KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#144


__ADS_3

Setelah mobil pak Jamal sudah tidak terihat lagi di depannya, Nyai Mustiani bangkit dari duduknya. Ia penasaran dengan video yang dikirim pak Jamal ke ponselnya. Jantungnya berdebar. Takut ada aib keluarga dalam konten video itu.


Nyai Mustiani buru-buru masuk ke dalam kamar. Setelah menyambungkan wifi di rumahnya, Nyai Mustiani memeriksa sebuah pesan yang masuk.


"Astaghfirullah!"


Nyai Mustiani melonjak kaget. Ponsel seketika terlepas dari tangannya. Nafasnya terengah-engah seperti orang yang baru saja bepergian jauh. Begitu juga dengan detak jantungnya. Cover penampakan di pesan video yang baru masuk itu benar-benar mengejutkan. Dengan jelas ia melihat wajah Rianti dan seorang wanita paruh baya dengan tubuh telanjangnya. Di belakangnya, nampak juga tiga orang laki-laki berperawakan tinggi besar dengan senyum lebar. Dia merasa tak mungkin melihat utuh video itu. Covernya saja begitu menakutkan.


Nyai Mustiani menghela nafas panjang. Ia kembali meraih ponselnya. Ia ingin memastikan bahwa wajah dalam cover video itu memang benar Rianti. Nyai Mustiani mendesah. Ia mengusap-usap dadanya dan menggelengkan kepalanya. Dia tak menyangka orang yang ada dalam video itu adalah Rianti, calon menantunya.


Nyai Mustiani mengurut-urut keningnya. Tiba-tiba saja kepalanya terasa pusing. Ia menyandarkan tubuhnya di bantal yang telah ia susun di belakangnya. Kembali ia mendesah. Ponsel itu diletakkannya kembali di depannya. Benar kata orang asing tadi. Jika sampai video itu tersebar, dan orang-orang akhirnya tahu bahwa istri Tuan Guru Izzul Islam adalah salah satu wanita dalam video itu, maka rusaklah nama baik keluarganya. Dia takut video itu akan dimanfaatkan orang-orang yang tidak senang dengan Tuan Guru Izzul Islam. Dan tentu saja reputasi Tuan Guru Izzul Islam akan ikut rusak.


Nyai Mustiani meraih kembali ponselnya. Dia terlihat memeriksa nomor dalam contact ponselnya. Ia mendesah dan mendongakkan kembali kepalanya. Setelah terdiam beberapa saat, video yang telah masuk ke dalam galerinya mantap ia kirim ke nomor WA Sulastri. Dia merasa harus melakukan itu. Dan tak akan ada orang yang akan menyalahkannya, apalagi pihak Sulastri. Dengan melihat video itu, dengan sendirinya Sulastri akan mengerti dan tak akan menyalahkannya jika ia membatalkan sepihak perjodohan itu.


Nyai Mustiani membaringkan perlahan tubuhnya. Suasana di dalam kamar tiba-tiba berubah gerah. Berkali-kali ia mendesah. Saat terdiamnya, ia mulai menyalahkan dirinya yang terlalu tergesa-gesa mengirimkan Sulastri video itu. Seharusnya ia menunggu Tuan Guru Izzul Islam pulang dari masjid dan membicarakannya.


Nyai Mustiani bangkit dan melangkah menuju kipas angin besar yang berdiri di pojok kamar. Ia lalu menyalakannya. Suasana sejuk perlahan mulai terasa di dalam ruangan itu. Nyai Mustiani kembali membaringkan tubuhnya. Ia menganggukkan kepalanya. Ia merasa keputusannya sudah tepat. Dia tak perlu memusyawarahkan terlebih dahulu dengan Tuan Guru Izzul Islam. Akan banyak dalil yang akan diperdengarkan olehnya. Tapi untuk masalah video itu, ia juga yakin akan berpikiran sama dengan Tuan Guru Izzul Islam. Tuan Guru Izzul Islam pasti tidak akan mau beristri seorang wanita pemeran film porno.


* * * * *

__ADS_1


Sulastri masih mondar-mandir di teras rumah. Dia meninggalkan Rianti sendiri di dalam kamarnya. Setelah menghubungi pak Jamal beberapa jam yang lalu dan apa yang ia tawarkan ditolak mentah-mentah oleh pak Jamal, ia tampak gelisah. Tak ada lagi yang bisa ia perbuat untuk meyelamatkan pernikahan Rianti. Mungkin saat ini pak Jamal sudah memperlihatkan video itu pada Nyai Mustiani dan Tuan Guru Izzul Islam. Dan mungkin saja keduanya sudah mengambil sebuah keputusan membatalkan pernikahan itu. Tapi mondar-mandir sendiri di luar rumah dengan cuaca yang dingin, membuatnya merasa kesepian dan stres. Ia memilih masuk ke dalam rumah. Ada baiknya ia berpikir positif seperti halnya Rianti.


