
Lantunan ayat-ayat suci Al-qur'an terdengar mengalun merdu menjelang kumandang adzan subuh. Sulastri sudah kembali membaringkan tubuhnya di atas sajadahnya sembari menunggu waktu subuh tiba. Tangannya masih terlihat bergerak pelan memutar butir demi butir tasbihnya. Matanya lekat menatap Rianti yang sedang mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemari. Dia belum mengerti kenapa Rianti mengeluarkan semua pakaiannya dari dalam lemari.
"Kenapa dikeluarkan lagi, Nak. Bukankah pakaian-pakaian itu sudah di strika?" tanya Sulastri setelah lama menahan penasarannya. Rianti tersenyum. Pakaian yang dikeluarkannya di pindahkannya ke tempat tidur.
"Mau Rianti masukkan ke dalam tas, Bu. Rianti tiba-tiba kok ingat masa-masa di penjara. Semua pakaian ditaruh di dalam tas." Rianti duduk di sisi ranjang. Pakaian yang sudah menumpuk di atas ranjang dilipatnya kecil-kecil dan satu persatu dimasukkannya ke dalam tas. Melihat itu, Sulastri tersenyum kecil sembari menggeleng.
"Rianti kangen sama Jamila. Sudah satu bulan lebih Rianti gak menjenguknya," sambung Rianti setelah beberapa lama terdiam. Rianti melirik ke arah jilbab biru motif batik yang ujungnya terlihat di antara lipatan pakaian. Rianti tersenyum. Mengambilnya dan memasangnya.
"Tara..., perempuan berkerudung biru motif batik?" kata Rianti sambil menggerak-gerakkan kepalanya. Melihat itu Sulastri hanya tersenyum kecil. Ia teringat saat lima belas tahun silam Tuan Guru Izzul Islam mengiriminya surat karna menganggapnya perempuan berkerudung biru motif batik dalam mimpinya. Begitu panjang penantian yang dijalani Tuan Guru Izzul Islam untuk meraih petunjuk yang ia yakini dari Tuhan itu. Dan kini, setelah keyakinannya kini tertuju kepada Rianti sebagai perempuan dalam mimpinya itu, dia tak kunjung juga bisa memiliki Rianti. Dunia ini memang penuh misteri. Entah apa hikmah penantiannya yang begitu panjang. Sulastri mendesah panjang. Ia terkenang bagaimana perjalanan panjang hidupnya melalui cobaan yang begitu bertubi-tubi. Orang-orang yang dulu menjerumuskannya ke lembah dosa ternyata jadi perantara penting meraih kesuksesan dan perubahan hidupnya kini. Benar kata orang bijak. Jika kita mengikuti proses yang ditentukan Tuhan dengan sabar dan penuh kepasrahan, suatu saat nanti, hasil dari proses itu akan membawa kita kepada sebuah kemenangan panjang. Kemenangan di mata manusia maupun Tuhan. Ketika hati dikuatkan dengan adanya hikmah di balik semua kejadian hidup, semuanya tentu akan dijalani dengan senyuman dan harapan akan balasan yang baik dari Sang Pengatur.
Sulastri memperbaiki posisi berbaring miringnya. Ia kini berbaring terlentang. Pandangannya di arahkan ke langit-langit kamar. Ia menoleh kembali ke arah Rianti dengan wajah setengah ditutupi sebab silau oleh cahaya lampu di tengah-tengah ruangan.
"Oh ya, berapa tahun lagi sih dia akan bebas?" kata Sulastri. Rianti menoleh ke arah ponselnya dan memeriksa kalender di dalamnya. Sejenak ia terlihat menggerak-gerakkan jari-jari tangannya yang sedang menghitung.
"Tiga bulan lagi, Bu," jawab Rianti. Sulastri mengangguk kecil. Suasana sejenak hening. Keduanya sibuk dengan aktifitas masing-masing. Hingga tanpa sadar, tasbih di tangan Sulastri terlepas. Ia tertidur.
Sulastri membuka matanya pelan. Ia seperti mendengar bunyi klakson sayup-sayup dari arah luar rumah, membuatnya tersadar dari tidurnya. Ia mengernyitkan keningnya. Ia menoleh ke arah Rianti yang menatap ke arahnya, seperti sedang menyimak sesuatu yang didengarnya. Ia menghentikan aktifitasnya melipat pakaian. Pendengarannya dipasang dengan seksama.
