
Sulastri merapikan rambut Rahima yang kusut menutupi setengah wajahnya. Secara bergantian, Rahimapun melakukan hal yang sama. Ia mengusap air mata Sulastri dan mencium keningnya. Mami Zelayin hanya terdiam. Mereka berdua benar-benar membuat mami Zelayin seperti penonton drama. Menunggu lama dan menyaksikan bagaimana keduanya benar-benar menuntaskan rasa kerinduan mereka satu sama lain. Sulastri memegang kedua tangan Rahima.
"Ayo kita duduk," ajak Sulastri. Rahima menganggukkan kepalanya. Sulastri tersenyum ketika melihat Rahima hendak kembali duduk di dekat mami Zelayin. Sulastri segera menarik tangan Rahima kemudian mengajaknya duduk di dekatnya. Rahima menunduk malu melirik ke arah mami Zelayin.
Sulastri mengarahkan pandangannya ke arah mami Zelayin.
"Mami, saya harap hubungan mami dengan Rahima berakhir pada malam ini." Sulastri berdiri dan melangkah menuju meja kerjanya yang terletak di dekat jendela rumah. Ia mengeluarkan bungkusan plastik warna hitam dari dalam laci. Setelah itu, ia kembali melangkah ke tempat duduknya.
Sulastri menatap wajah mami Zelayin beberapa saat. Ia mendesah dan tersenyum ketika Mami Zelayin memilih menundukkan kepalanya saat Sulastri menatapnya lekat.
Sulastri meletakkan bungkusan itu di depan mami Zelayin.
"Silahkan dihitung, Mami. Itu 50 juta. Saya harap, semua hutang Rahima sama Mami telah lunas," kata Sulastri. Mami Zelayin mendesah dan berusaha tersenyum. Dia mengambil bungkusan itu ragu. Setelah menatap sejenak ke arah Suastri, ia kemudian membukanya. Dilihatnya beberapa ikat uang kertas itu beberapa saat. Ia kembali menutupnya dan bangkit.
Mami Zelayin menyodorkan tangannya hendak bersalaman.
__ADS_1
"Loh, kok gak dihitung dulu, Mi," kata Sulastri. Tangannya masih menjabat tangan Mami Zelayin.
"Gak usah, sudah malam. Saya mau pamit saja," kata mami Zelayin. Wajahnya berkeringat. Ia nampak grogi Sulastri tak berpaling menatap wajahnya. Sulastri mengangguk.
Sulastri dan Rahima mengikuti mami Zelayin dari belakang. Sesampainya di teras rumah, mami Zelayin membalikkan tubuhnya pelan. Mami Zelayin mendesah pendek.
"Sulastri, Rahima, saya minta maaf atas apa yang pernah saya lakukan kepada kalian berdua. Saya janji akan menggunakan uang ini untuk usaha yang lebih halal," kata mami Zelayin sembari menundukkan kepalanya. Sulastri dan Rahima tersenyum saling pandang. Sulastri mengusap dadanya dan melangkah mendekati mami Zelayin. Ia memegang kedua pundak mami Zelayin lalu memeluknya. Mami Zelayin yang tak menyangka akan dipeluk Sulastri, akhirnya tak bisa menahan tangis. Sesenggukan tangisnya makin terdengar keras. Air matanya tumpah di pundak Sulastri. Semakin Sulastri mengusap punggungnya, Ia semakin mempererat dekapannya. Melihat itu, Rahima mendekat dan memeluk keduanya. Tangis ketiganya kembali pecah.
"Maafkan saya, Lastri, Rahima. Selama ini saya sudah jahat sama kalian. Saya pantas dihukum seberat-beratnya," kata mami Zelayin terisak-isak. Sulastri mengusap-usap punggung mami Zelayin.
"Bersyukurlah karna masih diberi waktu untuk menyadari kesalahan Mami. Saya pun berharap akan lebih baik ke depannya. Tanpa dendam ataupun sakit hati. Awalnya memang saya ingin sekali membalas sakit hati saya pada Mami. Tapi ketika hati saya bisa saya ajak berdamai, maka melupakan semuanya adalag suatu hal yang menyenangkan. Kita sama-sama perempuan. Semoga Tuhan memberikan kemudahan bagi kita untuk menempuh jalan-Nya," kata Sulastri. Ia melepaskan pelukannya. Mami Zelayin mengusap air matanya.