Sulastri membuka pintu kamar dan mendapati Rianti sedang asik bersandar di tempat tidur sambil menaikkan salah satu kakinya di kakinya yang lain. Melihat Sulastri masuk, Rianti mengecilkan volume televisi yang sedang ditontonnya. Sulastri menoleh ke arah televisi. Ia tersenyum.


"Belum juga ketahuan motif pembunuhan Joshua?" kata Sulastri. Ia menuju ke meja rias dan duduk.


"Belum, Bu. Ini lagi lihat persidangan Putri Chandrawati. Dia akan dihadapkan langsung dengan Eliezer,"jawab Rianti. Dia menoleh ke arah ponsel milik Sulastri yang tergeletak di atas meja.


"Bu, dari tadi hp ibu bunyi terus," kata Rianti. Sulastri masih asik menyisir rambutnya.


"Kenapa gak diangkat saja, Nak," kata Sulastri sambil melihat Rianti dari balik cermin.


Rianti tersenyum.


"Pacar dari Hongkong. Pacar abadi ibu hanya papamu. Tidak ada yang bisa menggantikannya," ujar Sulastri sembari membalikkan badannya dan menunjuk ke arah photo Yulian Wibowo.


Dia lalu mengambil ponselnya dan segera memeriksa pesan yang masuk.


"Nyai Mustiani?" kata Sulastri. Rianti menoleh dan tersenyum.

__ADS_1


"Calon besannya ibu ternyata,"


Sulastri tak merespon. Wajahnya tiba-tiba terlihat pucat. Ponselnya terlepas dan terjatuh di atas meja. Suara ponsel yang keras, mengagetkan Rianti. Ia segera bangkit dan menghampiri Sulastri.


"Bu, ada apa, Bu," kata Rianti panik. Sulastri menunjuk dengan matanya ke arah ponsel. Rianti meraih ponsel itu. Tatapan matanya langsung diarahkan ke video. Rupanya, video itu telah sampai juga ke tangan Nyai Mustiani.


Rianti mendesah. Ia meletakkan kembali ponsel itu di atas meja. Punggung Sulastri diusap-usapnya lembut. Dia lalu mengajak Sulastri duduk. Rianti mematikan televisi.


""Lihat aku, Bu. Sebelumnya, Aku sudah bilang sama ibu. Aku sudah siap dengan apapun resiko dari video itu. Termasuk batalnya menikah dengan Tuan Guru. Dan lihatlah sekarang. Aku sama sekali tidak terkejut, dan percayalah, aku tidak akan bersedih sebab hal itu. Orang-orang yang dekat dengan Allah, tidak menjadikan makhluk sebagai sandaran bahagia mereka. Percayalah, jika hati punya Allah, maka yang lain sudah tidak berarti apa-apa lagi. Itu yang aku dengar dari orang bijak. Alhamdulilah, aku sudah berusaha melakukan itu. Apa yang aku dengar dan itu baik untuk hatiku, maka aku akan mengikutinya. Dan itu membuat hatiku tenang dan bahagia," kata Rianti. Sulastri mendesah panjang. Ia menganggukkan kepalanya.


"Jika aku memang tidak jadi menikah, mungkin ini adalah isyarat dari Allah agar aku menghabiskan sisa hidupku untuk beribadah kepada-Nya. Aku ingin seperti Rabiatul Adawiyah, seorang sufi wanita yang menyerahkan seluruh hidupnya dengan mencintai Allah. Aku memang tidak layak untuk itu, tapi aku berharap, niat baikku ini bisa mengantarku ke sana," sambung Rianti.


Rianti mengambil kembali ponsel itu. Setelah menghapus konten video di dalam ponsel, ia kembali meletakkannya di atas meja.


"Sudah Rianti hapus. Jika ibu kembali mendapati video atau pesan seperti itu lagi, langsung saja hapus. Jangan buat hati ibu cemas dan gelisah lagi."


Rianti mendesah panjang dan kembali menyandarkan tubuhnya. Televisi dinyalakannya kembali. Tangan Sulastri di raihnya dan mengajaknya bersandar di dekatnya. Rianti menyandarkan kepalanya di pundak Sulastri.


"Sekarang ibu tidak akan kehilanganku lagi. Aku akan tetap di sini menemani hingga masa tua ibu nanti."

__ADS_1


Sulastri mengusap lembut rambut Rianti. Berkali-kali ia mencium kepala Rianti sembari tersenyum. Wajah gelisahnya perlahan menjadi tenang. Semua sudah ada yang mengatur. Kita hanya wayang yang ada dalam kekuasaan Sang Dalang. Jika memang sudah menjadi bagian hidup kita, kita pasti akan mendapatkannya.


Malam beranjak larut. Suara jangkrik ramai mengerik mengiringi perjalanan malam. Suara kesiar angin terdengar sesekali menghempas dedaunan. Suara rintik hujan mulai terdengar menggeretak di atas dedaunan belakang rumah. Deras hujan mengiringi Rianti dan Sulastri yang terbaring damai dalam tidur panjangnya.


__ADS_2