"Apa kamu mendengar apa yang ibu dengar?" tanya Sulastri.
"Klakson mobil?" tanya balik Rianti. Sulastri menganggukkan kepalanya. Sulastri bangkit dan langsung saja menuju pintu dan membukanya. Klakson mobil terdengar lagi dari arah luar. Tiga kali suara klakson itu terdengar, tapi pintu gerbang belum juga terdengar dibuka. Mungkin pak Bayan terlalu nyenyak tidur sehingga tak mendengar suara klakson itu. Pikir Sulastri. Setelah menutup pintu kamar, ia langsung menuju ke pintu luar. Di luar masih terlihat gerimis ketika Sulastri membuka pintu. Dilihatnya pak Bayan keluar dari pos jaganya dan berlari sambil meletakkan kedua tangannya di atas kepalanya menuju pintu gerbang. Pintu gerbang dibukanya dan tak beberapa lama kemudian, mobil Fanther warna silver memasuki halaman rumah.
Sulastri mengernyitkan dahinya. Dia belum yakin bahwa yang datang adalah Tuan Guru Izzul Islam, walaupun ia mengenal betul mobil itu. Ataukah dia tamu yang dimaksud Rianti? Apakah Tuan Guru Izzul Islam telah menghubunginya terlebih dahulu untuk datang subuh-subuh begini? Batin Sulastri penasaran.
__ADS_1
Mobil itu terlihat berhenti di dekat pos jaga. Pak Bayan terlihat sopan membungkukkan badannya kepada pengemudi mobil. Sulastri berpikir, tak salah lagi. Itu mobil memang milik Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri masih berdiri menunggu di depan pintu. Saat pak Bayan seperti mengarahkan mobil itu menuju teras rumah, Sulastri segera bergegas masuk ke kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, jilbab yang tergantung di balik pintu di sambarnya dan segera memasangnya. Setelah itu, ia berjalan menuju cermin. Setelah merapikan jilbab dan pakaiannya sejenak, ia melangkah mendekati Rianti.
"Ayo, kamu berpakaianlah yang rapi. Sepertinya kita memang kedatangan tamu," kata Sulastri kepada Rianti yang masih sibuk melipat pakaian. Rianti mengernyitkan dahinya.
"Tamu? Tamu siapa, Bu," tanya Rianti penasaran.
"Sudah, kamu segera susul ibu keluar," kata Sulastri. Ia langsung bergegas keluar kamar dan menuju teras rumah.
Jantung Sulastri berdegup kencang ketika melihat Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam sudah berdiri di teras rumah sekeluarnya dari rumah. Nyai Mustiani sendiri, ketika melihat Sulastri keluar dari rumah, ia segera mendekat. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung memeluk tubuh Sulastri. Tangisnya seketika pecah. Sulastri yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi hanya bisa tertegun. Dia sama sekali tak menyangka Nyai Mustiani akan memeluknya erat dan menangis.
"Maafkan aku, Sulastri. Maafkan atas segala kesombonganku selama ini. Aku telah menentang Allah dengan menghina Rianti. Terkutuklah aku jika tak kalian maafkan," kata Nyai Mustiani dengan sesenggukan. Sulastri tersenyum. Kedua tangannya tetap kaku, lurus ke bawah. Ragu membalas pelukan Nyai Mustiani.
"Tidak apa-apa, Bu Nyai. Masalah itu tak pernah dipermasalahkan oleh Rianti. Bahkan ia selalu menasehatiku agar tidak membalas kebencian dengan kebencian. Apalagi bu Nyai adalah istri orang alim. Amat besar dosa kami jika sampai membenci keluarga Bu Nyai,"
Sejenak suasana menjadi hening. Hanya terdengar sesekali isak tangis Nyai Mustiani di antara suara tarhim yang mulai terdengar lamat-lamat dari kejauhan.
"Assalamualaikum."
Nyai Mustiani, Tuan Guru Izzul Islam dan Sulastri menoleh. Rianti muncul di depan pintu. Melihat Tuan Guru Izzul Islam, ia menundukkan wajahnya. Tapi ia begitu terkejut karna tiba-tiba Nyai Mustiani begitu cepat mendekat dan memeluknya. Bertambah kaget karna tubuh Nyai Mustiani tiba-tiba luruh dan kini dalam posisi bersimpuh di depannya. Melihat itu, Rianti segera ikut menjatuhkan tubuhnya. Ia berusaha mengangkat tubuh Nyai Mustiani, tapi Nyai Mustiani erat memegang kedua tangannya.