"Terimakasih, Lastri. Saya harus pulang. Anak-anak pasti menunggu di rumah. Kapan-kapan saya akan datang mengunjungimu bersama mereka. Tentunya setelah saya sudah bisa membuka usaha yang lebih baik," kata mami Zelayin tersenyum. Ketiganya kembali berpelukan.
"Mi, titip salam sama teman-teman," kata Rahima. Mami Zelayin tersenyum mengangguk. Setelah itu, mami Zelayin pamit dan melangkah menuju mobilnya. Sulastri dan Rahima menatapnya penuh haru hingga mami Zelayin masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Sulastri dan Rahima melambaikan tangan ketika mobil mami Zelayin keluar dari gerbang rumah.
Jam dinding terdengar berdentang dari dalam ruang tamu. Sudah pukul 12 malam. Suasana di halaman rumah kembali sepi. Pintu gerbang rumah telah ditutup. Pak Bayan kembali ke tempat jaganya dan berbaring.
Sulastri mengajak Rahima masuk dan melanjutkan obrolan mereka di ruang tamu. Keduanya tampak bahagia. Rahima yang tak pernah menyangka hidup Sulastri semewah itu, nampak mondar-mandir di dalam ruangan. Memperhatikan perabot - perabot mewah di dalam rumah. Karna Sulastri tak pernah menceritakan keadaannya yang sebenarnya selama bersama di komplek milik mami Zelayin, Rahima memaksa Sulastri untuk menceritakan kisahnya.
** * * *
Jamblang menghentikan sepeda motornya ketika sampai di salah satu pohon mahoni besar di tepi jalan menuju jalan kecil menurun di sampingnya. Ia mendongak ke arah papan kecil dengan tulisan warna putih. Jalan Cempaka. Jamblang menganggukkan kepalanya. Ia mendesah dan berjalan kaki menuruni jalan untuk lebih memastikan. Jamblang memundurkan langkahnya ketika melihat mobil pick up warna hitam seperti mengarah ke jalan utama. Ia segera kembali naik dan bersembunyi di balik pohon sambil terus memperhatikan mobil yang semakin mendekat ke arahnya. Jamblang mengarahkan pandangannya ke arah semak-semak di sisi lain jalan masuk menuju jalan kecil itu. Merasa tak aman, ia langsung mendorong sepeda motornya dengan cepat ke arah semak-semak.
Mami Zelayin menghentikan mobilnya ketika akan naik jalan yang sedikit menanjak menuju jalan utama. Kerikil-kerikil yang menumpuk membuat roda mobilnya terpeleset.
Mami Zelayin mendesah. Ia menyalakan lampu di dalam mobilnya kemudian turun. Ia lalu menyalakan senter ponselnya dan mulai memeriksa roda belakang mobilnya. Beberapa kerikil yang menumpuk di depan kedua roda mobil bagian belakang, disingkirkannya.
Mami Zelayin kembali naik ke atas mobilnya dan mulai menyalakan mobilnya. Jamblang yang bersembunyi di balik semak-semak, mendongakkan kepalanya. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tampak geram ketika mengenali perempuan yang ada di dalam mobil adalah mami Zelayin. Dia sendiri. Ia yakin, mami Zelayin baru saja mengantar Rahima kepada pemilik rumah besar itu. Itu artinya, di dalam mobil itu mami Zelayin telah membawa uang 50 juta sebagai imbalan menemukan Rahima.
__ADS_1
"Kurang ajar. Aku tidak akan sudi membiarkanmu untung sendiri Zelayin. Uang yang kamu bawa harus jadi milikku," geram jamblang dengan kedua geraham saling menaut satu sama lain.
Melihat mobil yang dikendarai mami Zelayin belum juga bisa menaiki jalan menanjak itu, Jamblang mengambil sebuah ketapel dari balik bajunya. Beberapa kerikil yang ia tumpuk di dekat kakinya diambilnya dan memasangnya dalam ketapelnya. Sekalipun suara mobil mami Zelayin terdengar keras saat memaksa naik ke jalan utama, tapi Jamblang yakin, orang di dalam rumah tidak akan memperhatikannya. Rumah itu terlalu besar dan luas, ditambah lagi malam yang telah larut. Ia berpikir harus secepatnya mengambil tindakan sebelum mami Zelayin berhasil menaikkan mobilnya ke atas. Motor bututnya tak akan mampu mengejar kecepatan mobil pick up itu.