KUPU-KUPU MALAM

KUPU-KUPU MALAM
#133


__ADS_3

Malam selepas isya'. Suasana di pondok pesantren qudwatushhalihin terdengar ramai dengan kegiatan muhadarah santri. Suara tepuk tangan sesekali riuh terdengar di aula pesantren tempat kegiatan. Angin berhembus dingin.


Di dalam kamarnya, Tuan Guru Izzul Islam nampak mondar-mandir memijat-mijat dagunya. Kebahagiaan karna berhasil menemukan perempuan berkerudung biru motif batik untuk sementara waktu masih tersandra. Dia masih fokus memikirkan Qurratul Aini. Firasat buruknya tentang Qurratul Aini, semenjak melihatnya masuk ke rumah makan zamora akhirnya terkuak juga. Melihat video yang berhasil di rekam Zaebon, dimana memperlihatkan bagaimana Qurratul Aini begitu bebasnya berpelukan dengan seorang laki-laki lain yang bukan mahromnya, membuatnya menggeleng-geleng tidak percaya. Tapi ia segera sadar, Qurratul Aini pun hanya seorang manusia biasa walaupun ia adalah putri seorang ulama besar. Itu semua tidak menjamin. Semua manusia punya sifat dasar untuk berbuat kesalahan. Seperti kata salah satu ulama; Seorang anak tidak akan bisa kenyang dengan apa yang dimakan ayahnya. Qan'an, anak nabi Nuh saja tak luput dari azab Allah karna mengkhianati ayahnya.


Tuan Guru Izzul Islam mendesah panjang. Permasalahannya sekarang, ia tidak tahu bagaimana menjelaskannya kepada ibunya. Memperlihatkan video itu sebagai dalilnya menolak pernikahannya dengan Qurratul Aini, sama saja dengan membongkar aib seseorang. Ia tidak menginginkan itu.


tok, tok, tok.


Terdengar suara pintu diketuk. Tuan Guru Izzul Islam menoleh.


"Siapa,"


"Saya Abdul Khalik, Tuan Guru. Saya bersama Zaebon," jawab Abdul khalik dari luar.


"Suruh dia masuk, Lik," kata Tuan Guru Izzul Islam. Ia melangkah ke sofa dan duduk. Zaebon terlihat masuk dan menutup pintu.


"Duduk, Bon," kata Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon membungkukkan badannya. Setelah menyalami Tuan Guru Izzul Islam, ia kemudian duduk. Kedua tangannya diletakkannya di pangkuannya.


"Saya memanggil kamu hanya untuk memberitahukan kepada kamu, bahwa apa yang kamu lihat di rumah makan zamora hanya antara kita berdua saja. Hapus video yang ada di ponselmu, dan anggap semua itu tidak pernah terjadi. Ini menyangkut aib seseorang. Kita tidak ingin aib kita kelak diperlihatkan di depan pengadilan Allah hanya karna kita tidak bisa menjaga rahasia saudara kita," pesan Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon mengangguk.


"Yah, hanya itu. Kamu boleh keluar," sambung Tuan Guru Izzul Islam. Zaebon bangkit. Setelah menyalami Tuan Guru Izzul Islam, ia mundur perlahan dan keluar.


" Ya, Allah. Beri hamba jalan keluar dari masalah ini," desah Tuan Guru Izzul Islam. Ia menyandarkan kepalanya di atas sofa. Apa yang terjadi saat ini memang sudah ditentukan oleh Allah. Terbongkarnya kelakuan Qurratul Aini hari ini, adalah salah satu cara Tuhan memuluskan jalannya menikahi Rianti. Tapi pertanyaannya tetap sama, bagaimana ia harus menjelaskan kepada ibunya di saat ketakutannya memperlihatkan aib Qurratul Aini di depan orang lain. Padahal itu adalah salah satu cara terbaik untuk membatalkan pernikahan itu.


Tuan Guru Izzul Islam melepaskan kopiahnya. Ia mengusap rambutnya ke belakang beberapa kali. Setelah itu, ia mantap bangkit dari duduknya. Dia berpikir, ada baiknya ia mengambil wudhu' dan mengerjakan shalat. Hanya Allah yang bisa memberikannya jalan keluar yang tepat. Tuan Guru Izzul Islam keluar dan berwudhu'.


