menghampiri Mahesa yang nampak kesal padanya, dia rangkul pria yang lagi emosi itu dengan lembut. Mahesa yang kesal, berontak tak mau dirangkul Pak Ahmad. Tapi, Pak Ahmad tak tinggal diam. Ia dengan sikap tenang dan berwibawanya kembali mencoba merangkul Mahesa. Dan, kali ini Mahesa pasrah. Ia ikuti langkah Pak Ahmad untuk masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kamu duduk dulu ya Nak!" Ujar pak Ahmad ramah dan lembut, menuntun Mahesa duduk di sofa. Dan Mahesa menurut saja akan perintah Pak Ahmad. Tapi, mukanya masih nampak kesal.
"Coba tarik napas dek?".
Mahesa memutar lehernya, melirik Pak Ahmad yang menatapnya dengan teduh.
Hufft
Mahesa melakukan apa yang disuruh Pak Ahmad. Ia menarik nafas berulang kali dan menghembuskannya pelan.
Dan acara tarik napas itu terhenti, disaat kekasihnya Mahesa nyelonong masuk begitu saja ke rumah Pak Ahmad, tanpa ketuk pintu dulu.
"Honey...!" teriak si wanita sexy.
Pak Ahmad menatap heran dan tak suka wanita itu. Dan ia langsung ngerti, siapa wanita tak tahu sopan itu.
"Sa, yang!" Mahesa bangkit dari duduknya.
Pak Ahmad, menahan tangannya Mahesa, saat ia ingin menghampiri sang kekasih.
"Sebaiknya nona pergi dari temat ini, sebelum aku hancurkan khodammu yang jahat itu."
"Apa...?" ujar kekasihnya Mahesa dengan tak percayanya. Mendadak wajahnya pucat pasi. Ia lirik Mahesa sejenak, dan ngacir dari rumah Pak Ahmad.
"Sayang. .." Mahesa berontak dari rengkuhan tangannya Pak Ahmad. Tapi, pak Ahmad menahan kuat tangan Mahesa.
Mulut Pak Ahmad, terlihat komat kamit. Dan ia pun menyapu wajahnya Mahesa dengan tangan nya. Seketika Mahesa terdiam, tak berontak lagi dari rengkuhan pak Ahmad. Mahesa bahkan kini terduduk lemah di kursi.
Huufft
Pak Ahmad menarik napas panjang. Ia tatap lekat Mahesa yang nampak linglung.
"Pak, apa adek ini kena pelet?" tanya sang istri dengan penasarannya.
"Iya bu, kasihan sekali Pak Adnan. Ia tak tahu anaknya sudah dikendalikan iblis." Sahut Pak Ahmad lirih.
***
__ADS_1
Bersambung