Rianti hanya bisa terdiam ketika Nyai Mustiani mencium bergantian kedua tangannya. Ia sudah berusaha menarik tangannya, tapi pegangan tangan Nyai Mustiani begitu erat. Air mata Nyai Mustiani sampai-sampai membasahi kedua telapak tangannya.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu telah membuat kesalahan besar. Andai saja ibu tak bisa kesini saat ini juga, mungkin ibu sudah mati oleh rasa bersalah ini. Ibu malu, Nak. Malu kepada Allah. Malu kepadamu, malu kepada semua orang atas tabiat buruk ibu," kata Nyai Mustiani sesenggukan. Ia merasakan dadanya terasa sesak ketika mengingat bagaimana segala cara telah ia lakukan agar Tuan Guru Izzul Islam tidak menikah dengan Rianti. Rianti tersenyum. Gantian ia memegang kedua tangan Nyai Mustiani dan menciumnya lama. Seperti seorang anak yang sedang sungkem di pangkuan ibunya, tangis Rianti akhirnya ikut pecah. Nyai Mustiani tak henti-henti mencium kepalanya. Tuan Guru Izzul Islam dan Sulastri ikut terharu. Keduanya terlihat menghapus air mata mereka.
__ADS_1
"Ya, Allah. Aku seperti sedang mencium wangi gadis surga. Dosaku begitu besar karna terlambat menyadarinya," kata Nyai Mustiani dengan nada bergetar.
"Ibu mohon, ikutlah dengan ibu pulang hari ini juga. Berkemaslah. Salah satu tergesa-gesa yang dianjurkan adalah menikahkan anak gadis. Jangan menolak keinginanku, Nak. Itulah obat dari rasa bersalahku," bisik Nyai Mustiani dengan suara lirih penuh harap. Kepala Rianti diangkatnya. Setelah memandangnya beberapa lama, ia kemudian mencium kening Rianti.
"Maafkan ibu, Nak."
Rianti tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Kedua tangan Nyai Mustiani diangkatnya lagi dan menciumnya.
Sulastri mendesah panjang. Ia memberanikan dirinya mendekat. Rianti menoleh. Ia mengangguk saat Sulastri memberi isyarat untuk mengangkat tubuh Nyai Mustiani.
"Bu Nyai...,"
Nyai Mustiani sigap meletakkan jari telunjuknya di bibir Rianti. Ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, Rianti. Ibu tidak ingin kamu memanggilku seperti itu. Panggil aku seperti kamu memanggil Bu Sulastri," kata Nyai Mustiani. Rianti tersenyum. Nyai Mustiani memperbaiki jilbab Rianti.
Suara Adzan subuh terdengar berkumandang. Sulastri mengajak Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam duduk di kursi teras rumah. Sejenak mereka terdiam. Khusyu' mendengar suara Adzan yang terdengar ramai dari segala penjuru. Nyai Mustiani yang duduk berdekatan dengan Rianti, meletakkan kepala Rianti di pundaknya. Tangannya dengan lembut mengusap kepala Rianti. Sesekali ia mencium kepala Rianti. Raut wajahnya yang tadinya tegang, kini terlihat tenang. Kebahagiaan menyelimuti wajah mereka yang masing-masing tertunduk.
Setelah selesai berdoa usai kumandang adzan, Tuan Guru Izzul Islam menoleh ke arah Sulastri.
"Bu, kita shalat berjamaah dulu," kata Tuan Guru Izzul Islam. Sulastri menganggukkan kepalanya dan bangkit. Melihat Nyai Mustiani seperti tak ingin melepaskan tangan Rianti, Sulastri ragu menyuruhnya untuk memanggil pak Bayan.
"Mau kemana, Bu," tegur Rianti ketika melihat Sulastri berjalan membungkukkan setengah badannya hendak turun dari teras.
__ADS_1
"Ibu mau panggil pak Bayan ikut berjamaah. Kamu diam saja di sana. Biar ibu yang panggil. Permisi Tuan Guru, Bu Nyai," kata Sulastri. Ia segera berlari kecil menuju pos jaga.