* ** * *


Tuan Guru Izzul Islam menatap ke arah jam dinding di kamarnya. Jam 22: 10. Biasanya, jam segini ibunya belum tidur. Ada beberapa orang santriwati yang biasa dipanggilnya untuk sekedar memijit tubuhnya atau menemaninya sebelum ia tidur.

__ADS_1


Tuan Guru Izzul Islam membuka pintu kamarnya dan melangkah menuju kamar Nyai Mustiani. Dia berdiri sejenak sesampainya di depan pintu kamar Nyai Mustiani. Ia mencoba mendengar suara-suara di dalam kamar. Sepi. Ia agak ragu mengetuk pintu. Takut Nyai Mustiani sudah tidur.


Terdengar suara batuk dan deheman beberapa kali dari dalam kamar Nyai Mustiani. Tuan Guru Izzul Islam memberanikan diri mengetuk pintu.


"Assalamualaikum, Bu," panggilnya perlan.


"Waalaikum salam. Apa kamu itu, Zul." Suara serak Nyai Mustiani terdengar dari dalam kamar. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Apa ibu lagi sendirian?" tanya Tuan Guru Izzul Islam.


"Ya, masuklah."


Tuan Guru Izzul Islam membuka pintu pelan. Dia menemukan Nyai Mustiani sedang mengoleskan balsem di kakinya. Tuan Guru Izzul Islam bergegas mendekatinya dan segera memegang kaki Nyai Mustiani dan memijatnya.


"Tumben gak panggil santriwati, Bu," tanya Tuan Guru Izzul Islam. Nyai Mustiani mengambil dua bantal dan meletakkannya di belakang pundaknya sebagai sandaran.


"Sudah, barusan saja ibu suruh kembali ke pondok," jawab Nyai Mustiani.


Nyai Mustiani mendesah. Ia menatap Tuan Guru Izzul Islam.


"Ibu juga gak tahu. Dari tadi pikiran ibu kok bawaannya cemas dan gelisah terus. Gak ada hujan, gak ada angin. Datang begitu saja,"


"Disuruh baca Al-qur'an kali, Bu,"


"Sudah juga. Tadi, sambil di pijat santri, ibu baca Al-qur'an sampai satu juz." Nyai Mustiani memperbaiki posisi tubuhnya. Dia membaringkan tubuhnya perlahan dibantu Tuan Guru Izzul Islam.


"Kamu kok belum istirahat juga," kata Nyai Mustiani setelah menemukan posisi yang nyaman dalam berbaringnya. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum.


"Sama, aku juga belum bisa tidur, Bu,"

__ADS_1


Nyai Mustiani tersenyum. Dia menepuk-nepuk lengan tangan Tuan Guru Izzul Islam.


"Kalau begitu, kamu temani ibu di sini sampai ibu tidur nanti."


Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya sembari tersenyum. Ia terdiam beberapa saat. Sembari menunduk memijat kaki Nyai Mustiani, ia mencoba menunggu waktu yang tepat memulai pembicaraannya.


"Bu, sebenarnya, ada yang ingin aku bicarakan dengan ibu,"


"Apa? Mau bicara tentang perniakahanmu?" jawab Nyai Mustiani. Ia tak menoleh. Dia memejamkan matanya.


Tuan Guru Izzul Islam tersenyum. Ia meraih kedua tangan Nyai Mustiani dan menciumnya. Nyai Mustiani membuka kembali matanya. Tuan Guru Izzul Islam menganggukkan kepalanya.


"Kamu mau waktunya dipercepat, di undur atau...dibatalkan,"


Tuan Guru Izzul Islam kembali tersenyum. Ia mendesah. Nyai Mustiani sama sekali tak tersenyum. Ekspresinya datar-datar saja. Tuan Guru Izzul Islam mulai ragu mengatakannya. Tapi dia sudah terlanjur membukanya.


"Bismillah," ucap Tuan Guru Izzul Islam dalam hati. Ia mendehem satu kali sambil menelan ludahnya dalam-dalam.


"Bu. Aku mohon, ibu jangan marah dulu. Dengarkan ceritaku sampai habis. Semoga di akhir cerita nanti, kita bisa mencari solusi terbaik bersama-sama," kata Tuan Guru Izzul Islam penuh kelembutan. Kening Nyai Mustiani mengerut. Ekspresi wajahnya terlihat tidak senang. Ia mulai menduga, Tuan Guru Izzul Islam berubah pikiran. Tapi ia masih diam. Sepertinya ia mengikuti permintaan Tuan Guru Izzul Islam untuk mendengar ceritanya sampai habis.


"Bu, Aku sudah menghabiskan waktu selama lima belas tahun dengan hidup membujang. Banyak orang yang tidak senang di luar sana yang mengatakan bahwa aku ini Tuan Guru yang tidak suka dengan sunnah Nabi, dan memilih hidup membujang. Aku percaya, suatu saat nanti, Allah pasti akan mempertemukanku dengan perempuan berkerudung biru motif batik itu. Allah tidak akan mengingkari janji-Nya. Kita hanya dituntut untuk tetap bersabar." Tuan Guru Izzul Islam menghentikan kata-katanya. Kedua tangan Nyai Mustiani yang masih ia pegang, diletakkannya di dadanya. Nyai Mustiani dengan jelas bisa merasakan detak jantung Tuan Guru Izzul Islam. Ia merasakan ada getaran besar di dada Tuan Guru Izzul Islam. Raut mukanya yang tadi terlihat tidak senang mulai melemah. Dia masih menunggu Tuan Guru Izzul Islam melanjutkan pembicaraannya.


"Bu, Aku sudah menemukan perempuan berkerudung biru motif batik itu. Dan itu bukan Qurratul Aini," kata Tuan Guru Izzul Islam. Tatapan matanya memperlihatkan binar-binar kebahagiaan. Nyai Mustiani mendesah pendek. Kedua tangannya ia tarik perlahan dari dada Tuan Guru Izzul Islam lalu melepaskannya. Ia kembali mendesah.


"Siapapun perempuan berkerudung biru motif batik yang kamu maksudkan itu, kita sudah terlanjur memulai perjanjian kita dengan Tuan Guru Faeshal. Kita akan dicap munafik. Nama besar ayahmu, nama besar pesantren, juga nama besarmu akan dipertaruhkan." kata Nyai Mustiani. Ia seperti tidak tertarik menanyakan siapa gerangan perempuan berkerudung biru motif batik itu.


Tuan Guru Izzul Islam menundukkan wajahnya. Dia benar-benar tidak punya jawaban setelah berjanji tidak akan menggunakan video itu untuk menjawab pertanyaan Nyai Mustiani.


"Sudahlah, Nak. Agama kita masih memperbolehkanmu untuk menikahi beberapa wanita sesuai batasan syariat dan bisa berbuat adil. Kita tak perlu mengkhianati kesepakatan kita dengan Tuan Guru Faeshal. Kamu hanya butuh izin dari Qurratul Aini untuk menikahi perempuan berkerudung biru motif batik itu. Tapi jangan terlalu cepat. Mungkin itu juga maksud mimpimu,"kata Nyai Mustiani. Ia terlihat mulai tersenyum. Tuan Guru Izzul Islam memaksakan diri ikut tersenyum.

__ADS_1


"Sekarang, pergilah istirahat. Ibu sudah mulai mengantuk," kata Nyai Mustiani sambil menutup mulutnya. Tuan Guru Izzul Islam mengangguk. Ia meraih tangan kanan Nyai Mustiani dan menciumnya. Ia lalu melangkah menuju pintu.


"Ingat, Izzul, jangan terlalu memikirkannya. Jika kamu bisa berbuat adil, sampai empatpun kamu masih bisa menikahi perempuan berkerudung biru motif batik itu," kata Nyai Mustiani ketika Tuan Guru Izzul Islam hendak menutup pintu. Tuan Guru Izzul Islam tersenyum dan menutup pintu.


__ADS_2